Kembali

Kembali
KEMBALI : Tidak Akan Melawan


__ADS_3

Faris ingat kalau rumah Anggi satu kompleks dengan rumah Senja. Setelah bertanya pada beberapa orang, akhirnya dia menemukan juga rumah Anggi. Faris tidak peduli jika harga dirinya turun untuk membujuk Anggi agar mau menemui Senja.


Dengan langkah yakin, dia menekan bel yang dekat dengan gerbang agar satpam membuka gerbang untuknya. Tidak lama seorang satpam keluar dari gerbang dan menyapanya.


"Maaf, Tuan. Anda mencari siapa? tanya satpam penjaga rumah Anggi.


"Saya mau bertemu dengan, Anggi. Apa dia ada di rumah?" jawab Faris, dan dia juga kembali bertanya.


"Oh, Den Anggi ada, Tuan. Mari masuk!" Satpam tersebut membuka gerbang dengan cukup lebar dan mengantar Faris sampai depan pintu utama.


Satpam tersebut menekan bel dan pintu utama dibuka dari dalam, seorang wanita yang terlihat sudah berumur yang membukakan pintu untuk mereka.


"Ada apa, Mang?" tanya wanita itu pada satpam yang sering dia panggil mamang.


"Ini, Bi. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Den Anggi," jawab satpam tersebut menunjuk Faris yang berdiri di sebelahnya.


Wanita yang Faris yakini adalah seorang pembantu di rumah Anggi itu tersenyum ramah pada Faris. Faris membalas dengan anggukan dan senyuman juga.


"Mari masuk, Den!" Wanita itu mempersilakan Faris untuk masuk ke dalam rumah.


"Kalau begitu, saya balik ke pos ya, Tuan," ucap satpam.


"Terima kasih sudah mengantar saya sampai di sini, Pak," ucap Faris.


"Sama-sama, Tuan." Pak satpam segera berlalu kembali ke pos penjagaan.


"Mari, Den!" Wanita itu kembali mempersilakan Faris.


"Iya, Bi." Faris masuk dan wanita itu menyuruhnya untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Silakan duduk, Den. Biar bibi panggilkan Den Anggi dulu." Wanita itu segera berlalu meninggalkan Faris untuk memanggil Anggi yang sedang bersantai bersama teman-temannya di lantai dua.


"Den, Anggi maaf bibi menganggu waktunya, Itu di bawah ada tamu yang mencari Aden."


"Siapa Bi Um?" tanya Anggi penasaran.

__ADS_1


"Bibi lupa nggak tanya, Den. Tapi tamunya laki-laki." Bi Um menjawab dengan sedikit takut kalau nanti Anggi akan marah karena menerima sembarang tamu.


"Samperin aja, Nggi! Siapa tahu penting," perintah Hendra yang saat ini sedang bersamanya.


"Iya, Nggi. Samperin aja!" Erick ikut-ikutan menyuruh Anggi.


Karena Anggi penasaran dengan tamunya akhirnya dia mau menemui tamunya itu. "Baiklah! Ayo, Bi kita turun." Anggi berjalan mendahului Bi Um.


"Kok tumben ya ada tamu laki-laki datang ke rumah kita? Biasanya yang sering ke sini kan cuma Senja," ucap Hendra sambil menoleh pada Erick yang terlihat mengangguk-angguk kepalanya.


"Benar juga apa yang kamu bilang. Intip yuk!" ajak Erick yang diiyakan Hendra.


"Ayo!" Mereka berdua pun segera mengintip Anggi dan tamunya yang belum mereka ketahui itu.


***


Faris menunggu kedatangan Anggi dengan perasaan yang bermacam-macam, ada rasa ingin marah, kecewa, benci dan bersalah menjadi satu. Namun, jika kebahagiaan Senja adalah bersama laki-laki yang saat ini sedang ditunggu olehnya, maka Faris akan menurunkan sedikit egonya untuk meminta Anggi kembali dengan Senja.


Sambil menunggu Bi Um yang memanggil Anggi, Faris melihat sekeliling ruang tamu tempat dia berada saat ini. Dia melihat ada foto seorang wanita di tengah dua pria yang Faris sendiri tidak tahu siapa kedua pria itu.


Faris hampir beranjak dari duduknya dan mau melihat foto itu lebih dekat. Namun, suara langkah kaki seseorang yang datang mendekat membuat Faris mengurungkan niatnya.


Suara langkah kaki itu adalah milik Anggi, laki-laki yang akan dia temui. Anggi cukup terkejut saat melihat tamunya adalah Faris, laki-laki yang sangat tidak dia sukai.


Anggi dengan angkuhnya duduk di sofa dan menaikkan kedua kakinya di meja. Dia menatap Faris dengan sinis, tatapan permusuhan dan kebencian.


"Mau apa kau datang ke rumahku?" Anggi bertanya dengan sangat ketus.


Sabar Faris sabar, ingat tujuanmu ke sini dengan niat baik, jangan terpancing emosi karena sikap laki-laki yang ada di depanmu ini. Faris menenangkan dirinya sendiri dengan bergumam dalam hati.


"Aku datang dengan niat baik. Aku meminta maaf karena telah membuat hubunganku dengan Senja hancur." Faris mengatakan itu dengan tulus.


Anggi tersenyum sinis, dia menatap Faris dengan tajam. Ingin sekali rasanya menghajar Faris yang sok baik menurutnya.


"Aku tidak suka dengan orang yang pandai memainkan drama." Anggi bersedekap dada, membuat Faris harus lebih sabar bicara dengan dirinya.

__ADS_1


"Aku tahu kau membenciku, jika kau ingin memukul aku maka lakukanlah. Aku tidak akan melawan." Faris bangun dari duduknya dan berdiri di depan Anggi.


Erick dan Hendra yang baru saja mengintip penasaran dengan hal yang mereka lewatkan. Mereka melihat Anggi mengepalkan tangannya dan melihat Faris yang berdiri siap dipukul Anggi.


"Oh, tidak. Apa yang akan Anggi lakukan dengan pria itu?" tanya Erick yang tidak mengenali Faris.


Berbeda dengan Erick. Hendra terlihat sangat terkejut saat melihat laki-laki yang berdiri di depan Anggi itu adalah laki-laki yang sempat Senja ceritakan padanya. Hendra mengenal wajah Faris dari foto yang pernah Senja perlihatkan kepadanya.


"Faris, kenapa dia bisa ada di sini?" gumam Hendra yang membuat Erick menoleh ke arahnya.


"Kamu kenal dengan dia, Bro?" tanya Erick yang tidak mengira jika sahabatnya itu mengenal Faris.


"Ya. Aku tahu siapa dia." Hendra masih mengawasi Anggi dan Faris dari tempat persembunyian mereka.


Saat ini Anggi dan Faris sama-sama berdiri. Tangan Anggi yang sudah mengepal tidak membuat Faris takut jika dia akan kesakitan menerima pukulan yang akan Anggi berikan nanti.


"Kau tidak akan melawanku?" tanya Anggi menatap tajam Faris.


Faris tersenyum, dia rela merasakan sakit asal wanita yang dia cintai bisa hidup bahagia. Dia akan melakukan apa pun demi gadisnya itu.


"Tidak. Asal dengan satu syarat." Faris menatap Anggi tak kalah tajam, seperti ada aliran listrik dari tatapan keduanya yang saat ini sedang beradu.


"Syarat, apa?" Anggi bertanya tanpa basa-basi. Dadanya sudah kembang kempis menahan emosi yang sedari tadi dia pendam. Napasnya terdengar sangat kuat dan memburu, bahkan Faris bisa merasakannya.


"Temui Senja dan kembali padanya." Faris mengatakan itu dengan sangat berat, hatinya sangat sakit namun mungkin hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membuat Senja bahagia.


"Aku mohon, jangan batalkan rencana pernikahan kalian! Semua ini salahku, Senja tidak pernah mengkhianati dirimu. Aku yang datang dan meminta dia membantuku untuk mendengarkan ceritaku." Anggi terkesiap saat melihat Faris menangis tersedu di hadapannya.


***


Mau lanjut? Komen dong kalau mau lanjut hehe.


Kira-kira reaksi Anggi nanti akan seperti apa ya kalau Faris menceritakan semuanya?


Penasaran, kan? Makannya komen dong ya!

__ADS_1


__ADS_2