Kembali

Kembali
KEMBALI (Sadar)


__ADS_3

"Udah dong, jangan berantem! Ayo, Senja ikut tante, kita tidak usah menanggapi Anggi." Ratna menarik tangan Senja ke ruang keluarga dan menyuruh Senja untuk duduk.


***


Senja menurut saja dengan Ratna saat ia menarik tangannya dan menyuruhnya duduk di sofa ruang keluarga.


Anggi membuntuti mamanya dan Senja, Anggi juga ikut duduk di ruang tamu sambil menggerutu dengan keras.


"Ini yang anaknya siapa, yang dicuekin siapa?" gerutunya.


"Anggi, Mama nggak nyuruh kamu bicara ya," kata Ratna tegas.


"Mama kok gitu sih, biasanya juga kalau liat Anggi, mama udah bakal memperlakukanku seperti barang yang sangat mahal hingga di sayang-sayang, lha sekarang anak nya kepalanya di perban aja malah perhatian sama orang lain, huuh..." Anggi protes dengan perlakuan Ratna.


"Haha... ternyata Tante manjain dia ya." Senja tertawa mendengar penuturan Anggi.


"Kan Anggi anak bungsu tante, sayang.Jadi tante ya perhatian banget sama dia, dianya aja yang merasa risih kalau tante perhatian sama dia," ucap Ratna sambil berjalan mendekati Anggi.


"Bukan gitu, Ma, tapi mama seolah-olah nganggep aku kayak anak umur satu tahun tau," elak Anggi.


"Terserah apa kata anak mama tersayang," ucap Ratna sambil mengacak-acak rambut Anggi.


Setelah selesai mengacak-ngacak rambut Anggi, Ratna menekan dahi Anggi yang diperban sehingga membuat anaknya itu menjerit kesakitan.


"Aaarrgghhh ... sakit, Maaaaaaa..." teriak Anggi.


Seketika itu pula Ratna baru sadar kalau perban di kepala anaknya itu bukan karena anaknya main drama tapi memang benar-benar terluka.


Ratna melihat noda merah yang di seragam anaknya itu, ternyata darah asli bukan teres untuk bermain.


"Anggi, jadi kamu benar-benar terluka, Kenapa bisa sampai terluka seperti ini sih, kamu naik mobil ngebut-ngebutan apa? Kan mama udah sering menasihati kamu supaya jangan ngebut-ngebutan, sekarang kamu liat sendiri akibatnya kan, kamu jadi terluka seperti ini kan, ya Tuhan apa yang terjadi sebenarnya, coba ceritakan sama mama." Karena khawatir dan amarah menjadi satu Ratna tidak bisa mengontrol dirinya.


Anggi yang mendengar ucapan Ratna hanya bisa menundukkan kepala merasa bersalah, begitu pula dengan Senja.


Ratna menarik tangan Anggi dan menyuruhnya duduk di samping Senja.


Kini Ratna memperhatikan dua remaja di depannya itu dengan tatapan khawatir, marah, sedih, senang... semua rasa jadi satu lah pokoknya.


"Tante jangan marah-marah dulu dong, kan kasian itu anak, Tante," ucap Senja setelah sekian lama terdiam.


"Ok... ok tante nggak akan marah, tapi coba jelaskan kenapa kalian bisa seperti ini?" Ratna lebih melembutkan suaranya.


Anggi menceretikan semuanya dengan detail, sesekali Ratna tertawa, terkejut, dan berkomentar saat Anggi melangsungkan ceritanya.


"Jadi, adik kelas yang kamu maksud kemarin itu Senja?" komentar Ratna.


"Iya."


"Dan kalian kecelakaan karena kalian tadi berdebat di dalam mobil?"


"Iya," jawab Anggi dan Senja bersamaan.


"Apa kepala kalian masih sakit?"


"Tidak," jawab Anggi.


"Iya," jawab Senja.


Mereka menjawab bersamaan.


Mendengar jawaban Senja Anggi segera meralat jawabannya.


"Maksud Anggi, tidak sakit bagaimana? Tentu saja ini masih sakit."


"Dengarkan Mama, mulai sekarang Anggi ke sekolah harus diantar Pak Tris, dan Senja harus bareng Anggi!" Ultimatum Ratna yang tidak bisa di ganggu gugat.


"Ah,haha, Tante tidak perlu repot-repot karena Senja biasanya di antar Kak Hendi."

__ADS_1


Tolak Senja dengan alasannya.


"Jadi, Senja, mau membantah, tante? Baiklah tidak apa-apa, tapi-" Ratna menggantung kalimatnya.


"Tapi apa?" tanya Senja.


"Tapi, nanti, tante, mau datang ke rumah mu sambil menceritakan semuanya kepada orang tuamu, dan, tante,akan-" Sebelum Ratna menyelesaikan kalimatnya, Senja memotongnya.


"Wah, Tante tidak perlu repot-repot karena Senja nanti akan menceritakannya sendiri kepada orangtuaku," ujar Senja agar Ratna tidak benar-benar datang ke rumahnya.


"Kalau begitu, Senja, pamit ya, Tante... karena pasti bunda sudah menunggu di rumah."


"Kenapa buru-buru?" Ratna bertanya.


"Karena tadi Senja nggak bilang kalau mau pulang telat, Tante... HP Senja juga lowbatt jadi nggak bisa ngabarin orang rumah." jelas Senja.


"Baiklah, tante izininin kamu pulang, tapi kamu pulangnya biar di antar sama anak tante."


"Nggak mau aku di antar sama ini cowok, Tante." Senja menunjuk Anggi yang duduk disebelahnya.


"Apa lo nunjuk-nunjuk?" Anggi melotot.


"Huuuh... nyebelin," ujar Senja kemudian mengerucutkan bibirnya.


"Anggi juga nggak mau, nganterin nih cewe rese," sahut Anggi.


"Yang nganterin kamu bukan Anggi kok ,tapi kakaknya," ucap Ratna. "Sebentar ya biar Tante panggil kakaknya Anggi dulu." Ratna berjalan meninggalkan dua remaja yang sedang uring-uringan itu.


Tak lama Ratna kembali lagi ke ruang tamu dengan diikuti oleh seorang pria dewasa yang Senja yakini adalah kakaknya Anggi, dan Senja cukup terkejut ketika melihat kakaknya Anggi.


"Kak Rizal," ucap Senja.


Rizal yang tadi tidak memperhatikan orang-orang kemudian melihat Senja yang kini berdiri di dekat Anggi yang masih duduk.


"Oh, hai, Senja ngapain di sini?" tanya Rizal.


"Idih... Siapa juga yang nyulik, Lo." Anggi tidak terima dengan ucapan Senja.


Namun mereka semua tidak menghiraukan Anggi. Senja segera menggendong tas punggungnya kemudian bersalaman dengan Ratna dan menarik tangan Rizal untuk segera pergi dari ruang keluarga.


"Permisi ya, Tan."


"Ayo, Kak Rizal!"


Senja di antar Rizal dengan mobil sport miliknya. Karena Rizal sudah tau alamat rumah Senja jadi dia tidak perlu bertanya lagi, dan langsung melajukan mobilnya.


Tiga puluh menit kemudian mobil milik Rizal sudah masuk halaman rumah Senja. Mereka berdua segera turun dari mobil. Senja mengajak Rizal untuk masuk terlebih dahulu.


Senja disambut oleh pelayan. Senja menyuruh Rizal untuk duduk di sofa ruang tamu kemudian Senja segera pergi menemui ibunya.


"Assalamu'alaikum, Bunda..."


"Wa'alaikumsalam sayang,Lho kok baju kamu ada darahnya sayang? Kepala kamu juga kenapa ini di perban?" Zara bertanya dengan khawatir, terlihat jelas kepanikan di wajahnya.


"Nanti Senja ceritain Bunda, sekarang mending Bunda ke ruang tamu dulu, ada temannya Kak Hendi soalnya."


"Oh ya?, kalau gitu kamu sambil ke kamar panggil kakakmu sekalian, dia ada di kamar."


"Bukannya Kak Hendi masih di kantor yah Bun?"


"Udah pulang kok."


"Iya deh, Bun. Senja panggilin Kak Hendi," ucap Senja kemudian naik ke lantai dua menuju kamarnya sebelumnya Senja memanggil Hendi untuk menemani Rizal di ruang tamu.


***


"Di minum, Nak Rizal teh nya!" ucap Zara yang kini sudah berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Iya, Tante," jawab Rizal kemudian meminum teh yang dibuatkan Zara.


Hendi yang telah sampai di ruang tamu menyapa sahabatnya itu.


"Hai bro, apa kapar?" Hendi dan Rizal saling berjabat tangan.Kemudian duduk samping Rizal.


"Alhamdulillah baik."


"Nak, Rizal, tante tinggal ya biar di temani Hendi." pamit Zara.


"Iya, Tante," balas Rizal.


"Ngapain, Lo, kesini? Nggak biasanya, Lo, mau main ke rumah gue."


"Gue kesini nganterin adik lo, tadi dia ke rumah gue, jadi mama nyuruh gue nganterin dia pulang."


"Ngapain adik ke rumah, Lo?" tanya Hendi heran, ngapain Senja ke rumah Rizal coba pikirnya, kenal aja baru minggu lalu.


"Tadi, adik, Lo, ke rumah gue sama adik gue, jadi mungkin dia temen adik gue."Jelas Rizal.


"Ohh... trus itu kepala adik gue kenapa di perban?" tanya Hendi penuh selidik.


"Kecelakaan tadi," jawab Rizal santai.


"Apa!? Kok bisa sih?" Hendi kaget sehingga reflek meninggikan nada suaranya.


"Ya, gue juga nggak tau lah, coba nanti lo tanya ma Senja deh, gue juga penasaran soalnya," saran Rizal.


Senja yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian segera turun ke ruang tamu, tadi Zara juga ada di kamar ingin meminta kejelasan dari putrinya, tapi Senja mengajak Zara untuk ikut ke ruang tamu biar sekalian dia cerita kepada kakaknya.


"Nah sekarang coba kamu ceritain semuanya ke kita," perintah Hendi.


"Iya, jangan ada kebohongan," ambah Zara.


"Betul itu, Kak Rizal juga penasaran nih soalnya tadi Anggi juga kepalanya di perban seperti kamu," sahut Rizal.


"Ok, ok sekarang kalian dengerin baik-baik ya Senja bakal nyeritain semuanya."


"Jadi beberapa hari yang lalu aku nggak sengaja numpahin minuman aku ke baju Kak Anggi, dari kejadian itu aku sama Kak Anggi jadi sering berdebat, terus tadi karena Kak Hendi bilang nggak bisa jemput aku, aku mau pulang naik bus, tapi saat aku jalan ke halte aku disuruh naik ke mobil Kak Anggi."


"Lha terus hubungannya sama kecelakaan itu apa?" komentar Hendi.


"Kakak diam dulu dong, Senja belum selesai ceritanya."


"Senja kan nggak mau naik mobil, terus Kak Anggi ngancam aku ya mau nggak mau aku naik lah, karena aku nggak minta maaf, Kak Anggi minta aku jadi asisten pribadinya selama seminggu, aku tolak tu, karena aku tolak ,Kak Anggi sama aku jadi berdebat sehingga Kak Anggi nggak ngeliatin jalan, pas Kak Anggi lihat depan ada truk dari arah berlawanan yang melaju kencang Kak Anggi kaget sehingga reflek memutar stir kemudi, mobil yang kami tumpangi menabrak pohon deh." Senja selesai dengan ceritanya.


"Ya Allah untung kamu nggak kenapa-napa." ujar Zara.


"Nggak papa gimana, Bun? Orang kepala Senja di perban gitu," komentar Hendi.


"Iya Tante, nggak mungkin nggak kenapa-napa orang mereka terluka begitu," timpal Rizal.


"Jadi gini lo Bun, pas mobilnya nabrak pohon kepala aku sama Kak Anggi sama-sama terbentur bagian depan mobil, kata Kak Anggi aku nggak sadarkan diri dengan kepala aku udah banyak darah, kami dibawa ke rumah sakit sama orang-orang... karena luka di kepala kita jadi kita di jahit deh Bun, tapi karena tidak terlalu parah jadi kita boleh pulang."


"Wah dasar si Anggi, kalau begini pasti nanti dia di hukum berat sama, papa," ucap Rizal.


"Senja, kamu juga bakal, bunda hukum," sahut Zara.


"Tapi, Bunda."


"Nggak ada tapi-tapian," ucap Zara dengan nada tidak boleh di bantah.


"Kalau gitu saya permisi ya, Tante,"


"Iya Kak Rizal. Terima kasih sudah mengantar Senja pulang."


Hendi mengantar Rizal sampai depan rumah, setelah mobil yang dikendarai Rizal keluar dari gerbang Hendi segera kembali masuk ke dalam.

__ADS_1


#IG karlinasulaiman7770


__ADS_2