Kembali

Kembali
KEMBALI (Bunda)


__ADS_3

🦋🦋TAP JEMPOL👍 KALIAN SEBELUM MEMBACA🦋🦋


Senja berusaha untuk duduk, di bantu Herry. Senja menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Makasih, aku cuma pusing aja."


"Syukurlah," ucap Alarice lega.


"La, gue mau tanya sama lo, sebenarnya waktu acara pesta malam itu, kalian udah rencanain itu semua kan?" tanya Senja.


"Bebz, lo sebenarnya kenapa sih? Lo masih marah ya sama gue? Gue minta maaf, gue nggak bermaksud buat bikin lo kaya gini," ucap Alarice.


"Gue nggak marah, gue cuma kecewa sama lo, dan buat Kak Herry, kenapa Kakak ngelakuin hal itu saat pesta?"


"Maaf ya, sebenarnya kakak suka sama kamu dari saat kita bertemu pertama kali, dan setelah kakak tau kalau kamu masih sendiri, kakak mau kita jadian, tapi kakak nggak tau kalau ternyata kamu udah punya kekasih."


"Makasih atas perasaan Kakak, tapi Kakak simpan aja untuk perempuan yang lebih berhak, dan tolong jangan lakuin hal kaya gitu lagi, aku malu sama orang-orang di sana Kak."


"Iya."


"Kalau gitu, gue sama Kak Herry pulang dulu ya, gue nggak mau ganggu lo, karena lo kelihatan kurang sehat."


"Oke, Hati-hati ya kalian, maaf nggak bisa nganterin sampai depan," ucap Senja.


"Iya." jawab Alarice dan Herry bersamaan.


Setelah Alarice dan Herry pulang, Senja memanggil Bi Jum agar membantunya berjalan ke kamar.


"Makasih ya, Bi," ucap Senja setelah sampai di kamarnya.


"Iya, Non. Kalau butuh apa-apa nanti panggil bibi ya, bibi ijin keluar," balas Bi Jum.


"Iya, Bi."


Sekarang Senja hanya seorang diri di kamar, Senja mengambil HP nya, kemudian membuka galeri fotonya. Dia tertawa terbahak saat melihat fotonya bersama dengan Hendi beberapa hari lalu, sebelum kakaknya itu pulang ke Indonesia.


"Hahaha ... mukanya Kak Hendi lucu banget sih, aaah ... aku jadi kangen dia," gumam Senja.


Senja kemudain mencari kontak atas nama kakaknya, tapi saat Senja mau menelepone kakaknya, nomor Hendi tidak bisa di hubungi.


Senja menghembuskan napasnya kasar, dia sangat merindukan kakaknya, terlebih lagi dia juga merindukan kedua orang tuanya.


Kowe raiso mlayu saka kesalahan


Ajining diri ana ing lathi


Terdengar nada ringtone tanda ada panggilan masuk, Senja buru-buru mengangkat panggilannya tanpa melihat dulu siapa yang menelepone.


"Assalamualaikum, Kak Hendi kenapa tadi nomornya nggak aktif sih, Senja kan kangen sama Kakak, tapi malah nggak aktif, dasar jahat banget sih," ucap Senja cepat, karena mengira jika yang menelepone adalah Hendi.

__ADS_1


"Gu-"


"Huh, Senja sebel sama Kakak, Kak Hendi sibuk apa sih sampai di matiin HP nya," Senja memotong ucapan seseorang di seberang sana.


Seseorang di seberang sana menutup telinganya, karena suara Senja yang sudah naik samapai delapan oktaf itu, membuat telinganya berdengung.


Lama-lama bisa tuli gue, gara-gara ni cewe.


"Sayang, ini gue, kamu kenapa sih? Marah-marah nggak jelas, bikin telinga aku sakit aja," ucap orang itu.


Mendengar suara di telepone itu bukan suara kakaknya, Senja langsung melihat nama si Penelepone, dan Senja langsung malu saat melihat nama di layar ponselnya.


Aaaaaaaa aku malu, kok aku tadi nggak lihat dulu sih main terima aja, aduh Kak Anggi ilfeel nggak ya sama aku? Ah gi mana dong. Senja mengigit jari tangannya yang lain.


Lama menunggu jawaban dari Senja, akhirnya Anggi memutuskan panggilan teleponenya.


"Eh, di matiin," gumam Senja, hatinya merasa tidak enak karena mengacuhkan Anggi cukup lama.


Bodo amat lah, aku pusing mikirin itu semua, mending aku tidur aja deh.


Senja melempar HP nya ke sembarang tempat, kemudian memutuskan untuk beristirahat.


Belum juga dia terlelap, terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Tapi Senja malas untuk bangun, akhirnya dia mengabaikan orang yang sedang mengetuk pintu kamarnya.


Bukannya berhenti, suara ketukan pintu malah semakin terdengar keras. Karena Senja tidak mengunci pintu kamarnya, akhirnya Senja berteriak agar orang yang di luar kamarnya masuk.


"Masuk aja, nggak di kunci kok," teriak Senja dari dalam kamar.


Senja bisa mendengar pintu kamarnya di buka, dan dia juga mendengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat ke arahnya.


"Bibi, ada apa ke sini? Senja ngantuk banget Bi. Badan Senja nggak enak, Senja pengen tidur dulu, Bi," ucap Senja pada orang itu, yang Senja yakin, kalau sekarang orang itu sudah duduk di pinggir tempat tidurnya.


Tidak ada sahutan, dan tidak ada jawaban. Senja merasakan ada tangan yang menempel di dahinya, Senja ingin membuka matanya, tapi tiba-tiba saja dia merasakan tubuhnya lemas, bahkan untuk sekedar membuka mata saja susah.


Ya Allah, kenapa ini? Kenapa aku jadi lemas begini, mataku rasanya berat untuk terbuka, Ya Allah, aku kenapa?


"Kamu panas, Yank. Sakit apa?" ucap orang yang menyentuh dahi Senja. Senja mengenali suara itu, dan itu adalah suara Anggi.


Anggi sangat panik ketika dia tau kalau Senja demam, Anggi langsung menggendong Senja tanpa aba-aba.


Senja ingin menjawab, tapi untuk bersuara saja rasanya lemas, padahal tadi siang sehat walafiat, dia tidak mengira kalau akan sakit seperti ini.


Merasakan tubuhnya yang lemas dan sedikit sakit, air matanya tiba-tiba mengalir dari matanya yang masih terpejam.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit, kalau sakit nangis nggak papa kok, jangan ditahan," ucap Anggi sambil berjalan menuruni anak tangga.


"Bi, saya mau bawa Senja je rumah sakit ya. Nanti Bibi nyusul," ucap Anggi ketika sampai di lantai satu.


Bi Jum mengira Senja pinsan, Bi Jum sangat panik.

__ADS_1


"Bibi ikut sekarang aja ya, Tuan. Bibi kan di sini yang jagain Non Senja," pinta Bi Jum, namun di tolak oleh Anggi.


"Nggak usah, Bi. Bibi nanti aja nyusul."


"Yaudah deh, nanti bibi nyusul," ucap Bi Jum akhirnya.


Anggi membaringkan Senja di sofa,kemudian Anggi menyuruh Hendra untuk datang ke rumah Senja dengan membawa mobil miliknya, saat Hendra sampai, Anggi langsung masuk ke kursi belakang dan masih menggendong Senja, dia membaringkan Senja di kursi dan kepala Senja ia sandarkan di dadanya.


"Ke rumah sakit, cepat!" perintah Anggi, suaranya bergetar karena panik.


Hendra langsung tancap gas menuju ke rumah sakit.


"Senja kenapa Nggi? Tadi kan dia baik-baik aja," tanya Hendra pada Anggi saat di perjalanan.


Senja bisa mendengarkan pembicaraan Anggi dan Hendra, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Gue nggak tau, tadi gue ke rumah dia, dan dia udah kaya gini, tapi tadi dia nggak sampai nangis kaya gini, Ndra."


Tiba-tiba Senja merasakan sakit di kepalanya, sakit yang begitu menyakitkan, karena baru kali ini dia merasakannya.


Ya Allah, ini sakit sekali, aku tidak kuat, Ya Allah ampunilah aku. batin Senja.


Karena rasa sakit yang sangat menyiksanya, Senja sampai mencengkeram tangan Anggi. Air mata Senja mengalir deras dari sudut matanya.


"Hendra lebih cepat lagi," perintah Anggi.


"Iya, ini juga udah cepet, Nggi," ucap Hendra.


"Sayang, tahan bentar ya, kita hampir sampai," ucap Anggi sambil mendekap Senja yang kesakitan.


Kamu kenapa kaya gini, aku khawatir sayang.


Anggi sedikit kesakitan saat Senja mencengkeram tangannya, Anggi tau kalau Senja sedang kesakitan sekarang.


"Ssssaa - ssaa- kiiit, Kak," rintih Senja.


"Kita udah hampir sampai, sabar ya," ucap Anggi cemas.


"Hiks... hiks... Arrrggghhh." Senja mencengkeram kepalanya sendiri, karena merasakan sakit yang kuat biasa.


"HENDRA CEPETAN, LO NGGAK LIHAT DIA KESAKITAN," bentak Anggi saking cemasnya.


Hendra tidak menjawab, dia langsung menambah kecepatan mobilnya, tidak lama kemudian mereka tiba di rumah sakit.


"Suster, cepat bawa brankar kemari, untuk membawa pasien," perintah Anggi.


Anggi menggendong Senja yang sudah tidak sadarkan diri, dan menurunkan di brankar dorong, Anggi mendorong brankar itu ke IGD bersama beberapa perawat.


"Maaf, Tuan. Anda tidak boleh ikut masuk," ucap salah satu perawat ketika mereka sampai di ruang IGD.

__ADS_1


#Tinggalkan jejak kamu ya


__ADS_2