Kembali

Kembali
KEMBALI : Aku Yang Salah


__ADS_3

🦋🦋TAP JEMPOL👍 KALIAN SEBELUM MEMBACA🦋🦋


Faris pamit kepada Hendi dengan alasan mau pulang sebentar karena ada urusan di rumah yang mengharuskan dia untuk pulang. Dan tentu saja itu hanya sebuah alasan saja karena sebenarnya dia akan pergi untuk menemui Anggi. Pria yang dicintai Senja saat ini.


Tuhan, apa dia salah jika harus mencintai orang yang memang sudah dia cintai terlebih dahulu sebelum lelaki lain mencintainya. Apa dia salah jika dia ingin memiliki gadis yang dia cintai dan membahagiakan dengan caranya. Dia sudah cukup tersiksa dengan waktu dan keadaan yang memaksa dia untuk pergi meninggalkan gadis yang dia cintai.


Kenapa Tuhan membiarkan surat yang dia kirim waktu itu harus tidak tersampaikan pada belahan hati dan jiwanya sehingga menyebabkan dia harus terluka begitu juga dengan gadisnya.


Bukan maksud dia untuk melukai namun waktu yang memaksa dia mencintai dalam luka yang terus terasa tergores dalam bila dirasakan saat ini. Kehilangan cintanya dan harus melepaskannya untuk pria yang lain. Pria yang hadir saat gadisnya terluka karenanya. Haruskah dia berterima kasih dengan memberikan gadis yang dia cintai pada laki-laki itu.


Hatinya sebenarnya sangat berat, namun melihat gadisnya terus menerus memanggil nama laki-laki yang bahkan dengan tega mendorong dan membuatnya terluka, dia harus mengalah demi cintanya.


"Senja, tunggulah dengan tenang kakak di sini, kakak akan menemui dia dan meminta dia untuk kembali bersamamu." Faris bermonolog sambil dalam jalan menuju parkiran.


"Di sini, aku yang salah. Jadi aku juga yang harus mengakhirinya." Faris kembali bermonolog.


***


Tuhan, jaga dia! Jaga hatinya agar tidak terus terluka. Tidak pantaskah dia mendapat apa yang seharusnya memang miliknya, hati yang bertaut dan terikat dengan perasaan cinta. Namun, di mana kedua hati itu, kenapa mereka terus melukai dan terlukai?


Hendi sudah sampai di rumah sakit tempat adiknya dirawat. Hendi segera menuju ke kamar rawat Senja setelah dia bertanya di mana ruang perawatan adiknya pada suster yang berjaga.


Hendi meyakinkan hatinya untuk tidak menangis nanti, dan setelah dia yakin kalau dia tidak akan menangis nanti, dia segera masuk ke dalam ruang rawat Senja dengan pelan.


Hendi menutup kembali pintu yang sempat dia buka sebagai akses masuk ke dalam ruangan tersebut dengan pelan berharap tidak akan menimbulkan suara.


Hendi datang selang tiga jam dari kepergian Faris sehingga saat dia masuk ke dalam ruang rawat Senja bertepatan dengan sadarnya gadis cantik yang berstatus adiknya.


"Kakak." Senja memanggil Hendi saat dia melihat dengan jelas kalau kakaknya ada di ruangan yang sama dengan dia.


Hendi yang merasa terkejut tanpa sengaja membanting pintu ruangan tersebut sehingga terdengar suara seperti pintu itu menjerit akibat ulahnya.

__ADS_1


"Kucing kawin," latah Hendi saat dia merasa terkejut karena Senja, si gadis cantik yang terbaring lemah dengan perban yang membalut kepala.


"Kakak benarkah ini kamu?" sapa Senja lagi saat Hendi tidak membalas sapaannya.


"Bukan, tapi ini saudaramu. Saudara laki-lakimu yang paling tampan sejagad rumah keluarga kita." Hendi tersenyum setelah dia berhasil menenangkan dirinya dari rasa keterkejutan.


"Sejak kapan kakakku ini narsis?" Senja bertanya seolah dia tidak pernah mengenal sikap Hendi yang pada dasarnya memang narsis.


"Sejak ditinggal pergi olehmu." Hendi mencium kening Senja lama saat dirinya berhasil duduk di kursi sebelah ranjang ruang sakit Senja.


"Aku tidak meninggalkan kamu, aku hanya pergi untuk menuntut ilmu, Kak." Senja tersenyum sangat manis, dia belum sadar kalau dirinya sekarang sedang terluka.


"Kenapa kamu menuntut ilmu, apa dia bersalah sehingga kamu harus menuntutnya?" tanya Hendi sebagai bahan candaan.


Senja menggelengkan kepala, jika dipikir itu memang ada benarnya kenapa juga ilmu harus dituntut? Tapi, menurut sejarah kata-kata itu memang sudah terpakai sejak lama.


Saat Senja menyadari kalau dia ada di rumah sakit, dengan cepat dia bertanya pada Hendi alasan dia masuk ke rumah sakit. Dia tidak merasakan rasa sakit di kepalanya karena obat bius yang tadi pagi diberikan dokter masih bekerja.


"Kamu hanya terluka kecil di kepalamu, apa kamu tidak tahu itu?" Hendi balik bertanya.


Sesaat Senja terdiam dan mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya. Secuil ingatan terlintas saat Anggi mendorong kasar tubuhnya sampai dia terbentur tiang dan setelah itu dia sudah tidak bisa mengingat kejadian berikutnya.


"Hmm ... aku mengingatnya, Kak. Aku terbentur dan setelah itu aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Aku yakin aku pingsan sehingga seseorang membawaku ke sini," jawab Senja dengan senyum manis tapi tidak bisa menutupi wajah pucatnya.


Hendi membantu Senja untuk duduk, mereka berbincang-bincang sampai Senja ingat akan suatu hal. "Kak, siapa yang memberitahu kamu sampai kamu bisa tahu kalau aku di rumah sakit?" tanya Senja, dia menatap lekat mata kakaknya agar kakaknya tidak berbohong dengan dia.


Hendi ingat permintaan Faris yang meminta dia untuk tidak memberitahu Senja kalau Faris yang menghubungi dia. Sesaat Hendi hanya diam karena dia merasa ragu dengan apa yang akan dia jawab. Namun, Hendi ingat kalau itu bukan sebuah janji sehingga setelah menghembuskan napas panjang Hendi. memberitahu Senja.


"Faris yang memberitahu, kakak," jawab Hendi sambil mengusap kepala Senja dengan penuh perhatian.


"Kak Faris?" tanya Senja untuk memastikan bahwa apa dia tangkap dalam pendengarannya tidak salah.

__ADS_1


"Iya, Faris. Teman lamamu yang sempat mengira kalau kamu ini pacarku." Hendi teringat dengan kejadian saat di taman beberapa tahun lalu.


"Aku mengingatnya. Di mana dia sekarang, Kak?" tanya Senja, matanya menyapukan pandangan di sekitar.


"Tadi dia pamit katanya dia mau pulang ke rumah sebentar." Jawaban Hendi tidak membuat dia lega, tapi malah mengundang rasa khawatir pada hatinya.


Tidak mungkin kalau dia pulang, aku tahu dia hanya berbohong pada, Kak Hendi. Tapi kalau dia tidak pulang, ke mana dia?


Senja diam dan melamun sesaat sampai dia tidak mendengar panggilan sang kakak. "Sayang, kamu melamun?" Hendi menyentuh pipi Senja dan menyadarkan dia dari lamunannya.


"Maaf, Kak." Senja tersenyum kikuk saat kedapatan sedang melamun.


"Apa yang kamu lamunkan?" tanya Hendi penasaran.


"T-tidak ada, Kak."


"Sayang, kakak sudah pernah bilang jaga diri kamu, tapi kamu selalu saja terluka akhir-akhir ini, mana adik kakak yang dulu?" Hendi terlihat sangat terpukul karena merasa tidak becus menjaga adiknya.


"Ada kalanya sebuah rasa sakit mengingatkan kita kalau kita tidak mungkin akan selamanya kuat, kan, Kak?" Senja masih mengulas sebuah senyuman dari bibir tipisnya.


"Iya juga. Kalau kamu sehat, kamu selalu melakukan hal yang membahayakan diri kamu." Hendi mencium pucuk kepala Senja lagi dan lagi.


🍁🍁🍁


Bersambung ...


Halo apa kabar kalian? Lama tidak berjumpa. Maafkan aku yang sibuk sehingga harus membuat novel ini hiatus.


Aku sudah kembali, dan semoga bisa terus up ya.


Buat kalian yang lupa sama alurnya boleh kok di baca ulang dari bab satu karena ada revisi juga dari bab satu walau belum semua bab aku revisi.

__ADS_1


__ADS_2