Kembali

Kembali
KEMBALI (Reflek)


__ADS_3

"Minta nomor kamu dong," ucap Alarice sambil memberikan HP nya kepada Senja. Senja enggan meberikan nomornya tapi karena Alarice terus saja memaksa akhirnya Senja pun mengetikkan nomor nya di HP Alarice.


"Makasih ya," ucap Alarice sambil menerima HP miliknya. "Kalau gitu aku duluan ya." imbuhnya. Kemudian berdiri dan keluar dari kelas.


***


Sepeninggalan Alarice Senja masih berdiam diri di dalam kelas, dia bingung harus bagaimana menghadapi kakak kelasnya itu.


Di satu sisi Senja tidak ingin membuat ayah dan bundanya tau kejadian ini, dia tau ayah dan bundanya tidak akan marah, tapi dengan kejadian yang membuat orang rugi, kebebasan yang selama ini dia dapatkan pasti akan hilang.


Senja akhirnya memutuskan untuk menemui Anggi lagi besok, dia keluar dari kelasnya untuk pulang.


Karena tadi Hendi bilang tidak bisa menjemput Senja, diapun memutuskan untuk pulang naik bus, saat dia berjalan menuju halte, ada sebuah mobil sport merah melaju dengan lambat sejajar dengan langkahnya.


Senja berhenti dan melirik mobil itu, kaca mobil itu dibuka dan terlihat Anggi di dalamnya.


"He, Lo, masuk mobil gue cepat!" perintah Anggi dari dalam mobilnya.


"Ngapain harus naik mobi kamu, kamu mau nyulik aku?" tanya Senja curiga.


"Udah nggak usah banyak tanya, cepet naik, gue hitung sampai tiga-satu-dua, ti-" belum Anggi menyelesaikan hitungannya Senja sudah berlari dan dengan cepat kilat masuk ke dalam mobil milik Anggi.


"Nah gitu, kalau nurut kan manis," ucap Anggi yang ditanggapi dengan pelototan mata Senja.


"Cih, Kakak kira aku gula apa?" ucap Senja sinis.


"Serah gue lah mau ngomong apa," kata Anggi tak kalah sinis, sambil menginjak gas mobilnya.


Senja tadi tidak menyadari jika di kursi penumpang duduk dua orang anak manusia yang sedang menahan tawanya melihat pertengkarannya dengan Anggi.


Senja baru menyadari saat tawa Erick terlepas begitu saja.


"Bwahahahahahaha, kalian berdua lagi lomba ya?" Erick masih tertawa.


"Sejak kapan kalian ada disini?" tanya Senja kepada mereka.


"Mereka udah dari tadi kali ada di dalam, lo aja yang nggak liat." Malah Anggi yang menjawab.


"Aku nggak tanya sama kamu." Senja menatap tajam Anggi.


"Aduh kalian berdua, berantem terus nanti cinta lho,iya nggak Rick?" kata Hendra kemudian tos dengan Erick.


"Bener banget bro hahahaha ...."


"Diam!" ucap Anggi dan Senja bersamaan, yang semakin membuat Hendra dan Erick semangat menggoda mereka.


"Ciah, kompak lo pada." Erick tidak menghiraukan tatapan maut yang tertuju padanya.


"Nggak takut gue bro, ya nggak Ndra?" kata Erick meminta persetujuan Hendra.


"Sorry bro, kalau masalah ini gue nggak ikut-ikutan ya," ucap Hendra karena dia tidak mau jika nanti disuruh turun di tengah jalan.


"Haha, otak lo ternyata masih berguna, ya." Ucapan itu dilontarkan Anggi kepada Hendra.


"Tau nggak, kalau suara kalian bertiga itu lebih berisik dari emak-emak arisan," ucap Senja sambil menutup kedua telinganya.


"Haha... dia marah, Bro." Hendra tertawa sambil tangannya memukul Erick yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


"Sakit woy," kata Erick sambil mengusap-usap bekas pukulan Hendra.


Setelah lelah dengan perdebatan tidak penting itu, mereka akhirnya terdiam, sehingga kini suasana dalam mobil menjadi hening.


"Kak, kamu mau bawa aku kemana nih, ini bukan jalan kerumah aku?" Senja akhirnya bertanya karena mobil ini melaju berlawanan dengan rumahnya.


Anggi tidak menjawab pertanyaan Senja, dirinya masih fokus melajukan mobil menuju kediamannya.


"Jawab woy...,"ucap Senja karena merasa kesal tidak di respon Anggi.


"Rumah, gue."


"Ngapain ke rumah kamu?"


"Lo dengerin ini baik-baik, mulai hari ini sampai tujuh hari kedepan lo jadi asisten pribadi gue." Anggi berbicara dengan angkuh.


"Idih asisten pribadi, aku nggak mau."Senja tidak terima jika dirinya harus menjadi asisten pribadi Anggi.


"Ok, kalau ini pilihan lo, tapi jangan nangis ya kalau kebebasan yang selama ini lo dapat dari ayah lo sebentar lagi hilang," kata Anggi santai, sedangkan kedua sahabatnya yang duduk di kursi penumpang hanya diam menyimak.


"Kok Kakak ngancam aku lagi sih, nggak punya cara lain apa selain ngancam orang lain?" Senja kesal dengan ancaman Anggi kepadanya.


"Turunin aku disini, aku nggak mau ke rumah kakak!" pinta Senja.


"Nurut bisa nggak sih jadi cewe, mau masuk neraka lo karena jadi istri nggak nurut perintah suami." Anggi berbicara dengan nada tinggi.


"Siapa juga yang mau masuk neraka."


"Yaudah makanya nurut, kalau nggak mau masuk neraka."


"Diam bisa nggak sih."


"Enggak."


Karena sibuk berdebat dengan Senja, Anggi jadi tidak memperhatikan jalan, dan saat dia melihat ke depan Anggi terkejut karena dari arah berlawanan ada truk yang melaju dengan sangat cepat.


Anggi reflek memutar stir kemudi sehingga mobilnya menabrak pohon yang ada di pinggir jalan.


Kedua sahabatnya marah karena Anggi tidak fokus saat nyetir.


"Gila lo Nggi, mau bunuh kita lo?" Erick bicara dengan kesal.


"Sakit nih tangan gue Nggi gara-gara, Lo," ucap Hendra.


Anggi tidak memperdulikan dua orang yang ada dibelakangnya, dia panik melihat Senja yang kini tidak sadarkan diri, dan Anggi semakin panik ketika melihat darah mengalir dari kepala Senja.


Anggi juga terluka akibat benturan tapi tidak separah Senja.


Tak lama orang-orang yang melihat kejadian itu menghampiri mobil Anggi, dan dengan bantuan orang-orang mereka di bawa ke rumah sakit terdekat.


Hendra dan Erick yang mendapat luka ringan sudah diobati oleh dokter, sedangkan Anggi masih di tangani oleh dokter begitu pula dengan Senja.


Setelah selesai ditangani, tidak lama Senja sadarkan diri.


Anggi yang melihat Senja sudah sadar segera menghampiri dan menanyakan kondisinya.


"Apa kepala lo masih sakit?" tanya Anggi khawatir.

__ADS_1


"Sedikit," jawab Senja.


"Tadi gue panik banget saat ngeliat darah keluar dari kepala lo, apalagi lo tadi nggak sadarkan diri," kata Anggi jujur.


"Aku nggak papa kok, tadi mungkin aku nggak sadar karena kaget," ucap Senja menenangkan Anggi.


"Maafin, gue." Anggi kali ini benar-benar tulus meminta maaf.


"Udah lupain aja, Ayo pulang!" ajak Senja.


"Gue bilang ke dokter dulu ya," Anggi pergi keluar ruangan.


Duh, gimana ini kalau ayah dan bunda tau kalau aku kecelakaan, Kak Hendi jiga kalau tau bisa marah besar ini, duh aku nggak berani pulang ke rumah. gumam Senja dalam hati.


Tak lama Anggi kembali menghampiri Senja dan mengatakan kalau merek sudah boleh pulang. Erick dan Hendra tadi sudah pulang duluan.


Akhirnya Anggi dan Senja memutuskan untuk pulang,Senja pulang ke rumah Anggi, mereka pulang dengan naik taksi, karena mobil Anggi sekarang ada di bengkel.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Anggi. Anggi mengajak Senja masuk ke dalam rumah. Saat sampai di dalam Anggi di hadang oleh mamanya.


Ratna mama Anggi, yang melihat putranya membawa seorang gadis, dan mereka kepalanya sama-sama di perban jadi bingung.


"Anggi, siapa gadis ini?" tanya Ratna.


"Ini adik kelas Anggi Ma," Anggi memperkenalkan Senja kepada Ratna dan sebaliknya.


"Siapa nama kamu sayang?" tanya Ratna kepada Senja.


"Senja Tante," jawab Senja.


"Oh jadi nama, Lo, Senja." Anggi menimpali.


"Bukan," jawab Senja sudah kembali ketus.


"Aduh, Anggi kamu ini bagaimana sih, masa bawa pulang cewe ke rumah tapi nggak tau namanya, malah kepala kalian pada di perban gitu lagi, kalian lagi main drama ini ceritanya?" ucap Ratna karena belum tau tentang kecelakaan yang dialami sang putra.


"Hahaha... kalau Senja sih enggak main drama tante, tapi kalau anak tante ini sepertinya memang lagi main drama," kata Senja sambil menatap tajam Anggi.


"Apa lo bilang?"


"Aku bilang, kalau kamu lagi main drama."


"Siapa juga yang lagi main drama, yang ada lo itu yang main drama, pasti lo sekarang bakal manfaatin luka di kepala lo itu buat menindas gue, iya kan?" Anggi mengejek Senja.


"Idih sorry ya, Aku bukan tipe orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan," ucap Senja.


"Aduh-aduh kok kalian malah jadi ribut sih, pusing mama dengarnya tau." Ratna menengahi kedua remaja yang sedang asik berdebat itu.


"Maaf, Tante, Senja nggak maksud buat ribut kalau anak tante itu nggak mulai duluan," ucap Senja.


"Elo tu yang ngajak ribut gue duluan."


"Kamu ... kamu ... kamu, titik nggak pakai koma."


"Udah dong jangan berantem, Ayo Senja ikut tante kita tidak usah menanggapi Anggi." Ratna menarik tangan senja ke ruang keluarga dan menyuruh Senja untuk duduk.


IG. karlinasulaiman7770

__ADS_1


__ADS_2