Kembali

Kembali
KEMBALI ( Reyhans Adyatama Renald )


__ADS_3

πŸ¦‹πŸ¦‹TAP JEMPOLπŸ‘ KALIAN SEBELUM MEMBACAπŸ¦‹πŸ¦‹


Sepeninggalan Faris, Rey hanya bisa diam. Dia tidak ingin memperburuk suasana sekarang. Dia tahu pasti sulit untuk Faris menerima kembali wanita itu.


"Jangan bersikap seolah-olah, Anda, orang yang menyedihkan di sini, Nyonya. Karena dia begini itu ulah, Anda," ucap Rey.


"Reyhans, jangan bicara seperti itu, Nak. Papa tidak pernah mengajarkan kalian seperti ini," sahut Prass sebelum wanita itu menjawab.


"Papa, tolong jangan bodoh karena cinta. Apa Papa tidak ingat bagaimana pengkhianatan yang dilakukan olehnya," kata Reyhans menyindir dengan cara yang halus.


Saat mendengar perkataan Reyhans, wanita itu hanya bisa diam seperti patung. Jujur saja, dia sangat sedih atas perlakuan Faris terhadapnya. Apa salah jika cintanya dan kasih sayangnya untuk Faris dan keluarganya kembali sekarang.


Tentu saja tidak, tapi dia harus memetik hasil yang dia tanam bukan. Dia dulu menanam luka di hati Faris serta kakak dan ayahnya. Jadi, sekarang luka itu akan berbalik padanya.


Reyhans langsung pergi meninggalkan papanya dan wanita itu. Dia pergi ke kamar adiknya, karena dia tahu kalau adiknya pasti hanya berbohong dan tidak benar-benar mau istirahat.


Wanita itu hanya bisa menatap punggung Reyhans yang pergi meninggalkan dan mengabaikannya, rasa luka di hatinya sangat mendalam saat diperlakukan seperti itu oleh mereka. Tapi, seharusnya dia ingat apa yang dilakukannya dulu agar dia tidak merasa kalau dirinya yang paling terluka di sini.


"Sekarang kamu tahu, kan? Bagaimana rasanya diabaikan oleh keluargamu sendiri," kata Prass dengan berat.


"Ya, aku memang pantas diperlakukan seperti ini, Mas." Wanita itu berkata dengan lirih, matanya terlihat berkaca-kaca. Tapi, Prass tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya menatapnya.


🍁🍁🍁


Anggi sudah berada di kamar Senja sekarang. Dia melihat gadis yang dicintainya itu sedang duduk bersandar pada ayahnya. Anggi bisa merasa lega saat melihat Senja yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.


David yang saat ini sedang bersama putrinya langsung menyuruh Anggi untuk mendekat. "Anggi, kemarilah! Lihat, anak om sudah sadar," ucapnya menyuruh Anggi mendekat.


"Iya, Om." Anggi melangkah mendekati mereka, David menyuruh Anggi duduk di tempatnya sekarang, dan menyuruh Senja untuk berganti bersandar padanya.


Awalnya Anggi menolak, karena dia merasa tidak nyaman kalau harus dalam posisi seperti ini sekarang. Tapi, karena David terus memaksanya akhirnya mau tidak mau dia menurut saja.


"Kalian ngobrol dulu, ya. Om mau keluar sebentar." David sengaja pergi dari kamar bertujuan untuk memberikan waktu berdua untuk putrinya dan Anggi.


Saat David mau keluar, dia juga mengajak Hendi dan Zara untuk ikut agar tidak menganggu kenyamanan putrinya dan Anggi.

__ADS_1


Sekarang hanya tinggal Senja dan Anggi di kamar, kesempatan itu digunakan Anggi untuk mengutarakan lagi perasaanya kepada gadis yang sekarang berbaring di kasur itu. Karena tadi Senja meminta berbaring saja, karena dia merasa tidak enak kalau harus bersandar pada Anggi.


"Senja, kakak mau bicara serius sama kamu sekarang, apa kamu bisa mendengarkannya?" tanya Anggi dengan maksud agar tidak mengganggu gadis itu.


"Bicara saja apa yang mau Kakak bicarakan, aku akan mendengarkan itu," jawab Senja. Seulas senyum tipis terlukis di bibirnya dan semakin memancarkan aura kecantikan dari dirinya.


Anggi menggenggam tangan Senja erat, dan menatap matanya lekat. Jujur Senja merasa nyaman saat dia bersama Anggi. Tapi, saat seperti ini, dia jadi teringat dengan seseorang, yang dulu juga sering bersikap hangat dan pengertian padanya.


Aku merindukan Kak Faris. Aku Sangat rindu dia. Bagimana kabar dia sekarang, ya?


"Senja, kamu tahu kan kalau kakak suka sama kamu? Apa kamu mau jadi istri kakak?" tanya Anggi masih menatap lekat Senja.


"Aku tahu itu, Kak," jawab Senja tanpa beban.


"Itu artinya, kamu mau jadi istri kakak?" tanya Anggi dengan mata yang berbinar.


Senja terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Jujur saya, dia ingin menerima Anggi. Tapi, perasaannya masih sedikit ragu.


"Maaf, Kak. Aku belum siap," jawab Senja dengan tidak enak hati.


"Aku punya alasan," sahut Senja.


"Tentang cinta pertamamu," ucap Anggi lalu dia langsung melepaskan tangan Senja yang dia genggam.


Senja sedikit terkejut saat Anggi mengatakan itu, bagaimana bisa Anggi tahu kalau dia mempunyai seseorang yang dia cintai sebelumnya. Dia belum pernah memberi tahu orang lain. Apa mungkin kalau Hendi yang memberi tahu Anggi. Senja jadi bingung menebak-nebak sendiri.


"Tidak, Kak. Ini tidak ada hubungannya dengan itu," ucap Senja ingin menggapai tangan Anggi. Tapi, Anggi menangkisnya.


"Sudahlah, aku tahu kamu pasti akan menolakku," ucap Anggi dengan rasa sakit di hatinya.


"Kak Anggi, aku belum memutuskan." Senja berkata dengan sedikit kesal.


"Senja, kamu tahu. Perasaanku sekarang bagaikan air di lautan. Kadang pasang dan kadang surut tidak menentu." Anggi berbalik dan langsung memeluk Senja yang masih duduk di ranjangnya.


"Aku tidak tahu harus berbuat apa, Kak," balas Senja membiarkan Anggi memeluknya.

__ADS_1


Jika batu yang keras bisa hancur oleh air, kenapa hati tidak? Kalau gunung yang tinggi bisa didaki, kenapa hati tidak? Kalau Bulan dan Matahari bisa bersama dalam waktu yang berbeda, kenapa hati tidak?


"Aku akan berjuang untuk bisa merebut hatimu, tolong bantu kakak, Senja," pinta Anggi memohon. Karena jika Senja tidak mau membantunya, maka perjuangannya hanya akan sia-sia saja bukan.


"Aku tidak bisa berjanji, Kak," ucap Senja jujur saja. Karena dia takut kalau nantinya malah akan melukai hati Anggi lebih dalam lagi.


Anggi melepas pelukannya, dia menatap Senja lekat dengan tatapan kecewa dan berharap. Air matanya mengalir pelan di pipinya.


"Tolong jangan menangis!" pinta Senja sambil mengusap air mata Anggi dengan ibu jarinya.


"Aku lebih baik tidak mengenalmu dulu, kalau sekarang harus berakhir seperti ini," keluh Anggi.


Aku pernah berjanji untuk menjaga hatiku untukmu dulu, aku tidak akan pernah mengkhianatimu Kak Anggi.


Walaupun Senja tidak tahu apakah dia bisa memberikan cinta pada Anggi atau tidak. Tapi dia tidak akan pernah mengingkari janjinya untuk menjaga hatinya untuk Anggi.


"Bantu aku untuk melupakan dia, Kak!" pinta Senja berharap penuh. Dia sudah tidak mau menunggu Faris lagi. Dia akan membuka hatinya untuk Anggi, dan dia berharap dengan begini, di antara mereka tidak akan ada yang tersakiti.


Mendengar permintaan Senja, Anggi merasa sangat bahagia. Itu berarti dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan Senja.


"Kakak akan membantumu," ucap Anggi dengan sangat bahagia. Senja tersenyum saat melihat Anggi tersenyum dan terlihat bahagia.


David diam-diam tersenyum dari balik pintu kamar Senja. Karena sebenarnya dia dari tadi menguping pembicaraan antara putrinya dan Anggi. Awalnya dia tidak kepikiran untuk melakukan itu. Tapi Zara Hendi yang mengusulkannya.


"Bunda lihat, kan? Kalau putri kita lebih memilih Anggi daripada Faris," ucap David Bisik-bisik.


"Iya, bunda lihat," balas Zara juga bisik-bisik.


🍁🍁🍁


Bersambung ...


Like , komen, dan rate jangan lupa ...


Vote juga boleh banget lho ...

__ADS_1


Sampai jumpa di episode selanjutnya


__ADS_2