Kembali

Kembali
KEMBALI (Perang Dunia)


__ADS_3

"Rese lo." Anggi meninggalkan Rizal sendirian di ruang tamu.


"Gue seneng liat lo Nggi, sekarang lo sering tersenyum semenjak lo kenal Senja, coba kalau sikap lo begini terus gue pasti bahagia."


Rizal menjatuhkan dirinya di sofa, semenjak kakek nenek nya meninggal, Anggi yang tadinya ceria sudah hilang berganti menjadi Anggi yang dingin dan hampir tidak pernah tersenyum.


Hari-hari Anggi hanya dia anggap tidak ada gunanya, Rizal senang karena Anggi sudah mulai tertawa lagi.


Papanya yang keras kepala membuat Anggi membencinya, Rizal sebagai kakak bisa apa, dia hanya bisa memberikan kasih sayangnya saja tidak ada yang bisa Rizal lakukan selain itu.


Anggi merebahkan dirinya di ranjang, dia masih membayangkan saat dirinya mencium Senja tadi. Anggi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Dasar bodoh." batinnya walau tersenyum juga.


🍁🍁🍁


Satu minggu setelah kejadian itu Anggi tidak pernah menggangu Senja begitu pula dengan Senja.


Anggi merasa malu jika bertemu Senja, sedangkan Senja selalu menghindar setiap kali melihat Anggi.


Bahkan ketika mereka berpapasanpun tidak saling menyapa.


Walaupun ada rasa rindu di hati mereka.


Malam minggu ini Senja di ajak Hendi ke Danau Delmorania, danau yang sering ia kunjungi dan yang menyimpan banyak cerita tentang dia di dalamnya.


Senja duduk bersandar di bawah pohon besar tepi pulau buatan, sedangkan Hendi merebahkan tubuhnya di samping Senja sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala sebagai bantal.


Senja teringat kenangan saat bermain dengan teman-temannya sehingga menimbulkan rasa sesak di dadanya.


"De, pulang nanti beli Martabak manis pakai keju tapi nggak pakai kacang ya." Ucap Hendi sambil memperhatikan adiknya.


Senja hanya melirik kakaknya tanpa menjawab ucapannya.


"Lo kenapa sih De? kakak perhatiin dari tadi diem terus, nggak suka ya kakak ajak ke sini?"


"Suka kok, nanti kalau mau beli, beliin aku martabak telur sekalian.Lagian Kakak kalau mau beli kenapa jelasinnya ke aku coba, emang aku jual apa?" ucap Senja tanpa menoleh kepada kakaknya, karena dia sedang memikirkan sesuatu.


"Andi lo lagi apa di sana? apa lo bisa liat gue di sini, apa lo ingat kalau kita sering ke sini sama teman-teman yang lain, lo lihat kan kalau gue sekarang di sini cuma sama kakak gue, gue kangen lo An." Senja menghembuskan napas pelan.


"Tumben mau Martabak Telur, biasanya juga ogah kalau kakak beliin.Hehe kali aja lo mau jualan,gue pasti beli kok De." Hendi heran karena tidak biasanya adiknya itu mau Martabak Telur.


"Lagi pengen aja Kak, kalau nggak mau beliin ya nggak papa aku nggak maksa kok.Nggak mau lah jualan kalau yang beli Kak Hendi." ucap Senja lirih.


"Iya nanti kakak beliin, jangan ngambek gitu napa, jelek tau."


"Siapa juga yang ngambek, orang nggak ngambek kok."balas Senja karena memang dia tidak sedang ngambek.


"Trus kenapa tu muka di tekuk gitu?"


"Karena muka aku capek selonjoran."jawab Senja santai.


"Hah?" Hendi melongo mendengar ucapan adiknya.


Senja menoleh ke arah kakaknya.


"Kenapa?"


"Aneh lo De."


"Oh."


"Oh doang?"


"Trus mau apa?"


"Nggak asik ah males, cerita lah ngapa tu muka murung gitu, masa sama kakak sendiri nggak mau cerita." ucap Hendi.


"Aku cuma ke ingat sama teman-teman aku Kak, dulu kita sering main di sini, Kak Hendi juga tau kan kalau di sini itu banyak kenangan antara aku kau dan dia."


"Aku kau dan dia? lo nyanyi De?"


"Nyuci baju Kak."


"Kenapa gue punya adik otaknya gak beres sih." Hendi bangun kemudian ikut bersandar di pohon.


"Yaudah, tinggal di beresin aja."


"Kacang." ucap Hendi yang mengartikan bahwa beresin Senja mah masalah kecil (kacang).


"Atom." Senja malah menjawab dengan ngawur tapi masuk akal juga.


"Bom di Nagasaki."balas Kak Hendi karena teringat akan Bom Atom.


"Perang Dunia ke dua."


"Indonesia merdeka."


"Belanda menderita."


"Rakyat bahagia."


"Kenapa lo gila?" Senja berucap karena obrolan mereka malah nggak tau ke arah mana.

__ADS_1


"Kalau gue gila berarti lo juga gila."


"Ada ya orang gila ngomong gila."


"Ada lah, kalau butuh bukti, lo itu buktinya De."


"Jomblo aja belagu, kalau bukan Kakak aku siapa lagi, malah ngatain gila lagi."


"Jomblo itu keren lho De.Karena jomblo bangsa Indonesia bisa merdeka dan bisa melawan penjajah."


"Kalau ngomong suka ngaco, anak nya siapa sih?"


"Bunda Aitzara. Dan kakak tu nggak ngaco De."


"Emang apa hubungannya jomblo sama bangsa Indonesia yang merdeka?"


"Jomblo itu bersatu apa berdua?"


"Bersatu lah.Gitu aja pakai tanya."


"Nah makanannya itu, Indonesia aja merdeka karena bersatu bukan karena berdua."


"Itu beda dasar bambang."


"Dosen gue De."


"Ah ngomong sama Kakak mah nggak bakal kelar."


Senja yang tadinya murung kini jadi cerewet kembali karena ulah kakaknya.


🍁🍁🍁


Dinda yang satu minggu lalu memutus pertemanannya dengan Putri mulai bisa bebas.


Dulu waktu berteman dengan Putri pasti Dinda tidak punya waktu untuk menyenangkan dirinya sendiri.


Dinda juga sudah meminta maaf kepada Anggi karena dia telah ikut-ikutan menghina Senja.


Tapi Anggi hanya mengatakan kalau Dinda mau minta maaf ya minta maaf sama orangnya lah jangan sama Anggi emang Anggi apaan.


Kyla dan Rani setiap hari membujuk Dinda agar mau berteman lagi dengan Putri tapi Dinda menolaknya.


Seperti hari ini Kyla datang ke rumahnya, dan masih terus membujuk agar Dinda kembali lagi menjadi teman Putri.


"Emang kenapa sih Din, masa cuma gara-gara masalah gitu doang lo nggak mau berteman sama Putri lagi." tanya Kyla yang duduk di sofa ruang tamu.


"Nggak kenapa-napa, gue udah males berteman sama orang yang nggak bisa menghargai orang lain gitu, cantik cuma modal bedak aja belagu." ucap Dinda terang-terangan.


"Kok lo ngomong gitu sih? lo iri karena Putri lebih cantik dari lo? lo ngaca dong kalau bukan Putri yang mau berteman sama lo nggak ada yang mau berteman sama lo." ucap Kyla.


"Jangan-jangan lo nggak mau berteman lagi sama Putri gara-gara lo suka sama Anggi ya? dasar teman licik kok lo tega sih nikung teman sendiri."


"Otak lo di kasih makan apa sama dia?"


"Maksud lo apa?" Kyla bicara dengan nada tinggi.


"Kalau lo nggak tau kenyataannya nggak usah ngomong deh Kay,capek gue ladenin orang yang bodoh kaya lo."


"Kok lo ngatain gue bodoh sih, lo ngajak ribut?"


"Lo dulu yang mulai, urusan gue sama Putri itu urusan pribadi gue, lo nggak usah ikut campur deh Kay, mending sekarang lo pulang aja, karena percuma juga lo bujukin gue, karena gue nggak akan pernah mau berteman sama dia lagi."


"Lo ngusir gue?"


"Kalau lo nganggep nya gitu ya terserah."


"Ok gue pulang, dan ingat ya Din, lo bakal nyesel karena udah menghina Putri." Kyla berjalan keluar dari rumah Putri dengan perasaan marah.


"Bukan gue yang bakal menyesal, tapi lo Kay, kalau aja lo tau alasan yang sebenarnya mungkin lo malah bakal lebih marah sama Putri ketimbang marahnya gue sama Putri." batin Dinda.


Sepeninggalan Kyla dari rumahnya, Dinda memutuskan untuk pergi keluar, dia ingin memanjakan dirinya dengan berjalan-jalan.


🍁🍁🍁


Hendra mengirim pesan untuk Erick, dia akan mengajak Erick menemaninya ke danau.


"Rick lo mau ikut nggak? gue mau main ke danau nih."


"Nggak ah gue males."


"Beneran ini nggak mau?"


"Iya, mending lo ngajak Anggi aja sana."


"Yaudah deh gue coba ajak dia."


"Oke."


Hendra pun segera mengirim pesan kepada Anggi, sebenarnya dia malas mengajak Anggi karena nggak seru, tapi daripada pergi sendiri malah tambah nggak seru.


"P."


"Napa?"

__ADS_1


"Mau ikut gue main ke danau nggak?"


"Nggak."


"Gini aja deh, temani main ke danau yuk."


"Nggak mau."


"Emang lo lagi ngapain? lagi sibuk apa?"


"Lagi males, sibuk rebahan."


"Oh yaudah."


"Ok."


Hendra berdecak sebal, kenapa juga teman-temannya tidak mau di ajak main, padahal kan asik mumpung hari sabtu juga.


Akhirnya dengan terpaksa Hendra ke danau sendirian.


Sesampainya di danau, Hendra segera naik perahu kecil kemudian menuju ke pulau buatan. Setelah mengikat tali perahu ke pohon terdekat Hendra memutuskan untuk berkeliling.


"Itu kok kaya Senja ya?" Hendra bermonolog.


Hendra mempertajam pandangannya untuk memastikan bahwa dia tidak salah lihat.


Setelah yakin bahwa itu benar-benar Senja, Hendra segera menghampiri Senja yang sedang duduk dengan seorang laki-laki.


"Hai Senja, sama siapa nih? cowo lo ya?" sapa Hendra yang langsung mengajukan pertanyaan.


Sontak Hendi dan Senja menoleh ke arahnya.


"Oh, hai juga Kak, dia ini ka... mmmmmmm." Senja tidak menyelesaikan ucapannya karena Hendi membungkam mulut Senja dengan tangannya.


"Iya gue cowok nya, lo siapa?" Hendi menjawab dengan bohong.


Hendra merasa curiga, tapi tetap pura-pura percaya.


"Aku kakak kelasnya."


"Siapa nama lo?" tanya Hendi lagi, Senja sibuk melepaskan tangan kakaknya.


"Hendra."


"Dia Kakak ku, buka cowo aku." sahut Senja saat berhasil melepas tangan Hendi.


"Kak Hendi kenapa juga ngaku-ngaku jadi cowo aku, gini nih kalau jomblo adik sendiri aja di jadiin pacarnya." Senja menepuk-nepuk pundak Hendi tanda kasian.


"Oh jadi dia kakak lo."


"iya."


Dari kejauhan tampak wanita berjalan mendekati mereka, Senja yang melihat itu bisa menilai bahwa usia wanita itu lebih tua darinya, mungkin seumuran dengan Hendi.


"Hendi, ini beneran kamu?" ucap wanita itu berdiri di hadapan Hendi.


"Iya gue Hendi, lo siapa?" tanya Hendi karena tidak mengenali wanita itu.


"Gue Lisa, lo nggak ingat ya?" ucap Lisa merasa kecewa.


"Lisa?"


Senja menatap kakaknya dan wanita itu secara bergantian, dia tidak menyukai gaya wanita ituitu karena baru pertama kali bertemu saja sudah menatap Senja dengan sinis.


"Iya, Lisa teman SMP lo."


"Oh, gue ingat, iya lo Lisa. Kemana aja lo baru keliatan?"


"Waktu kelas dia SMP itu aku pindah ke luar negeri."


"Oh, pantesan gue nggak pernah liat lo lagi."


"Iya, ini cewe lo?" tanya Lisa menatap Senja dengan tatapan tidak suka.


"Oh ini."


"Gue istrinya, mau apa lo?" ucap Senja sewot karena mendapat tatapan sinis dari Lisa.


"Kalau mas mau selingkuh, selingkuh aja aku nggak papa, aku iklhas. Yuk Kak kita pergi dari sini." Senja berperan menjadi seorang istri yang sedang marah, kemudian menarik tangan Hendra agar menjauh dari mereka.


"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Hendi.


"Mau main."


Kini tinggal Hendi dan Lisa berdua saja, Senja dan Hendra sudah tidak terlihat batang hidungnya.


"Adik gue kenapa sih, sewot amat sama Lisa, dia kaya nggak suka gitu sama ni cewe, malah ngaku-ngaku jadi bini gue segala lagi, dasar adik gue." batin Hendi.


Lisa yang mendengar kalau Hendi memanggil wanita yang mengaku sebagai istrinya itu dengan penggilan sayang langsung merasa tidak senang.


Hendi yang melihat raut wajah Lisa akhirnya tau alasan Senja mengaku jadi istrinya.


#Jangan lupa like, komen, rate dan vote nya ya....

__ADS_1


Terima kasih 😘💕...


__ADS_2