Kehormatan

Kehormatan
70. Hari tegang.


__ADS_3

"Siapa yang ajak ngeriung??" Tegur Bang Panji.


"Bukan akuu.." jawab Bang Bujang terbawa panik.


"Yang bilang lu yang ajak juga siapa broooo?????" Bang Panji sampai kesal menanggapi paniknya Bang Bujang yang merepotkan semua orang. "Tumben lu diam aja Wir??"


"Ehmm.. Pan, sebelumnya kamu pernah lihat proses persalinan khan?" Tanya Bang Gesang sangat hati-hati.


Setelah mendengarnya baru Bang Panji paham bahwa sebenarnya sahabatnya yang kaku, dingin dan gengsian merasa sangat gelisah dan ketakutan menghadapi persalinan Nasha. "Iya.. kenapa?" Tanya Bang Panji pura-pura tidak tau demi menjaga 'harkat dan martabat' sahabatnya yang memiliki harga diri tinggi.


"Ng_gak sih. Apa proses nya sangat panjang atau seperti di televisi? Kesakitan dan teriak histeris?" Selidik Bang Gesang.


"Aahh nggak kok, itu khan hanya di televisi. Wanita mau melahirkan hanya sedikit mulas saja, nggak ada teriak-teriak dan cepat. Setelah melahirkan ya sudah.. bisa tersenyum lagi. Aman kok" jawab Bang Panji meyakinkan.


Senyum Bang Gesang pun mengembang tak terkecuali Bang Bujang yang ikut menguping pembicaraan kedua sahabatnya.


"Alhamdulillah" ucap kedua calon bapak saat menunggu observasi pada para istri.


-_-_-_-_-


Bang Panji masuk ke dalam ruang bersalin menemani Nisa yang tengah berjuang menghadapi persalinan. Istrinya itu lebih banyak beristighfar dan lebih tenang daripada Gista istri Bang Bujang.


"Kenapa kamu bohong???" Tegur Bang Bujang.


"Nggak ada niat bohong, niatku hanya ingin buat kalian jadi tenang" alasan Bang Panji.


"Kau jangan bilang apa-apa sama Wira ya kalau keadaan nya seperti ini...!!!" Kata Bang Bujang menaruh akal licik.


"Kenapa??"


"Aku mau lihat apakah adik ipar ku itu masih bisa bersikap kaku dan berharga diri tinggi saat menghadapi situasi seperti ini" jawab Bang Bujang.

__ADS_1


"Oke.. hahahahaha" tawa Bang Panji pun membahana di ruang persalinan.


"Maaass..!!" Tegur Nisa lembut.


"Abang diamlah, suara Abang buat perut Gista semakin sakit" kata Gista.


Seketika Bang Panji dan Bang Bujang terdiam. Tak ada lagi obrolan di balik tirai pembatas di ruang persalinan para istri.


...


"Abang jangan banyak tanya. Kalau sudah waktunya anak kita lahir pasti akan lahir Bang" Nasha sampai kesal karena hampir per sepuluh menit sekali Bang Gesang menanyakan kapan anaknya akan lahir.


"Bukan begitu sayang.. kata Panji, melahirkan itu tidak sesakit seperti di televisi, prosesnya cepat, aman dan setelah itu kamu bisa tersenyum lagi" jawab Bang Gesang.


"Memangnya Nasha mau kredit motor?? Prosesnya cepat, mudah dan aman jadi setelah lolos semuanya.. Nasha bisa senyum lagi??" Kata Nasha.


"Tapi Panji bilang begitu dek"


"Sakit nggak dek?" Tanya Bang Gesang memastikan.


"Sedikit"


Bang Gesang mengangguk dan meyakinkan diri, memastikan semuanya aman.


:


Bang Gesang melihat Bang Panji menggendong putra ketiga Bang Panji yang baru terlahir ke dunia kemudian di susul dengan Bang Bujang yang sedang di dorong kursi roda karena lemas dan malah Gista menggendong putri pertama tepat di belakang Bang Bujang karena badannya masih fit dan segar.


"Hahahaha.. apa-apaan lu, siapa nih pasiennya??" Ledek Bang Gesang melihat tangan Bang bujang tertancap jarum infus saking syoknya tidak tahan melihat darah.


"Jangan banyak cakap kau le... Lihat Nasha melahirkan, pembuluh darahmu pecah" Bang Bujang mengingatkan sahabat sekaligus adik iparnya.

__ADS_1


"Nasha saja masih sehat, belum ada tanda-tanda masuk ruang bersalin. Hanya memercing saja tapi tidak parah." Jawab Bang Gesang.


"Aahh terserah mu lah"


Bang Panji pun berjalan melewati Bang Gesang sembari menepuk bahu Bang Gesang. "Tenang aja.. semua aman" ucapnya kemudian kembali berjalan menuju ruang rawat para istri yang baru saja persalinan.


...


Nasha mencoba mengatur nafasnya sebaik mungkin, rasa sakit sangat kuat mendera hingga membuat Bang Gesang mematung dan ternganga.


"Hhhhhh.. eegghh" Nasha mulai mengejan.


"Bu.. jangan mengejan dulu, 'bukaanya' belum lengkap" kata Bu Bidan. "Sabar ya Bu, nanti robekannya jadi lebar"


Bang Gesang menyentuh dadanya. 'Ya Allah, inikah pengorbanan seorang wanita? Nasha begitu kesakitan, menggenggam erat tanganku tapi aku tidak bisa melakukan apapun?? Aku begitu sibuk dengan pekerjaan sampai tidak sempat belajar menjadi suami siaga. Betapa berdosanya aku Tuhan..!!'


"Baaaanngg..!!!" Nasha menjerit kesakitan. "Astagfirullah.." ucapnya kemudian saat sakit itu kembali datang.


Dengan lembut Bang Gesang mengusap perut Nasha kemudian mengecup keningnya. "Abang minta maaf sudah menyakitimu..!!"


Nasha menatap sejenak mata Bang Gesang yang sudah basah oleh air mata. Nasha pun tersenyum lalu meraih tangan Bang Gesang dan menciumnya. "Restui Nasha melahirkan anak Abang..!!"


"Abang merestuimu" Satu kecupan manis mendarat di bibir Nasha.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2