
Tanpa disadari.. Bang Panji tersenyum mengingat paginya. Seakan ada semangat tersendiri. Ia pun lanjut dengan kegiatannya.
:
Bang Gesang mengusap wajahnya usai sholat Dhuha. Hatinya sungguh gelisah. Jika selama ini dirinya terlihat gagah dan kuat, di hadapan Allah dirinya sungguh mengadu. Matanya sampai merah sembab. Hari-hari sudah terlewati namun hati nya tetap terasa sakit dan rasa bersalah memukul telak batinnya. Ia merasa gagal karena tidak bisa menjaga Nasha hingga harus kehilangan calon bayinya. Dirinya begitu frustasi dan terisak di sudut masjid Batalyon.
'Jika dosaku menghalangi keinginan ku untuk punya momongan, maka hukumlah aku Tuhan.. tapi jangan hukum istriku. Dia berhak bahagia. Ijinkan Nasha menjadi seorang ibu. Tidak tega hatiku melihat nya menangis dalam diam. Jika untuk mendapatkan gelar ibu untuk Nasha harus ku gantikan dengan darahku, aku ikhlas.'
"Ternyata kamu disini?" Sapa Bang Panji.
Secepatnya Bang Gesang menghapus air matanya kemudian tersenyum membalas sapaan Bang Panji. "Maaf aku nggak bisa datang saat akad nikahmu"
"Nggak apa-apa. Aku paham." Bang Panji menepuk bahu sahabatnya.
"Ingat Pan, kamu sudah pernah masuk sel karena poligami. Kenapa kamu ulang lagi?"
"Aku tidak sebodoh itu, aku sudah menarik RH lamaku dan menggantinya dengan nama Annisa, pastinya kamu sudah tau aku mengajukan cerai.. hanya saja kamu belum ACC karena kesibukanmu, masih menumpuk tuh di mejamu" kata Bang Panji.
"Oya?? Kapan?? Maaf aku belum melihat semua berkas, fokusku masih untuk Nasha." Jujur sekali wajah Bang Gesang begitu mencemaskan Nasha. Untuk sesaat Bang Gesang terdiam. "Dengan kata lain.. kamu hanya tinggal menunggu ikrar talak ya?"
"Iya Black.. tidak mungkin aku menceraikan Diani yang masih dalam keadaan Nifas. Justru Diani harus tau di akhir agar dia tidak membuat keributan di awal"
Bang Gesang mengangguk. "Benar sekali pot. Ya sudah, aku tanda tangan sekarang agar tidak menjadi masalah dan aku akan segera menghubungi seluruh jajaran terkait kasusmu ini. Siapkan bukti agar prosesnya lebih cepat"
"Aku sudah kirimkan semua ke email kedua mu ( khusus pekerjaan ), termasuk keteledoran Diani menjadi seorang ibu. Kau saja yang tidak monitor"
"Astagaa.. maaf ya pot" Bang Gesang merasa sangat bersalah.
"Kehilangan anak memang sakit bro, tapi kamu harus kuat. Jangan ikut lemah seperti ini, kasihan Nasha. Ada baiknya.. mulai sekarang jaga kondisi fisikmu, banyak makan makanan penambah stamina dan minum suplemen. Kalau nanti Nasha sudah sehat.. hajar saja tanpa ampun. Mudah-mudahan Nasha cepat hamil lagi" saran Bang Panji.
Bang Gesang tersenyum mendengar perhatian sahabatnya. "Pasti.. jangankan makanan, suplemen dan olahraga, pendongkrak vitalitas pun ku telan asal Nasha senang dan bisa hamil lagi" jawab Bang Gesang.
Akhirnya kedua pria ini pun tertawa.
"Ayo cepat ke ruangan, aku bereskan semua. Nanti kita sibuk untuk acara kenaikkan pangkat"
Kau saja yang naik, pangkatku di tunda" senyum Bang Panji mengembang, ucapnya pun terdengar santai.
Bang Gesang tau sahabatnya itu pasti juga menyimpan rasa sedih tersendiri.
__ADS_1
"Pangkat hanya hiasan. Kita tetap satu jiwa bro" jawab Bang Gesang.
:
Bang Gesang menutup satu mm ap berkas milik Bang Panji. "Alhamdulillah, pengajuan ini sudah selesai. Danyon dan jajaran terkait sudah ku hubungi, hanya tinggal masalahmu dan Diani saja." Kata Bang Gesang. "Ngomong-ngomong.. apa Reiya mau langsung punya adik?" Ledek Bang Gesang.
"Cckk nggak lah, aku nggak mikir sampai sana. Fokusku hanya cerai dan melindungi nasib anak-anak ku" jawab jujur Bang Panji.
"Pan.. aku sahabatmu, aku mengenalimu hingga ke akarnya seperti kamu paham tentang aku. Aku tau tujuanmu.. Aku juga tidak bermaksud ikut campur dalam urusan rumah tangga mu. Tapi.. akad nikah tetaplah janji yang suci, apa kamu tega membuat wanitamu menangis untuk kesekian kalinya? Jika hatimu merasa Nisa pantas untuk di perjuangkan, maka pertahankan rumah tanggamu"
Kini Bang Panji yang tersenyum merasakan perhatian sahabatnya. "Aku sedang belajar dan berusaha keras mencintai istriku.. Nisa. Kamu tenang saja, rasaku untuk Nasha sudah benar-benar hilang. Biarkan Nisa yang mengisi seluruh lembar hidupku dan ini menjadi yang terakhir"
"Kau tau saja maksudku" tawa Bang Gesang akhirnya mengundang tawa Bang Panji.
\=\=\=
"Dimana Diani?" Tanya Bang Panji saat tak mendapati istrinya di rumah.
"Tadi bilangnya mau menemui Oma Nena Mas" jawab Nisa.
"Kalau Revan dan Reiya?"
Bang Panji mengangkat tangannya hendak menyentuh pipi Nisa tapi Nisa langsung menutup wajahnya dengan takut.
"Kamu kenapa?"
"Jangan pukul Nisa Mas" pinta Nisa terbata.
Kening Bang Panji berkerut. "Apa kamu pernah melihat Mas menyakiti fisik Diani?"
Nisa menurunkan tangannya.
"Jika hati yang terluka, itu mungkin. Mas tidak sengaja menyakiti hati istri-istri Abang, tapi tak pernah sekalipun tangan Abang mampir untuk menyakiti tubuh istri Mas sendiri" Bang Panji mengangkat tubuh Nisa dan masuk ke dalam kamar tengah. Kamar yang biasanya kosong tak berpenghuni.
"Mas mau apa?" Tanya Nisa polos.
"Sudah seharusnya Mas memberikan hak mu sebagai istri yang sah"
"Tapi mas, pernikahan kita hanya untuk anak-anak" protes Nisa.
__ADS_1
"Sudah sepatutnya juga Mas memperhatikan perasaanmu. Maaf, jika mas sempat khilaf dan terkesan egois. Mas nggak berani mempermainkan nilai pernikahan" kata Bang Panji.
Saat itu Nisa meneteskan air mata. "Nisa.. nggak pantas untuk Mas Panji. Nisa tidak suci lagi. Nisa pun hanya rakyat jelata."
Untuk beberapa saat, Bang Panji terdiam. Membolak-balik perasaan dan pikiran. "Biarlah semua kenangan masa lalu. Kubur semua kepahitan. Kita buka lembaran baru. Mas juga seorang duda dua anak. Kamu mau menerima Mas saja sudah Alhamdulillah"
"Nisa pernah di per*osa orang Mas"
Seketika hati Bang Panji terasa pedih, tapi ia segera menepis rasa sakit dan pedihnya. "Lupakan..!! kamu hanya akan mengenal satu pria dalam 'hidup'mu. Mas Panji akan menjagamu..!!" Satu kecupan mendarat di kening Nisa.
Saat itu Nisa gemetar hebat, ia ketakutan saat Bang Panji mendekatinya.
//
Bang Arko menegur keras Bang Gesang. Seluruh kegiatan yang sedang di atur Bang junior nya itu berantakan dan tidak terarah.
"Kamu mikir apa black?? Masa untuk acara ringan kenaikan pangkat dan mengatur taktik begini saja bisa bisa kacau." Bang Arko meluapkan kesalnya sampai menampar pipi Bang Gesang dengan tumpukan kertas laporan. "Anggota seratus orang, tapi akomodasi hanya cukup untuk delapan puluh orang. Bagaimana caramu menghitung???"
"Siap salah Wadan..!!" Bang Gesang menjawab tanpa perlawanan karena menyadari dirinya memang salah.
"Pulang dulu kamu Black. Temui istrimu, barangkali ototmu sudah tegang semua" kata Bang Arko kemudian menyadari ucapnya yang salah. Nasha baru saja keguguran beberapa waktu yang lalu dan pastinya saat ini sedang menjalani masa pemulihan. Mata Bang Arko melirik wajah Bang Gesang yang mulai berubah pias. Tangannya pun mengepal. "Istirahatlah, tenangkan pikiran dan hatimu..!!" Bang Arko meralat ucapnya.
"Siap.. terima kasih Wadan..!!"
...
Bang Gesang melihat Nasha sedang memasak, ia pun menghampiri dan memeluknya dari belakang.
"Bang.. Abang kenapa?" Nasha cukup kaget merasakan sikap Bang Gesang yang tiba-tiba bersikap manja, tapi manjanya ini terasa sangat berbeda.
"Kangen bojo" jawabnya jujur.
.
.
.
.
__ADS_1