
Senja, Zara, Hendi dan Anggi makan siang bersama, Anggi merasa sangat bahagia bisa makan bersama dengan mereka, Anggi merasakan sesuatu yang berbeda saat makan bersama mereka tidak seperti saat makan dengan Keluarganya.
***
Setelah makan siang Hendi segera mengajak Senja dan Anggi untuk pergi ke rumah Rizal tepatnya rumah Anggi juga.
Di perjalanan mereka banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol.
Anggi duduk di samping Hendi sedangkan Senja duduk di kursi belakang.
"Jadi Senja itu suka marah-marah sama aku kalau aku suka makan martabak jatah dia yang di beliin sama Ayah." ucap Hendi karena mereka sedang membahas hal apa yang biasa membuat Senja marah.
"Ya habisnya Kak Hendi nyebelin banget, orang udah dapat bagian sendiri-sendiri bagian adiknya di embat juga, mana yang katanya mau ganti? sampai sekarang nggak di ganti beliin juga." balas Senja.
"Lihat tu Nggi, sekarang masih aja bahas masalah dulu."
"Biasa Kak, kalau cewe emang suka gitu."
"Suka gitu apaan?" sahut Senja.
"Suka marah-marah cuma gara-gara masalah sepele doang." Hendi yang menjawab pertanyaan Senja.
"Kalian itu ya dasar duo landak."
"Kok duo landak sih?, nggak ada yang bagusan apa?" ucap Hendi.
"Emang tau artinya duo landak kok minta ganti?"
"Gue tau, artinya lucu sih tapi nyakitin soalnya banyak duri." komentar Anggi.
"Pinter."
"Udah dari lahir." ucap Anggi.
"Haha... kalian itu lucu banget, tau nggak Nggi perumpaan buat adik gue?"
"Emmm... Senja itu umpama bunga mawar Kak. Cantik sih banyak yang suka tapi kalau mau metik pada takut sakit kena durinya."
"Dasar nyebelin." ucap Senja.
Kedua pria yang duduk di depan itu tertawa karena berhasil membuat Senja kesal.
Sesampainya di rumah Anggi, Anggi langsung mengajak mereka masuk.
"Kalian aku tinggal di sini dulu ya, aku panggilin Kak Rizal."Anggi berjalan naik ke lantai dua tempat kamarnya dan kamar kakaknya berada.
"Oke." jawab Hendi dan Senja kompak.
Sesaat kemudian Rizal menghampiri mereka yang sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Wah ada Senja juga, ke sini nemenin kakak kamu, atau nyamperin adik ku?"
"Nemenin Kak Hendi kok Kak, sekalian nganterin Kak Anggi, soalnya tadi dia pulang bareng sama aku."
"Bukannya Anggi bawa mobil ya? kok bisa pulang bareng kamu, emang mobilnya kenapa?"
"Mobilnya di bawa temennya Kak."
"Itu mah modus doang, biar bisa deket sama kamu De."
__ADS_1
"Kak Hendi apaan sih, kalau bicara suka ngawur."
"Anggi emang biasa kaya gitu, suka bikin repot orang lain, bandel juga, aku kalau ngadepin dia udah pusing."
"Kak Anggi nggak bandel kok Kak, cuman nyebelin banget, dan sok-sok an aja."
"Cie yang belain." Hendi menggoda adiknya.
"Mulai lagi nih Kak Hendi." ucap Senja.
***
Di rumah Putri sekarang dia sedang merasa sangat kesal terhadap Senja karena Senja dekat dengan gebetannya.
Dia teramat benci kepada gadis itu karena kehadirannya, Anggi yang semula memang cuek sekarang tambah cuek.
"Aaaarrrggghhh brengsek dasar cewe culun." umpatnya.
"Gila suara lo, bisa bikin bumi kita hancur tau." komentar Kyla.
"Udah lah Put, iklhasin aja, Anggi kan emang nggak pernah suka sama lo, ngapain juga nyalahin orang lain."ucap Dinda.
"Kok lo malah belain gadis culun itu sih, sebenarnya lo teman gue ama teman dia sih." bentak Putri.
"Put, kalimat gue yang mana yang lo bilang belain dia?, gue kan bicara soal Anggi bukan soal tu cewe, emang lo aja kali yang keganjenan." Dinda balik membentak Putri.
"Lo bilang gue keganjenan, ngaca muka pas-pasan gitu ngatain gue."
"Bodo amat, emang kenyataannya emang gitu kok."
"Kenapa kalian malah jadi berantem sih, males gue denger suara kalian." timpal Rani.
"Salahin si Dinda itu, salah siapa dia belain gadis culun itu." ucap Putri.
"Gila lo Put, gue nggak nyangka lo bakal buat si Dinda marah." komentar Kyla.
"Bodo amat."
***
Dinda pergi meninggalkan mereka ber tiga dengan keadaan marah dan kecewa, namun dia juga merasa bahagia karena akhirnya bisa lepas dari mereka.
Sebenarnya memang sudah lama Dinda tidak menyukai sikap Putri yang seenaknya sendiri dan suka centil di depan lawan jenisnya.
Bahkan Dinda tidak bisa menyebut kalau Putri adalah sahabat, karena untuk jadi teman saja dia jauh dari kategorinya.
Alasan Dinda dekat dengan Putri selama ini adalah karena Putri yang mengajaknya berteman terlebih dahulu.
"Gue mungkin bisa maafin dia tapi gue nggak akan mau berteman lagi sama dia." batin Dinda.
Sejenak Dinda jadi teringat dengan Senja, gadis itu terlihat cuek saat di hina Putri, tapi Dinda dapat melihat dengan jelas kalau sebenarnya Senja itu bukan orang yang gampang di rendahkan.
Dinda jadi penasaran dengan Senja, selain penasaran dengan sifatnya, Dinda juga penasaran kenapa Anggi yang biasa nggak perduli sama cewe, bisa sedekat itu dengan Senja.
Dinda tidak merasa marah ataupun cemburu karena dia memang tidak menyukai Anggi, dia sebenarnya sudah lama berteman dengan Anggi. Anggi sudah memperingatinya bahwa Putri itu bukan kandidat yang baik kalau di jadikan teman.
Namun saat itu malah Dinda lebih memilih berteman dengan Putri, dan mulai dari itu Anggi sudah tidak perduli lagi dengannya.
Dan Sekarang Dinda baru tau alasan Anggi memang tidak salah, dia cukup menyesal karena harus kehilangan teman masa kecilnya. Terlebih lagi Anggi itu merupakan sepupunya.
__ADS_1
***
Hendi dan Rizal terus membicarakan masalah perkuliahan mereka, Senja yang merasa bosan hanya memilih diam sambil menyandarkan kepalanya di bahu sofa.
Beberapa saat kemudian Anggi bergabung dengan mereka.Ketiga laki-laki itu sedang membully Senja.
"Kak Hendi kok malah ngatain adik sendiri sih, dasar Kakak durhaka." komentar Senja.
"Enak aja ngatain kakak sendiri durhaka. Kalau ntar Kakak tinggal pergi dan nggak balik lagi jangan nangis." Hendi semakin memancing Senja agar kesal.
"Oke... kalau pergi ya pergi aja aku bakal seneng kalau Kak Hendi pergi, dan nggak bali lagi."
Hendi menoyor keopala adiknya karena bukannya kesal malah balik membuatnya kesal.
"Sakit tau, sama adik sendiri jahat banget, lihat noh Kak Rizal sama Kak Anggi akur gitu."
"Trus mau lo apa De, lo mau juga akur kaya mereka, yaudah sini-sini gue sun." Hendi memonyongkan bibirnya akan mencium Senja, namun Senja berlari kemudian bersembunyi di balik punggung Rizal.
Hendi semakin gencar menggoda adik nya itu, Senja menggunakan tubuh Rizal sebagai tameng.
"Nggak kena... nggak kena." Senja meledek Kakaknya. Senja terus saja bicara hingga menimbulkan kebisingan di sana.
Anggi yang pusing melihat tingkah kakak beradik itu langsung menarik Senja yang berada di belakang kakaknya kemudian.
"Cup." Sebuah ciuman mencari di bibirnya.
Hendi dan Rizal yang melihat itu reflek langsung mematung, sedangkan Senja langsung mendorong Anggi.
"Dasar OTW." teriak Senja.
"OTW apaan?" Tanya Rizal karena merasa tidak ada yang sedang dalam perjalanan.
"Otak Tidak Waras, ciuman pertama aku, Kak Anggi harus tanggung jawab, kembaliin ciuman pertama aku Kak." Senja mengguncang-guncangkan tubuh Anggi.
Hendi menarik baju adiknya sehingga Senja berjalan mundur mengikuti tarikan kakaknya.
"Ayo pulang, jangan bikin malu kakak dong De, kamu itu di rumah orang kok berisik."
"Kan Kak Hendi dulu yang mulai, tanya aja sama Kak Rizal kalau nggak percaya."
Rizal tertawa melihat kekonyolan Hendi, baru kali ini dia melihat tingkah lucu Hendi.
"Kita pulang dulu ya, adik gue kumat, kalau nggak di bawa masuk ke kandangnya nanti bahaya."
Senja baru saja mau protes tapi Kak Hendi merangkulnya kemudian membekap mulutnya sehingga Senja tidak bisa bicara. Hendi mengajak Senja keluar dan menyuruhnya masuk ke mobil.
Di dalam mobil Senja ngomel-ngomel tapi tidak di hiraukan Hendi.
***
"De, coba lo sifatnya asik kaya Senja gitu, pasti kakak seneng banget."
"Enak aja, kalau gue sifatnya kaya dia bisa-bisa lo jadi gila Kak."
"Tapi asik tau kalau ngebayangin kamu kaya gitu."
"Rese lo." Anggi meninggalkan Rizal sendirian di ruang tamu.
"Gue seneng liat lo Nggi, sekarang lo sering tersenyum semenjak lo kenal Senja, coba kalau sikap lo begini terus gue pasti bahagia."
__ADS_1
#**jangan lupa like, komen, rate, dan votenya...
Terima kasih 😘💕**...