Kembali

Kembali
KEMBALI : Kakak Kelas Kamu


__ADS_3

Anggi awalnya ragu dengan semua yang ia rasakan. Ia terpengaruh dengan perkataan Erick kalau Senja masih butuh dirinya. Setelah berpikir lama dan mempertimbangkan banyak hal. Akhirnya Anggi tahu, jika dirinya harus kembali pada Senja, meminta maaf dan memperbaiki hubungan mereka yang dengan sengaja ia retakkan.


Anggi mengendarai mobilnya dan ia melaju ke rumah sakit tempat kekasihnya itu dirawat. Anggi tahu mungkin kehadirannya di sana nanti lsudah tidak diterima lagi jika ia ingat dengan apa yang pernah ia lakukan pada calon istrinya dulu. Entahlah, bahkan sekarang ia bingung pada semua keadaan ini.


Saat mobilnya telah terparkir rapi di halaman rumah sakit. Anggi menarik napas panjang, ia dengan langkah yang yakin berjalan masuk ke rumah sakit dan langsung bertanya pada suster penjaga di mana ruang rawat pasien bernama Senja.


Setelah ia tahu, ia langsung menuju ke ruang rawat Senja, saat ia akan membuka pintu, ia mendengar mendengar dengan jelas semua perkataan Senja dan juga Faris.


Ya, Anggi awalnya terkejut dan marah saat ia melihat ada Faris di ruangan itu. Namun, saat ia mendengar semua percakapan Senja dan juga Faris, ia malah ikut menangis karena ia merasa sangat bersalah pada Senja, gadis yang ia cintai.


"Senja sampai berpikiran seperti itu ke gue, Ya Tuhan, gue udah sangat bersalah sama dia." Anggi bergumam pelan di depan pintu ruang rawat kekasihnya itu.


Anggi menarik napasnya panjang dan mengusap air matanya yang membasahi pipi, ia berjalan dengan langkah pelan namun penuh dengan rasa percaya diri ke dalam ruang rawat Senja.


"Hai, apa aku menganggu kalian?" Anggi masuk ke dalam ruang rawat Senja, ia tersenyum dan air matanya sudah ia hapus sampai kering.


Faris yang sedang menenangkan Senja yang menangis di dalam pelukannya langsung menoleh ke sumber suara.


"Anggi, kau datang?" Faris terkejut, ia berusaha melepaskan Senja dari pelukannya karena ia takut nanti Anggi akan salah paham dan ia juga takut jika dirinya malah menambah masalah untuk hubungan Senja dan Anggi.


Namun, Faris merasakan Senja malah mempererat pelukannya, hal itu memenuhi Faris merasa kesusahan untuk membuat Senja tidak lagi memeluk dirinya. Faris tersenyum, senyum yang penuh frustrasi.


"Senja, lepaskan aku!" bisik Faris lirih, ia mengusap lembut kepala Senja yang sekarang malah terlihat sangat manja dengannya.


Senja menggeleng, ia tidak ingin melihat wajah Anggi karena ia malu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa jika dia masih terus memeluk dirimu. Mungkin ia merasa nyaman bersama denganmu, bukan seperti saat bersama denganku." Anggi tersenyum pedih saat Senja tidak mau melihat dirinya.


Namun, Anggi juga paham jika mungkin Senja masih marah dan kecewa karena apa yang pernah dirinya lakukan dulu pada Senja.


"Jangan berpikir seperti itu, Senja membutuhkan dirimu. Ia mencari kamu." Faris tersenyum dan bingung, kenapa dia ditempatkan dalam posisi yang sangat sulit seperti sekarang.


"Aku sudah datang, tapi ia tidak mau melihat diriku." Anggi mendesah sedih, ia sengaja seperti itu agar Senja mau melihat dirinya.


"Tidak, itu tidak benar." Faris terus meyakinkan Anggi jika Senja membutuhkan dirinya.


"Kau tahu, aku ke sini dengan alasan karena kau bilang kalau? ada wanita yang ingin bertemu denganku." Anggi tidak merasa cemburu melihat Senja yang menangis di dalam pelukan Faris, ia tahu jika Senja hanya butuh ketenangan sekarang.


"Kau benar, dan sekarang wanita itu sedang menangis di pelukan diriku." Faris mengusap kepala Senja dengan lembut, ia menyuruh Senja untuk melihat Anggi yang berdiri tepat di sebelah mereka.


"Senja, tunangan kamu sudah datang, tolong jangan abaikan dia, kalau kamu mengabaikannya, aku yakin kalau tunangan kamu itu pasti akan diambil wanita lain." Faris sebetulnya masih sedikit merasa sakit, tapi ia akan lebih sakit jika membuat Senja dan Anggi berpisah.


"Jangan seperti itu, apa kamu tidak takut jika tunangan kamu cemburu?" Faris tersenyum manis, ia tahu jika Senja saat ini hanya tidak siap dengan situasi yang rumit.


"Dia bukan tunanganku." Senja masih malu, isak tangisnya semakin keras. Senja yang periang, berani melawan, dan tidak pernah mau kalah itu sekarang malah menjadi gadis yang cengeng.


Anggi tersenyum perih saat mendengar ucapan Senja, Anggi masih ingat jika dirinya pernah mengatakan akan membatalkan pernikahan mereka.


"Anggi, apa benar kau bukan tunangannya?" Faris pura-pura bertanya, ia akan mencoba membuat drama kecil sekarang.


"Dia masih tunanganku." Anggi tersenyum, ia mengusap kepala Senja yang masih mendekap erat Faris. Anggi semakin tersenyum lebar saat Senja menepis tangannya dengan kasar.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" ucap Senja di tengah-tengah tangisnya.


"Aku menyentuh calon istriku sendiri, kenapa tidak boleh?" Anggi kembali mengusap kepala Senja lembut, dan lagi-lagi tangannya ditepis secara kasar oleh Senja.


Faris yang melihat interaksi dua orang itu hanya bisa tersenyum tipis. Ia merasa menjadi orang asing sekarang.


"Tapi dia bilang dia bukan tunanganmu." Faris merasakan Senja mencubit punggungnya dengan sangat bertenaga sampai dia merasakan sangat sakit. Namun, Faris berusaha untuk tidak menjerit karena tidak mau membuat Senja menangis semakin keras.


"Dia marah padaku." Anggi perlahan menarik tubuh Senja dan berusaha memisahkannya dari Faris.


"Jangan sentuh aku!" Senja membuat Faris merasa sesak napas karena pelukannya yang sangat erat.


"Anggi, aku dengar kau disukai teman kamu yang ada di Indonesia." Senja langsung menetap Faris tajam, ia merasa cemburu saat mendengar jika Anggi disukai wanita lain.


Anggi mendelik tajam ke arah Faris saat mendengar perkataan yang tidak benar itu. Namun, saat ia mendapat isyarat dari Faris dan paham, ia pun tersenyum lalu berkata, "Iya, kau benar, aku memang disukai oleh temanku waktu SMA dulu." Anggi melihat Senja sepertinya terusik dengan perkataan yang baru saja ia katakan.


Senja bahkan sekarang sudah tidak lagi memeluk Faris. Tapi, ia masih tidak mau melihat Anggi. Namun, karena Senja penasaran, Senja langsung bertanya pada Anggi. "Siapa yang suka denganmu?" Senja menunduk, Anggi tersenyum melihat kekasihnya itu sepertinya cemburu dengan dirinya.


"Kakak kelas kamu." Anggi tersenyum penuh kemenangan, ia juga tersenyum pada Faris dan mengucapkan terima kasih tanpa suara.


"Tidak boleh, kau tidak boleh menyukainya!" Senja yang ingat dengan kakak kelasnya waktu SMA dulu langsung menatap tajam Anggi.


"Aku tidak bilang kalau aku menyukainya, kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" Anggi menggoda Senja.


"Tapi tadi, kau bilang kalau wanita itu suka denganmu." Senja tidak mau mengakui kesalahannya.

__ADS_1


***


Bersambung ...


__ADS_2