
π¦π¦TAP JEMPOLπ KALIAN SEBELUM MEMBACAπ¦π¦
Di dalam jet Hendi tidak bisa tenang, pikirannya masih tertuju pada adiknya yang katanya terluka dan dibawa ke rumah sakit. Entah sejak kapan adiknya selalu saja mengalami hal-hal yang dulu jarang sekali terjadi padanya.
Hendi tidak bisa diam, dia berjalan ke sana kemari dengan perasaan yang cemas memikirkan kondisi adiknya sekarang. Dia berjanji akan menjaga adiknya setelah ini dan dia tidak akan peduli dengan larangan orangtuanya yang melarang dia memanjakan adiknya.
"Bunda maafin Hendi karena nggak ngabarin Bunda tentang kondisi adik sekarang, Hendi cuma nggak mau kalau Bunda cemas," gumamnya seolah berbicara dengan Zara.
Kekuatan ikatan batin antar ibu dan anak itu sangat kuat, dan besar kemungkinan kalau naluri seorang ibu tidak pernah salah. Seorang ibu bisa merasakan apa yang dirasakan anaknya begitu juga sebaliknya.
Saat ini Zara sedang menyiapakan bahan makanan untuk dimasak, dia dengan hati-hati dan telaten memotong sayuran. Namun, entah kebetulan atau tidak tangannya terkena pisau dibarengi dengan foto Senja yang jatuh dan pecah piguranya.
"Auw ... Astaghfirullah, ada apa ini? Kenapa perasaanku tenang begini?" Zara mencuci tangannya yang tergores pisau di bawah air mengalir.
Selesai membasuh lukanya, Zara segera menempelkan plester yang dia ambil dari kotak P3K yang terletak di ruang tamu dekat dapur. Setelah selesai Zara membersihkan pecahan kaca pigura foto putrinya dengan sangat hati-hati.
"Ya Allah, semoga putriku baik-baik saja, aku sangat khawatir dengannya sekarang, entah kenapa tiba-tiba perasaanku tidak enak." Zara berdoa semoga putrinya baik-baik saja dan semua keluarganya dijauhkan dari secara marabahaya.
"Ada apa, Bun?" tanya David saat melihat istrinya sedang sibuk membersihkan pecahan kaca di lantai.
"Ayah sudah pulang? Maaf ya, Yah! Bunda nggak menyambut Ayah," kata Mira, dia berdiri dan mencium punggung tangan suaminya dengan sayang.
"Nggak apa-apa kok, Bun. Itu kenapa foto putri ayah bisa jatuh?" tanya David saat matanya melihat foto putrinya yang pecah.
"Bunda juga nggak tahu, Yah. Tadi tiba-tiba foto putri kita jatuh." Zara berbicara dengan perasaan cemas, dan hal itu bisa dibaca dengan jelas oleh David.
"Itu tangan Bunda kenapa terluka?" tanya David lagi yang melihat jari istrinya dibalut dengan plester.
__ADS_1
"Tadi kena pisau, Yah. Tapi ini sudah baik-baik saja, tidak sakit." Zara kembali membersihkan pecahan kaca dan membuangnya ke tempat sampah.
David merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya, dia pun memutuskan untuk berpikir positif saja, tidak mungkin juga kalau istrinya menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi, raut wajah cemas itu sudah terekam jelas di matanya tadi. Haruskan dia bertanya dengan istrinya apa yang membuat istrinya cemas?
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Zara menghampiri suaminya yang berada di kamar, terlihat kalau suaminya itu baru selesai mandi karena David masih melilitkan handuk di pinggangnya.
"Bunda sudah selesai?" tanya David yang melihat istrinya duduk di tepi ranjang sambil menatap dirinya dengan tersenyum manis.
"Sudah, Yah." Zara menjawab dengan muka yang memerah saat melihat tubuh telanjang suaminya. Walaupun sudah berumur, tapi ketampanan dan kegagahan tubuh David masih tetap sama seperti dulu, tidak banyak yang berubah dari dirinya.
"Kenapa wajah Bunda memerah seperti tomat? Apa Bunda terpesona dengan ketampanan ayah?" David dengan sengaja
menggoda sang istri dan berhasil membuat wajah istrinya semakin merah.
"Jangan menggodaku, cepat pakai pakaian Ayah, lalu segeralah turun untuk makan malam bersama!" perintah Zara tapi matanya tidak lepas memandangi tubuh suaminya.
"Ayo kita lakukan itu dulu, setelah selesai baru makan malam!" ajak David tidak serius. Tapi, malah ditanggapi serius oleh Zara.
Padahal aku nggak serius, tapi dia malah mau, hehe kesempatan bagus, boleh lah aku turuti istriku dulu. David membatin sambil tersenyum senang. Tanpa membuang banyak waktu mereka segera melakukan itu. Sekitar tiga puluh menit mereka melakukan itu karena mereka tidak mau berlama-lama.
πππ
Luka di kepala Senja sudah selesai diobati, dan untungnya luka itu tidak terlalu serius. Seorang dokter muda dan tampan keluar dari ruang UGD dan menghampiri Faris untuk memberitahu bagaimana kondisi Senja saat ini.
"Selamat sore, apa benar saya bicara dengan Tuan Faris?" Tanya dokter tersebut dengan tersenyum sangat ramah.
"Iya benar, Dok. Bagaimana kondisi pasien sekarang?" tanya Faris dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Bisa kita bicara di ruangan saya saja, Tuan?" tanya dokter tersebut meminta persetujuan.
"Tentu saja, Dok." Faris menjawab dengan ramah padahal hatinya sedikit kesal karena ingin segera tahu kondisi gadis itu saat ini. Tapi dia tidak boleh egois, dia harus mematuhi peraturan yang ada.
Faris dan dokter muda itu segera masuk ke dalam ruangan sang dokter, di dalam dokter tersebut menjelaskan bagaimana kondisi Senja saat ini. "Luka di kepala pasien tidak terlalu parah, Tuan. Namun, untuk memastikan lebih lanjut, kita harus menunggu sampai pasien sadar." Dokter tersebut berbicara dengan tenang.
"Baiklah, Dok. Boleh saya menemuinya?" izin Faris pada dokter tersebut.
"Silahkan, Tuan. Tolong jika nanti pasien sadar, segera beritahu kami." Dokter tersebut memperbolehkan Faris untuk menemui Senja.
"Terima kasih, Dok. Kalau begitu saya permisi keluar." Faris segera keluar dari ruangan setelah pamit pada dokter.
Senja sudah dipindahkan ke dalam ruang perawatan, Faris masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di kursi yang terletak tepat di samping ranjang pasien. Hatinya merasa sakit saat melihat gadis yang pernah dia cintai dan masih dia cintai sampai sekarang terbaring lemah dengan perban membalut kepala.
Faris menggenggam satu tangan kiri Senja yang bebas dari infus dan mengecupnya sebagai bentuk dukungan agar gadis itu segera sadar. "Senja, bangunlah! Kakak berjanji akan menjauh darimu jika kamu menginginkannya." Faris mengucapkan apa yang mengganjal di hatinya. Walaupun, harus merasa sakit dia akan terima itu semua.
Jujur Faris merasa semua ini terjadi karena kesalahannya, padahal ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Awalnya Faris mengira kalau Anggi adalah orang yang baik dan bisa menjaga gadis yang dia cintai tapi ternyata dia salah, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Anggi mendorong dan pergi begitu saja.
"Anggi nggak akan berbuat seperti itu kalau bukan gara-gara aku, aku harus berusaha membuat hubungan Anggi dan Senja kembali seperti sebelumnya." Keputusan Faris sudah bulat, dia akan meminta maaf pada Anggi dan meminta Anggi tetap meneruskan pernikahan mereka. Dia rela melepas Senja asal gadis itu bahagia.
πππ
Bersambung ...
Maaf ya sayang aku up nggak teratur. Tapi aku harap kalian tidak menghapus novel ini dari daftar favorit, aku bakal berusaha bagi waktu biar novel ini tetap bisa rajin up.
Maaf ya sayang. Babay!
__ADS_1
Baca novel author yang satu juga ya sayang!