
Melihat hal itu, Dokter langsung mendorong brankar, Senja, ke dalam ruangan perawatan.
Senja sudah sadar, dia kembali di infus, dan kondisinya lebih baik dari sebelum di nyatakan meninggal tadi.
Setelah, Dokter, selesai dengan urusannya mengecek keadaan, Senja, Dokter itupun pamit keluar ruangan, dan berpesan jika ada apa-apa nanti, segera menghubungi Dokter maupun perawat.
Senja masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dan Anggi setia menemaninya, Anggi akan merawat, Senja, sampai gadis itu benar-benar pulih.
Anggi menggengam tangan kanan, Senja, yang tidak di pasang infus, kemudian Anggi menciumnya berulang-ulang.
"Sayang," ucap Anggi lirih.
"Kakak, jangan menangis, aku tidak apa-apa," ucap, Senja, yang melihat, Anggi, menangis.
Anggi duduk di ranjang ruang sakit, kemudian memeluk, Senja, dengan pelan, karena takut jika melukai kepalanya.
"Ayo kita menikah!" ucap Anggi tiba-tiba.
Anggi tidak sedang bercanda, dia serius mengatakan hal itu, karena dengan dia menikah dengan gadis itu, maka dia akan selalu berada di samping, gadis itu, sepanjang hari.
"Kakak, aku masih kuliah, dan aku belum ingin menikah sekarang, aku masih muda, aku belum siap kalau harus melayani suami," ucap Senja tanpa ada maksud menolak.
"Kamu bisa menikah saat kuliah, dan aku tidak akan menyuruhmu untuk berhenti kuliah," ucap Anggi sunguh-sungguh.
"Apa, Kakak, mencintaiku?" tanya Senja.
"Kakak, sangat mencintaimu!" ucap Anggi dengan tegas.
Hening sesaat di antara mereka, hanya suara hembusan napas yang terdengar di tengah keheningan yang tercipta tiba-tiba.
"Kak Anggi," panggil, Senja, lirih.
"Hmm." Anggi menjawab dengan bergumam.
"Jangan bilang sama, ayah dan bunda, ya! Aku nggak mau bikin mereka khawatir dan menyuruhku pulang ke Indonesia," mohon Senja kepada Anggi.
Anggi berjanji tidak akan memberitahu keluarga Senja, karena gadis itu sudah memintanya, maka dia tidak akan melanggar janjinya, walaupun sebenarnya, Anggi, ingin sekali memberitahu keluarga Senja.
__ADS_1
Senja sekarang sudah tidur pulas karena efek obat yang baru saja dia minum. Anggi menemani gadis itu, bahkan dia juga ikut tertidur di dalam posisi duduk dan kepala bersandar di ranjang rumah sakit.
Senja terbangun dari tidurnya, dan dia melihat, Anggi masih tertidur, ada rasa bahagia di hati, Senja, saat dia tahu kalau ternyata, Anggi, benar-benar serius dengannya.
Hari ini, gadis itu tidak berangkat ke kampus, bukan karena bolos, tapi memang karena kondisinya yang masih sakit dan belum pulih.
Senja, mengusap pelan kepala Anggi yang masih tidur dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya berada di genggaman tangan, Anggi.
Kak Anggi, aku sangat bahagia, karena, Kakak, benar-benar tulus mencintaiku, aku juga sudah berjanji akan melabuhkan hatiku di hatimu, tapi entah kenapa, masih ada keraguan di hatiku, saat, Kakak, memintaku menikah denganmu.
Merasa ada orang yang mengusap kepalanya, Anggi, jadi terbangun. Dia melihat, Senja, tersenyum ke arahnya.
"Kamu, sudah bangun?" tanya Anggi, dengan suara serak, khas orang bangun tidur.
"Iya, Kakak, kalau capek, pulang aja! Senja bisa, kok, minta bantuan sama perawat nanti," ucap Senja, karena merasa tidak enak dengan Anggi.
"Aku, nggak mau ninggalin kamu sendirian," jawab Anggi.
"Kak Anggi, suruh, Bi Jum ke sini, saja! Nanti, Bi Jum yang akan menemaniku." Senja memeberikan solusi.
"Apa, kamu tidak suka kalau aku yang menemanimu di sini?" tanya Anggi dengan malas, sepertinya dia kecewa dengan usulan Senja.
Apa dia tidak suka kalau aku menemaninya, atau dia tidak suka padaku? Anggi berperang dengan batinnya sendiri.
"Baiklah, aku akan pulang, maaf, jika aku mengganggumu," sela, Anggi, cepat, kemudian dia meninggalkan, Senja, tanpa sepatah katapun.
Senja yang melihat sikap, Anggi barusan merasa bersalah, tidak seharusnya dia berkata seperti itu, tapi, kan, dia hanya merasa tidak enak saja dengan, Anggi, karena tidur dalam posisi seperti itu pasti tidak nyaman kan.
Maaf, Kak Anggi, aku tidak bermaksud mengusirmu, aku hanya kasihan padamu karena kamu pasti merasa tidak nyaman.
Sebenarnya, Anggi masih berada di depan ruang inap, Senja, dia tidak akan benar-benar pergi, dia hanya tidak mau membuat gadis itu banyak bicara, karena kondisinya yang belum pulih.
Beda hal nya dengan, Senja, gadis itu sekarang melepas selang infus, kemudian berjalan keluar untuk menyusul, Anggi.
Saat Senja sudah keluar, dia melihat, Anggi, sedang menundukkan kepalanya, Anggi duduk di kursi tunggu depan ruangannya.
Senja berjalan mendekat ke arah Anggi, dia berjalan dengan pelan, kemudian dia duduk di samping, Anggi.
__ADS_1
"Kakak, maafin, aku, ya." Senja meminta maaf kepada Anggi.
Anggi terkejut saat melihat, gadis itu sudah berada di sampingnya, dan lebih terkejut lagi, saat dia tahu kalau, Senja, melepas infusnya.
"Ayo kembali ke ruanganmu, aku akan memanggil perawat untuk memasang kembali infusmu." Anggi bangun dari duduknya kemudian menarik tangan gadis itu.
"Aku, nggak mau, Kak." Senja menolak untuk masuk ke ruangannya.
"Kamu, masih sakit, Senja!" ucap Anggi dengan sedikit kesal, karena dia khawatir.
"Aku, sudah sembuh, aku tidak sakit lagi, aku sehat, Kak," ucap Senja lirih.
"Kenapa, kamu keras kepala sekali sih!"
"A-aku, tidak mau," ucap Senja masih tetap kekeh tidak mau masuk.
"Senja-"
"Kak," ucap Senja dengan wajah memelasnya, berharap Anggi akan luluh. Namun sepertinya itu sia-sia saja, karena Anggi malah menggendongnya, dan membawanya masuk ke ruang perawatannya.
Senja hanya bisa pasrah di gendong oleh Anggi. Anggi menurunkan, Senja, secara hati-hati di ranjang rumah sakit.
Kemudian, Anggi, kembali keluar ruangan untuk meminta suster memasang kembali infus pada, Senja.
Tidak lama, Anggi kembali dengan suster, dan suster itupun memasang infus lagi.
Senja hanya diam saja, dia pasrah dengan apa yang di lakukan suster itu, walaupun tadi Senja menolak untuk di pasang infus kembali, tapi, Anggi, tetap meminta sister itu untuk memasangnya.
Anggi mengucapkan terima kasih kepada suster itu, kemudian suster itu keluar dari ruangannya.
Senja terus diam, dan sekrang berbaring dengan membelakangi, Anggi.
"Senja, kamu harus segera sembuh, makannya, kakak begini sama, kamu," ucap Anggi berjalan ke sisi, Senja menghadap sekarang.
Senja memejamkan matanya, dia tidak mau melihat Anggi, dia malu, karena dia terlihat lemah di depan laki-laki itu.
Aku hanyalah, burung, dengan sayapnya yang patah, aku tidak sempurna, bahkan untuk terbang saja tidak bisa.
__ADS_1
Like, komen, dan rate yang readers...
Maaf kalau jadwal upnya lama, karena aku up kalau aku lagi ada waktu buat nulis..