
π¦π¦TAP JEMPOLπ KALIAN SEBELUM MEMBACAπ¦π¦
Senja POV.
Jujur hati ini sangat nyaman saat aku bersamamu. Tapi, hati ini masih bertaut pada hati yang lain selain milikmu. Di mana hatiku akan bermuara akhirnya, aku tidak tahu dan belum tahu. Aku tidak ingin menyakiti kalian.
Kulihat pintu kamarku yang sedikit terbuka, dan aku bisa melihat kalau keluargaku ada di sana, mereka menguping pembicaraanku dengan Kak Anggi, kenapa mereka bertingkah seperti detektif.
Aku hanya bisa tersenyum saat melihat tingkah keluargaku, hingga tidak aku sadari, kalau senyumku telah menghipnotis pria yang mencintaiku itu. Kak Anggi terlihat menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan.
Saat aku menyadari kalau dia menatapku, aku langsung membalas tatapannya, aku tatap lekat matanya. Aku bisa melihat ada cinta yang begitu besar dari matanya, tapi di San kita terlihat sebuah luka. Apa aku melukainya, tapi aku tidak merasa kalau aku melukainya.
Saat tatapan kami beradu, aku mendengar langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahku. Aku alihkan pandanganku pada suara itu. Ternyata mereka, Ayah, Bunda, dan Kak Hendi yang masuk.
"Kenapa kalian tidak melanjutkan aksi kalian yang menguping dari balik pintu kamarku?" tanyaku pada mereka yang sebenarnya adalah sindiran.
Bunda terlihat kikuk saat aku tahu kalau dia menguping, Bunda sekarang tersenyum paksa sambil tangannya sibuk menyikut pinggang Ayah, Bunda terlihat meminta bantuan Ayah untuk menjelaskan kalau mereka tidak menguping.
Sedangkan, Ayah. Dia hanya menatap Bunda dengan tatapan memelas, aku tahu Ayah tidak mau mengaku kalau Ayah menguping pembicaraanku dengan Kak Anggi.
Bunda terus saja berbisik-bisik pada Ayah untuk mengelak dari sindiranku. Mereka terlihat seperti anak muda yang baru saja merasakan jatuh cinta, sungguh romantis seakan dunia hanya milik mereka berdua dan orang lain hanya mengontrak.
Aku tersenyum saat melihat Kak Hendi menepuk dahinya sendiri, saat dia melihat tingkah orangtua kami berdebat seperti sekarang.
Tapi, laki-laki di sampingku itu seperti tidak mempedulikan keributan yang tercipta secara mendadak di kamarku. Dia malah terlihat masih menatapku dengan tatapan takut, aku tidak tahu kenapa dia menatapku seperti itu.
Ku tarik hidung mancungnya, sehingga dia mengaduh minta dilepaskan. "Sayang, lepaskan tanganmu dari hidungku," pintanya, dengan suara yang tidak jelas, karena tidak bisa bernapas. Kalian pasti bisa membayangkan suara seperti apa yang akan keluar dari mulut seseorang yang ditutup hidungnya.
Ayah dan Bunda tertawa saat melihat Kak Anggi yang mengaduh, kulirik orangtuaku yang menertawakan Kak Anggi, saat mereka tahu kalau aku melirik mereka. Mereka langsung diam seperti patung di museum.
πππ
Author POV.
Zara menyuruh Senja dan yang lain untuk turun ke ruang makan. Senja dituntun oleh Anggi saat mereka turun, karena gadis itu menolak saat Anggi mau menggendongnya.
"De, kalau kamu sudah menikah nanti, jangan lupain kakak, ya. Kakak sayang sama kamu," ucap Hendi yang berjalan di samping Anggi dan Senja.
"Aku tidak akan melupakanmu, Kak. Bagaimana mungkin aku melupakan kakak kandungku sendiri," balas Senja, sambil tersenyum pada Hendi.
"Sayang, kalau kamu menikah denganku nanti, akau tidak mau kamu memikirkan pria lain selain aku," sahut Anggi tiba-tiba.
__ADS_1
"Kau sangat serakah, Kak," balas Senja tertawa.
Mereka sudah sampai di ruang makan sekarang. Ternyata di meja sudah tersedia makanan kesukaan Senja.
"Bunda yang masak?" tanya Senja, saat melihat Nasi Goreng Seafood di meja makan.
"Iya sayang, kamu pasti kangen sama masakan, bunda, kan?" jawab Zara tersenyum.
Senja mengangguk, kemudian dia memilih untuk duduk di samping Zara. Karena dia akan bersikap manja kepada Zara sekarang. Biarkan orang lain menganggapnya seperti anak kecil, dia tidak tidak peduli, karena yang dia pedulikan adalah rasa senang di hatinya sendiri.
"Bunda, aku mau makan disuapin sama, Bunda," punya Senja, sambil memeluk Zara dan menghujani wajah Zara dengan banyak kecupan.
"Aku rindu mama," gumam Anggi yang tidak terdengar orang lain.
"De, kamu sudah mau menikah dan sikap kamu masih seperti anak kecil seperti ini, apa kamu tidak malu," komentar Hendi pada sikap manja adiknya.
"Aku manja dengan bundaku sendiri, jadi aku tidak salah dong," balas Senja mengejek Hendi.
"Menyebalkan," timpal Hendi menatap kesal pada adiknya.
"Terima kasih," balas Senja tersenyum manis, semanis gula dan jadi bikin Diabetes untuk Hendi.
"Senyuman adikmu bukan seperti gula, tapi seperti madu. Manis dan menyehatkan," sahut David.
Senja tersenyum dan mengacungkan dua jempolnya pada sang ayah. "Ayah kalau ngomong suka betul," puji Senja pada David.
"Kamu cantik kalau lagi muji ayah seperti ini, siapa dulu dong ayahnya," David membanggakan dirinya sendiri.
"Anggi hati-hati, Senja punya dua hati yang harus di jaga," ucap Hendi, dan Anggi langsung paham maksud perkataan Hendi.
"Aku akan mengubah dua hati itu jadi satu, Kak. Doakan saja agar aku bisa merebut hati adikmu," balas Anggi, dengan melirik ke arah Senja yang tersenyum padanya.
"Jadi, Nak Anggi. Kapan kamu mau menikahi putri, om?" tanya David.
"Aku ingin secepatnya, Om. Tapi dia menolaknya," adu Anggi pada David.
"Senja hanya ingin fokus sekolah dulu, Ayah," sahut Senja membela diri.
"Terserah kamu saja, tapi lebih cepat akan lebih baik." Zara menimpali.
"Kenapa tidak Kak Hendi dulu saja yang menikah," ucap Senja, yang ditanggapi dengan santai oleh Hendi.
__ADS_1
"Kakak belum ada calon, De. Kalau kamu kan udah," ucapnya pada Senja.
"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi! Kapan kita akan mulai makan kalau kalian bicara terus," ucap Senja menyadarkan mereka kalau sekarang mereka sedang di ruang makan.
Zara mengusap kepala Senja dan mencium keningnya. Dia mengambil piring kemudian mengisinya dengan Nasi Goreng Seafood.
Zara mengabulkan apa yang diminta putrinya tadi. Dia menyuapi Senja dengan penuh kasih sayang, karena dia memang sangat menyayanginya.
"Kalau kamu menikah dengan Anggi nanti, layani suamimu dengan baik, turuti semua permintaanya, asal itu masih di jalan yang benar," nasihat Zara di sela-sela makan mereka.
David melirik ke arah istrinya yang malah bicara saat mereka sedang makan dengan lirikan yang siap menerkam.
"Maaf, Yah. Tapi bunda kan lagi tidak makan, jadi bunda menasihati putri bunda," ucap Zara yang tahu kalau David tidak suka dengan apa yang dia lakukan baru saja.
"Bun, kalau dia harus menuruti permintaan suaminya terus, pasti dia akan kelelahan dan hanya bisa berdiam diri di kamar," ucap David, yang tadinya kesal sekarang malah ikut bicara.
"Maksudnya, Yah?" tanya Senja yang tidak paham.
Bodohi saja putrimu yang masih polos itu, dasar orangtua. Hendi mengumpat orangtuanya dalam hati.
David tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan melanjutkan makannya, dan hal itu membuat Senja jadi semakin penasaran dengan maksud sang ayah.
"Bun, apa maksud ayah?" tanya Senja pada Zara.
Sama dengan David, Zara hanya tersenyum tidak menjawab, dan dia malah menyuapkan sesendok nasi padanya. Senja kesal tapi tetap mengunyah makanan yang sudah berada di mulutnya.
πππ
Faris sedang mengajar di salah satu universitas terbaik dunia, dia tidak tahu kalau universitas adalah tempat di mana Senja kuliah.
Hari ini Senja masuk kuliah, dia tadi pagi dijemput oleh Alarice dan Arka. Dia tidak tahu kalau hari ini akan menjadi hari pertemuannya dengan Faris.
πππ
Bersambung ...
Like , komen, dan rate jangan lupa ...
Vote juga boleh banget lho ...
Sampai jumpa di episode selanjutnya
__ADS_1