
π¦π¦TAP JEMPOLπ KALIAN SEBELUM MEMBACAπ¦π¦
"Sa-saya tidak pacaran dengan dia, Om. Tapi kalau boleh, saya mau menikahinya," ucap Anggi dengan sedikit gemetaran.
"Wait! Maksud kamu, kamu mau menikahi putri om?" ulang Davidson.
"I-iya, Om David, sebenarnya saya sudah menyukai anak om dari saya SMA," jawab Anggi jujur.
"Itu beneran, Nggi?" sahut Hendi tiba-tiba, yang baru saja sampai di kamar Senja setelah mengantarkan Dokter Zain.
"Kalau memang itu semua benar, bunda setuju kok, Anggi kan udah jagain putri bunda, jadi kalau Anggi mau menikah bunda nggak masalah," ucap Zara sambil tersenyum.
Anggi jadi merasa malu, bahkan untuk bergerak saja rasanya tidak leluasa. Anggi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung mau bicara apa sekarang di depan keluarga Senja.
Zara yang melihat tingkah Anggi jadi tersenyum, dia tahu kalau pria di depannya itu sedang grogi, apalagi baru saja dia mengatakan kalau dia merestui Anggi kalau mau menikahi putrinya.
"Om juga nggak masalah kalau kamu mau menikah sama anak om, tapi lebih baik kamu pikirkan lagi, takutnya kamu belum siap," ucap Davidson memberikan lampu hijau untuk niat Anggi.
"Nggi, ikut kakak bentar yuk, ada yang mau kakak omongin sama kamu," ajak Hendi.
"Kamu mau ngajak dia ke mana sayang?" tanya Zara penasaran.
"Ke depan, Bun. Ayo Anggi!" ulang Hendi.
"Iya, Kak."
Hendi dan Anggi keluar dari kamar Senja, kemudian mereka menuju ke balkon, Hendi menyuruh Anggi duduk berseberangan dengannya agar dua lebih mudah menatap pria yang lebih muda darinya.
__ADS_1
Saat mereka sudah nyaman dalam posisinya sekarang, Hendi segera membuka percakapan mereka.
"Kamu tau kenapa kakak ngajak kamu ke sini?" tanya Hendi.
"Nggak tau, Kak. Tapi tadi Kakak bilang ngomong sesuatu," jawab Anggi.
"Ok! Kamu benar-benar serius atau cuma main-main sama Senja?" tanya Hendi menatap lekat Anggi.
Kenapa dia tanya gitu sih, dia nggak percaya ya sama gue? Gue jadi gugup kalau ditanya gini, Tuhan bantu aku!
"Iya, Kak, Aku serius sama dia," jawab Anggi.
"Emang dianya mau nikah sama kamu?" Perkataan Hendi ibarat panah yang menusuk jantung Anggi sekarang, sehingga membuat jantungnya berdetak kencang.
Emang gue nggak pantes ya buat adiknya? Gue kan nggak jelek-jelek amat, muka gue lumayan kok.
"Apa kamu tau mas alalu adikku? Misalnya tentang mantan pacarnya mungkin?" tanya Hendi lagi.
Sebenarnya pertanyaan itu tidak terlalu penting, karena Hendi tahu kalau adiknya tidak pernah pacaran. Tapi tidak ada salahnya kan dia tanya ke Anggi, siapa tahu Anggi malah lebih mengenal Senja.
"Setau aku, dia nggak pernah pacaran, Kak," jawab Anggi apa adanya.
"Apa kamu pernah tanya ke dia, dia pernah suka sama cowok apa nggak?" tanya Hendi lagi.
Anggi menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu itu, karena dia tidak pernah bertanya pada gadis yang dicintainya itu.
__ADS_1
Hendi yang melihat Anggi menggelengkan kepalanya jadi tahu kalau Anggi belum mengenal dalam adiknya.
"Nggi, biar kakak kasih tau kamu, Senja itu pernah suka sama cowok, dan itu merupakan cinta pertamanya, dan kamu pasti tau, kan! Kalau yang namanya cinta pertama itu sulit dilupakan."
"Tapi itu kak cuma masa lalu, Kak. Dan masa lalu ya tetap akan menjadi masa lalu, nggak akan bisa diulang," ucap Anggi.
Hendi tersenyum, ternyata Anggi benar-benar belum mengenal adiknya dengan baik, bahkan Anggi tidak tahu kalau adiknya diam-diam masih mencari cinta pertamanya.
"Bagi kamu itu mungkin cuma masa lalu, tapi tidak untuk adikku," ucap Hendi dengan makna tersirat.
"Maksud Kakak?" tanya Anggi mulai mengerti apa yang dibicarakan Hendi.
"Maksud aku ya LIKE, KOMEN, DAN RATE 5 DULU.. nanti baru lanjut ...."
IKLAN
Netizen : Nggak lucu ...
Author : Gue nggak ngelawak π
Netizen : Gue gantung juga Lo Thor ...
Author : Makasih π
Netizen : Autthorrrrrrr ....
Author : Kabur netizen ngamuk πββπββπββπββπββ
__ADS_1