Kehormatan

Kehormatan
49. Gara-gara ngidam.


__ADS_3

Nasha sudah tertidur lemas karena terlalu banyak muntah.


"Lain kali jangan buat kejutan tanpa perhitungan. Kalau sudah begini bagaimana Wir" Tegur Papa Khobar.


"Aku juga nggak mau jadi begini Pa. Mana mungkin aku celakai anak istriku sendiri" Bang Gesang sampai ikut lemas melihat Nasha.


"Bisa-bisanya kamu buat telur seperti itu. Asal kamu tau ya, Papa ini tidak pernah gagal buat menu warisan keluarga dan Nasha sangat menyukainya"


"Interupsi Pa..!!!" Bang Bujang mengangkat tangan memprotes sang Papa. "Kami-kami ini anak Papa, bukannya terlalu sangat menyukainya. Tapi tidak ada pilihan lain bagi kami daripada kelaparan"


"Benar itu Tir???" Tanya Papa Khobar tidak percaya dengan ucapan putra keduanya begitu saja.


"Masakan Papa terbaik, buktinya sampai sekarang lambung kami masih berfungsi" jawab Bang Petir menimbulkan tawa para pria.


"Push up kalian. Beraninya kalian menghina komandan secara halus..!!"


"Siaap..!!" Bang Gesang, Bang Bujang dan Bang Petir langsung mengambil sikap push up.


***


Hingga pagi tiba, Diani dan Bang Panji masih enggan bertegur sapa sedangkan Mama Fia dan Papa Rakit memilih menginap di mess transit agar putra mereka bisa menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin.


"Nisa masak sop telur puyuh, ayam goreng, sambal kecap dan perkedel kentang Bu"


"Kenapa masak makanan bayi seperti ini????" Tegur Diani yang sepertinya tidak menyukai masakan tersebut.


"Bang Revan suka sop telur puyuh Bu. Jadi Nisa masak seperti ini"


"Sudah.. jangan berdebat soal makanan..!! Terima kasih kamu sudah masak. Nanti saya makan" Bang Panji menengahi Diani yang selalu mengomel tentang ini dan itu padahal Diani sangat jarang memasak makanan.


"Baik pak. Sama-sama. Saya urus Abang Revan dulu." Kata Nisa.


"Silakan"


Mata Diani melirik tajam ke arah Nisa kemudian beralih melirik Bang Panji. "Manis sekali sikap Abang sama Nisa. Dulu Abang pun langsung jatuh cinta sama Nasha begitu dia menyerahkan tubuhnya, apa jangan-jangan Abang juga sudah melakukannya dengan Nisa?????" Tuduh Diani.

__ADS_1


Seketika nafsu makan Bang Panji mendadak hilang. Sejak kemarin dirinya sudah melupakan makan dan sekarang dirinya pun kehilangan selera makan. "Bisakah sedikit saja kamu menata bahasamu. Kamu sedang hamil, bicaralah dengan kata-kata yang baik..!! Agar anak kita menjadi anak yang memiliki akhlak terpuji." Tegur Bang Panji.


"Aku begini karena Abang. Abang tidak bisa menghilangkan Nasha dari hati Abang. Diam-diam Abang tetap memberi perhatian pada istri Bang Wira itu"


"Jangan bawa Nasha dalam masalah kita. Kamu harus menyadari, Nasha pernah melahirkan anak Abang. Tidak pantas kamu berbicara seperti itu. Kamu yang telah membuat Nasha menikah dengan Abang, dan setelahnya kamu membuat Abang menanggung dosa yang teramat besar karena sudah terlalu banyak membuat Nasha menangis."


"Kamu juga banyak membuatku menangis karena kamu tidak adil Bang"


"Abang salah. Memang Abang yang salah. Sekuatnya Abang berusaha.. tak akan pernah adil karena kadar iman Abang masih rendah. Belum kuat kaki Abang bersandar pada Sang Pencipta.. Seharusnya Abang punya ketegasan saat kamu datang mengantar cerita." Jawab Bang Panji. Ia mengusap dadanya sekedar meredakan emosi yang menyakitkan hati. Bang Panji meletakan sendok dan garpu kemudian beranjak berangkat ke Batalyon.


Saat Bang Panji melewati teras, ia melihat Nisa bercanda sambil menyuapi sang putra yang sudah tampan dan wangi di pagi hari.


Tau majikannya hendak melintas. Nisa kelabakan berdiri dan menunduk.


"Lain kali tidak perlu bersikap seperti itu..!!" Kata Bang Panji.


"Baik Pak Panji."


Tak lama Bang Gesang melompati pembatas teras rumah mereka. "Aku nebeng..!!"


"Kenapa lu?" Tanya Bang Panji karena tidak biasanya sahabatnya itu ikut bersamanya.


"Ya sudah ayo..!!"


Bang Gesang yang biasanya cool juga tak biasanya melempar senyum pada Nisa. "Haii Nisa..!!"


"Selamat Pagi Pak Wira" jawab Nisa menunduk.


"Pagiiii.."


Tak disangka di balik jendela rumah Bang Gesang ada sepasang mata yang mengawasi pergerakan sang Letnan.


"Astagfirullah.. Lailaha Illallah.." Bang Gesang meremas perutnya. Ia sampai memercing menggigit bibirnya.


"Eeehh Wir.. Wiraaaa..!! Bang Petir.. tolong..!!!!" Bang Panji panik berteriak memanggil Bang Petir melihat Bang Gesang menggelinjang di halaman depan rumahnya.

__ADS_1


"Apa Pan.. pagi buta sudah ribut???" Bang Petir pun datang menghampiri mereka.


Tepat saat itu Papa Khobar keluar dari rumah dengan memakai baju hijau bermotif kodok dan celana pendek bermotif ikan sembari memanggul alat pancing.


"Duuhh.. nggak tau diri lu Wira, badan gede pakai acara lemes segala" gerutu Bang petir.


"Laah Black.. kok mendem di depan rumah????" Papa Khobar meletakkan pancingnya lalu ikut membantu menantunya.


"Pak Wira nggak apa-apa?" Tanya Nisa amat sangat lirih sekali.


"Nggak apa-apa Nisaa" jawab Bang Gesang lembut tapi yang terjadi setelah....


~


Suara sirine ambulans bersahutan melewati Ksatrian Batalyon menuju rumah sakit. Tak tau apa yang terjadi, tiba-tiba saja Lettu Gesang teler parah dan tidak sanggup bangkit. Jangankan untuk duduk, membuka mata saja rasanya bagai sebuah perjuangan untuk hidup.


"Kenapa bisa begini?" Papa Rakit akhirnya ikut mengantar Bang Gesang di temani Bang Panji yang ikut di dalam ambulans.


"Inilah akibatnya kalau kecentilan. Anakmu ngamuk itu, nggak terima ayahnya jelalatan."


"Iya Pa, lagipula biasanya Gesang itu sikapnya dingin, kaku, sudah senyum, kenapa juga tiba-tiba mata keranjang nih bocah" cerocos Bang Panji menimpali Papanya.


"Ijin Dan..!!" Dokter Fajar membawakan hasil test kesehatan Lettu Wira.


"Apa hasilnya?" Tanya Papa Khobar.


"Ijin.. Lettu Wira baik-baik saja, setelah cairan infus habis.. sudah bisa pulang."


"Baik-baik saja bagaimana sih Jar?? Sumpah...aku nggak enak badan." Kata Bang Gesang yang memang merasakan tidak enak badan.


"Lah terus harus bagaimana Wir?? Apa mau minum obat kuat?" Papa Rakit pun tak bisa banyak berkomentar karena seingatnya, dirinya dulu juga pernah mengalaminya meskipun tidak sampai terkapar seperti Bang Gesang.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2