Kembali

Kembali
KEMBALI (Hari Pertama)


__ADS_3

Kenapa aku mempunyai kakak yang menyebalkan sepertimu, bahkan kamu selalu berhasil membuatku lemah ketika di hadapanmu. Anggi tersenyum.


"Sudahlah sebaiknya aku tidur saja."


Anggi pun segera tidur, tak lama ia sudah benar-benar mengembara ke alam mimpinya.


***


Pagi harinya Senja telah siap untuk berangkat sekolah, Senja terpaksa berangkat bareng dengan Anggi karena di suruh Ratna kemarin.


Dan juga karena di suruh orang tuanya, katanya supaya bisa akrab dengan kakak kelasnya itu.


Mobil milik Anggi sudah terparkir di depan gerbang rumah Senja.


"Tin..." bunyi klakson mobil Anggi.


"Berisik." ucap Senja.


"Bun, Senja berangkat dulu ya Assalamu'alaikum." Senja mencium pipi bundanya.


Senja memperhatikan mobil di hadapannya, dan seketika itu juga kaca mobil depan terbuka. Terlihat Anggi duduk di kursi kemudi.


"Naik!" perintahnya.


Namun Senja tidak segera naik, malah mengajukan pertanyaan.


"Bukannya kata mama lo, lo bakal di antar supir, kenapa malah lo nyetir sendirian?"


"Terserah gue lah, bukan urusan lo... eh sejak kapan lo manggil gue nggak sopan gini?"


"Sejak kemarin." jawab Senja ketus.


"Buruan naik, apa mau gue tinggal?,duduk di deoan karena gue bukan supir lo" bentak Anggi.


"Iya, iya dasar cowok bawel." Senja masuk kemudian duduk di samping Anggi.


"Bilang apa lo barusan?" tanya Anggi.


"Gue bilang ada Gajah terbang di depan, buruan jalanin mobilnya, tadi aja nyuruh gue cepet-cepet sekarang lo masih diem aja, niat mau nyetir nggak?" kata Senja kesal.


"Tcih..." decak Anggi.


Mobilpun melaju membelah jalanan menuju ke SMA Bintang. Dalam perjalanan mereka hanya diam tanpa berbicara. Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki area parkir SMA Bintang.


Senja langsung turun dari mobil Anggi. Saat Senja turun dari mobil dari kejauhan ada sepasang mata yang menatap tajam tidak suka.


"Heh, lo sini dulu." ucap Anggi saat Senja hendak berjalan ke kelas.


"Mau apa sih?, nggak tau apa gara-gara lo nyetirnya lama jadi kita sampai di sekolah siangan."


"Bodo amat, inget ya... lo sekarang adalah asisten pribadi gue, dan ini hari pertama lo jadi asisten gue, sebagai asisten lo harus nurut sama perintah gue dan nggak ada penolakan..." Kata Anggi menunjuk Senja dengan tangannya.


"Iya dasar bawel." jawab Senja.


"Lo tu yang bawel, nanti istirahat pertama lo harus udah ada di kelas gue, kalau sampai lo nggak dateng, waktu lo jadi asisten gue bakal bertambah lama, ngerti lo?" ucap Anggi.


"Hmm..." jawab Senja kemudian meninggalkan Anggi.


***


Senja berjalan setengah berlari menuju ke kelasnya, sesampainya di kelas Senja langsung melepas tas nya dan duduk dengan nafas tengah-engah.


Alarice yang baru sampai langsung duduk di sebelah Senja.


"Kenapa bebz, pagi-pagi udah keringatan aja kamu?" tanya Alarice.


"Nggak papa, gue cuma olahraga tadi." balas Senja.


"Eh kok tadi gue lihat lo turun dari mobilnya Kak Anggi, jangan-jangan lo pacaran ya sama dia?, kok bisa sih lo jadian sama Kak Anggi?" ucap Alarice sembarangan.


"Lo salah liat kali, dan gue tegasin ke lo, kalau gue nggak pacaran sama tu orang." Senja menanggapi Alarice dengan sedikit kesal.


"Nggak mungkin lah gue salah lihat." Alarice yakin kok kalau dia tadi memang melihat Senja turun dari mobil Kak Anggi.


"Nggak usah di bahas lah, nggak penting tau." ucap Senja.


Beberapa menit kemudian belum berbunyi semua murid SMA Bintang mengikuti pelajaran. Di kelas Senja kini pelajaran Biologi, guru sedang menjelaskan materi.


Waktu berjalan dengan cepat, dan setelah empat jam berlangsung, istirahat pertama pun tiba.


Senja langsung keluar kelas setelah guru keluar.


"Mau kemana sih tu anak, buru-buri banget." Alarice berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Gue ikutin apa nggak ya?, ah tapi nanti kalau gue ikutin dia bisa-bisa dia ngamuk lagi, secara dia dari awal cuek ma gue, tapi gue penasaran, tapi... ah gue mending nggak usah ngepoin dia."


Senja kini sudah berada di depan kelasnya Anggi. Satu persatu murid kelas sebelas A keluar kelas.


Anggi masih duduk di dalam, dia asik mengobrol dengan Erick dan Hendra.


Senja tidak berniat untuk masuk, tapi salah satu siswa kelas itu menghampiri Senja dan mengatakan kalau Senja di suruh masuk.


"Gue udah disini, sekarang lo mau apa?" ucap Senja saat sudah berada di dalam kelas.


"Eh lo ngapelin Anggi ya?, cie cie Anggi diam-diam lo ehem ehem..." ucap Hendra ketika melihat Senja menghampiri Anggi.


Anggi tidak menghiraukan ucapan sahabatnya itu, ia langsung bangun dari duduknya kemudian menarik tangan Senja mengajaknya keluar kelas.


Senja spontan berusaha melepaskan genggaman tangan mereka tapi Anggi melarangnya.


"Berani lo ngelepas tangan lo, hukuman lo gue tambah satu hari." bentak Anggi, sambil terus menarik Senja ke kantin.


"Iya... iya, tapi lo bisa nggak pelan dikit jalannya, kepala gue sakit nih." pinta Senja.


Anggi tidak menjawabnya tapi langsung memerankan langkahnya.


Sesampainya di kantin Anggi melepas tangan Senja dari genggamannya kemudian menyuruh Senja memesan satu porsi Bakso.


Dengan terpaksa Senja menuruti perintah Anggi, dia mengantri dan beberapa saat kemudian dia kembali ke meja Anggi dengan Bakso di nampan yang di bawanya.


"Nih." Senja meletakkan Bakso milik Anggi di meja.


"Suapin." perintah Anggi.


"Emang lo bayi harus gue suapin, tangan lo buat apa hmm?" teriak Senja sehingga membuat siswa yang ada di kantin melihat ke arahnya.


Senja yang merasa di perhatikan sedikit malu, tapi dengan cepat dia mengalihkan rasa malunya dengan membentak semua siswa di sana.


"Apa liat-liat?" Bentak Senja. Siswa yang tadi melihatnya pun langsung mengalihkan pandangan dari Senja seolah-olah tidak terjadi apa-apa barusan.


"Hukuman bertambah satu hari." ucap Anggi santai.


"Ah... iya... iya gue suapin, tapi batalin tambahan hukuman lo." Senja akhirnya menyuapi Anggi dengan kesal.


Anggi yang merasa menang tersenyum puas.


"Panas bodoh, tiup dulu biar agak dingin"ucap Anggi saat Senja menyuapi dirinya.


"Nggak boleh di tiup bodoh." balas Senja.


"Ikut gue." Anggi menarik tangan Senja sebelumnya Anggi membayar Baksonya dulu.


"Makan lo gimana?" tanya Senja.


"Udah nggak nafsu." ucap Anggi.


"Sayang stop... kamu mau ke mana sama cewe norak ini?" ucap salah seorang gadis di antara empat gadis yang menghampiri mereka.


"Siapa yang lo panggil sayang?" bentak Anggi pada gadis itu.


"Ya kamulah sayang siapa lagi, sayang nya aku kan cuma kamu." ucap gadis itu kemudian bergelayut manja di lengan Anggi yang satunya.


"Sayang kenapa kepala kamu di perban gitu, apa itu sakit, pasti gara-gara cewek ini kan?, kalau dia sih biarin aja kepalanya diperban gitu, aku nggak perduli, tapi kalau kamu... aku sedih banget yang." Putri masih bergelayut di lengan Anggi.


"Lepasin tangan gue Put, dasar cewe mu*****" ucap Anggi melepaskan lengannya dari Putri.


"Kok kamu kasar sih sayang, tangan aku sakit tau. Kamu juga ngapain sih gandengan tangan sama nih cewe." Putri menunjuk wajah Senja.


"Bukan dia yang norak, tapi lo. Kyla, Dinda, Rani, urus tu temen lo... kalau sampai si Putri gangguin gue lagi, kalian lihat aja apa yang bakal gue lakuin." Anggi berteriak kepada ke empat siswi di hadapannya.


"Sayang kok lo belain dia sih, dasar cewe kampungan, cewe norak, cewe miskin." Putri memaki maki Senja.


Sedangkan Senja mengorek telinganya yang tertutup hijab dengan gaya sarkastik.


"Udah deh Put jangan gangguin Anggi." ucap Kyla, Dinda, dan Rani bersamaan.


"Kalian bela dia?" teriak Putri kepada ketiga temannya.


Anggi kembali menarik tangan Senja untuk mengikutinya, Anggi izin kepada guru untuk pulang dengan alasan sakit.


"Gue nggak mau pulang, sana pulang sendiri kalau lo mau. Gue di sini mau belajar bukan mau main-main." Senja menolak ajakan Anggi ketika mereka sudah mendapat surat izin.


"Hukuman lo gue tambah satu minggu kalau lo nggak mau ikut gue pulang." Ancam Anggi.


"Gue nggak perduli, lo mau nambah seratus tahun pun gue nggak perduli, karena belajar lebih penting daripada lo." Senja tetap kekeh dengan penolakannya.


"Ok, gue bakal buat lo jadi asisten gue sampai gue puas." Kali ini Anggi benar-benar serius dengan ucapannya.

__ADS_1


"Gue bakal jadi asisten lo sampai lo bosan, asal lo mau ngabulin satu permintaan gue, gimana?" ucap Senja.


"Apa." tanya Anggi.


"Lo harus belajar yang bener, nggak ada kata pulang sebelum waktunya." jawab Senja.


"Ok deal." Anggi menyetujui permintaan Senja.


"Harusnya lo tu besyukur bisa sekolah, banyak anak lain di luar sana yang nggak bisa sekolah, lo jangan nyia-nyia in waktu lo buat main-main, lo lihat orang tua lo. Mereka kerja nyari uang buat siapa?, buat lo kan?" kata Senja.


Anggi tidak menghiraukan ucapan Senja. Dan ketika saat itu juga belum masuk berbunyi.


"Udah bel ... lo kembali ke kelas sana, istirahat kedua nggak usah ke kelas gue, lo boleh ngelakuin aktifitas lo kaya biasa. Tapi inget nanti lo pulang harus sama gue."Perintah Anggi.


"Lo serius?" tanya Senja.


"Gue masih punya banyak waktu buat nyiksa lo." balas Anggi ketus.


"Tcih..." decak Senja kemudian meninggalkan Anggi.


***


Waktu pembelajaran telah usai, semua siswa keluar dari kelasnya masing-masing. Sesuai perintah Anggi kini Senja sudah menunggunya di parkiran.


Dari kejauhan Senja melihat tiga orang pemuda berjalan ke arahnya, siapa lagi kalau bukan Anggi, Hendra, dan Erick.


"Haha lo nurut juga rupanya." Ucap Anggi ketika melihat Senja.


"Buruan naik, Hendra, Erick lo pulang ke rumah gue ok!"


Hendra dan Erick mengiyakan. Kemudian mereka menyapa Senja, dan dibalas senyuman olehnya.


Kini mobil telah melaju ke rumah Anggi. Senja yang malas hanya diam akhirnya memutuskan untuk bicara.


"Gimana keadaan kalian Kak?" tanya Senja kepada kedua pemuda yang duduk di belakang.


"Baik kok, kan cuma luka kecil. Ini sebentar lagi juga sembuh." jawab mereka.


"Sorry ya Kak, kalau kemarin gue nggak berantem sama teman kalian ini, pasti kalian nggak akan begini."kata Senja tulus.


"Dia bisa bicara ramah sama teman-teman gue, dia juga manggil mereka kakak, tapi kalau sama gue, kenapa dia jadi macan ngamuk, bahkan dia minta maaf sama mereka, tcih apa-apaan dia ini."gerutu Anggi dalam hati.


"Lo santai aja kali, ini bukan salah lo kok, tapi salah ini anak." Hendra berucap sambil menunjuk Anggi yang duduk tepat di depannya.


"Berani ya lo nyalahin gue?" protes Anggi.


"Nggak usah di dengerin Kak, ni Singa emang agresif, kalian hati-hati nanti dia ngamuk."ucap Senja yang membuat Erick dan Hendra tertawa, karena dia berani mengejek Anggi.


"Diam!" Teriak Anggi.


"Tu kan Kak, yang aku bilang benar. Sekarang Singanya udah ngamuk." Ucap Senja cekikikan.


"Hahaha... berani banget lo ngatain Anggi." ucap Erick dan Hendra masih tertawa.


"Senjaaaa..." Bentak Anggi.


"Hmmm?"


"Lo mau gue makan ha?"


"Gue bukan makanan, emang lo Sumanto ya yang makan daging orang?" Senja bergidik ngeri.


"Lo tadi bilang kalau gue Singa kan, dan lo udah bikin Singa ini ngamuk, karena ngamuk gue jadi laper, dan karena lo bilang gue Singa, berarti lo harus jadi kelincinya biar gue jadiin lo makan malam gue."


"Uhuuuuh takutnya." Senja pura-pura takut.


"Haha... lo ngaku ya kalau lo Singa." Ucap Hendra.


Anggi langsung meminggirkan mobilnya kemudian berhenti. Hendra dan Erick sudah tau maksud Anggi. Sedangkan Senja masih bingung.


"Kalian semua turun dari mobil gue, se-ka-rang juga!" Perintah Anggi.


"Jangan lupa bro, lo tadi yang ngajak kita lho, kalau lo nurunin kita di sini kan nggak laki banget lo bro." ucap Erick.


Senja yang malas mendengarkan mereka, sehingga Senja memilih untuk tidur saja.


"Makannya diam kalau nggak mau gue turunin." ucap Anggi kemudian kembali melajukan mobilnya.


Mobil kini telah memasuki halaman rumah Anggi. Ketiga pria itu sudah keluar dari mobil, Sedangkan Senja masih tidur.


Anggi sengaja tidak membangunkannya, bukan karena kasian tapi karena dia nggak mau kena semprot Senja.


Karena Anggi sudah mencoret-coret wajah Senja dengan spidol. Dan itu ide dari Erick dan Hendra.

__ADS_1


Mereka masuk ke rumah dan meninggalkan Senja yang masih di dalam mobil.


Anggi sengaja meninggalkan kunci di mobilnya.


__ADS_2