Kembali

Kembali
KEMBALI ( Awan Menangis )


__ADS_3

🦋🦋TAP JEMPOL👍 KALIAN SEBELUM MEMBACA🦋🦋


"De, kakak mohon! Kamu bangun sekarang, kakak nggak mau lihat kamu kaya gini, kakak mau kamu sembuh dan ceria lagi. Ayo bangun, De." Hendi mengucapkan itu dengan suara lirih, tapi terdengar sangat menyemangati Senja.


Anggi hanya bisa diam, air matanya sudah membendung, tapi dia berusaha membuat air matanya tidak menetes, karena dia tidak mau gadis itu melihat dirinya lemah.


Saat semuanya masih kalut dalam kesedihan, Dokter Zain, yang di undang Hendi datang, Hendi langsung meminta Dokter Zain untuk memeriksa adiknya.


"Assalamu'alaikum," salam Dokter Zain saat masuk kamar Senja.


"Walaikumsalam," jawab semua orang yang ada di sana.


"Dokter, segara periksa adik saya!" pinta Hendi.


"Baik, saya mohon agar kalian tidak mengerubunginya seperti ini, karena itu akan membuat pasien jadi tidak bebas bernapas," ucap Dokter Zain.


"Baik, Dok." Satu persatu dari mereka mulai menjauh dari Senja.


Dokter Zain mulai memeriksa kondisi Senja, mulai dari detak jantung, mata dan lain-lain. Tidak butuh waktu lama pemeriksaan selesai, Dokter Zain menyudahinya.


"Dokter, bagaimana kondisinya?" tanya Hendi saat Dokter Zain selesai memeriksa adiknya.


"Pasien baik-baik saja, hanya sedikit kelelahan. Saya minta kalian jangan membuat pasien banyak pikiran, karena pasien masih dalam masa pemilihan paska operasi di kepalanya," ucap Dokter Zain menjelaskan.


Semua orang yang ada di sana merasa lega saat mendengar penjelasan dari Dokter Zain. Tak urung semuanya mengucapkan syukur kepada Allah.

__ADS_1


"Dokter, tapi kenpa sekarang dia belum sadar juga dari pingsannya?" tanya Anggi.


"Tidak apa-apa, sebentar lagi pasien akan sadar, tolong sampaikan pada pasien jangan terlalu banyak melakukan aktivitas dulu," kata Dokter Zain.


"Baik, Dok," jawab Davidson.


"Kalau begitu, ini resep obatnya, nanti kalian bisa beli di apotek, karena kebetulan obat yang saya bawa tidak lengkap." Dokter Zain memberikan catatan resep itu kepada Hendi. Hendi menerimanya dan menyimpan di saku kemeja yang dia pakai.


"Terima kasih, Dok," ucap Davidson.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi ,ya," pamit Dokter Zain kepada mereka semua.


"Saya antar sampai depan," ucap Hendi.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua kompak.


"Mari Dokter!" ajak Hendi.


Hendi dan Dokter Zain berjalan keluar kamar Senja, Hendra dan Erick pamit pulang, sedangkan Anggi masih ingin di sana.


"Om, Tante, kita berdua pulang dulu ya, biar Anggi yang di sini, karena kita berdua masih ada urusan lain," pamit Hendra kepada orangtua Senja.


"Iya, Nak. Terima kasih ya, kalian hati-hati pulangnya," ucap Zara.


"Iya Tante, Assalamu'alaikum," jawab mereka sekalian mengucapkan salam.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab orangtua Senja.


Erick dan Hendra segara keluar dari kamar Senja, karena mereka masih banyak urusan yang belum di selesaikan. Saat mereka sampai di ruang depan, mereka berpapasan dengan Hendi.


"Kalian mau ke mana?" tanya Hendi.


"Mau pulang, Kak. Duluan ya," jawab Hendra.


"Iya, hati-hati," balas Hendi.


"Iya, Kak." Mereka segera keluar dari rumah Senja, dan pulang ke rumah Anggi dengan mengendari mobil Anggi.


Di kamar Senja, Anggi mengenggam tangan gadis yang masih belum sadar itu, Zara dan Davidson yang melihat itu jadi curiga dengan hubungan Anggi dan putri mereka.


Senja, apa kamu tau? Kalau awan menangis melihat kamu seperti ini, kamu tidak bisa menghiasi indahnya sore karena kamu sakit, lekas sembuh ya sayang.


"Nak Anggi, sepertinya kamu sangat khawatir kepada putri tante, apa kalian pacaran?" tanya Zara to the point.


Anggi yang ditanya secara tiba-tiba merasa malu, karena yang bertanya adalah orangtua Senja langsung.


"Sa-saya-" jawab Anggi gugup.


"Saya apa?" tanya Davidson.


Sa-saya minta like komen dan rate bintang lima dari kalian...

__ADS_1


__ADS_2