
Lisa yang mendengar kalau Hendi memanggil wanita yang mengaku sebagai istrinya itu dengan penggilan sayang langsung merasa tidak senang.
Hendi yang melihat raut wajah Lisa akhirnya tau alasan Senja mengaku jadi istrinya.
"Itu beneran Istri kamu Hen? kok kelihatan masih bocah." tanya Lisa.
"Hahaha,lo percaya?"Hendi balik bertanya.
"Aku sih nggak percaya, tapi tadi kan dia ngaku kalau dia istri kamu, kamu juga panggil dia sayang, berarti bener dong dia istri kamu." jawab Lisa.
"Dia adik gue." Hendi bicara apa adanya.
"Seriusan kamu?"
"Iya lah gue serius, oh ya lo ke sini mau ngapain?"tanya Hendi basa-basi agar tidak terkesan sombong.
"Jalan-jalan doang, kangen sama negara sendiri soalnya."
"Oh... gue duluan ya, mau nyusul adik gue."Hendi hendak meninggalkan Lisa.
"Tunggu!" Lisa menahan tangan Hendi.
"Lepas." Hendi mehentakan tangannya sehingga terlepas dari tangan Lisa.
"Maaf."
"Mau apa lagi sih lo? gue masih banyak urusan, kalau gue kelamaan di sini sama lo, nanti gue nggak tau adik gue ke mana."
"Adik kamu kan udah sama temannya, dia juga udah gede gitu, ngapain juga kamu masih ngawasin dia. Mending di sini aja nemenin aku." Ucap Lisa manja.
"Dari pada di sini sama lo, mending gue pergi sama adik gue, dan ingat ya kalau adik gue itu bukan bocah." Hendi merasa kesal dengan wanita itu.
Hendi meninggalkan Lisa dengan perasaan kesal, kenapa juga dia harus bertemu dengan nenek lampir di sini, sial banget ini hari.
🍁🍁🍁
Senja mengajak Hendra ke gazebo, mereka duduk berhadapan di meja yang hanya ada dua kursi.Senja menatap Hendra dengan seksama, ternyata kalau di lihat-lihat Hendra ganteng juga.
"Kak Hendra ke sini sendirian aja, di mana Kak Erick sama Kak Anggi." tanya Senja.
"Mereka lagi males katanya, tadi sih gue udah ngajak mereka, tapi mereka nggak mau, yaudah deh gue ke sini sendirian."
Senja baru kali ini benar-benar memperhatikan Hendra, sikap Hendra dan cara bicaranya mengingatkan Senja akan seseorang.Sehingga membuat Senja melamun karena memperhatikan Hendra.
"Senja." Hendra menepuk pundak Senja karena dari tadi dia hanya melamun dan tidak menanggapi perkataan Hendra.
"Lo kenapa liatin gue kaya gitu, gue tau kok gue ganteng." Hendra menyibakkan rambutnya agar terlihat cool.
"Idih PD gila. Kak Hendra itu kalau di perhatiin sikapnya mirip seseorang."
"Siapa?"
"Rahasia dong."
"Kasih tau lah."
"Bayar tapi."
"Bayar pake apa?"
"Traktir makan."
"Oke."
"Nggak jadi deh."
"Kenapa?"
"Karena aku nggak mau cerita."
"Yaudah kalau gitu, lo sering main ke sini?"tanya Hendra agar obrolan tetap mengalir di antara mereka.
"Lumayan lah Kak, tapi nggak sesering pas sama teman-teman aku dulu." Senja teringat kembali dengan Andi, Ami dan Fiza.Senja sangat merindukan mereka.
"Emang sekarang nggak pernah ke sini sama teman-teman lo itu?"
__ADS_1
Senja menggelengkan kepalanya, wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi murung dan sedih.
"Lo kenapa? gue salah ngomong ya?"
Senja kembali menggelengkan kepalanya, air matanya tiba-tiba mengalir, dan sontak gak itu membuat Hendra semakin merasa bersalah, walaupun dia tidak tau penyebabnya.
"Udah dong jangan nangis, gue minta maaf ya."
Senja mengusap air matanya kemudian menatap Hendra.
"Aku cuma teringat kenangan saat bersama mereka Kak, sekarang mereka udah pergi jauh, mereka ninggalin aku." Air matanya mengalir semakin deras.
"Iya-iya... tapi sekarang lo berhenti dong nangisnya, nanti gue aduin lho ke teman lo kalau gue ketemu mereka."
"Jangan ketemu mereka dulu Kak, nanti nggak ada yang merasa sok ganteng lagi kalau Kakak mau ketemu mereka."
Hendra mengernyitkan dahinya, maksud Senja apa coba.
"Maksud lo apa sih?"
Senja sekarang malah terisak keras, Hendi yang baru saja sampai di sana langsung memeluk Senja karena melihatnya menangis.
"Adik gue kenapa?" tanya Hendi pada Hendra.
"Tadi Senja cerita tentang temannya yang sering main ke sini sama dia, namanya Andi, Ami sama Fiza, trus aku tanya kenapa nggak ke sini sama mereka lagi, dan aku tadi bilang kalau misal aku ketemu sama mereka aku mau ngaduin Senja yang nangis sama mereka, tapi Senja malah bilang, jangan ketemu mereka, nanti kalau aku ketemu sama mereka, orang yang sok ganteng bakal pergi juga gitu." Hendra menjelaskan.
"Pantesan aja adik gue nangis lagi, lo tau nggak mereka itu di mana?"
"Nggak tau lah Kak, emang mereka di mana?"
"Di alam setelah kita, mereka sudah meninggal."
Mendengar itu sontak Hendra menutup mulutnya karena terkejut, jadi dari tadi dia mengingatkan Senja sama temannya yang sudah meninggal dong, Hendra jadi semakin merasa bersalah.
"Kak Hendi, aku kangen sama mereka." ucap Senja dalam pelukan kakaknya.
"Cengeng banget sih De, jelek banget tau muka kamu."
"Bukannya nenangin malah ngejek, dasar Kakak aku." Senja tertawa pada akhirnya.
"Iya Kak." jawab Hendra.
"Emang kalau nggak ketawa nggak cantik ya?"
"Cantik kok." balas Hendra.
"Makasih Kak Hendra, kalau lagi nggak sama Kak Anggi, Kak Hendra jadi waras ya."
"Berarti kalau lagi sama Anggi gue nggak waras dong?"
"Senja kalau ngomong kok suka bener." sahut Hendi.
"Tapi nggak papa lah gue di anggap nggak waras."
Senja mengamati gerak gerik Hendra, suasana yang tadi sudah kembali ceria kini jadi sepi lagi.
"Kenapa aku masih ingat dia terus sih."guman Senja pelan tapi terdengar Hendi.
"Masa lalu De?" tanya Hendi.
"Iya."
"Senja makannya kamu itu harus Pokemon."
"Pokemon?"tanya Senja.
"Kartun Jepang itu?"ucap Hendi.
"Bukan itu, tapi Pokemon (pokok e move on)" ucap Hendra.
"Move on itu nggak mudah Kak."
"Tapi itu cara biar lo, nggak ke ingat masa lalu lo."
"Bener itu De, kata teman kamu."
__ADS_1
🍁🍁🍁
"Kak Hendra mau ngajakin aku ke mana?" tanya Senja yang sekarang di bonceng Hendra.
Setelah mengobrol tadi dan hari menjelang sore Hendra minta izin kepada Hendi untuk mengajak Senja jalan-jalan.
Hendi mengizinkan dengan syarat, Senja harus pulang dengan keadaan baik-baik saja.
"Kalau lo mau ke mana?"
"Terserah Kak Hendra aja, kan Kak Hendra yang ngajakin aku main."
"Ke rumah gue aja, mau nggak?" tawar Hendra.
"Ke tempat lain aja lah Kak, masa ke rumah Kakak sih, kan nggak seru, lagian ini malam minggu juga."
"Yaudah, gue bakal ngajakin lo ke tempat favorit gue, tapi kalau nanti lo tau tempatnya, jangan kasih tau orang lain ya!"
"Emang ke mana sih Kak?"
"Rahasia dong."
"Pakai rahasia-rahasiaan segala sih. Kak Hendra masih jauh nggak?"
"Mungkin satu setengah jam lagi, kenapa?
"Aku ngantuk, boleh tidur di motor nggak Kak?"
"Boleh tapi harus pegangan ke gue, biar nggak jatuh."
"Hmm." Senja memegang sisi kanan dan kiri baju Hendra, tepatnya memegang di bagian pinggang Hendra.
"Kalau pegangnya cuma gini ntar jatuh."
Hendra menarik tangan Senja agar memeluknya, Karena Senja yang sudah sangat mengantuk akhirnya nurut saja dengan perintah Hendra.
Mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Sangat romantis bagi mereka yang melakukan melihatnya.
Senja menyandarkan kepalanya di punggung Hendra, walaupun Hendra merasa tidak nyaman karena helm yang di pakai Senja.Tapi Hendra membiarkan saja.
Saat mereka telah sampai tujuan, Hendra mengelus pelan tangan Senja yang melingkar di perutnya agar Senja bangun.
Senja pun akhirnya bangun, kemudian melepaskan pelukannya dan turun dari motor kemudian melepas helm nya.
"Aduh, maaf ya Kak Hendra aku nggak sopan."
"Santai aja, ikut gue yuk." Hendra yang juga telah turun dari motornya menarik tangan Senja agar mengikutinya.
Mereka berjalan di jalan yang cukup menanjak. Sampai pada akhirnya mereka sampai di atas. Sebuah tempat dengan pemandangan yang sangat menakjubkan.
"Oh my God, wow is amazing."Senja tersenyum melihat pemandangan yang terpampang indah di depan matanya.
"Lo suka?"tanya Hendra.
"Suka banget Kak, kenapa aku baru tau tempat ini sekarang sih, kalau tau dari dulu pasti aku sering main ke sini. Kak Hendra makasih ya udah ngajak aku ke sini." ucap Senja sambil melihat ke arah Hendra.
"Kalau lo suka, gue siap nganterin ataupun nemenin lo ke sini lagi, tapi ingat ya jangan kasih tau ke orang lain, karena ini tempat rahasia." Hendra bicara tanpa menoleh ke arah Senja, pandangannya lurus menyusuri pemandangan indah di sana.
"Kak Hendra serusan?"
"Dua rius malahan." balas Hendra kemudian berbalik melihat Senja sehingga kini mereka saling berhadapan.
"Lo orang pertama yang gue ajak ke sini, dan dulu gue pernah berdoa di sini, semoga orang pertama yang gue ajak ke sini, kalau cowo jadi sahabat sejati gue tapi kalau cewe jadi adik gue atau bisa juga orang yang spesial."guman Hendra dalam hati ketika teringat doanya dulu.
"Kak Hendra, habis ini mau langsung pulang?"
"Iya, takut kemaleman kalau main lagi."
"Hmm... iya juga."
Mereka berada di sana cukup lama, dan setelah mereka puas mereka memutuskan untuk pulang, Senja di antar Hendra sampai rumahnya.
#**Jangan lupa like, komen, rate, dan votenya ya....
Terima kasih 😘💕**...
__ADS_1