
🦋🦋TAP JEMPOL👍 KALIAN SEBELUM MEMBACA🦋🦋
"Aku menyuruh siswiku ke sini, karena aku mau bilang kalau aku mau cuti selama tujuh hari," jawab Faris, tidak menggunakan bahasa formal.
"Cuti, untuk keperluan apa, Pak?" tanya Senja masih dengan ketus, dia tidak peduli kalau Faris adalah dosennya sekarang.
"Aku mau pulang ke Indonesia untuk menemui gadis yang dulu pernah hampir aku tabrak, tapi karena gadis itu ada di sini sekarang, maka aku akan membatalkan cutiku," jawab Faris jujur.
Faris baru menyadari kalau kepala Senja di perban, dan itu membuatnya ingin tahu apa alasan kepala gadis itu di perban.
"Bapak bilang seperti itu hanya sebagai alasan saja, Kan," ucap Senja sinis, karena di tidak percaya kalau Faris mau ke Indonesia untuk menemuinya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, apa kamu marah karena aku dulu pergi tanpa memberi tahumu? tanya Faris yang bisa menebak apa alasan Senja ketus dan sinis dengannya.
"Tidak," jawab Senja sekenanya.
Faris berjalan mendekati Senja, lalu tanpa permisi dia mengusap kepala Senja dengan lembut. Jujur Senja merasa nyaman dan bahagia, tapi dia memang masih kesal dengan Faris sekarang.
"Kenapa kepala kamu di perban? Kamu balap?" tanya Faris, dia duduk di meja sambil mentap Senja dengan tatapan mengintimidasi.
Tcih! Sombong sekali dia, tapi dia masih ingat kalau aku suka balap, aku ingin tahu bagaimana reaksinya kalau menjawab 'iya'.
"Iya, saya balap," jawabnya dengan nada meyakinkan.
"Apa?" teriak Faris memekakkan telinga Senja. Senja juga sedikit berjingkit saat dirinya kaget dengan Faris yang tiba-tiba berteriak.
"Apa, Bapak bisa bicara dengan pelan?" sindir Senja halus namun menusuk dan membuat Faris sedikit malu. Faris menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan Senja yang melihat itu, naluri keusilannya tiba-tiba muncul.
"Apa kepala Bapak ada kutunya, kenapa Bapak garuk-garuk kepala, Bapak," ucap Senja sambil menutup mulutnya dengan tangan, karena dia berusaha agar tidak tertawa.
Di kampus, dia memang terkenal jail dan humoris, tidak sedikit dosen yang menjadi korban kejailannya. Namun hal itu tidak membuat Senja dibenci oleh mereka. Justru hal itu membuat dosen dan mahasiswa lain menyukainya.
__ADS_1
"Apa kamu mau membantu dosen tampan ini untuk membersihkan rambutnya?" goda Faris, dia bangun dari duduknya, kemudian dia mengunci Senja yang duduk di kursi dengan kedua tangannya.
Senja bertepuk tangan, dia benar-benar tidak merasa takut saat Faris menguncinya seperti sekarang. "Wah, Bapak narsis sekali," ucap Senja, sambil menyingkirkan tangan Faris dari kursinya.
"Jawab aku, kenapa kepalamu?" tanya Faris, karena dia tidak yakin kalau itu akibat Senja balap.
"Bapak, tolong menjauh dariku, calon suamiku akan marah kalau dia tahu aku berdua dan dekat dengan pria lain," ucap Senja asal, dan itu malah mengundang gelak tawa dari Faris.
"Bwahahahaha, usiamu baru delapan belas tahun, dan kamu sudah mau menikah, jangan bercanda!" ucap Faris di sela-sela tawanya.
Senja mengecek suhu tubuh Faris dengan cara menempelkan punggung tangannya di Faji Faris, Faris di buat heran dengan tingkah yang gadis itu lakukan, dia pun hanya mengerutkan dahinya sambil memerhatikan apa yang gadis itu perbuat.
"Tidak panas, tapi kenapa Bapak seperti orang yang sedang sakit," gumam Senja yang tentu saja bisa di tangkap oleh pendengaran Faris.
"Aku memang tidak sakit," tutur Faris dengan lembut.
"Bapak sakit jiwa, karena Bapak tertawa sendiri? Padahal tidak ada hal yang lucu," ucap Senja, dia lupa kalau saat ini dia sedang kecewa dengan Faris.
"Pak, saya izin keluar sekarang, apa boleh?" izin Senja, tapi sayangnya Faris tidak mengizinkannya keluar dari ruangannya sekarang.
"Senja, kakak ingin menjelaskan semuanya kepadamu, tapi, kakak mohon kamu dengarkan kakak, ya!" pinta Faris sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Senja menatap Faris dengan lekat, jujur dia sangat merindukannya, dia ingin sekali berbagi cerita dengan pria itu, karena bagaimanapun, Faris adalah pria pertama yang mengisi hatinya, dan membuatnya merasa tidak kesepian dulu.
"Apa aku bisa menolak?" tanya Senja, yang dia sendiri sudah tahu jawabannya, dia yakin kalau Faris tidak akan membiarkan dia pergi sebelum Faris menjelaskan semuanya.
Faris tersenyum saat Senja sudah bicara dengan bahasa biasa, tidak menggunakan bahasa formal lagi. Faris menarik tangan Senja yang duduk, sehingga gadis itu berdiri, Faris mengangkat tubuh Senja dan mendudukkanya di meja ruangannya.
Senja yang tubuhnya diangkat tanpa peringatan reflek berteriak pada Faris, Senja memukul bagi Faris pelan. "Kamu membuatku terkejut," ucap Senja saat dia sudah duduk di meja.
Faris duduk di kursi tempat Senja duduk tadi, sehingga mereka sekarang berhadapan dan Senja tidak perlu mendongak saat Faris bicara nanti.
__ADS_1
"Sekarang aku mau bicara," kata Faris, tangannya menggenggam erat kedua tangan Senja. Jujur mereka sekarang terlihat seperti pasangan yang baru bertengkar dan sang pria meminta maaf padanya.
"Dari tadi kamu sudah bicara," balas Senja dengan polosnya, Faris yang merasa gemas langsung menjitak dahi Senja, itu adalah kebiasaan Faris saat mereka bersama dulu.
"Aaau, ini menyakitkan," runtuh Senja saat dijitak oleh Faris, kepalanya yang belum sepenuhnya pulih merasa seperti ditusuk-tusuk jarum yang sangat banyak.
Faris merasa sangat khawatir saat melihat gadis yang masih dia cintai itu merintih kesakitan, dia tidak mengira kalau pembuatannya membuat Senja merasakan sakit.
"Senja maaf, kakak tidak bermaksud untuk menyakitimu, kakak benar-benar minta maaf padamu, jangan membuat kakak khawatir, Senja," ucap Faris dengan suara sedikit bergetar, Senja tahu kalau pria itu hampir menangis.
Senja menatap wajah khawatir Faris yang disebabkan olehnya, dia mengusap pipi Faris dan tersenyum padanya. "Aku sudah memaafkan, Kakak," katanya yang membuat Faris merasa sedikit lega.
Rasa sakit di kepalanya hanya sebentar, dia sudah tidak merasakan sakit lagi. "Bisakah, Kakak mengambilkan air putih untukku," pintu Senja pada Faris yang sekarang bersetatus sebagai dosennya.
"Tunggu sebentar! Jangan pergi ke mana-mana," ucap Faris. Faris berlari ke luar ruangannya untuk membelikan Sanja air mineral, dia lupa kalau di dalam ruangannya ada dispenser dan air mineral dalam galon.
Senja yang melihat Faris panik dan pergi dengan tergesa-gesa dan khawatir hanya bisa tersenyum di dalam ruangan dosennya itu.
"Dia masih sama seperti dulu," gumam Senja.
Senja harus meminum obatnya sekarang, dia tidak bisa kalau harus menunggu Faris kembali, akhirnya Senja pun mengambil gelas milik Faris dan mengisinya dengan air putih dari galon.
Senja segera meminum obatnya, dia duduk di lantai, jadi, kalau ada orang yang masuk ke ruangan itu, mereka tidak akan melihat dirinya.
🍁🍁🍁
Bersambung ...
Like, komen, rate, dan vote seikhlasnya ya ...
Sampai jumpa di bab berikutnya ...
__ADS_1