
Alina berlari secepat mungkin, tak tampak lagi siapa didepan nya, yang ia ingin hanya menemui ayahnya secepat mungkin. air mata yang mengalir tak henti-hentinya.
Terlihat ayah yang terbujur kaku, diselimuti kain panjang. Matanya telah tertutup untuk selamanya. Ibu Alina bersimpuh dihadapan suami yang begitu dicintainya dengan tangis yang tak lagi keluar air mata.
Alina tergopoh-gopoh menghampiri ayahnya,
dipeluk nya, dibuka kain penutup wajah nya, dingin sekali. Alina menciumi ayahnya tak henti-henti, memohon agar ayahnya membuka mata kembali.
"pa kumohon sadarlah, papa berjanji akan menghantarkanku, papa bagaimana mungkin bisa aku tanpamu, pa bangun... Lina mohon pa bangun, janji mu belum selesai pa.."
Alina mengguncangkan tubuh ayahnya, seakan tak terima belahan jiwa nya diambil begitu cepat.
ibu Alina menghampiri putrinya
"Sayang sabarlah, papamu akan senang jika kau tak menangisi nya, sayang tak kah kau lihat wajah yang begitu bahagia itu. papa mu tenang sekarang sayang" Berat hati ibu Alina menyampaikan, tapi ia sadar putrinya membutuhkan kekuatan.
Ayah yang begitu dicintainya pergi
"Ma, papa masih ada janji sama Alina ma, kenapa papa pergi cepat sekali ma..."
Alina berusaha menghentikan air matanya
"Mama tau sayang, tapi Allah telah takdirkan semua, mungkin ini yang terbaik untuk papa, mama dan juga kamu sayang" sambil memeluk putri kesayangannya.
Ayah Alina di bawa untuk dimandikan, dikafankan, kemudian dibawa untuk di sholatkan di masjid kompleks rumah Alina.
Alina melihat teman-teman sekolah, dan guru-gurunya datang untuk menghadiri pemakaman ayah nya. Serta mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Alina.
Alina sudah tak mampu mengeluarkan air matanya, mata nya terasa panas, hatinya begitu sakit. Alina mencoba ikhlas dengan semuanya. Mencoba sabar menghadapinya.
Ayahnya dibawa ke pemakaman, lubang galian telah disediakan. Perlahan ayah Alina dimasukkan ke liang Lahat itu. Ayah Alina telah pergi .
Alina yang melihat ayahnya dimasukkan dan ditutup kepingan papan kembali meronta Air mata kembali lagi, suara lirih Alina nyaris tak terdengar. Begitu tersiksa ia akan kepergian Ayahnya. Tanah dimasukkan untuk menutupi makam Ayahnya Alina mencoba menggapai ayahnya, tapi keluarga Alina menariknya.
Tertimbun sudah ayah nya di dalam tanah.
Alina tak kuasa melihatnya, mata berkunang, kepalanya menjadi sangat berat, tubuhnya terkulai lesu . Alina pingsan, Ibu Alina tak sanggup melihat putri kesayangan nya.
Alina dibopong kembali setelah pemakaman selesai. setibanya dirumah Alina ditidurkan diruang tamu yang lapang, pelayat bergantian datang kerumah Alina. Alina masih belum sadarkan diri. Ibu Alina mencoba sabar dia harus kuat ada Alina yang masih membutuhkannya.
__ADS_1
"Lina bangun" ujar Risa
keluarga Alina mencoba mengusap minyak angin ditubuh Alina, mengipas Alina agar segera sadarkan diri.
"Alina, kau sudah sadar.." ujar Risa
Alina menggosok matanya, kepala nya masih terasa berat.
"istirahatlah dulu Lin" kata Risa
"Mana mama Ris?"
"Mama didepan Lin, masih banyak pelayat yang datang Lin"
"Kasian mama Ris, Aku harus kuat Ris, mama pasti butuh aku".
Risa mengganggukkan kepalanya.
Alina duduk dan ingin menghampiri ibunya, tapi Risa melarang dan mencoba meyakinkan Alina untuk tetap istirahat dan sehat, agar bisa menjaga ibunya.Dilihatnya Angga yang menemani mama Alina. Risa merasa tenang, entah kenapa Alina begitu percaya pada Angga.
Hari sudah mulai gelap, mentari juga sudah kembali. Ibu Alina menyuruh putrinya membersihkan diri. Alina menuju kekamar nya ditemani Risa. Alina Measuk ke kamar mandi membasuh wajahnya kemudian munggunyur air ke tubuhnya.
Alina mencoba kuat.
"Aku harus kuat, aku masih ada mama yang harus aku jaga, papa Alina akan selalu doakan papa"
selesai mandi Alina memakai gamis nya, memakai kerudung dan menyiapkan sajadah untuk sholat . selagi Alina sholat Risa membersihkan tubuhnya.
Alina mengadukan rasanya pada Rabb nya,
"ya Allah, Alina minta agar engkau kuatkan hati Alina, berikanlah kesabaran untuk Alina, mama dan keluarga, tempatkanlah papa di sisi terbaik Mu"
Mata nya mulai basah, dan mencoba tersenyum.
Alina beralih ke meja belajarnya,
menumpahkan segala dalam buku nya sembari menunggu Risa yang sedang sholat.
Bagaimana mungkin kau lupa padaku
__ADS_1
Aku masih ingin mendengarkanmu
Aku masih ingin memelukmu
Aku masih ingin melihatmu
Kau janji akan pergi menghantarkanku
dihari bahagiaku.
Karna itu keinginan terbesarmu
Aku tau kau begitu mencintaiku
Aku pun sangat mencintaimu
Wahai belahan jiwaku
Mengapa kau pergi begitu cepat
Kau belum selesaikan janjimu
Kau belum selesaikan ceritamu
Kau belum selesai cerita betapa bahagianya kau memiliki aku.
papa...
Tapi Aku telah merelakanmu,
Doa ku selalu kulayangkan untukmu
Bahagialah disisi Nya selalu
Alina putri
***Makasih buat yang sudah baca
jangan lupa like, koment, dan vote ya
__ADS_1
Haapy Reading***