Kembali

Kembali
KEMBALI (Permanen)


__ADS_3

Anggi sengaja tidak membangunkannya, bukan karena kasian tapi karena dia nggak mau kena semprot Senja.


Karena Anggi sudah mencoret-coret wajah Senja dengan spidol. Dan itu ide dari Erick dan Hendra.


Mereka masuk ke rumah dan meninggalkan Senja yang masih di dalam mobil.


Anggi sengaja meninggalkan kunci di mobilnya.


***


Anggi sedang berbaring santai sambil bermain game di HP nya, sedangkan kedua temannya sedang sibuk makan camilan sambil bernyanyi.


Senja yang baru bangun dari tidurnya bingung kenapa dia ada di dalam mobil. Senja mengingat ingat apa yang dilakukannya sebelumnya.


"Ah ya, tadi aku tidur saat mereka berdebat, haha baguslah sekarang badan ku sakit semua, eh tunggu, kalau aku ada di dalam mobil Kak Anggi, berarti aku ada di rumahnya dong?"


Senja langsung turun dari mobil kemudian masuk ke dalam rumah Anggi, dia heran kepada pelayanan yang membukakan pintu karena pelayan itu melihatnya seperti menahan tawa.


"Di mana Kak Anggi?" tanya Senja kepada pelayan itu.


"Ada di kamarnya Non." jawab pelayan itu.


"Ok, terima kasih."


Saat Senja mau menemui Anggi Senja bingung karena dia tidak tau di mana Anggi.


Senja mau bertanya lagi kepada pelayan namun sebuah suara menghentikan niatnya.


"Senja." Suara itu.


"Ah Tante rupanya, hehe tadi Senja pulang sama Kak Anggi Tan, tadi aku tidur di mobil pas bangun tau-tau udah ada di sini." ucap Senja.


Ratna yang melihat wajah Senja penuh coretan tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa Tante tertawa?" tanya Senja.


"Hahaha... sini deh ikut tante." Ratna mengajak Senja ke kamar tamu kemudian menyuruh Senja untuk bercermin.


"Dasar Singaaaa..." teriak Senja sampai terdengar dari kamar Anggi.


"Awas aja ya lo Kak, gue bakal bales lo... rasain pembalasan gue nanti haha."


Erick ,Anggi dan Hendra yang mendengar teriakan itu tertawa terbahak-bahak dari kamar Anggi.


"Bwahahahahahaha..." tawa mereka.


"Ya ampun Senja, kamu bikin telinga tante sakit tau."


"Maaf Tante, Tan kamar Kak Anggi yang mana?"


"Lantai dua paling tengah"


"Senja kesana dulu ya Tan."


Senja mengambil spidol miliknya dari dalam tas, kemudian langsung naik ke lantai dua dan membuka kamar Anggi.


Ketiga pemuda itu terkejut saat melihat Senja tiba-tiba masuk ke kamar.


Tanpa banyak bicara Senja langsung naik ke tempat tidur Anggi, dan mencoret -coret wajah Anggi.


Mereka sampai berguling-guling seperti trenggiling di atas kasur. Saling lempar bantal guling.


"Lo yang udah nyoret-nyoret wajah gue kan, nih rasain gue coret-coret juga muka lo."


"Hei kalian berdua bantuin gue dong!" teriak Anggi sambil menghindar dari Senja.


"Awas aja kalau kalian gangguin gue, gue juga bakal buat wajah kalian kaya gue." Ancam Senja.


"Sorry Nggi, kita nggak ikut-ikutan." ucap mereka sambil tertawa melihat Anggi yang kewalahan melawan Senja.


"Stoooooop, berhenti dong jangan tarik-tarik baju gue woy." teriak Anggi, namun Senja tidak menghiraukan nya.


"Gila ni cewek kalau udah marah serem banget"


Anggi kini jatuh terlentang di kasur sedangkan Senja terus saja mencoret-coret wajah Anggi, Senja tidak sadar kalau sekarang dia duduk di atas perut Anggi.

__ADS_1


"Hahaha... puas gue lihat wajah lo." ucap Senja ketika sudah selesai dengan aksinya.


Erick dan Hendra yang melihat itu malah menikmati tontonan gratis di depannya.


"Prok prok prok..." suara tepuk tangan keduanya saat Senja berhasil membalas Anggi.


Seketika itu pula Senja menoleh ke arah ke dua laki-laki itu, dan suara orang di bawahnya menyadarkannya.


"Turun woy, lo berat." ucap Anggi.


Senja yang menyadari jika dia duduk di atas tubuh Anggi langsung berdiri dan turun dari tempat tidur.


Senja sangat malu sehingga dia menutup wajahnya menggunakan tangannya.


"Kenapa lo nggak bilang dari tadi sih?"


"Habisnya lo keliatan nyaman banget sih di atas gue, lo agresif banget sih." Anggi menggoda Senja.


"Apa lo bilang?" Senja tidak terima dikatai agresif dan langsung memukul Anggi dengan guling.


Dan terjadilah Perang Dunia ke lima versi author.


"Hahaha kalian ini seperti kucing kawin saja" batin Hendra.


"Ternyata tu adik kelas keren juga ya, lebih keren dari si Putri malah, gue nggak ngebayangin kalau yang ada di depan gue misal Anggi sama Putri, bisa-bisa habis tu si Putri di hajar Anggi,tapi gue heran sama Anggi ia sih dia kelihatan marah tapi dia nggak marah beneran kan itu."gumam Erick.


"Gue nggak mau tau, Senja lo harus bersihin wajah gue, sekarang juga." perintah Anggi.


"No, kan wajah gue juga ada spidol nya jadi gue mau bersihin wajah gue sendiri aja."


"Gue nggak mau tau, pokoknya lo harus bersihin wajah gue, kalau lo nggak mau luka di kepala lo itu bakal gue jadiin tambah parah."


"Kak Erick bantuin gih, gue mah ogah."


"Ah gue nggak ikut-ikut an jadi kalian bersihin aja sendiri." balas Erick.


"Daripada berisik mending sekarang kalian berdua ke kamar mandi saja, bersihinnya barengan, tapi bersihin wajah sendiri-sendiri." usul Hendra.


"Boleh juga saran lo Kak." Senja kini masuk ke kamar mandi di kamar Anggi kemudian mencuci mukanya.


Wajah Senja telah bersih dari coretan spidol. Senja hendak keluar kamar mandi namun tangannya di tahan Anggi.


"Tunggu!"


"Kenapa?"


"Kok spidol di muka gue nggak hilang sih, punya lo aja bisa, masa punya gue enggak."


"Makannya kalau cuci muka itu yang bener, eh lo serius nggak hilang?" tanya Senja.


"Dua rias deh gue.Cepet bantuin bersihin"


Senja menaruh sabun muka di tangannya kemudian membasuh wajah Anggi.


"Merem lo, nanti mata lo perih" perintah Senja.


Anggi menurut saja dengannya, Sudah beberapa kali Senja mencuci muka Anggi tapi hasilnya nibil.


"Duh, kok nggak bisa hilang ya?"


"Lo nggak pakai spidol permanen kan?" tanya Anggi.


Seketika itu juga Senja lari keluar kamar mandi kemudian mengambil spidol yang berada di atas kasur. Senja membaca spidol itu dan... senja merasa panik.


"Mati aku, Kak Anggi bakal marah nih."


Anggi juga ikut keluar, dan langsung merebut spidol di tangan Senja.


"Permanen marker, Senja gue nggak mau tau, pokoknya lo harus bersihin wajah gue sampai bersih."


"Iya deh iya..." Senja membuka Google kemudian mencari cara menghilangkan spidol permanen.


Setelah ketemu dan membacanya Senja langsung pergi ke dapur mengambil baskom dan air hangat kemudian minta baby oil ke Ratna.


Senja kembali ke kamar Anggi, kemudian menyuruh Anggi duduk di lantai kamar.

__ADS_1


"Senja lo mau ngapain?" tanya Erick.


"Iya lo mau ngapain?, lo mau mandiin Anggi apa pakai handuk sama air anget segela." ucap Hendra.


"Kalian diam aja deh Kak."


Kini Anggi sudah duduk berhadapan dengan Senja, Senja dengan telaten dan berhati-hati menghapus spidol di wajah Anggi, setengah jam kemudian Senja telah selesai.


Anggi sedari tadi memperhatikan Senja, ada getaran aneh di hatinya.


"Udah selesai, maaf Kak, aku nggak tau kalau itu spidol permanen." ucap Senja.


Anggi masih memperhatikan Senja, sampai dirinya tidak sadar akan pertanyaan Senja.


"Kak Anggi" Senja menepuk pundak Anggi.


Anggi langsung tersadar dari lamunannya.


"Ah iya kenapa?" tanya Anggi.


"Aku tadi bilang maaf."


"Ok... ok..." jawab Anggi gugup dan langsung berdiri menjauhi Senja.


Senja membereskan peralatan yang tadi ia gunakan. Setelah selesai Senja pamit kepada Ratna karena sudah menjelang maghrib.


"Jangan pulang sekarang, nanti malam aja pulangnya biar gue anterin, sekalian makan malam di sini aja. Nanti biar kakak minta izin sama orang tua lo." Cegah Anggi ketika Senja pamit kepada mamanya.


"Tante setuju sama Anggi, Senja nanti aja ya pulangnya, tante masih kangen ini sama kamu." ucap Ratna.


"Iya deh Tan."


Erick dan Hendra yang baru turun langsung mengajak Senja untuk bermain.


"Tante, pinjam Senjanya dulu ya, kita mau ajak dia main." izin Hendra.


"Ya udah, kalian sholat dulu tapi. Senja ikut mereka ya." ucap Ratna.


"Ayo Senja!" Hendra menarik tangan Senja supaya mengikutinya.


"Main sama mereka dulu ya Tan." ucap Senja saat tangannya di tarik.


Ratna menganggukkan kepalanya, Erick dan Anggi mengikuti Hendra.


Mereka sholat maghrib, setelah sholat mereka masuk ke sebuah ruangan yang tidak terlalu luas namun ada beberapa alat musik di sana.


Hendra bermain gitar, Erick bermain Drum, Anggi yang menjadi vokalisnya. Senja tadi ingin main gitar tapi dilarang Hendra, Hendra malah menyuruhnya ikut bernyanyi bersama Anggi.


Senja pun menurut saja. Akhirnya mereka bersenang-senang bersama di ruang musik.


Setelah masuk waktu Isya mereka menghentikan aktifitasnya kemudian sholat Isya. Selesai sholat mereka langsung makan malam bersama keluarga Anggi.


Selesai makan malam, sesuai perkataan Anggi tadi, Anggi mengantar Senja pulang ke rumahnya. Erick dan Hendra tidak pulang, mereka menginap di rumah Anggi.


Sesampainya di halaman rumah, Senja segera turun dari mobil kemudian mengucapkan terima kasih kepada Anggi.


"Kak makasih ya udah nganterin, mau mampir dulu nggak?" ucap Senja.


"Lain kali aja deh, udah malem soalnya. Oh ya kok lo manggil gue kakak lagi?" tanya Anggi.


"Buat ngehargain Kakak, oh iya aku minta maaf kalau pernah manggil Kakak nggak sopan, jujur sebenarnya aku nggak nyaman manggil begitu, tapi karena kemari Kakak ngeselin banget sih jadi aku manggil lo gue... maaf ya" ucap Senja.


Anggi tidak menyangka kalau ternyata Senja orang yang seperti itu. Ada perasaan aneh di hatinya tapi dia tidak menyadarinya.


"Eh iya nggak papa kok... tapi hukuman lo masih berlaku..." ucap Anggi.


"Iya, sampai Kak Anggi bosan." Senja berkata sambil tersenyum.


"Yaudah kalau gitu gue pulang dulu ya, lo langsung tidur, besok gue jemput."


"Iya Kak, hati-hati."


Anggi menganggukan kepalanya kemudian melambaikan tangannya, dan melajukan mobilnya kembali ke rumah.


Senja segera masuk ke rumah dan di sambut oleh bunda dan juga ayahnya.

__ADS_1


Setelah berbincang sebentar dengan mereka Senja langsung ke kamar dan beristirahat.


__ADS_2