
🦋🦋TAP JEMPOL👍 KALIAN SEBELUM MEMBACA🦋🦋
Meraka sudah sampai di rumah, Senja. Anggi menggandeng tangan Senja, bermaksud untuk menuntunnya, dan Senja tidak menolak, karena dia memang masih sedikit lemah.
Hendra dan Erick membantu membawa barang-barang Senja, dan menyusul masuk ke dalam rumah.
Saat meraka masuk, ke empat orang itu dibuat terkejut, karena mereka melihat ada kedua orang tua Senja dan juga Hendi kakak Senja.
Awalnya, Zara ingin memarahi putrinya, tapi saat melihat putrinya terlihat pucat, kemarahannya hilang begitu saja, dan berganti dengan rasa khawatir dan sedih.
"Assalamu'alaikum, semuanya," salam senja kepada keluarganya.
Ketiga pemuda itu pun melakukan hal sama, dengan apa yang di lakukan Senja baru saja.
"Assalamu'alaikum, semuanya," salam Anggi, Erick, dan Hendra bersamaan.
"Waalaikumsalam," jawab Zara, Davidson, dan Hendi bersamaan.
Zara segera berdiri, kemudian menuntun Senja supaya duduk di sampingnya. "Ayo duduk di samping, bunda, sayang!" Sekarang Senja duduk di antara Davidson dan Zara.
Senja tidak menolak saat Zara menuntunnya tadi, karena tiba-tiba tubuhnya kembali lemas, tidak seperti tadi saat di mobil.
"Kalian ayo silakan duduk, maaf ya jadi ngerepotin kalian," ucap Davidson kepada ketiga pemuda itu.
__ADS_1
"Iya, Om." Mereka pun duduk, Hendi pamit untuk pergi ke dapur, dia mau meminta, Bi Jum, untuk membuatkan minuman untuk tamu mereka.
"Bi, tolong buatkan minuman untuk tamu kita, ya! Nanti kalau sudah di jadi, bawa ke depan ya, Bi!" pinta Hendi.
"Iya, Tuan." Bi Jum segera membuatkan minuman untuk mereka. Sedangkan Hendi, dia kembali bergabung dengan mereka.
"Semuanya, om mengucapkan terima kasih, karena kalian sudah perduli dengan anak, om. Terutama kamu, Anggi, terima kasih ya, sudah menjaga anak, om."
"Sama-sama, Om," jawab mereka.
"Sayang, kenapa kamu nggak bilang sama kita kalau kamu sakit?" tanya Zara berusaha berbicara dengan normal, walaupun dari suaranya, terlihat jelas kalau dia sangat khawatir.
"Senja cuma nggak mau, bikin kalian khawatir sama, Senja. Senja baik-baik saja kok, Bun," ucap Senja.
Ya Allah, kenapa ini, kenapa sakit lagi. Padahal tadi aku sudah tidak apa-apa. Ya Allah, aku tidak mau terlihat lemah di depan keluargaku.
Wajah Senja yang semula masih pucat, kini bertambah pucat, Anggi yang menyadari itu, kemudian langsung bertanya pada Senja.
"Senja, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Anggi khawatir.
"Iya, Kak. Aku baik-baik aja, kok." Setelah Senja mengatakan itu, tiba-tiba Senja pingsan di dalam pelukan Zara.
"Ayah, Senja pinsan, hiks-hiks." Mira menangis saat melihat putrinya pingsan di pelukannya.
__ADS_1
Anggi yang melihat itu, langsung berlari mendekati Zara dan Senja, kemudian dia langsung menggendong Senja, ke kamar Senja.
"Biar, Anggi yang bawa Senja ke kamar, Tante," ucap Anggi sebelum menggendong Senja tadi.
Semua orang yang ada di sana segera mengikuti dari belakang. Zara masih terus menangis, melihat keadaan putrinya sekarang.
Hendi segera menghubungi dokter. Setelah itu dia menyusul ke kamar Senja.
Anggi menurunkan Senja di ranjang dengan hati-hati, kemudian mengambil minyak kayu putih untuk menyadarkan Senja.
"Sayang, aku mohon bangunlah! Aku tidak mau melihat kamu seperti ini, bangun sayang!" ucap Anggi lirih, dia kalut dalam kesedihannya.
"Nak Anggi, Senja kenapa pingsan begini? Tadi dia baik-baik saja, Kan?" Zara bertanya dengan suaranya yang serak.
"Tadi Senja udah baik-baik aja kok, Tan. Tapi kita juga nggak tau kalau sekarang dia malah pingsan." Erick yang menjawab pertanyaan Zara.
"Putri ayah bangun dong! Ayah janji, nanti kalau kamu bangun dan sudah sembuh, ayah ajak kamu pulang ke Indonesia, kita beli Martabak yang banyak buat kamu, tapi kamu bangun ya sayang," ucap Davidson, berharap putrinya segera sadar.
# Like komen dan rate jangan lupa ya..
Baca juga cerita aku "MENCINTAIMU DALAM DIAM"
Semoga kalian sehat selalu..
__ADS_1