
🦋🦋TAP JEMPOL👍 KALIAN SEBELUM MEMBACA🦋🦋
Ingin rasanya mencium bibir Senja tapi dia masih ingat batasnya, dan dulu waktu SMA, Anggi mencium Senja di depan Rizal dan Hendi adalah karena kecelakaan.
Anggi mengusap kepala Senja pelan, kemudian pandangannya fokus kembali ke depan.
"Lo masih sama seperti dulu, cuma sekarang tambah cantik aja, coba kalau lo nggak ngeselin, pasti gue nggak bakal gangguin lo, tapi sikap lo yang ngeselin itu bikin gue ****** sama lo."
Kini mobil Anggi sampai di depan gerbang rumah Senja, Anggi membangunkan Senja dengan cara memanggilnya lirih.
"Woy bangun udah sampai."
"Lima menit lagi." gumam Senja masih dengan mata terpejam, "Kak Anggi." Senja sudah melepas sabuk pengaman dan masih dalam keadaan terpejam Senja menyandarkan kepalanya di bahu Anggi.
Rupanya Senja sangat mengantuk sehingga dirinya tidak menyadari apa yang dia lakukan. Anggi ingin membangunkan Senja lagi tapi dia tidak tega saat melihat Senja masih pulas.
"Gue tunggu sampai lo bangun sendiri, gue nggak tega bangunin lo."
Anggi memposisikan dirinya agar duduk dengan nyaman dan membuat kursinya sedikit tidur,setelah nyaman, Anggi menunggu Senja agar bangun sendiri.
Tapi karena menunggu terlalu lama, Anggi akhirnya ikut tertidur, dengan posisi sedikit rebahan karena kursinya sudah ia buat sedikit tidur.
Senja yang awalnya bersandar di bahu kini kepalanya sudah berpindah bersandar di dada Anggi. Dan tanpa sadar Senja melingkarkan tangannya di tubuh Anggi.
Mereka berdua tidur bersama di mobil, tanpa melukakan apa-apa karena mereka tidak sadar.
Satpam di rumah Senja tidak mengetahui jika ada mobil yang terparkir di depan gerbang karena tidak menyadari kedatangan mobil itu.
Pagi harinya, Anggi bangun lebih dulu dari Senja, Anggi merasakan ada sesuatu yang menindih dadanya.
Anggi melihat Senja masih tertidur dan bersandar di dadanya, bahkan Anggi sedikit terkejut saat tau jika Senja memeluknya.
"Pantas saja dadaku terasa berat, ternyata dia menjadikannya dadaku sebagai bantal."
Anggi tersenyum saat melihat Senja yang semakin mengeratkan pekukannya.
"Gue kerjain ah, gue mau pura-pura tidur, nanti kalau dia bangun, gue bakal isengin dia haha."
Lima menit kemudian Senja terbangun, Senja kaget saat sadar dirinya tidur dengan memeluk Anggi, tapi Senja cukup tenang karena melihat Anggi masih tidur.
Perlahan Senja melepaskan pelukannya dari Anggi, dan mengangkat kepalanya pelan dari dada Anggi.
Senja memperhatikan wajah Anggi dengan seksama, kemudian tersenyum simpul.
"Ganteng juga ya Kak Anggi ternyata, kalau aku rusak sedikit gapapa kali ya?" ucap Senja yang tentunya di dengar oleh Anggi.
Senja tertawa pelan, dan mengambil lipstik dari tasnya, Senja hendak mencoret wajah Anggi namun greeb... tangan Anggi memeluk pinggang Senja sehingga membuat Senja terjatuh di pelukan Anggi dan lipstik yang tadi di tangannya tidak sengaja mencoret wajahnya Sendiri.
"Lo mau ngapain?" ucap Anggi.
"Kok udah bangun sih Kak, bangunnya bentar lagi ya, merem dong aku mau jailin Kakak nih." pinta Senja berusaha bangun dari posisinya, yang juga dengan konyolnya menyuruh Anggi untuk tidur lagi karena dia belum sempat menjaili Anggi.
"Ogah gue tidur lagi, nanti lo terpesona sama ketampanan gue, nanti kalau lo nyuri-nyuri kesempatan rugi dong gue."
__ADS_1
"Idih PD gila, cuma cewe **** sangat bilang kalau Kak Anggi ganteng." ucap Senja masih berusaha melepaskan diri.
"Berarti lo **** dong, kan lo tadi bilang kalau gue ganteng."
"Kapan aku bilang, Kakak ngigo ya?" elak Senja.
"Tadi pas gue masih merem lo bilang kalau gue ganteng kok, dan telinga gue masih berfungsi dengan baik." Anggi menatap Senja dengan tatapan meremehkan.
"Iya-iya aku ngaku, Kak Anggi emang ganteng, kalau di suruh kasih nilai 1-10 aku kasih nilai 0 haha... Kak Anggi lepas dong!"
"Tadi malam aja lo tidur sambil meluk gue, malah nggak mau lepas lagi, kok sekarang minta lepas sih?" goda Anggi yang berhasil membuat wajah Senja memerah.
"Kan aku nggak tau kalau aku meluk Kakak, cepetan lepas Kak, aku mau mandi mau sholat subuh dulu, nanti keburu siang." ucap Senja jujur apa adanya.
Akhirnya Anggi mau melepaskan Senja dengan satu syarat.
"Gue lepas, tapi ada syaratnya." Anggi menatap lekat mata Senja.
"Buruan bilang apa syaratnya." Senja mengalihkan pandangannya dari Anggi, karena merasa tidak nyaman jika di tatap seperti itu.
"Lo harus mau jadi kekasih gue." ucap Anggi santai kaya di pantai.
"Nggak mau ih, aku tu nggak mau pacaran Kak." Senja jujur dengan perkataannya, karena dia memang tidak mau yang namanya pacaran.
"Kamu harus mau."
"Aku nggak salah dengar? barusan Kak Anggi manggil aku pakai sebutan kamu? Kak Anggi sehat Kan." Senja malah jadi khawatir kalau cowo di depannya itu kesambet dedemit.
"Tadi aja manggil kamu, sekarang lo lagi, dasar pria bunglon."
"Mau nggak?" tanya Anggi.
"Nggak mau." tolak Senja.
"Tapi kamu harus mau."
"Nggak mau ya nggak mau, jadi cowo kok suka maksa."
Anggi tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Senja, apalagi dari tadi Senja ngomel terus dan Anggi semakin tergoda untuk mencium bibir itu.
Anggi menekan tengkuk Senja dan menciumnya bibirnya, Senja berusaha bangun dari karena kepalanya di tahan Anggi jadi Senja tidak bisa melepaskan diri.
Di tambah tangan Senja sulit untuk memukul Anggi karena ruangan yang sempit dan posisi mereka sekarang membuat Senja sulit bergerak.
Anggi me***** bibir Senja pelan, dan menggigit bibir bawah Senja sehingga Senja membuka mulutnya.
Anggi menjelajahi mulut Senja dengan lidahnya, menikmati ciuman paksa yang dia lakukan sendiri.
Ada getaran aneh di hati Senja, dirinya ingin menolak tapi tidak dengan tubuhnya. Perlahan Senja mulai menikmati ciuman yang Anggi berikan, Senja membalas ciuman itu.
Mereka memejamkan mata mereka, jantung mereka seperti sedang lomba pacuan kuda.
Cukup lama mereka berciuman, sampai Senja melepaskan diri karena kehabisan napas.
__ADS_1
Anggi melepaskan Senja, dan setelah di lepaskan, Senja langsung turun dari mobil dengan wajah semerah tomat.
"Bodoh, dasar bodoh, Senja apa yang kamu lakuin barusan, nanti Tuhan marah sama lo, lo harus minta maaf sama Tuhan sekarang." Senja berjalan sambil memukul pelan kepalanya.
Anggi masih berdiam diri di dalam mobil, dia menyentuh bibirnya, dan teringat adegan yang terjadi baru saja.
"Kenapa gue bodoh sih, nggak bisa ngenalin diri gue sendiri, Tuhan maafkan hambamu ini ya, tapi Kau menciptakan seorang wanita yang teramat menggoda, kan aku jadi khilaf. Tuhan maafkan aku ya."
Anggi menyalakan mesin mobilnya namun tidak langsung pergi.
"Tapi Tuhan kalau boleh, aku mau sekali lagi."
Dasar Anggi bukannya tobat malah nawar.
"Pak Tio, bukain gerbang dong." teriak Senja.
Satpam itu pun langsung membuka gerbang ketika mendengar suara nona mudanya.
"Non jalan kaki pulangnya?"
"Enggak." jawab Senja langsung berlari karena tidak mau kalau Pak Tio tau, kalau wajahnya sekarang memerah karena malu.
Pak Tio melihat sebuah mobil terparkir di depan gerbang, dan saat Pak Tio mau menghampiri mobil itu, mobil itu sudah melaju pergi.
"Non Senja pulang sama siapa ya?" gumam Pak Tio, kemudian kembali menutup gerbang.
Senja berlari ke kamarnya, Bi Jum yang melihat itu langsung menyusulnya.
"Non, Non Senja kenapa?" teriak Bi Jum dari luar kamar Senja karena Senja telah masuk kamar.
"Nggak papa Bi, kebelet." Senja berbohong kepada Bi Jum.
"Non nggak bohong kan?" Bi Jum terlihat khawatir dengan nona mudanya itu.
"Enggak kok Bi." balas Senja.
"Kalau gitu bibi turun ya Non." ucap Bi Jum.
"Iya Bi." balas Senja dari dalam.
Senja mandi kemudian langsung melaksanakan sholat subuh yang waktunya sudah mepet.
Setelah itu, Senja turun dan sarapan, kemudian berangkat ke kampus seperti biasa.
Senja menjalani hari ini dengan berbeda, karena hal yang dilakukannya dengan Anggi masih terekam jelas di ingatan Senja.
Setelah selesai dengan segala aktivitasnya di kampus, Senja memutuskan untuk segera pulang.
Hari ini Senja tidak bersama dengan Alarice, karena Senja masih cukup kesal dengannya.
#Jangan lupa like semua episode,komen, rate, dan votenya...
Terima kasih 😘💕...
__ADS_1