
Senja ikut duduk di atas rumput tepat di sebelah Anggi, kemudian Senja memberikan air mineral kepadanya.
"Nih minum, pasti Kak Anggi capek ya habis olahraga." ucap Senja sambil menyodorkan botol air mineral itu.
Anggi menerima botol itu, kemudian segera meminumnya.
"Makasih." katanya.
"Sama-sama, oh iya Kak. Kok aku nggak lihat Kak Rizal, emang dia di mana Kak?" tanya Senja.
"Lagi nyusul Mama, tadi malam dia pulang kok, tapi cuma bentar doang dan lo udah tidur jadi lo nggak liat dia." ucap Anggi.
"Ouh..." Senja menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Gimana keadaan lo?, kok nggak nangis lagi sih, gue seneng liat kalo lo lagi nangis haha..." ledek Anggi.
Senja merasa sedih ingat kejadian kemarin saat dia mendapat kabar kalau kedua sahabatnya meninggal.
***
Kemarin
Setelah Senja sampai di kelas tiba-tiba HP nya berbunyi, ada panggilan masuk dari neneknya Fiza yang berada di Yogya.
"Hallo, Assalamu'alaikum Nek."
"Wa'alaikumussalam Nak." Nenek bicara dengan suara serak seperti orang habis menangis.
"Nenek kenapa nangis?" tanya Senja.
"Fiza Nak, Fizaaa." ucap Nenek masih dengan suara seraknya.
"Iya Fiza kenapa Nek?" Senja mulai khawatir.
"Fiza meninggal Nak."
"Haha... Nenek jangan bercanda, kemarin Fiza masih chat an sama Senja lho Nek, katanya dia mau jalan-jalan sama Ami ke Malioboro." ucap Senja.
"Nenek nggak bercanda Nak, tadi nenek dapat telephone dari rumah sakit kalau Fiza dan Ami kecelakaan dan tewas di tempat, Hiks Hiks..."
"Nenek bohong, nggak mungkin Fiza meninggal, Nenek jahat Nenek bohongin Senja." teriak Senja tidak percaya dengan apa yang di katakan nenek dari sahabatnya itu.
"Nenek nggak bohong,nenek ngasih tau kamu karena nenek tau kalau kamu sahabat Fiza yang paling dekat dengan dia, nenek nggak mau kamu tau dari orang lain." ucap nenek dari seberang telephone.
Senja menjatuhkan ponselnya, dia ingin sekali menangis tapi air matanya seakan tidak mau keluar karena kesedihannya teramat dalam.
Baru sebentar Andi meninggalkannya sekarang Ami dan Fiza juga ikut meninggalkannya untuk selamanya.
Saat pelajaran berlangsung Senja tidak bisa fokus, pikirannya masih ke Ami dan Fiza.
Hingga waktunya pulang tiba Senja masih murung, dan tangisan Senja tidak bisa di tahan lagi saat di mobil Anggi.
Hingga saat malam di balkon rumah Anggi tangisan Senja semakin menjadi-jadi sampai dia bisa tenang dalam pelukan Anggi dan tertidur.
***
"Kalau aku nangis emang bisa buat balikin mereka gitu Kak?" tanya Senja.
"Ya enggak sih, tapi Senja semua orang itu pasti bakal ngalamin yang namanya mati, jadi buat kita yang masih hidup nih harus memperbaiki diri dan berjalan sesuai dengan perintah Tuhan." ucap Anggi sambil memperhatikan Senja.
"Terus kenapa tadi Kak Anggi ngeledek aku, nyuruh nangis segala?"
"Ya kan cuma bercanda doang, jangan di dimasukin ke hati lah."
"Nggak aku masukin ke hati kok Kak, tenang aja, tapi aku masukin ke jantung biar lebih jleb rasa sakitnya." ucap Senja sambil melirik Anggi dengan lirikan maut.
"Hahaha..." Anggi menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung mau menanggapi Senja bagaimana.
Anggi takut jika nanti dia berkata dia akan menyinggung perasaan Senja.
"Lo sehat kan?, perasaan nggak ada yang lucu kenapa juga Kak Anggi ketawa?, kesambet setan perawan penunggu taman ya?"
"Kalau bicara suka ngawur." Anggi menonyor kepala Senja.
__ADS_1
"Sakit tau." ucap Senja cemberut.
Anggi tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu Senja sehingga membuat Senja kaget dan langsung bergerak akan menyingkirkan kepala Anggi.
"Nitip bentar doang jangan pelit."ucap Anggi, dan Senjapun akhirnya membiarkan bahunya di jadikan sandaran.
"Kak, aku mau ngomong serius sama Kakak."
"Ngomong apa?"
"Kakak tu nyebelin tau, tapi kalau nggak nyebelin asik juga."
"Perasaan lo aja kali. Gue mah orangnya emang begini udah dari dalam perut." Anggi berbohong.
"Kak Anggi nggak pandai bohong." ucap Senja kemudian.
"Keliatan banget ya kalau gue bohong?"
"Hmmmm..." jawab Senja singkat, padat tapi tidak jelas.
"Mau konser lo?"
"Enggak,siapa juga yang mau konser ih nggak kelas banget."
"Cie... cie, pacaran kok nggak ngajak-ajak sih. Lo mah parah bro." ucap Erick yang entah dari kapan berada di belakang mereka.
Anggi cukup terkejut namun hanya menoleh dan menyandarkan kepalanya lagi di bahu Senja.
Sedangkan Senja dia mau berdiri, tapi dengan cepat Anggi menahannya dan sekarang Hendra yang juga datang bareng Erick malah ikut-ikutan menyandarkan kepalanya di bahu Senja yang satunya.
"Kak Hendra ngapain sih?, malah ikut-ikutan gini?" ucap Senja.
"Woy kok gue di kacangin sih, jahat amat lo pada sama gue." timpal Erick.
"Kak Anggi, Kak Hendra bangun dong jangan kaya anak kecil gini ngapa sih?" ucap Senja masih mengacuhkan Erick.
"Nggak mau." jawab Anggi dan Hendra secara bersamaan, sehingga membuat Senja hanya bisa diam bagaikan ibu yang sedang menjaga anaknya yang lagi galau.
Erick memeluk Senja dari belakang tangannya melingkar di perut Senja.
Senja yang mendapat perlakuan seperti itu reflek memutar tangan Erick dan langsung bangun. Anggi dan Hendra sampai terjatuh karena tidak siap saat sandarannya berdiri.
Senja mengunci tangan Erick di belakang punggungnya. Erick merintih kesakitan.
"Aduh Senja lepasin dong, sakit nih, ampun dong cantik." ucap Erick.
"Makannya kalau punya tangan tu di jaga, jangan asal meluk orang sembarangan." kesal Senja dengan perlakuan Erick.
"Betul tu." komentar Hendra.
"Setuju gue sama Hendra." Anggi menimpali.
"Berisik banget sih kalian, bisa diam nggak?, Kak Anggi juga ngapain ikut-ikutan bicara emang aku nyuruh bicara apa?" teriak Senja marah-marah.
"Kok jadi nyalahin gue sih."
"Kalau bukan gara-gara Kak Anggi tadi yang mulai duluan pasti mereka nggak akan ikut-ikutan berbuat kurang ajar kaya gini. Kalau cuman nitip bersandar Senja nggak masalah, tapi meluk orang tanpa permisi gitu kurang ajar tau, apalagi Senja perempuan." ucap Senja menatap ketiga pria di depannya dengan tatapan tajam.
"Kalau mau marah, jangan sama gue dong tapi sama Erick, kan dia yang meluk lo bukan gue." protes Anggi.
"Benar tu kata Anggi, kan yang meluk lo Erick kalau gue sama Anggi kan Enggak." timpal Hendra.
"Kalian bertiga sama aja nggak ada bedanya." ucap Senja kemudian berlari meninggalkan mereka bertiga.
"Lo sih bro, gara-gara lo kan dia jadi marah sama kita semua, ah rese lo bro." Anggi meninggalkan Hendra dan Erick di taman.
"Tcih..." Hendra berdecak kemudian menyusul Anggi.
"Kok jadi gini sih." ucap Erick, kemudian ikut menyusul sahabatnya.
***
Senja berlari ke kamar Anggi kemudian mengganti pakaiannya dan memakai seragam lagi.
__ADS_1
Senja mengambil tasnya kemudian keluar dari rumah Anggi.
Anggi yang melihat itu langsung mencegah Senja keluar dari rumahnya.
"Mau ke mana lo?"
"Mau pulang, minggir sana jangan menghalangi jalan aku dong, aku tu lagi kesel sama Kak Anggi."
"Ok gue minggir, tapi biar gue anterin lo pulang ya."
"Nggak mau."
"Yaudah Senja sama aku aja pulangnya gimana?" sahut Hendra.
"Nggak mau."
"Gimana kalau sama aku?" ucap Erick.
"Nggak mau, Senja mau pulang sendiri. kalian minggir jangan di depan aku dong."
"Gue nggak ngizinin lo pulang kalau lo nggak mau di antar sama salah satu di antara kita bertiga. Lo ke sini sama gue, gue nggak mau bikin orang tua lo ngira gue nggak bertanggung jawab." omel Anggi.
"Senja tu lagi kesel sama kalian, kenapa kalian malah bikin aku tambah kesel sih."
Hendra tidak perduli dengan omongan Senja, dia menarik tangan gadi itu kemudian menyuruhnya masuk ke dalam mobil miliknya.
Senja di paksa masuk dan Hendra langsung melajukan mobilnya tanpa mendengarkan omelan Senja di sampingnya.
Erick dan Anggi hanya bisa bengong menyaksikan kejadian itu.
Hendra bertanya alamat rumah Senja kemudian setelah Senja menjawab dia mengantar Senja je alamat yang di sebutkan.
"Udah sampai."
Senja langsung turun dari mobil tanpa mengucapkan kalimat sepatah katapun.
"Sifat lo bikin gue tertarik sama lo Senja. Andai lo nggak deket sama Anggi pasti gue udah jadiin lo pacar gue." Hendra bermonolog.
Hendra kembali melajukan mobilnya tapi kali ini dia tidak kembali ke rumah Anggi, tapi langsung balik ke rumahnya.
***
Di rumah Anggi.
"Baru aja baikan udah berantem lagi." ucap Anggi yang kini duduk di sofa ruang tamu dengan Erick.
"Sorry bro, gue maksud gitu." timpal Erick.
"Udahlah lupain aja!" Anggi kini malah sibuk dengan pikirannya yang memikirkan kenpa Hendra tiba-tiba menarik tangan Senja tadi.
"Tapi gue nggak enak bro sama dia, tadi dia marah banget sama gue."
"Udah lah biarin, dia orangnya emang gitu gampang marah." komentar Anggi.
"Bro lo suka ya sama dia?, gue lihat lo tadi akrab banget sama dia."
"Mana ada, orang gue tadi cuman ngobrol biasa sama dia, baru tadi dia bilang kalau gue lagi baik gue orangnya asik, eh sekarang udah jadi kaya Tom and Jerry lagi."
Erick mengajak Anggi bermain PS agar temannya itu tidak berpikir yang aneh-aneh.
"Bro kalau lo nggak suka sama dia, boleh nggak gue jadiin dia pacar gue." ucap Erick di sela-sela bermainnya.
"Jngan macam-macam lo sama dia, mau gue hajar lo?" komentar Anggi.
"Elah gitu aja marah, gue kan cuma bercanda nggak serius juga."
"Tapi bercanda lo nggak lucu." Anggi meninggalkan Erick sendirian di kamarnya.
"Ya emang nggak lucu lah kan gue nggak ngelawak." gumam Erick.
Anggi memilih melampiaskan kekesalannya dengan nge gym di salah satu ruangan yang lengkap dengan alat-alat gym nya.
#Jangan lupa like all episode, komen and vote nya terima kasih and love you all...
__ADS_1