Kembali

Kembali
KEMBALI ( Masa Lalumu )


__ADS_3

πŸ¦‹πŸ¦‹TAP JEMPOLπŸ‘ KALIAN SEBELUM MEMBACAπŸ¦‹πŸ¦‹


Senja menatap Anggi yang hanya diam saat di perjalan pulang. Senja berpikir mungkin Anggi sedang bingung kenapa dia bisa sedekat itu dengan Faris. Apalagi Anggi. melihat kalau Faris masih muda, tidak jauh dari usia mereka.


"Kak, kenapa diam ?" Senja akhirnya bertanya karena tidak enak kalau harus diam-diaman seperti ini.


"Hm." Anggi menjawab dengan singkat tanpa menoleh ke arah Senja seperti biasanya.


"Aku ada salah?" Senja kembali bertanya karena merasa tidak nyaman.


"Hm." Lagi-lagi hanya menjawab dengan singkat.


"Maaf kalau Senja ada salah sama Kakak, Tapi jangan diam gini dong, Kak. Aku nggak nyaman." Senja memegang lengan Anggi, sambil memandang wajah Anggi yang terlihat dingin itu.


"Lepas!" bentak Anggi tanpa menoleh ke arah Senja.


"Maaf," ucap Senja, dia melepas tangan Anggi karena dibentak tadi. Dia menundukkan kepalanya lalu menyandarkan kepalanya di kaca mobil dan melihat ke arah luar.


"Dia siapa?" Anggi tiba-tiba bertanya dan membuat Senja menoleh ke ayahnya.


"Diam aja terus, aku nggak mau ngomong sama, Kakak." Senja sekarang malah yang kesal. Tadinya Anggi mengira kalau Senja mau merayunya dan mau menjelaskan, tapi sekarang malah Senja yang balik kesal dengannya.


"Barusan ngomong." Anggi mulai menggoda Senja.


"Nyebelin banget sih jadi orang, tadi bentak-bentak, sekarang ngajak ngomong. Anak siapa sih, Lo." Senja masih kesal dengan Anggi.


"Kakak nggak suka, ya. Kamu nyapa kakak pakai kata 'Lo' nggak sopan banget sih kamu." Anggi protes karena dia memang tidak suka kalau disapa seperti itu.


"Salah Kakak sendiri, diam nggak jelas. Aku minta nanya malah di bentak, Kakak ngeselin." Senja balik protes dan tidak mau disalahkan.


"Salah di mana coba?" tanya Anggi dengan nada kesal.


"Nggak tahu, pikir sendiri." Senja kembali menoleh ke arah luar kaca mobil.


"Apa gara-gara laki-laki itu kamu jadi berani sama, kakak?" Anggi menuduh Senja karena dia merasa cemburu saat melihat Senja dekat dan ngobrol dengan Faris tadi.


Saat mendengar perkataan Anggi bukannya marah, Senja malah tersenyum dan langsung memandang wajah Anggi yang terlihat cemberut dan kesal.


"Kakak cemburu, ya. Ngaku deh! Iya Kakak cemburu, kan."


"Enggak." Anggi mengelak, padahal itu memang sebuah kebenaran.


Senja menggelitik pinggang Anggi karena Anggi masih memandang wajah cemburunya. Sampai Anggi menggeliat dan menahan tawa.


"Kalau mau ketawa, ketawa aja, Kak. Nggak usah di tahan, hahaha ...." Senja masih saja menggelitiki Anggi sampai Anggi benar-benar tertawa lepas.


"Hahaha ... hentikan sayang, aku nggak kuat." Anggi menepikan mobilnya karena takut kalau membahayakan mereka berdua.


Anggi menarik tangan Senja yang menggelitik tubuhnya, dan langsung mencium tangan itu. Anggi melepas sabuk pengamannya dengan satu tangan. Kemudian dia mencondongkan tubuhnya mendekati Senja dan memeluknya.

__ADS_1


"Ya, kakak cemburu padamu. Tolong jangan dekat-dekat dia lagi." Anggi memeluk Senja dengan erat.


"Akan aku usahakan. Sekarang aku lapar mau makan." Senja melepaskan diri dari pelukan Anggi dan mengatakan kalau dia mau makan.


"Beritahu aku dulu, siapa dia sebenarnya?" Anggi yakin kalau Faris bukan sekedar dosen untuk Senja, pasti ada hubungan lain di antara mereka.


"Dia masa laluku, Kak." Senja menjawab dan memandang wajah Anggi yang sudah berubah ekspresi.


"Masa Lalumu?" Anggi mengulang perkataan yang baru saja dikatakan calon istrinya itu.


"Ya." Senja menjawab singkat.


"Jangan tinggalkan aku!" Mata Anggi terlihat berkaca-kaca karena dia takut kalau Senja akan berpaling darinya serakah masa lalunya kembali.


"Akan aku usahakan. Ayolah Kak aku lapar kita makan dulu." Senja yang sudah tidak kuat untuk menahan lapar akhirnya merengek pada Anggi. Anggi yang sedang terharu hanya bisa menepuk dahinya saat gadis itu malah merengek meminta makan.


"Bagaimana kalau kamu memakanku?" Anggi mengedipkan satu matanya dan tersenyum nakal.


Pletak ... Senja menjitak dahi Anggi yang malah berpikiran mesum. Dia mencubit pipi Anggi yang tirus itu dengan cubitan kecil sehingga akan menimbulkan rasa sakit.


"Aaaa, ini sakit." Anggi merintih dan mengusap-usap pipinya yang terlihat merah bekas cubitan Senja.


"Jangan nakal!" Senja menepuk pundak Anggi dan tersenyum sambil satu tangannya membentuk huruf O.


"Kamu mau makan di mana?" Anggi bertanya sambil kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Tidak ada yang menjualnya di sini." Anggi menoleh dan memerhatikan wajah gadis yang duduk di sampingnya.


"Aku tahu, aku ingin Kak Anggi yang membuatkan untukku." Senja menatap Anggi dengan mata puppy eyesnya.


"Apa kau gila, aku mana bisa memasak." Anggi menolak untuk membuatkan menu itu.


"Kau menolaknya?" Senja terlihat sedih, tapi Anggi tahu kalau Senja hanya pura-pura saja.


"Aku tidak bermaksud untuk menolak. Tapi aku benar-benar tidak bisa." Anggi mengusap pelan kepala gadis yang dicintainya itu.


"Aku akan mengajarimu."


"Senja, aku-"


"Kalau nggak mau ya udah." Senja bersedakap dan menyandarkan tubuhnya di jok mobil dengan memejamkan matanya.


"Kamu marah?" tanya Anggi melirik Senja dengan ekor matanya.


"Aku mengantuk." Senja menjawab tanpa membuka matanya, dia sudah sangat lapar dan itu membuatnya mengantuk.


"Kamu aneh sakali." Anggi berkomentar dan menambah kecepatan mobilnya agar mereka segera sampai di rumah.


"Biarkan saja." Masih dengan mata terpejam Senja menjawab.

__ADS_1


Anggi tidak bertanya lagi. Dia memfokuskan pandangannya untuk fokus mengemudi. Dia membiarkan gadis itu tidur karena merasa tidak tega.


🍁🍁🍁


Faris berada di dalam mobilnya menuju ke rumah, dalam perjalanan dia memikirkan perkataan Senja yang mengatakan kalau Anggi adalah calon suaminya.


"Kenapa bisa jadi seperti ini, ini semua salahku. Kalau saja dia tahu kalau aku sudah memberitahunya kalau aku pergi." Faris memijit batang hidungnya dengan tangan kiri.


Pria itu siapa, aku tidak mengenalnya.


Sesampainya di rumah, Faris yang dalam kondisi mood buruk semakin kesal saat melihat wanita itu berada di rumahnya.


"Sayang, kamu sudah pulang." Wanita itu menyapa Faris dan berjalan mendekatinya.


"Bukan urusanmu." Faris mengabaikan wanita itu dan berjalan cepat ke kamarnya.


"Sayang tunggu!" Wanita itu menghadangnya, sehingga mau tidak mau Faris harus berhenti.


"Minggir, jangan halangi jalanku." Faris membentak wanita itu, dan dia juga tidak peduli saat wanita itu terlihat meneteskan air matanya.


"Kenapa kamu tega mendiamkan-"


"Pergi, atau akun yang pergi." Faris memotong ucapan wanita itu, bedebah dengan sopan dia tidak tidak mau kalau harus bicara banyak dengan wanita itu.


"De, kamu nggak boleh seperti itu!" Sahut Reyhans tiba-tiba.


"Bodo amat." Faris berbalik kemudian dia berjalan keluar dari rumah. Dia malas kalau hidupnya yang sudah tenang dan cukup bahagia harus kembali terluka karena wanita yang sama yang telah meninggalkannya dulu.


"Kamu mau ke mana?" tanya Reyhans yang melihat Faris tidak jadi ke lantai dua.


"Pergi." Faris menjawab dengan sopan pada sang kakak, namun masih dengan nada dingin menahan kesal.


"Rey, tolong-"


"Itu semua salahmu." Reyhans memotong ucapan wanita itu.


"Rey." Wanita itu memanggil nama Reyhans dengan suara bergetar, tapi Reyhans tidak menghiraukannya.


🍁🍁🍁


Bersambung ...


Halo readers lover's, aku mau ngucapin Terima kasih buat kalian yang sudah mengikuti cerita aku sampai sejauh ini.


Maaf ya bila aku tidak up setiap hari. Semoga kalian suka dengan ceritanya, like komen dan dukungan kalian adalah penyemangat untukku melanjutkan ceritaku.


Kalian juga bisa kok ngasih ide buat nambah cerita ini semakin berkembang. Ide tantang komedi yang lagi aku butuhkan. Siapa tahu kalian ada yang mau ngasih ide.


Terima kasih ya ... sampai bertemu di bab berikutnya ...

__ADS_1


__ADS_2