Kembali

Kembali
KEMBALI (Kenapa)


__ADS_3

Anggi menganggukan kepalanya kemudian melambaikan tangannya, dan melajukan mobilnya kembali ke rumah.


Senja segera masuk ke rumah dan di sambut oleh bunda dan juga ayahnya.


Setelah berbincang sebentar dengan mereka Senja langsung ke kamar dan beristirahat.


***


Pagi harinya Senja sudah di jemput Anggi, Senja duduk di belakang bersama Hendra sedangkan Erick di depan bersama Anggi.


"Di marahin nggak sama orangtua lo?"tanya Hendra dalam perjalanan.


"Enggak kok, orang tua ku bukan pemarah, yah walaupun kalau sekalinya marah serem banget lebih serem dari lihat hantu."jawab Senja.


"Kapan-kapan main dong ke rumah gue!" kata Hendra lagi.


"InsyaAllah aja deh hehe, kan Kak Hendra tau kalau aku sekarang harus nurut sama dia." Senja menunjuk Anggi.


"Sama Anggi mah nggak usah nurut, nanti kalau lo terlalu nurut lo bakal di bikin semakin sulit sama ni anak." Komentar Erick.


"Emang gue bakal mempersulit dia gimana?, gue bukan orang kaya gitu tau, tapi kalau dia mau gue persulit ya ok... ok aja gue mah." kata Anggi.


Senja yang mendengar perkataan Anggi seketika langsung berubah raut wajahnya.


"Kalian bertiga boleh nyuruh aku apa aja, kalau aku bisa nurutin pasti aku turutin asal nggak ngerugiin orang lain sama diri aku sendiri." kata Senja datar.


"Lo serius?" tanya Anggi.


"Hmmm." Senja menganggukan kepalanya.


"Kalau misal gue minta lo jadi tameng gue dari Putri dan kawan-kawan lo mau nggak?" Pancing Anggi ingin tau reaksi Senja.


"Aku mau, tapi ingat Kak waktu hukuman ku udah berkurang." ucap Senja.


"Kan kata lo, lo bakal jadi asisten gue sepuas gue, lo lupa apa ngelupa?" Anggi kesal dengan Senja.


"Iya emang kemarin aku bilang gitu, tapi aku kan nggak bilang kalau hukuman tujuh hari bakal sama seperti hukuman berikutnya."


"Tcih kalau gitu mah sama aja."


Hendra dan Erick hanya menjadi pendengar yang baik.


Senja tidak menanggapi lagi, Senja melakukan itu karena dia merasa sangat bersalah, Dia tau kalau dia sudah menyebabkan Anggi dalam masalah besar karena hal sepele yang di buatnya.


Sesampainya di sekolah Senja langsung turun dari mobil, dan saat itu juga Putri dan gengnya melihat Senja.


Putri merasa sangat marah dan menghampiri mereka.


"Hei gadis culun kenapa lo bisa turun dari mobil sayangnya aku?" Putri mendorong Senja sampai hampir jatuh namun dengan sigap Erick menahannya.


Senja sedang tidak ingin cari masalah sehingga dia hanya diam saja diperlakukan seperti itu. Sedangkan Putri kini sudah bergelayut manja di lengan Anggi.


"Jawab woy, Putri ngomong sama lo." sahut Kyla.


"Dia bi** kali nggak bisa ngomong,iya nggak Din?" ucap Rani meminta persetujuan Dinda.


"Haha ... iya bener banget." kata Dinda kemudian.


Anggi tidak menghiraukan mereka. Anggi memilih diam sambil memperhatikan apa yang akan di lakukan Senja. Anggi membiarkan saja Putri yang menempel padanya.


Anggi ingin melihat apa reaksi Senja.


"Mulut lo nggak pernah di sekolahin apa?" Hendra menyindir Rani.


"Eh Hendra sayang kok gitu sih ngomongnya, aku jadi sedih lho." ucap Rani manja.


"Mau muntah gue denger suara lo yang kaya toa rusak." Erick menimpali.


"Senja kok lo diam aja sih, balas dong mereka!" perintah Hendra.

__ADS_1


Senja tidak menghiraukannya dan memilih meninggalkan mereka.


"Mau kemana lo Senjaa?" teriak Anggi agar kedengaran.


"Mau ke kelas, Kak Anggi, Kak Erick dan Kak Hendra, aku duluan ya." balas Senja dari kejauhan.


Anggi mendorong Putri sampai terjatuh dan mengomel tidak jelas. Anggi mengajak kedua sahabatnya untuk pergi meninggalkan Putri dan gengnya.


Putri merasa sangat marah kepada Senja. Dia berusaha untuk mencelakai Senja.


***


Senja masuk ke kelasnya dengan mood yang tidak terlalu baik.


Saat pelajaran berlangsung Senja kali ini benar-benar tidak fokus. Sekarang waktunya istirahat pertama, Senja memutuskan untuk berdiam di kelas saja.


"Kenapa lo keliatan murung?" tanya Alarice.


"Gue gapapa kok, cuman lagi agak nggak enak badan aja. Kok lo nggak pergi ke kantin?" tanya Senja balik.


"Gue nemenin lo aja deh, lagian gue juga lagi malas ke kantin. Oh iya nomor yang lo kasih waktu itu kok nggak bisa gue hubungi ya." ucap Alarice.


"Hehe, itu nomor gue asal save di HP lo." jawab Senja.


"Elah, kok lo tega ngasih gue nomor palsu. Lo pelit banget cuman nomor aja nggak mau ngasih." Alarice benar-benar merasa kesal dengan Senja.


Senja tidak menghiraukan teman sebangku nya itu.


Saat bel masuk berbunyi Senja kembali tidak fokus dalam memahami materi yang disampaikan guru. Waktu istirahat kedua Senja hanya keluar untuk sholat kemudian kembali lagi sampai waktu pulang tiba.


***


Senja sudah berada di dalam mobil Anggi sekarang mereka hanya berdua karena Anggi sudah mengantarkan kedua sahabatnya ke rumah mereka masing-masing.


"Lo kenapa sih, dari tadi diam terus?, lagi sariawan lo?" tanya Anggi.


Yang di tanya hanya menggelengkan kepala, terlihat mata Senja sekarang berkaca-kaca.


Senja tidak merespon dan malah terisak pelan.


Anggi menghentikan mobilnya karena sudah sampai di rumahnya. Anggi mengajak Senja ke ruang tamu kemudian Anggi meninggalkan Senja sendiri.


Anggi tidak bertanya kepada Senja saat melihat Senja terisak tadi.


Orang tua Anggi sedang pergi ke luar negeri, Hanya ada pelayan di rumah itu. Karena Rizal juga sedang ada urusan di luar.


Tak lama Anggi menghampiri Senja dan mengajaknya ke kamar.


"Ganti baju lo pakai baju gue, nggak usah nangis lagi!" ucap Anggi.


Senja tidak menjawab Anggi tapi Senja nurut saja dengan Anggi. Setelah selesai berganti pakaian, Anggi mengajak Senja ke balkon di luar kamarnya.


Senja duduk di lantai balkon masih terlihat air mata di wajah cantiknya. Anggi yang melihat itu di buat bingung, tidak bisanya Senja bersikap seperti itu.


"Lo kenapa sih dari tadi keliatan murung, dan juga nangis trus nggak berhenti-berhenti, apa nggak capek tu mata lo?" ucap Anggi yang ikut duduk di samping Senja.


"Apa sih sebenarnya salah aku Kak?" ucap Senja kemudian menatap laki-laki di sebelahnya itu.


"Eh, apa lo nangis gara-gara gue maksa lo jadi asisten gue?" Anggi tidak menjawab dan malah balik bertanya


Senja menggelengkan kepalanya.


"Kak apa aku nggak pantes buat bahagia, apa aku nggak pantes punya orang-orang yang deket sama aku, apa aku nggak pantes Kak?" tanya Senja yang semakin membuat Anggi bingung.


"Maksud lo apa?" tanya Anggi bingung.


"Orang-orang yang deket sama aku, Orang-orang yang selalu ada buat aku mereka pergi ninggalin aku gitu aja. Kenapa Kak kenapa mereka tega ninggalin aku sendirian apa salah aku Kak apa?, Kenapa Kak kenapa mereka jahat sama aku, mereka ninggalin aku kenapa Kak Anggi kenapaaaa?" Senja bertanya sambil terisak.


Anggi masih bingung dengan ucapan Senja.

__ADS_1


"Emang mereka siapa sih yang lo maksud, dan yang ninggalin lo itu siapa, gue nggak faham sama perkataan lo?"


"Sahabat aku Kak, mereka pergi buat selamanya mereka meninggal karena kecelakaan, mereka berdua Amy dan Fiza sahabat aku waktu SMP. mereka berdua ingin pergi liburan bersama tapi mereka malah pergi untuk selamanya." Senja semakin terisak setelah mengucapkan itu.


Ya Amy dan Fiza sudah meninggal, mereka mengalami kecelakaan saat akan pergi liburan, mereka tewas di tempat. Senja baru mendapat kabar tadi pagi saat sampai di kelasnya.


Itulah yang membuatnya tiba-tiba murung dan tidak fokus saat pelajaran.


Anggi yang mendengar penjelasan Senja langsung merasa kasian kepada Senja. Anggi ikut sedih saat mengetahui bahwa sahabat Senja meninggal.


Anggi menarik Senja ke dalam pelukannya.


"Lo nggak salah Senja lo nggak jahat, mungkin ini memang takdir dari Allah untuk mereka. Lo boleh nangis sepuas lo menangislah!"


Senja yang sekarang dalam pelukan Anggi langsung terisak dengan keras. Anggi menyysap kepala Senja pelan, hatinya merasa sakit saat melihat Senja menangis.


Anggi semakin mengeratkan pelukannya. Senja membalas pelukan Anggi, kali ini dia memang sedang butuh kekuatan.


"Aku takut Kak. Aku takut!" ucap Senja masih terisak.


"Nggak usah takut, kan lo masih punya gue, masih ada Hendra dan Erick juga, lo jangan takut ok!" Anggi berusaha menenangkan Senja.


Senja hanya mengangguk masih memeluk Anggi erat, hatinya masih sangat hancur saat mengingat sahabatnya yang kini telah tiada.


Tanpa sadar kini Senja tertidur di dalam pelukan Anggi. Anggi yang menyadari bahwa Senja tidur langsung melepas pelukannya dan menggendong Senja kemudian membaringkannya di kasur miliknya.


Anggi menyelimuti Senja kemudian keluar kamar. Anggi malam ini akan tidur di kamar tamu. Dan membiarkan Senja tidur di kamarnya.


Sebelumnya Anggi memberitahukan kepada orang tua Senja. Kalau malam ini Senja menginap di rumahnya.


***


Pagi harinya Senja terbangun dan kaget saat dia tidur di kamar yang bukan kamarnya.


Senja mengingat-ingat kejadian semalam saat dia menangis di pelukan Anggi, tapi Senja tidak ingat kalau dia tertidur di pelukan Anggi.


Pintu kamar Anggi di buka, Senja melihat ke arah pintu, terlihat Anggi membawa nampan uang berisi makanan.


"Lo udah bangun?, mandi sana habis itu sarapan nih!"ucap Anggi meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.


"Iya, Kak Anggi udah sarapan?" tanya Senja sambil beranjak turun dari tempat tidur.


"Udah tadi, gue keluar ya. Oh ya nanti kalau udah selesai sarapannya kalau lo mau nyari gue, gue ada di bawah." ucap Anggi kemudian meninggalkan Senja.


Senja segera mandi kemudian mengenakan baju milik Anggi yang tadi sempat di ambilkan Anggi. Selesai sarapan Senja turun dan mencari Anggi.


***


Anggi sedang sibuk berlari berputar mengelilingi taman di belakang rumahnya.Itu adalah kebiasaan Anggi saat libur sekolah.


Setelah melakukan putaran sebanyak sepuluh kali, Anggi duduk di atas rumput sambil menyelonjorkan kakinya.


"Gue nggak nyangka ternyata tu anak manis juga kalau lagi nangis, gemes gue sama dia."Anggi bermonolog.


"Makasih pujiannya, aku emang udah manis dari lahir kok, gula aja iri sama aku." Senja menyahuti Anggi yang berbicara sendirian.


Anggi terkejut dengan kehadiran Senja yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.


Dengan cepat Anggi meralat ucapannya yang baru saja dia ucapkan.


"Maksud gue tu nggak gitu, orang gue tadi bilang madu yang gue minum tadi pagi manis ya." Ralat Anggi.


Namun Senja tidak mempercayai itu, karena dia sudah mendengar dengan sangat jelas kalau tadi Anggi mengatakan kalau dia manis.


Senja ikut duduk di atas rumput tepat di sebelah Anggi, kemudian Senja memberikan air mineral kepadanya.


"Nih minum, pasti Kak Anggi capek ya habis olahraga." ucap Senja sambil menyodorkan botol air mineral itu.


Anggi menerima botol itu, kemudian segera meminumnya.

__ADS_1


"Makasih." katanya.


#Jangan lupa like, komen, dan votenya terima kasih ...


__ADS_2