
**Pandangan mataku tertuju pada satu titik saja
Terpana pada satu orang saja
Tertaut hanya satu nama saja
Dikau yang meracuni mataku
Merasuki hatiku
Membuat benih cinta dihatiku
Tapi apa daya diriku
Hanya mampu meredam rasaku
Alina putri**
Alina yang menatap Angga dari kejauhan, tersenyum indah, namun menjadi suram tatkala ia lihat menyusul dibelakannya seorang wanita yang ternyata satu angkatan dengan Alina.
Citra
ya itu citra satu angkatan dengan Alina, tapi berbeda jurusan dengan Alina . Citra jurusan IPS, sedangkan Alina jurusan IPA. Dada Alina sesak melihat pemandangan itu.
Apakah itu pacar kak Angga ?
Apakah itu?
Masih tanda tanya besar di benak Alina
__ADS_1
setau Alina, Angga tidak memiliki kekasih.
Mata alina berkaca-kaca, senyum diwajahnya menghilang. Alina menundukkan pandangannya berbisik pada hatinya
" tenanglah Alina, tidak mengapa. Mungkin itu hanya teman nya saja"
tapi mengapa?, mengapa harus berdua.
"dik coba dipakai dulu"
"iya mbak"
Alina memakai septu tersebut . Terlihat pas sekali, sangat cocok di kaki Alina. ayah dan ibu Alina sangat senang melihat nya
Mereka bertiga berjalan mengitari mall masuk kesebuah restoran.
"kita makan dulu" kata ayah Alina
Alina terus memikirkan apa yang dilihat nya tadi, rasanya begitu sesak melihat pemandangan itu. Alina menghela nafas panjang kemudian duduk bersama ayah dan ibu nya, mereka terlihat bahagia makan bersama.
Dirumah Alina berpamitan untuk langsung pergi ke kamarnya. Alina menghempaskan tubuh diranjang miliknya. Menutup wajah nya dengan tangan sambil memejamkan mata. bulir bening terlihat mengalir disela jarinya .
"Alina bukankah kau bahagia hari ini, kenapa kau menangis. Alina kau gadis yang kuat" Alina tersenyum untuk dirinya sendiri
Alina duduk disofa kamarnya , melihat keluar jendela. warna jingga melintang disapu warna gelap disana, mentari telah kembali ke peraduannya. Alina menatap senja yang menghilang, berganti gelap menandakan malam.
Alina masuk ke kamar mandinya membersihkan tubuhnya, mengganti pakaian nya , kemudian mengadukan semua nya pada sang pencipta.
"Biarlah aku tahan rasa ini, biarlah kuserahkan ini pada pemiliknya, jika sudah tiba waktunya Dia akan pertemukan untuk jalani kisah bersama. "
__ADS_1
pukul sembilan Alina duduk dipinggir ranjangnya, menatap langit-langit rumah meletakkan tubuhnya untuk berbaring diranjang nya. kantuk nya menjadi-jadi Alina memjamkan mata dan terlelap dalam tidur.
Seperti biasa Alina bangun subuh, merapikan tempat tidurnya, mandi, lalu sholat. setelah selesai berkemas Alina ke dapur membantu ibunya.
"selesai" ujar Alina.
Nasi goreng, telur, susu, dan kopi telah tersaji dimeja makan. Alina bersama keluarganya sarapan bersama.
"tiiiiiinnnnn" suara klakson motor, Alina begitu akrab dengan suara ini.
"Assalamu'alaikum " suara Risa tersengar, Alina segera menghampiri untuk membukakan pintu.
"Wa'alaikumsalam " Alina tersenyum melihat Risa.
Alina dan Risa masuk kedalam ayah dan ibu Alina mengajak Risa untuk sarapan bersama.
"Tau aja kalau aku belum sarapan" gumam hati Risa. sambil tersenyum Risa mengangguk menyetujui tawaran itu.
selesai sarapan Alina dan Risa berpamitan untuk langsung berangakat ke sekolah. dijalan Alina melihat Angga berboncengan dengan citra, Alina sesak melihat itu.
"kenapa coba berdua lagi" gumam Alina dalam hatinya.
Setiba di sekolah Alina menunggu Risa yang masih memarkirkan motornya . dilihat nya Risa menghampiri Alina. persis dibelakang Risa, Rangga dan citra berjalan ke arah Alina
"pagi Alina" sapa Angga
"pagi" jawab Alina ketus pada Angga
Alina menarik tangan risa menjauhi Angga dan citra.
__ADS_1
"Andai kau tau Angga "