
Anggi memilih melampiaskan kekesalannya dengan nge gym di salah satu ruangan yang lengkap dengan alat-alat gym nya.
***
Di sekolah hari ini nggak di adain upacara karena ada alasan tertentu.Senja masih kesal dengan Hendra,Erick dan Anggi.Senja bahkan sudah tidak memperdulikan hukumannya.
Karena tidak ada upacara jadi hari ini pulangnya lebih awal. Senja berjalan ke parkiran untuk mengambil motornya di sana..
Tadi sempat sih Hendi mau mengantarkan tapi Senja menolaknya.Saat Senja sudah mau sampai di parkiran dari kejauhan Anggi melihatnya.
Anggipun menghampiri Senja kemudian menarik tangannya agar ikut pulang bersama.
"Ikut gue lo, hukuman lo belum beres curut."
"Nggak mau, aku bawa motor, bisa pulang sendiri dan masalah hukuman aku nggak mau lanjutin lagi, anggap aja kejadian kemarin saat Kak Anggi dan kawan-kawan yang membuat aku kesal itu jadi balasan buat aku untuk waktu itu yang bikin Kakak rugi." Tolak Senja, kemudian melepaskan tangannya yang di tarik Anggi.
"Nggak bisa gitu dong, yang di rugiin waktu itu kan cuman gue, jadi kalau Hendra sama Erick bikin lo kesel kemarin juga nggak bakal bisa gantiin kerugian gue."
"Tapi aku bawa motor, dan lagi nggak mood ngadepin Kakak."Senja mengambil jaket denim yang ia sampiran di kepala motor miliknya kemudian memakainya.
Saat Senja sudah menaiki motornya, dengan cepat Anggi ikut naik juga, dia duduk di jok belakang dengan santainya.
"Turun woy!" perintah Senja.
"Ogah, kalau lo nggak mau pulang bareng gue naik mobil, ya mending gue pulang bareng lo naik motor."
"Kenapa aku punya kakak kelas sedeng kaya gini sih." ucap Senja jutek.
"Apa lo bilang barusan?"
"Sedeng, turun cepet, aku nggak mau boncengin, orang Kak Anggi nggak pakai helm nanti aku kena tilang kan repot."
Anggi tidak mau turun dari motor Senja, Anggi mengambil helm orang yang ada di motor sebelah Senja. Kemudian memakainya.
"Helm orang woy."
"Siapa yang bilang kalau ini helm Macan?"
"Kak Anggi yang bilang barusan."
Sang pemilik helm yang tiba di parkiran langsung berteriak saat helm miliknya di pakai Anggi.
"Kembaliin helm gue woy, nggak punya duit apa sampai helm gue lo ambil."
"Pinjam doang kali, besok gue kembaliin, nih lo bawa mobil gue sebagai gantinya."Anggi melemparkan kunci mobilnya kepada pemuda yang diketahui namanya adalah Tobi.
"Seriusan lo?"
"Iya."
Tobi yang berjalan ke arah mobil Anggi, dan langsung masuk ke dalam mobil keren itu.
"Keren nih mobil, haha... enak juga ya jadi gue cuman minjemin helm gantinya gue naik mobil." ucap Tobi yang sudah duduk di kursi belakang kemudi.
"Ayo buruan nyalain motornya!" perintah Anggi setelah menyelesaikankan urusannya dengan si pemilik helm.
Dengan sangat sebal Senja melajukan motornya, dia tidak perduli dengan orang yang duduk di belakangnya itu.
Anggi yang usil tiba-tiba berniat ingin menjaili Senja.Anggi melingkarkan tangannya di perut Senja sambil menyandarkan kepalanya di bahu Senja.Helm mereka sampai berhimpitan.
"Lepasin tangannya woy."
"Nggak mau."
"Jangan bikin aku nggak fokus bawa motornya, ni juga kepala kakak ganggu banget, bangun nggak?, apa aku ngebut."
Anggi tidak perduli dan malah semakin jail dengan mengeratkan pelukannya. Walaupun terhalang tas Senja tapi karena postur tubuhnya yang gede itu jadi dengan mudah dia tetep bisa memeluk Senja.
__ADS_1
"Ngebut cuman ngomong doang, mana mungkin cewe curut kaya lo ngebut."ucap Anggi meremehkan.
"Kak Anggi lihat aja."
Senja memutar gas motornya sehingga menambah kecepatan motornya, walaupun jalan lumayan rame tapi dengan lincah Senja bisa menghindar dan menyalip kendaraan yang mengahalanginya.
Anggi yang di boceng kaget, dia tidak menyangkan bahwa gadis yang keliatan polos di depannya itu ternyata jago mengemudi motor. Anggi yang tidak terbiasa duduk di jok belakang lumayan takut, karena biasanya dia sendiri yang mengendarai bukan di bonceng seperti ini.
Anggi berteriak menyuruh Senja mengurangi kecepatan motornya tapi Senja tidak menghiraukan nya, malah semakin menambah kecepatan motornya.
Senja sangat senang karena bisa mengerjai Anggi.
"Jangan ngebut dasar curut, nyawa gue nggak ada serep nya, gue belum nikah belum punya anak woy."
Senja terbahak mendengar celotehan Anggi.
"Denger nggak sih lo curut, gue belum nikah woy, kalau gue mati ntar mak bapak gue bakal kangen sama gue, secara gue anak nya paling ganteng."
"Bwahahaha..."Senja tertawa namun tetap melajukan motornya bak pembalap.
Senja memasuki gerbang yang telah di buka oleh penjaganya kemudian masuk ke garasi.
Anggi melepas helm kemudian turun dari motor Senja.
"Gesrek lo." ucap Anggi gemetar.
"Hahaha... Kak Anggi gitu aja gemetaran, sakit perut aku dah ah." Senja memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.
"Lo cewe bawa motor ngebut gitu, nggak sayang lo sama nyawa lo?"
"Hahaha... Kak Anggi sebegitu takutnya kah, aduh lucu banget sih ini muka." Senja mencabut pipi Anggi kemudian menggerakkan kepala Anggi ke kanan dan ke kiri saking gemesnya.
Anggi yang mendapat perlakuan seperti itu, dan melihat Senja tertawa lepas jadi ikut tersenyum.
"Pusing kepala gue woy."
Zara yang melihat putrinya pulang dengan seorang cowo langsung menghampirinya.
"Siapa ini Senja?" tanya Zara.
"Kenalin Bunda, ini Kak Anggi yang sering Senja ceritain ke Bunda itu lho." jawab Senja.
Anggi kemudian salim kepada Zara, Zara memperhatikan Anggi dari ujung rambut sampai ujung kaki tak lepas dari perhatiannya.
"Ganteng." Satu kata yang terlontar dari bibir Zara.
Anggi yang di bilang ganteng langsung tersenyum lebar.
"Terima kasih Tante."
"Kalau kaya kini di bilang ganteng, terus yang jelek itu seperti apa Bun?"
"Lha emang kenyataannya aku ganteng kok."
"Idih PD jreng."
"Maafin Senja Nak Anggi, Senja emang suka gitu kalau ngomong, kalau usah di dengerin."
"Ih Bunda, lihat yang bening-bening langsung deh anaknya di lupain.Masuk yuk Bun." Senja menarik tangan Zara dan mengajaknya masuk, Zara menarik tangan Anggi supaya ikut masuk juga.
"Udah pulang lo De, cepetan ganti baju sana, habis ini ikut kakak ke rumahnya Kak Rizal."
"Kok Kak Hendi ada di rumah, nggak kuliah apa bolos?"
"Udah pulang, tadi cuman ada kelas pagi doang."
"Ouh."
__ADS_1
"Siapa ini De." tanya Hendi kemudian menghampiri Anggi yang masih berdiri di samping bundanya.
"Anggi Kak, temennya Senja." Anggi yang menjawab sambil mengulurkan tangannya.
Hendi menerima uluran tangan Anggi.
"Hendi, abangnya Senja.Kalau nggak salah lo adik Rizal kan?"
"Iya Kak." Hendi manggut-manggut.
"Nak Anggi, bunda tinggal dulu ya. Hendi temenin Anggi dulu, biar Senja mandi sama ganti baju dulu."
"Iya Bun.Duduk Nggi."
Anggi duduk di sofa ruang tamu, sedangkan Senja ke kamarnya mandi dan ganti baju.Setelah selesai mandi Senja bergabung dengan Anggi dan juga Hendi.
"Nanti kamu pulangnya sama kakak aja ya, kebetulan kakak mau ke rumah kamu, udah ada janji sama kakak kamu. Nanti Senja ikut juga kok." tawar Hendi.
"Iya Kak nanti aku bareng sama Kakak."
"Kak Hendi, makannya cepetan cari pacar biar kalau ke mana-mana ada yang nemenin, masa iya setiap kali mau pergi yang di ajak adiknya terus." timpal Senja.
"Pacar gue kan lo De, lupa lo, jahat amat lo De sama pacar sendiri masa lupa sih." canda Hendi.
"Idih lo Kakak gue woy, sadar woy sadar, gini nih kalau jomblo, adik sendiri aja di anggap jadi pacarnya."
"Siapa yang bilang kalau gue suami lo?" ledek Hendi.
Senja geram dengan kakaknya, dia menjewer kakaknya kemudian mencubit tangan kakaknya dengan keras.
Hendi mengaduh kesakitan.
"Lepasin telinga gue, kurang ajar lo De sama gue, gila cubitan lo parah bener, gini nih kalau Serigala lagi ngamuk. Ampun De, sakit woy."
Hendi yang berhasil melepaskan diri dari Senja kemudian membalas perbuatan Senja dengan cara menggelitikinya.
Senja sampai berguling-guling di lantai karena gelitikan kakaknya itu.
"Buahahahaha, stop Kak Hendi." ucap Senja.
Anggi yang melihat pertengkaran kakak beradik di depannya itu hanya tersenyum tipis, dia seperti mendapat kebahagiaan tersendiri melihat ke akraban kakak beradik itu. Namun tak bisa di pungkiri bahwa jauh di dasar hatinya merasakan iri.
"Enak ya jadi lo Senja, punya orang tua yang baik kaya bunda lo, kakak lo juga perhatian banget sama lo, beruntung banget hidup lo nggak kaya gue, di keluarga gue yang perhatian cuma Kak Rizal doang, itu juga nggak sedeket lo sama kakak lo."
Senja yang berhasil berdiri langsung berlari kemudian bersembunyi di balik punggung Anggi yang masih duduk di sofa.
"Kak Anggi tolongin Senja." pinta Senja sambil mencengkeram erat pundak pemuda yang di jadikan tamengnya itu.
"Hendi jangan ganggu adik kamu, kalian itu ngalahin Tom sama Jerry aja. Kalau salah satunya nggak ada aja di cariin kalau udah ketemu akur sebentar langsung berantem lagi.Nggak malu apa di lihat tamu."ucap Zara dari yang berjalan dari dapur.
"Habisnya Senja ngeledek aku Bun, dia bilang aku suruh cari pacar biar kalau pergi ke mana-mana bisa sama pacar aku, emang aku cowo apaan Bun." Adu Hendi.
Anggi tersenyum lebar melihat tingkah kekanakan pemuda yang lebih tua darinya itu.
"Emang kenyataan kalau Kakak nggak punya pacar, wleek." Senja mengejek Hendi dari balik punggung Anggi.
"Maaf ya Nak Anggi, biasa ini mereka kalau udah berdua aja bikin pusing kepala tante."
"Nggak papa Tante, Anggi malah seneng kok liatnya, mereka akrab banget ya Tante."
"Ya beginilah keluarga kami Nak, ayo sekarang kita makan siang dulu, tante udah masak enak ini."
Senja, Zara, Hendi dan Anggi makan siang bersama, Anggi merasa sangat bahagia bisa makan bersama dengan mereka, Anggi merasakan sesuatu yang berbeda saat makan bersama mereka tidak seperti saat makan dengan Keluarganya.
#Jangan lupa like, komen, rate dan votenya ya..
Terima kasih 😘💕
__ADS_1