Kembali

Kembali
KEMBALI ( Kenapa Harus Dia?)


__ADS_3

🦋🦋TAP JEMPOL👍 KALIAN SEBELUM MEMBACA🦋🦋


Pak satpam dan tukang kebun yang melihat nona mudanya terluka menjadi panik. Mereka bingung mau menghubungi keluarganya atau tidak.


"Tuan, tolong bawa dia ke rumah sakit! Saya takut Non Senja kenapa-napa," ucap Pak Mamat dan Pak Slamet.


"Pak, saya pinjam kunci mobil, tidak mungkin kan saya pergi ke rumah sakit membawa motor," ucap Faris sambil memandang Senja yang tergeletak tidak sadarkan diri di lantai rumahnya. Dia duduk dan memangku Senja serta mengusap darah yang mengalir di wajahnya.


"Sa-saya ambilkan dulu, Tuan." Pak Mamat langsung berlari masuk ke dalam rumah dan berlari ke kamar Senja, kebetulan kamar itu tidak di kunci sehingga dengan leluasa Pak Mamat bisa langsung masuk. Dia mencari kunci mobil milik Senja dia laci tempat penyimpanan kunci. Setelah dapat, dia langsung berlari keluar dan memberikan kunci itu pada Faris.


"Apa di antara kalian ada yang bisa menyetir mobil?" tanya Faris dengan suara serak saking paniknya.


"Saya bisa, Tuan!" ucap Pak Slamet.


"Kalau begitu, Bapak yang menyetir, ya! Saya akan duduk di belakang bersama Senja," pinta Faris.


"Baik." Pak Slamet segera berlari ke garasi dan mengeluarkan mobil yang akan dia pakai untuk membawa Senja ke rumah sakit.


Faris segera mengangkat tubuh Senja dan membawanya masuk ke dalam mobil yang telah menunggu mereka. "Senja bertahanlah! Kakak mohon, kamu harus kuat, kakak tahu kamu bukan gadis yang lemah," ucap Faris lirih, dia menangis menahan luka yang dia rasakan saat melihat orang yang dia cintai terluka di depannya.


Karena merasa panik entah kenapa dia merasakan waktu saat ini tidak berjalan, rasanya sangat lama mereka sampai di rumah sakit.


"Pak, lebih cepat lagi!" pinta Faris memohon dengan penuh penekan.


"Ini sudah kecepatan maksimal, Tuan." Pak Slamet menjawab dan tetap fokus mengemudi. Keselamatan dua orang di belakang adalah hal yang paling utama.


Air mata Faris semakin deras mengalir, dia merasa bersalah dengan gadis yang tidak sadarkan diri di pangkuannya itu. Kalau saja dia tidak datang ke rumah Senja hari ini, mungkin semua tidak akan menjadi seperti ini. Faris menyalahkan dirinya sendiri. Dia membenci dirinya sendiri.

__ADS_1


"Berjanjilah untuk baik-baik saja, aku akan merelakanmu bersamanya kalau kamu sembuh, aku janji tidak akan hadir lagi di kehidupanmu," ucap Faris dengan sungguh-sungguh.


Hatinya merasa hancur, tangannya bergetar, pikirannya tidak bisa tenang saat melihat gadis yang dia cintai terbaring lemah seperti ini.


Mobil telah sampai di rumah sakit, Faris segara turun dan menggendong tubuh Senja, dia berteriak memanggil dokter dan suster untuk membantunya membawa Senja ke UGD.


"Dokter, suster ... bantu saya cepat, dokter!" teriak Faris dengan pilunya. Dia sudah tidak kuat melihat Senja seperti ini. Tubuh gadis itu terasa sangat dingin, Faris sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Pikirannya memikirkan tentang hal paling buruk yang mungkin akan terjadi pada gadis itu.


"Mari, Tuan. Kami bantu." Dokter dan perawat membantu Faris membawa Senja ke ruang UGD. Faris ingin ikut masuk tapi dilarang oleh suster yang membawa Senja ke UGD.


"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh ikut masuk, sebaiknya Anda tunggu pasien di luar atau membayar administrasi terlebih dahulu," ucap suster itu dengan tenang.


"Tapi, saya mau masuk suster, saya mau memastikan kalau dia baik-baik saja," kata Faris tetap kekeh ingin masuk.


"Ini sudah peraturan rumah sakit, Tuan. Kami akan melakukan hal yang terbaik untuk pasien," ucap suster itu menjelaskan alasannya.


"Baiklah," ucap Faris akhirnya mengalah. Dia akan menyelesaikan urusan administrasi terlebih dahulu sambil menunggu Senja ditangani dokter.


"Assalamu'alaikum, maaf dengan siapa saya bicara?" tanya Hendi dari seberang sana.


"Waalaikumsalam, Kak. Ini Faris, teman Senja dulu, Kak," jawab Faris dengan suara bergetar karena takut juga khawatir dengan Senja. Namun, dia juga lega karena nomor Hendi masih aktif.


"Faris? Apa kamu Faris yang dulu pernah hampir menabrak adikku?" tanya Hendi sedikit mengingat nama itu dan bertanya untuk memastikan.


"Iya, Kak. Aku Faris yang itu." Faris menjawab dengan sedikit tenang dan lega karena kakak dari gadis yang dia cintai masih mengingatnya.


"Kamu apa kabar? Sudah lama kakak nggak lihat kamu. Dulu kamu pergi tanpa pamit kepada adikku." Hendi ingat bagaimana sedihnya adiknya saat tahu kalau Faris pergi dulu. Padahal sebenarnya Faris sudah memberi kabar lewat surat, tapi sayang tidak pernah dapat balasan.

__ADS_1


Kalau ada yang bingung kenapa Faris masih punya nomor Hendi padahal dia pernah bilang sama Senja kalau ponselnya dulu hilang. Jawabannya sangat gampang, dia menyimpan nomor Hendi di dalam Ingatannya bukan di dalam ponselnya.


Tapi kenapa dia dulu tidak menghubungi Hendi, jawabannya mudah, yaitu karena dia sibuk dan sempat melupakan kalau dia hafal dengan nomor Hendi.


"Kabar aku baik, Kak. Bisakah kita tidak membahas itu dulu, ada hal yeng lebih penting ingin aku katakan," ucap Faris dengan penuh keyakinan dan dia mengumpulkan tenaganya untuk memberitahu Hendi.


"Oh, ya? Hal penting apa itu?" tanya Hendi penasaran.


"Senja, Kak."


"Senja kenapa?" tanya Hendi mulai khawatir karena mendengar suara Faris yang serak seperti orang yang menhan tangis.


"Senja, dia masuk rumah sakit, Kak. Kepala terluka karena terbentur tiang depan rumah," ucap Faris dengan susah payah.


"Apa?" teriak Faris menjatuhkan ponsel dari tangannya. Dia menangis saat mendengar kabar kalau adiknya masuk rumah sakit lagi. Ya, lagi, karena beberapa hari yang lalu adiknya juga dirawat di rumah sakit.


"Kak, halo ...." Faris tidak bisa mendengar lagi suara Hendi. Akhirnya dia pun memutuskan panggilan suaranya.


"Senja, kenapa kamu sekarang jadi sering masuk sakit, Sayang. Kakak sangat merasa bersalah karena tidak menjagamu dengan baik," ucap Hendi sambil mengusap air matanya sendiri.


Hendi segera menghubungi pilot pribadinya dan dia akan segera melakukan penerbangan ke negara tempat di mana adiknya berada sekarang. Hendi tidak memberitahu hal ini kepada kedua orangtuanya, karena tidak mau membuat mereka khawatir berlebihan.


Hendi mengemudikan mobilnya menuju ke bandara tempat di mana jet pribadinya berada. Dia menyetir dengan kecepatan lumayan tinggi. Hanya butuh waktu dua puluh menit untuknya sampai di bandara.


Hendi memarkirkan mobilnya di tempat khusus miliknya yang berada di bandara, kemudian dia segera menemui pilot pribadinya dan meminta dia untuk membawanya ke negara tempat adiknya sekarang.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Bersambung ...


Maaf ya aku lama nggak up, semoga bab ini bisa sedikit mengobati rasa rindu kalian pada Senja, Faris dan Anggi.


__ADS_2