
🎻🎻 CATATAN AUTHOR 🎻🎻
Author mau meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kalian para readers 🙏🙏🙏. Author mau mempercepat alur dalam cerita ini, dan anggap saja bab yang lalu sebagai pembukaan.
Karena cerita inti itu sebenarnya adalah saat Senja duduk di bangku perkuliahan.
Jadi biar nggak bingung author bikin sedikit cerita masa SMP dan SMA Senja dulu yang merupakan tokoh utama dalam novel pertama author.
Tapi author tidak sadar kalau sudah menulis terlalu banyak bab pembukanya.
Sekali lagi author minta maaf 🙏🙏🙏 semoga kalian mau memaafkan author ya.
Dan terima kasih untuk kalian yang sudah membaca karya author yang jauh dari kata menarik ini.
Terima kasih 😘💕...
Happy reading all...
Tap 👍 kalian sebelum membaca..
"Iya-iya dasar bawel." Alex mengacak-acak rambut adiknya.
Alex mengambil Laptop miliknya kemudian segera pergi dari kamar adiknya.
Setelah Alex keluar dari kamarnya, Alarice langsung duduk bersila dan menatap Senja.
"Sudah lama kenal sama Kak Alex?" tanya Alarice ingin tahu.
"Belum, aku baru kenal beberapa hari. Pantesan pas aku ketemu sama kakak kamu di rumah aku, aku merasa nggak asing sama muka dia, ternyata dia kakak kamu." Senja tersenyum, akhirnya pertanyaan yang mengganjal di hatinya itu sudah ada jawabannya.
🍁🍁🍁
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari dan begitu seterusnya hingga tidak terasa sekarang Senja sudah menjadi seorang mahasiswi di salah satu universitas terbaik dunia.
Masa lalu yang cukup rumit dijadikan pembelajaran untuk lebih memperbaiki diri lagi ke depannya, agar penyesalan dapat dihindari.
Senja kuliah satu fakultas dan satu universitas dengan Alarice, gadis yang menjadi sahabatnya sejak SMA.
Senja mengambil fakultas desain bangunan atau lebih tepatnya arsitek. Bukan tanpa pemikiran Senja memilih fakultas tersebut karena sebelum dia memutuskan dia sudah memikirkan dengan berbagai macam pertimbangan. Dan karena hobinya juga sangat mendukung fakultas yang dia pilih.
Senja sudah memasuki semester tiga kuliahnya, sedikit banyak dia telah membuat desain mulai dari desain gedung perkantoran, desain rumah dan lainnya.
Senja sekarang sudah menjadi gadis dewasa yang sangat cantik, anggun dan cerdas. Dia juga telah berhijab. Alaricepun demikian walaupun dia belum berhijab namun dia selalu memakai pakaian yang tertutup.
Hari ini setelah mata perkuliahannya selesai, Senja memutuskan untuk makan siang di kantin kampus. Sedangkan Alarice, dia sedang berada di perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dia pinjam beberapa hari yang lalu.
Seorang pria yang mengenal Senja terlihat berjalan menghampirinya, Senja tersenyum melihat pria itu, pria itu adalah sahabat sekaligus pacar dari Alarice.
"What are you doing baby?"
Apa yang kamu lakukan di sini baby?
tanya Arka sahabat laki-laki Senja.
"I just want to have lunch," balas Senja.
Aku hanya ingin makan siang.
__ADS_1
"Why are you just alone, where is Alarice?"
Kenapa kamu hanya sendiri, di mana Alarice?
"Yes,I'm just alone because he's returning the book to the library."
Ya, aku sendiri karena dia sedang mengembalikan buku di perpustakaan.
"Alright, I will join lunch with you."
Baiklah, aku akan ikut makan siang denganmu.
"Ok, we should immediately order food, and order also for Lala."
Ok sebaiknya kita memesan makan terlebih dahulu, dan pesankan juga untuk Lala.
"Ok."
Baiklah.
Arka pergi untuk memesan makanan untuk mereka makan siang. Saat Arka sedang pesan Alarice menghampiri Senja dan tidak langsung duduk.
"Maaf menunggu lama, ayo kita pesan makanan," ajak Alarice sambil menarik tangan Senja yang sedang duduk.
"Aku sudah pesan, tapi yang mengantre adalah pacarmu, duduklah!" ucap Senja sambil menyuruh Alarice duduk di sebelahnya.
Alarice kemudian duduk di sebelah Senja, tidak lama kemudian Arka sudah kembali dengan membawa nampan yang berisi tiga piring makanan.
"Thankyou honey," ucap Alarice.
Terima kasih
Iya sayang
"Please speak in Indonesian, you are fluent in Indonesian, right?"
Tolong bicara dengan bahasa Indonesia, kamu sudah fasih bahasa Indonesia kan?
pinta Alarice, bukan karena dia malas menggunakan bahasa Inggris, tapi dia lebih nyaman saat berbicara dengan bahasa Indonesia.
"Yes you are right, but I'm just not used to it."
Ya kamu benar, tapi aku hanya belum terbiasa.
"Makannya dibiasakan," ucap Senja.
"Ok, aku akan membiasakannya," ucap Arka masih kental dengan logat bulenya.
Mereka menikmati makanan yang telah mereka pesan, setelah selesai Senja memutuskan untuk segera kembali ke rumah karena sudah tidak ada kelas lagi.
Senja mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, di negara ini Senja tinggal di rumahanya sendiri yang merupakan hadiah dari sang ayah saat Senja berusia 17 tahun.
Sedangkan Alarice dia tinggal di apartemen miliknya yang kebetulan dekat dengan rumah Arka.
Sesampainya di rumah, Senja memarkirkan mobilnya di garasi.
Namun di garasi ada sebuah mobil yang asing untuknya. Senja memperhatikan mobil itu kemudian segera masuk ke rumahnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ...," salam Senja saat memasuki pintu rumah.
"Waalaikumsalam, Nona," jawab seorang pelayan wanita yang dia bawa dari Indonesia.
"Bi Jum, apa ada tamu yang datang? Soalnya saya melihat ada mobil yang terparkir di garasi,"tanya Senja kepada Bi Jum.
"Iya benar Nona, ada tamu yang datang. Dia sekarang sedang di balkon kamar Nona, katanya Nona akan senang dengan kehadirannya," jawab Bi Jum.
Senja sangat penasaran dengan tamunya, dan Senja bertanya lagi kepada Bi Jum.
"Tapi kenapa dia menungguku di balkon Bi? kenapa tidak menyuruhnya menunggu di ruang tamu saja?" tanya Senja.
Siapa ya dia, aku sangat penasaran, karena dia bisa ada di balkon, aku kan selalu membawa kunci kamar ku. batin Senja penasaran.
"Maafkan saya, Nona, tapi dia tidak mau menunggu Nona di ruang tamu," ucap Bi Jum sambil menundukkan kepalanya.
"Baiklah, Bibi kembalilah beraktifitas, saya akan menemuinya," perintah Senja.
"Baik Nona," jawab Bi Jum kemudian berjalan ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Senja langsung berjalan menaiki tangga, dan masuk ke kamarnya, setelah meletakkan tasnya Senja mencuci muka baru kemudian menemui tamunya itu.
Senja melihat seorang pria sedang duduk dengan membelakanginya, jadi Senja tidak bisa melihat wajah pria itu.
Pria itu tidak menyadari kehadiran Senja, karena Senja berjalan tanpa suara.
Senja berdiri di dekat pria itu kemudian mulai menyapanya.
"Selamat siang, apa kamu sudah lama menunghuku?" tanya Senja sambil memperhatikan pria itu.
Pria itu sedikit terkejut, dan langsung melihat ke arah Senja, Senja sangat terkejut tatkala dia mengenali wajah pria itu.
"Hai De, apa kabar?" sapa pria itu.
"Kakak ... kabar aku sangat baik," ucap Senja langsung memeluk kakaknya yang sekarang sudah berdiri.
"Wah kau semakin cantik ya sekarang, padahal baru beberapa bulan kakak tidak melihatmu," ucap pria itu yang ternyata adalah Hendi, dan membalas pelukan dari adik yang sangat dia rindukan itu.
Setelah puas memeluk kakaknya, Senja melepaskan pelukannya, kemudian mengajak kakaknya untuk kembali duduk.
"Tentu saja, aku sudah semakin dewasa, usiaku sudah delapan belas tahun. Dan kakak tidak menemuiku itu bukan beberapa bulan tapi sudah satu tahun lebih," ucap Senja.
"Baiklah kau benar, bagaimana keadaanmu di sini? Apa kau betah?" tanya Hendi.
Senja menyandarkan kepalanya di bahu sanga kakak.
"Sangat betah," balas Senja.
"Baguslah, kenapa kamu tidak pernah menghubungiku, De?" tanya Hendi sambil merangkul bahu adiknya dan mengecup kepala adiknya itu.
"Maafkan aku Kak, aku terlalu sibuk di sini. Jadi, aku tidak bisa menghubungimu," ucap Senja jujur.
"Tapi kamu sangat jahat, De. Kamu telah melupakan kakakmu sendiri, bahkan tadi kamu pasti tidak mengenaliku jika kamu tidak melihat wajahku," keluh Hendi dengan raut muka sedih.
"Maafkan aku Kak, tapi yang Kakak katakan adalah benar, aku tidak mengenalimu tadi karena tubuhmu sekarang semakin gagah saja."
"Haha ...." Hendi tertawa saat adiknya itu berkata jujur.
__ADS_1