
π¦π¦TAP JEMPOLπ KALIAN SEBELUM MEMBACAπ¦π¦
Faris sudah kembali dari kantin, dia tidak melihat Senja di ruangannya. Dia pun bingung mau mencari gadis itu, tapi, saat dia mau keluar ruangan, dia mendengar suara Senja terbatuk karena tersedak obat yang dia minum.
"Uhuk ... uhuk." Senja terus batuk tidak segara berhenti, Faris pun mendekati Senja dan berjongkok di depannya.
"Kamu makan Ayam mentah?" ucap Faris sambil membatu menghentikan batuk Senja, dengan cara menutup mulut dan hidungnya. Senja gelagapan karena tidak bisa bernapas. Tapi, beberapa saat kemudian saat tangan Faris di lepas, batuk Senja langsung berhenti.
"Bapak kira saya Macan, makan Ayam mentah," maki Senja memelototkan matanya, dia tidak terima dengan apa yang Faris katakan.
"Ya, kamu macan, mama cantik," goda Faris, yang membuat Senja menumpuknya dengan buku.
"Bapak gila," ucap Senja sambil berdiri, dia hendak berjalan keluar dari ruangan Faris, tapi pria itu menahannya dengan sebuah pertanyaan.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya, sambil ikut berdiri.
"Keluar," jawab Senja singkat.
"Minum dulu, aku sudah susah payah membelikannya untukmu." Faris berjalan ke arah Senja dan menyodorkan air mineral dalam botol kepada Senja.
"Saya sudah tidak butuh itu, Pak. Saya sudah minum dari air galon di ruangan, Bapak," ucap Senja seakan memberitahukan kebodohan Faris.
"Aku lupa kalau ada air mineral dalam galon di sini, kenapa kamu tidak mengingatkan aku tadi?" kata Faris, sambil merutuki Kebodohannya.
"Apa, Bapak bertanya padaku tadi?" tanya Senja dengan nada jenuh dan malas.
"Tidak," jawab Faris cepat.
"Bapak tahu itu, Bapak tidak bertanya kepada saya, jadi, saya tidak perlu menjawab atau memberitahu, Bapak, kan!" kata Senja, lalu dia benar-benar pergi dari ruangan itu.
πππ
Senja menyusul Alarice dan Arka ke kantin, kedua sahabatnya itu sudah cukup lama menunggu dia. Saat Senja sampai di sana, kedua sahabatnya sudah selesai makan.
"Kamu lama sekali, kita berdua sudah selesai makan, apa kamu mau makan sekarang, Beb?" tanya Alarice, karena jika Senja tidak mau makan, dia akan langsung mengajak Senja pulang.
Saat Senja mau menjawab, ponsel miliknya tiba-tiba berdering, Senja mengecek ternyata ada panggilan masuk dari Anggi.
"Siapa?" tanya Alarice.
"Kak Anggi," jawab Senja singkat. Dia segera menggeser tombol hijau pada ponselnya, lalu meletakan ponselnya di dekat telinga.
"Assalamualaikum, ada apa, Kak?" tanyanya pada Anggi.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Kamu sudah selesai kelas atau masih ada kelas lagi?" tanya Anggi.
"Aku sudah selesai."
"Di mana kamu sekarang? Apa masih di kampus?"
"Ya, aku masih di kampus."
"Tunggu aku di sana, aku mau menjemputmu," perintah Anggi, agar gadis itu menunggunya di kampus.
"Aku tidak ma-"
"Aku tidak mau mendengar penolakan," sela Anggi dengan cepat.
"Baiklah, aku akan menunggu, Kak Anggi di depan kampus," balasnya.
"Oke, aku ke sana sekarang, Assalamu'alaikum," ucap Anggi, lalu memutus panggilan mereka setelah Senja membalas salamnya.
"Waalaikumsalam."
Kenapa dia suka sekali memaksa, sungguh menyebalkan.
"Kalian berdua bisa pulang sekarang, dan tidak perlu mengantarkan aku, karena Kak Anggi akan menjemputku," ucap Senja sambil duduk kursi yang berhadapan dengan Alarice.
"Kak Anggi akan menjagaku, kalian tenanglah!" Senja tersenyum dan meyakinkan kedua sahabatnya itu.
"Kamu serius, Beb?" Alarice masih belum tenang juga.
"Aku bukan Bebek, sudahlah kalian duluan saja, aku baik-baik saja." Senja memperlihatkan senyuman terbaiknya.
"Baiklah, kita pulang dulu, kalau ada apa-apa nanti hubungi aku, jangan sampai tidak menghubungiku," perintah Alarice sambil mencium pipi kanan dan pipi kiri sahabatnya.
"In sya Allah," jawab Senja.
Akhirnya Alarice dan Arka pun pulang duluan, Senja berjalan bersama mereka sampai di parkiran sebelum mereka berpisah. Alarice dan Arka masuk ke dalam mobil, kemudian Arka berteriak saat mobilnya melewati gadis itu.
"See you next time, baby." Arka melambaikan tangannya pada Senja, begitu juga dengan Senja.
Senja sedang menunggu Anggi yang akan datang menjemputnya di depan kampus. Dia duduk di kursi panjang yang terletak di sana. Senja memainkan ponselnya, entahlah apa yang dia lihat.
Karena dirinya asik dengan ponselnya, dia tidak menyadari kalau ada orang lain duduk di sampingnya, dia baru menyadarinya saat orang itu menyapa dia.
"Hai," sapa orang itu tersenyum tampan ke arahnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Senja dengan nada tidak suka dan kesal.
"Ini tempat umum, kenapa aku tidak boleh di sini?" pria itu malah balik bertanya. Senja memutar bola matanya jengah. "Aku tidak bilang kamu tidak boleh di sini, tapi aku bertanya, kenapa kamu ada di sini," ucapnya, merasa benar, karena dia memang berkata seperti itu.
"Karena aku ingin," jawab pria itu sengaja membuat gadis yang duduk di sampingnya itu kesal.
Dari jarak yang sudah lumayan dekat dengan Senja sekarang, Anggi bisa melihat gadis yang dicintainya itu sedang berbicara dengan seorang pria, yang Anggi tidak tahu siapa.
Anggi menepikan mobilnya, lalu dia turun dan menghampiri mereka berdua. "Assalamualaikum, sayang. Sudah lama menunggu?" Anggi sengaja memanggil Senja dengan panggilan sayang, untuk memperlihatkan pada pria itu, kalau Senja miliknya.
"Waalaikumsalam, aku belum lama," jawab Senja tersenyum saat melihat Anggi sudah sampai.
Pria itu terkejut saat ada pria lain yang memanggil Senja dengan panggilan sayang. Hatinya sedikit cemburu saat Senja menjawab pria itu dengan ramah dan lembut. Dulu Senja hanya seperti itu dengannya, tapi sekarang semua itu sudah pindah pada orang lain.
Siapa pria ini, kenapa dia memanggil Senja dengan panggilan sayang?
"Aku lihat kesayanganku sedang mengobrol dan terlihat sangat senang engan pria ini, apa kamu tidak mau memperkenalkannya padaku?" tanya Anggi sambil mengusap pelan kepala Senja, dan membuat pria itu iri.
"Dia dosenku, kamu tidak perlu mengenalnya, karena itu tidak penting," jawab Senja, kemudian berdiri dan mengajak Anggi segera pergi dari sana.
"Kami duluan ya, Pak. Terima kasih sudah menemaniku," pamit Senja, tapi di tahan oleh dosennya.
"Tunggu! Senja tolong jelaskan apa hubungan kamu dengan pria ini?" tanyanya sambil menunjuk Anggi dengan jari telunjuknya.
Senja saling bertukar pandang dengan Anggi sebelum dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan sang dosen. "Dia, calon suamiku," jawab Senja sambil tersenyum dan menatap Anggi dengan tatapan sayang, padahal itu hanya pura-pura, karena dia belum siap untuk menikah sekarang.
"Kamu pasti bohong, kan?" tanya dosennya, hatinya tiba-tiba merasa sakit saat tahu pria yang berdiri di samping Senja adalah calon suaminya.
"Dia Milikku," sahut Anggi dengan cepat.
"Kak Faris, kamu dengar kan, kalau aku miliknya." Senja menarik tangan Anggi menuju ke mobil dan meninggalkan Faris yang memandang kepergian mereka dengan hati yang hancur.
Aku akan berjuang lagi untukmu, karena aku masih mencintaimu.
πππ
Bersambung ...
Halo readers lover's, aku mau ngucapin Terima kasih buat kalian yang sudah mengikuti cerita aku sampai sejauh ini.
Maaf ya bila aku tidak up setiap hari. Semoga kalian suka dengan ceritanya, like komen dan dukungan kalian adalah penyemangat untukku melanjutkan ceritaku.
Kalian juga bisa kok ngasih ide buat nambah cerita ini semakin berkembang. Ide tantang komedi yang lagi aku butuhkan. Siapa tahu kalian ada yang mau ngasih ide.
__ADS_1
Terima kasih ya ... sampai bertemu di bab berikutnya ...