Kembali

Kembali
KEMBALI ( Sayang )


__ADS_3

πŸ¦‹πŸ¦‹TAP JEMPOLπŸ‘ KALIAN SEBELUM MEMBACAπŸ¦‹πŸ¦‹


Faris pergi menggunakan motor sport miliknya, dia ingin menenangkan pikirannya setelah melalui banyak kejadian yang membuat hatinya merasa sakit.


Faris tidak tahu, ke mana dia akan pergi. Akhirnya setelah lama berpikir, Faris memutuskan untuk pergi ke rumah Senja. Karena diam-diam dia mencatat dan menghafal alamat rumah gadis itu.


Faris sudah memasuki jalan XX dan dia mencari rumah nomor 29. Cukup lama Faris menemukan rumah itu, Faris mengetuk pintu gerbang sambil mengucapakan salam, dan lama, terlihat seorang satpam membuka gerbang dan menghampirinya.


"Waalaikumsalam, maaf, Anda mencari siapa, ya?" tanya satpam penjaga gerbang.


"Saya mencari Senja, Pak Tio. Apa dia ada di rumah?" Faris bertanya dengan menampakkan wajah lelahnya, dia mengetahui nama Pak Tio dari bordiran benang yang tertulis di baju seragamnya.


"Maaf, Non Senja belum pulang." Pak Tio mengatakan yang sebenarnya, karena memang Senja belum pulang ke rumah, tapi dia pulang ke rumah Anggi.


"Bapak tahu nggak dia di mana sekarang?" Faris kembali bertanya.


"Sepertinya, sedang di rumah calon suaminya, karena tadi saya diberitahu, Bi Jum." Pak Tio menjawab dengan jujur.


Jadi benar kalau pria tadi calon suaminya, aku akan berjuang sebelum mereka menikah, aku bukan perusak hubungan, aku hanya mau mencoba untuk mendapatkan dia.


"Apa, Pak Tio tahu, di mana alamat rumah calon suami Senja?" Jika Pak Tio memberitahu, Faris akan datang ke rumah calon suami Senja dengan segera.


"Maaf, saya kurang tahu." Pak Tio menjawab dengan jujur, karena yang dia tahu, rumah Anggi hanya satu blok dengan rumah Senja.


"Boleh saya menunggu di sini, Pak?" Karena tidak diberitahu Pak Tio.


"Boleh, silakan masuk! Tunggu di dalam saja. Tapi, mungkin Non Senja masih lama pulangnya, apa tidak apa-apa menunggu di sini?" Pak Tio bertanya untuk memastikan, karena kasihan kalau melihat Faris harus menunggu Senja lama.


"Tidak apa-apa, Pak." Faris tersenyum kemudian mengikuti Pak Tio masuk.


🍁🍁🍁


Sedangkan di tempat lain yang tidak jauh dari rumahnya. Senja dan Anggi sedang asik di dapur, sesuai permintaan Senja tadi, Anggi membuatkan nasi goreng seafood untuk calon istrinya.


"Bumbunya mau ditumbuk atau dipotong?" Anggi bertanya pada Senja yang sedang sibuk mengupas bawang merah.


"Lebih enak kalau ditumbuk, Kakak bisa numbuknya? Senja bertanya seakan dia meremehkan Anggi.


"Kecil, tinggal pakai Blender selesai." Anggi menjawab dengan santai dan tersenyum sangat manis padanya.


"Tumbuk pakai tangan, jangan pakai mesin, tidak enak." Senja tidak suka jika menggunakan Blender, karena rasanya akan berbeda dengan ditumbuk menggunakan cobek.


"Baiklah, sesuai keinginan calon istriku." Anggi mengecup dahi Senja dengan cepat hingga mendapatkan pukulan di lengannya.


"Kakak jangan usil." Senja melotot ke arah Anggi yang malah senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Kakak, potong bawang merahnya!" Senja memberikan bawang merah yang telah dia kupas pada Anggi, agar pria itu memotongnya.


"Sayang, kamu bilang ditumbuk tadi."


"Tidak dengan bawang merah."


"Kenapa?" Anggi mendekati Senja dan memeluknya dari belakang.


"Aromanya akan lebih enak kalau di potong, percayalah." Senja memberikan alasannya.


"Benarkah?" tanya Anggi masih memeluk Senja.


"Lepaskan!" Senja membuka tangan Anggi yang mengait di perutnya.


"Tidak mau." Anggi malah semakin memperkuat kuncian tangannya.


"Apa Kakak mau melihatmu mati kelaparan?" tanya Senja dengan kesal, dia tidak sedang ingin bercanda sekarang.


"Berikan aku ciuman dulu!" Anggi meminta sambil tersenyum jail.


"Kakak, ayolah aku sedang tidak ingin bercanda sekarang." Senja masih terus membuka tangan Anggi yang saling mengait.


"Baiklah." Anggi melepaskan tangannya, dan segera melakukan pekerjaannya yang sempat tertunda karena dia mengganggu Senja.


Senja melihat wajah Anggi yang ditekuk dan bibirnya mengerucut, Senja tersenyum saat melihat Anggi yang terlihat lucu saat sedang dalam mode ngambek.


Anggi diam dan tidak meliriknya, Senja terkekeh pelan dia sangat senang membuat Anggi kesal, karena ada kebahagiaan tersendiri untuknya.


"Hm." Anggi menjawab dengan singkat, sejujurnya di tidak marah, dia hanya ingin membuat Senja merasa bersalah saja.


"Kalau tidak marah, kenapa kamu hanya menjawab 'hm'?" Senja masih memerhatikan wajah Anggi dengan seksama.


"Hm." Anggi hanya menjawab dengan singkat lagi, Senja merasa kesal, akhirnya dia pun mengalah dan mencoba mencari cara agar Anggi tidak cuek lagi.


"Sayang, kamu jangan marah, aku tidak suka melihatmu seperti ini." Senja memeluk Anggi dari belakang, hal yang sama seperti apa yang Anggi lakukan tadi.


Anggi tersenyum senang saat Senja memanggilnya sayang, hatinya menjadi berbunga-bunga.


"Baiklah, aku memaafkan kamu, lagipula aku tidak marah." Anggi mengusap tangan Senja yang melingkar di perutnya.


Serakah masakan Anggi matang, mereka berdua langsung makan. Dan setelah selesai, Senja membantu mencuci alat-alat yang mereka gunakan tadi.


"Kamu mau langsung pulang atau masih mau di sini?" Anggi bertanya untuk memastikan bagaimana keputusan wanita itu.


"Aku mau pulang, dan kamu tidak usah mengantarku." Senja menjawab sambil menoleh memerhatikan Anggi yang berdiri di samping kanannya.

__ADS_1


"Aku mau mengantarmu," ucap Anggi menoleh ke arah Senja, hingga padangan mereka beradu.


"Tidak perlu." Semua tersenyum manis.


"Tapi aku harus mengantarmu."


"Sayang."


"Baiklah, aku tidak akan mengantarmu."


Anggi mengantar Senja sampai halaman depan.


"Aku pulang dulu," ucap Senja dan melambaikan tangannya kepada Anggi.


"Hati-hati," ucap Anggi ketika Senja berpamitan.


🍁🍁🍁


Senja membuka gerbang depan rumahnya, dia tidak perlu meminta bantuan satpam karena dia tidak menggunakan mobil.


Saat Senja melewati pos satpam, Senja melihat Pak Tio sedang bermain catur dengan seseorang, Senja melihat ada motor sport warna merah di dekat pos satpam yang dia yakini pasti motor pria itu.


"Selamat siang menjelang sore, Pak." Senja menyapa Pak Tio, dan matanya melirik melihat pria asing itu.


"Juga, Non." Pak Tio membalas dengan tersenyum ramah kepada Senja.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Senja, sambil melihat Faris dengan heran.


"Untuk menemuimu, kamu dari mana saja, aku sudah lama menunggu kamu." Faris berdiri dan keluar dari pos satpam, dan membuat Senja harus mundur, karena di berada di pintu.


"Apa benar begitu, Pak." Senja bertanya pada Pak Tio untuk memastikan apakah yang Faris katakan benar atau cuma bohong.


"Benar, Non. Den Faris sudah menunggu sejak tadi siang." Pak Tio menjawab dengan jujur.


"Baiklah, ayo masuk, Kak!" Senja mengajak Faris masuk ke rumahanya, karena dia tidak mau kalau bersikap cuek di depan orang-orang yang berkerja untuknya.


🍁🍁🍁


Bersambung ...


Halo readers lover's, aku mau ngucapin Terima kasih buat kalian yang sudah mengikuti cerita aku sampai sejauh ini.


Maaf ya bila aku tidak up setiap hari. Semoga kalian suka dengan ceritanya, like komen dan dukungan kalian adalah penyemangat untukku melanjutkan ceritaku.


Kalian juga bisa kok ngasih ide buat nambah cerita ini semakin berkembang. Ide tantang komedi yang lagi aku butuhkan. Siapa tahu kalian ada yang mau ngasih ide.

__ADS_1


Terima kasih ya ... sampai bertemu di bab berikutnya ...


__ADS_2