Kembali

Kembali
KEMABLI (Jangan Pergi)


__ADS_3

Anggi menggendong Senja yang sudah tidak sadarkan diri, dan menurunkan di brankar dorong rumah sakit, Anggi mendorong brankar itu ke IGD bersama beberapa perawat.


"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh ikut masuk," ucap salah satu perawat ketika mereka sampai di ruang IGD.


"Suster, tolong biarkan saya masuk," pinta Anggi dengan wajah memelasnya.


"Tidak bisa, sebaiknya Anda menunggu saja di luar, Tuan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien.Dan sebaiknya,Anda segera mengurus biaya administrasinya dulu."


"Baik, saya akan mengurus administrasinya sekarang," ucap Anggi, kemudian segera berjalan ke bagian administrasi untuk melunasi semua biaya Senja.


Setelah selesai, Anggi menunggu, Senja di luar, dia duduk di kursi tunggu depan ruang IGD berdampingan dengan Hendra.


"Dia sakit apa, sih, Nggi? Tadi kan dia baik-baik aja?" tanya Hendra karena sudah sangat penasaran.


"Gue juga nggak tau, tadi gue ke rumahnya, dan dia udah kaya gitu," ucap Anggi sedih.


Hendra bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Anggi saat ini, karena dia tau, kalau Anggi sangat mencintai gadis itu.


Selama ini, Anggi hanya diam dan menyimpan perasaannya sendiri, dia hanya takut kalau, Senja, membencinya, tapi saat mereka sudah dekat, Anggi malah harus melihat gadis itu sakit seperti ini.


"Aku berharap, dia baik-baik saja," ucap Anggi.


"Aamiin. Anggi, apa nggak sebaiknya, Lo hubungi keluarganya?" saran Hendra.


Anggi melirik ke arah sahabatnya itu, lalu berkata, "Nggak bisa, biar gue yang tau ini semua dulu, dan kalau, Senja mengizinkan, nanti baru gue hubungi keluarganya," kata Anggi dengan yakin.


"Kenapa?"


"Gue nggak mau bikin semua orang panik, nanti kalau udah ada kejelasan tentang penyakitnya, baru gue hubungi keluarganya, Lo, paham, kan, maksud gue?"

__ADS_1


Hendra mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda dia paham dengan maksud Anggi.


Tidak lama, seorang Dokter keluar dari ruang IGD, kemudian Dokter itu menghampiri Anggi.


"Permisi, apa, Anda, keluarga pasien?" tanya Dokter itu.


"Iya, saya keluarganya," jawab Anggi, karena tidak punya pilihan lain, karena Senja di sini tidak tinggal dengan keluarganya.


"Bisa ikut ke ruangan saya sebentar!" punya Dokter itu.


"Bisa, Dok." Anggi berdiri dari duduknya, kemudian pamit kepada Hendra.


"Mari," ucap Dokter itu, kemudian berjalan mendahului Anggi.


Anggi dan Dokter itu sudah berada di dalam ruangan Dokter itu, kemudian Dokter itu mulai menjelaskan tentang kondisi Senja, dan penyakit apa yang dideritanya.


"Begini, Tuan. Jadi pasien itu menderita penyakit tumor otak, dan untungnya, tumor itu masih kecil dan belum terlalu berbahaya, pasien akan segera sembuh, jika melakukan operasi," kata Dokter itu menjelaskan.


"Lakukan yang terbaik untuk pasien, Dok, saya akan menanggung semua biayanya."


"Baik, Tuan, kami akan segera melakukan tindakan operasi hari ini juga," kata Dokter itu.


"Terima kasih, Dok. Tolong lakukan yang terbaik untuknya," pinta Anggi.


🍁🍁🍁


Sore harinya operasi pengangkatan sel tumor di kepala Senja di langsungkan, Anggi masih setia menunggu di depan ruang operasi.


Sedangkan, Hendra, dia sudah pulang karena Anggi uang menyuruhnya.

__ADS_1


Dia selalu memanjatkan doa, agar operasi berjalan dengan lancar.


Di ruangan operasi.


Operasi telah selesai, tapi detak jantung Senja semakin melemah, Dokter menggunakan alat pacu jantung kepada Senja, satu kali, dua kali, dan terus seperti itu, tapi.


"Tiiiiiiiiiiit...." Hasilnya nihil, Senja meninggal dan tidak tertolong.


Perawat menutup tubuh Senja dengan selimut sampai kepala, kemudian mendorong brankar keluar dari ruang operasi, untuk memindahkan Senja ke kamar mayat.


Anggi melihat lampu di ruang operasi sudah berubah menjadi hijau, itu tandanya operasi telah selesai, Anggi melihat pintu ruangan itu di buka dari dalam.


Tapi, saat dia melihat perawat mendrong brankar dengan seseorang yang sudah ditutup selimut sampai kepala, Anggi langsung menangis histeris.


Anggi mendekati brankar itu, kemudian membuka selimut yang menutupi wajah Senja, Anggi melihat wajah Senja yang sudah pucat tapi terlihat tersenyum.


Anggi tak kuasa menahan air matanya, dia masih menangis histeris, Anggi mengusap pipi Senja pelan, hatinya sangat sakit, dan dia tidak bisa menggambarkan rasa sakitnya.


"Senja, bangun! Kamu sudah berjanji kepadaku, kalau kamu akan menjaga hatimu untukku, tapi itu semua aku tidak mau lagi, aku mau kamu sekarang bangun!" Anggi memeluk jenazah Senja.


Para perawat yang melihat itu merasa kasihan kapada Anggi, mereka hanya menyaksikan hal mengharukan di depan mereka sekarang.


"Sayang, bangun!" teriak Anggi mengagetkan perawat.


Anggi mencium kening Senja, kedua matanya, kedua pipinya dan terakhir bibirnya, lalu Anggi berbisik di telinga Senja.


"Kalau, kamu tidak bangun, aku juga mau pergi bersamamu," bisiknya.


Ajaib, setelah Anggi mengatakan itu, tubuh Senja yang sudah mendingin berangsur-angsur kembali hangat, lalu Anggi bisa melihat pergerakan tangan Senja.

__ADS_1


"MasyaAllah, sungguh ini sebuah anugrah dari Allah," ucap Dokter yang melihat itu.


__ADS_2