Kembali

Kembali
KEMBALI (Rizal dan Anggi)


__ADS_3

Hendi mengantar Rizal sampai depan rumah, setelah mobil yang dikendarai Rizal keluar dari gerbang Hendi segera kembali masuk ke dalam.


***


Sesampainya di halaman rumah, Rizal langsung keluar dari mobilnya kemudian berjalan dengan cepat mencari Anggi.


"Di mana? Anggi, Ma?" tanya Rizal saat melihat mamanya sedang bersantai di ruang keluarga.


"Dia ada di kamarnya, kenapa kau mencarinya?" tanya Ratna karena heran.


"Rahasia anak muda, Mama tidak perlu tau," balas Rizal kemudian segera pergi ke kamar Anggi.


"Tok... tok... tok..." bunyi ketukan pintu.


"Siapa?" teriak Anggi dari dalam kamar.


"Kak Rizal," jawab Rizal.


"Masuk aja, pintunya nggak di kunci," perintah Anggi.


Rizal pun segera masuk ke kamar adiknya itu.


Rizal langsung duduk di ranjang tanpa di suruh.


"Apa kau mau di hukum?" tanya Rizal.


"Maksud Kakak apa?" tanya Anggi bingung.


"Kau kecelakaan kan? Dan itu di sebabkan karena kau tidak fokus saat mengemudi, kau juga membawa nyawa orang lain di mobilmu, apa kau masih mau pura-pura tidak tau?" Rizal berbicara panjang.


"Itu bukan sepenuhnya kesalahan ku, apa gadis itu yang mengatakannya padamu? Apa dia berbicara yang tidak-tidak tentang aku?" ucap Anggi.


"Gadis itu kenapa sangat menyebalkan, bahkan dia tidak takut kepadaku, padahal dia tau kalau aku ketua OSIS, bahkan dia berani menolak permintaanku, apa yang gadis itu bicarakan kepada Kak Rizal?"


"Dia tidak membicarakanmu, tapi dia menceritakan detail kejadiannya. Hei Anggi kau lebih dewasa darinya kan? Apa cuma gara-gara masalah yang sepele kau menjadikannya asisten pribadimu? Itu berlebihan Nggi." Rizal menimpali.


"Kakak bilang sepele, kau tau Kak? Karena bajuku kotor aku hampir di hukum oleh guru, dan hari itu aku tidak boleh mengikuti ulangan.Apa kau pikir itu masalah sepele?" Anggi berbicara dengan nada sedikit kesal.


"Itu bukan masalah sepele lagi, itu sudah keterlaluan, tapi itu kan tidak sengaja, kenapa kau tidak menjelaskan saja pada gurumu."


"Kak, apa kau pikir guru akan perduli dengan penjelasan ku, guru tidak akan perduli dengan itu semua. Kau tau kan sekolahku merupakan SMA terbaik nomor dua, Peraturan di sana sangat ketat, Kak," protes Anggi.


"Ah ya kau memang keras kepala, kau selalu benar"


"Apa kau akan tetap memintanya menjadi asisten pribadimu? Dan apa yang akan dilakukan olehnya jika dia menjadi asisten mu, kau kan bukan bos di perusahaan, kau hanya seorang pelajar."


"Aku bisa menyuruhnya untuk menuruti semua perintahku dalam batas waktu yang telah aku tentukan."


"Sebaiknya kau tidak memberikan perintah yang merepotkan, apa kau tau siapa dia?"


"Tentu saja aku tau, dia adik kelasku... dia sangat sombong, waktu MOS dia memang tidak melakukan kesalahan, tapi dia selalu malaksanan perintah dari anggota OSIS sesuai kemauannya sendiri."


"Dan dia juga merupakan adik dari sahabatku."


"Apa kau bercanda?" tanya Anggi tidak percaya.


"Apa aku pernah bercanda?" Rizal malah balik bertanya.


"Tidak," jawab Anggi.


"Kau tau itu, berarti aku tidak bercanda dengan ucapanku tadi," ucap Rizal.


"Ya dan aku tidak perduli itu, dia kan hanya adik sahabatmu, bukan adikmu. Jadi apapun yang akan lakukan padanya nanti, sebaiknya Kakak tidak ikut campur."


"Terserah padamu saja, kakak akan mengalah dengan adik kecil kecil kakak ini, haha," ucap Rizal sambil tertawa.


"Aku bukan adik kecil, aku sudah dewasa tau." protes Anggi.


"Tapi di mataku kau tetaplah hanya adik kecilku, haha... kau bahkan selalu memintaku menggendong mu ketika mama memarahimu dulu." Rizal menggoda adiknya.

__ADS_1


"Diam! itu sungguh memalukan." Anggi melempar bantal ke arah Rizal, kemudian Anggi tersenyum.


"Lalu bagaimana kau akan menjelaskan ini kepada papa?"


"Aku yakin, Kakak ku akan membantuku," jawab Anggi sambil melirik ke arah kakaknya.


"Kau terlalu percaya diri," ucap Rizal.


"Aku memang selalu percaya diri untuk meluluhkan hati kakakku." Anggi tertawa.


"Baiklah, kakak akan membantu menjelaskan kepada papa nanti... mandilah... nanti jam makan malam kita ketemu di ruang makan."


"Aku sudah mandi."


"Haha... terserah padamu, kakak akan keluar,"


ucap Rizal kemudian turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.


***


Di ruang makan sekarang telah berkumpul keluarga Andreano Brown.


"Anggi, papa mau meminta penjelasan darimu... kenapa kecelakaan itu bisa terjadi." ucap Adrean.


"Baik, Pa." jawab Anggi.


Perlu di ketahui bahwa Adrean adalah orang yang tegas, dia tidak menyukai sebuah kesalahan, sekecil apa pun kesalahan itu.


Adrean juga selalu meminta penjelasan dengan hal-hal yang terjadi, terutama pada keluarganya.


"Sekarang makan lah... setelah itu baru jelaskan pada, papa," perintah Adrean.


"Iya, Pa."


Mereka makan dengan tenang. Setelah selesai makan Adrean mengajak Anggi ke ruang keluarga.


Anggi menjelaskan alasan kenapa dia kecelakaan. Dia juga menceritakan masalahnya dengan Senja. Anggi tidak ingin papanya menyalahkannya. Karena semua kejadian ini murni karena kecelakaan.


"Bagaimana kondisi gadis itu?" tanya Adrean setelah Anggi selesai bicara.


"Sama sepertiku."


"Baguslah kalau begitu, papa juga akan mengizinkan mu menjadikannya asisten pribadimu, papa melakukan ini karena papa tidak ingin kalian bermusuhan, mungkin dengan ini kalian malah bisa akrab," ucap Adrean.


"Terima kasih,Pa." Anggi memeluk papanya.


Adreano tidak menyangka bahwa perkataan nya bisa sampai membuat anaknya memeluknya.


Dia sangat senang karena sudah beberapa tahun Anggi tidak mau memeluknya, bahkan bicara saja jarang.


Semenjak suatu tragedi dalam kehidupan ayah dan anak itu. Anggi memang tidak akrab dengan papanya.


Bahkan dia selalu membangkang papanya. Tapi entah mengapa hari ini Anggi bahkan mau berbicara banyak kepadanya.


Dan itu membuatnya sangat bahagia.


"Karena kau memeluk papa, apa berarti kau sudah memaafkan papa, Nak?" Adrean memberanikan diri untuk menanyakan itu.


Mendengar ucapan papanya, Anggi langsung melepaskan pelukannya dari papanya.


"Anggi mungkin memang sudah memaafkan Papa, tapi Anggi tidak akan lupa tragedi itu Pa." Anggi mengatakan ini dengan dingin.


"Anggi mau ke kamar." Anggi meninggalkan papanya di ruang keluarga sendirian.


Ratna dan Rizal yang mengintip mereka.


Di buat kaget sekaligus senang.


"Ma sebaiknya mama sekarang menemani, papa," perintah Rizal kepada mamanya.

__ADS_1


"Rizal mau ke kamar Anggi, Ma."


"Baiklah," jawab Ratna.


Rizal segera pergi ke kamar Anggi, sedangkan Ratna kini menemani suaminya di ruang keluarga.


"Anggi memang marah padamu, tapi selama ini dia masih menuruti semua perintahMu, bahkan dia tidak pernah melanggar aturan yang kau buat," kata Ratna.


"Papa memakluminya, Ma." ucap Adrean sedih.


Anggi memang selalu menuruti semua keinginan papanya, Anggi tidak pernah melanggar aturan yang papanya buat.


Anggi masih memiliki rasa takut kepada papanya. Tapi semua itu tidak bisa menutupi kekecewaannya.


***


Anggi merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Terlihat butiran air mata mengalir di sudut matanya.


Anggi memejamkan matanya, dia sekarang sedang teringat tragedi itu.


Tuhan, kenapa kau melakukan ini semua kepadaku, jujur jika boleh mengeluh aku ingin selalu mengeluh kepada papaku, aku ingin seperti anak-anak lain, tapi kenapa papa terlalu kejam, kenapa Tuhan?


Rizal yang kini telah berada di dalam kamar adiknya menutup pintu. Kemudian perlahan mendekati adiknya.


"Kakak tau perasaanmu sekarang, apa kau tidak malu, kau sudah dewasa tapi masih menangis." Rizal memancing adiknya.


Anggi membuka matanya, kemudian segera menghapus air matanya dengan kasar.


"Kenapa kau selalu memergoki aku saat aku menangis," ucap Anggi spontan.


"Haha... sekarang kau mengaku kalau kau


menangis." Rizal tertawa karena berhasil memancing adiknya untuk jujur.


"Masudku bukan seperti itu, a-aku..." belum Anggi menyelesaikan ucapannya Rizal sudah memotong.


"Menangislah jika kau ingin menangis, kau tidak perlu pura-pura kuat di depanku, kau bisa menangis sepuasmu." Rizal memeluk adiknya.


Anggi bukan lagi anak kecil yang membutuhkan pelukan dari kakaknya. Namun sekarang dia memang sangat membutuhkan kehangatan dari kakaknya.


Anggi membalas pelukan sang kakak, kemudian suara isak tangisnya pun terdengar. Rizal tersenyum kemudian mengusap-usap bahu adiknya.


"Hiks... hiks... kenapa aku nurut sama Kakak saat Kakak nyuruh aku nangis sih... kau sangat menyebalkan... hiks... hiks..." Anggi masih sempat menyalahkan kakaknya.


Menangislah sepuasmu, aku tidak perduli dengan ucapanmu... kau masih memiliki aku yang menyayangimu... kau juga masih mempunyai mama, kau juga memiliki papa... kapan kau akan melupakan ini semua?, kakak hanya ingin melihatmu yang kuat bukan pura-pura kuat, kakak ingin melihat kamu tersenyum bukan karena terpaksa.


"Kak, aku kangen mereka. Aku ingin mengunjungi mereka, tapi papa pasti akan melarangku pergi ke Turki. Papa tidak akan mengizinkan aku." Anggi menumpahkan semua isi hatinya.


"Bukankah mereka bilang akan menyuruhku mengunjungi mereka, saat kau sudah mempunyai pasangan?" Rizal mencoba menghibur adiknya.


Anggi melepaskan pelukannya dari kakaknya, kemudian dia menatap tajam kakaknya.


"Kau mengejekku"" ucapnya.


"Hahaha... akhirnya Anggi yang dingin telah kembali."


"Kau menyebalkan.Aku tidak ingin melihatmu lagi."


"Biarlah aku menyebalkan, karena dengan sifatku yang menyebalkan, aku bisa membuat adik kecilku menangis dalam pelukanku." goda Rizal.


"Keluar dari kamarku sekarang!" teriak Anggi walaupun dia tidak bisa menyembunyikan rasa senang nya dengan sang kakak.


"Ok... ok aku akan keluar," ucap Rizal kemudian keluar meninggalkan sang adik.


Kenapa aku mempunyai kakak yang menyebalkan sepertimu, bahkan kamu selalu berhasil membuatku lemah ketika di hadapanmu. Anggi tersenyum.


"Sudahlah sebaiknya aku tidur saja."


Anggi pun segera tidur, tak lama ia sudah benar-benar mengembara ke alam mimpinya.

__ADS_1


__ADS_2