
"Kenapa aku harus menemuinya, ini salahnya sendiri karena dia telah membuatku kecewa." Anggi tampaknya masih tidak mau bertemu dengan calon istrinya, ralat mantan calon istri.
"Karena dia membutuhkan kamu sekarang." Faris tidak habis pikir dengan sikap Anggi yang tidak dewasa menurutnya.
Dia menatap Anggi dengan intens, kenapa juga Senja harus mencintai Anggi jika Faris lebih baik darinya.
"Dia tidak membutuhkan aku." Anggi berkata dengan sinis, tidak mau percaya begitu saja dengan perkataan Faris.
"Turunkan sedikit egomu, Nggi. Aku tidak bisa lihat dia menderita." Air mata Faris kembali mengalir deras di pipinya.
"Kenapa kau menangis bodoh?" Anggi yang awalnya emosi akhirnya memilih untuk menahannya.
"Aku hanya tidak ingin melihat dia menderita karenamu." Faris bersikap tenang walau hatinya bergemuruh sakit saat mengatakan hal itu.
"Kenapa kau sampai menemuiku hanya karena dia?" Anggi melontarkan pertanyaan yang pastinya jawaban dari Faris akan membuat salah satu di antara mereka terluka.
"Sudah aku katakan kalau ingin dia bahagia." Faris menahan rasa sakit di dadanya.
"Kenapa tidak kamu saja yang membuat dia bahagia?" Anggi malah memutar balikkan keadaan, membuat Faris merasa sangat kesal berhadapan dengan laki-laki yang usianya lebih muda dari dirinya.
Faris hanya diam tidak menjawab, andai saja dia bisa, dia pasti sudah melakukannya dari dulu. Tapi apa yang akan dia perbuat jika dialah penyebab gadisnya itu terluka.
Kalau saja dulu surat yang ditinggalkan Faris untuk Senja tidak hilang, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi.
"Kenapa kamu malah diam? Jawab!" Anggi berteriak karena tidak suka diabaikan. Sikap temperamental membuat dia mudah emosi atau memang sengaja emosi.
"Yang dia butuhkan kamu bukan aku." Faris juga berteriak karena lelah jika harus berbasa-basi dengan Anggi.
"Kalau dia butuh aku, dia tidak mungkin menerima laki-laki lain sebagai tamunya." Terlihat jelas kalau Anggi masih cemburu dengan Faris.
__ADS_1
"Aku yang memaksa dia untuk menerimaku sebagai tamunya. Jangan salahkan dia, jangan benci dia, kalau kalau mau membenci seseorang, benci saja aku!" Faris rela dibenci asal dia bisa mengembalikan kebahagiaan gadis yang dia cintai.
Anggi yang mendengar permintaan Faris menjadi semakin murka. Anggi tahu kalau Faris masih mempunyai perasaan cinta untuk Senja, dan itu terlihat jelas dari tingkah dan ucapannya.
Jujur saja, Anggi tidak ingin Senja dimiliki oleh orang lain, tapi tanpa Anggi sadari cintanya untuk Senja malah selalu membuat gadis itu tersakiti dan terluka fisiknya.
Karena sifat Anggi yang egois dan ingin selalu dimengerti itu yang membuat dirinya kehilangan jati dirinya. Dulu dia tidak pernah berniat untuk menyakiti gadis yang dia cintai namun yang terjadi sekarang malah sebaliknya, dia sering melukai gadis yang dia cintai.
"Andai saja Senja tidak ada hubungannya dengan Anggi, pasti aku yang bakal membuat dia bahagia," ucap Hendra yang masih berada di tempat persembunyiannya.
"Hei, Bro. Apa yang kamu katakan barusan?" tanya Erick yang mendengar dengan jelas pernyataan Hendra.
"Aku kenal sama Senja lumayan dekat juga, Rick. Aku hampir tahu semua tentang dia karena dia sering cerita tentang masalah dia ke aku." Hendra menoleh ke arah Erick dan menatap Erick datar lalu matanya kembali memerhatikan Anggi dan juga Faris.
"Jangan bilang kalau kamu juga punya perasan sama dia?" Erick sekarang malah menginterogasi Hendra.
"Munafik kalau aku bilang nggak suka sama dia." Hendra menjawab dengan jujur, karena dia juga punya perasaan lain kepada Senja. Tapi Hendra bukanlah laki-laki egois yang mementingkan perasannya sendiri dibanding perasaan orang lain.
"Lo nggak lihat kalau dia nggak pernah peduli sama Senja?" Hendra malah semakin membuat Erick bingung.
"Maksud Lo apa?" tanya Erick menatap Hendra dalam.
"Lo nggak perlu tahu." Hendra tidak mau menjawab, biarkanlah nanti Erick tahu sendiri.
"Pelit banget sih, Lo." Erick masih terus bicara sampai membuat Hendra kesal.
"Diam! Kita ini lagi ngintip mereka jangan malah berisik sendiri!" ucap Hendra dengan kesal.
Ok, kembali ke cerita Anggi dan Faris.
__ADS_1
"Dia nggak butuh aku, kalau dia butuh, dia nggak akan membuat aku marah. Dan aku tidak akan membenci seseorang yang tidak ada hubungannya denganku. " Anggi tampak semakin emosi.
"Kamu salah, dia cinta sama kamu dengan tulus. Dalam keadaan tidak sadarnya pun dia masih terus memanggil nama kamu." Faris masih terus saja membuat Anggi percaya kalau Senja tidak bersalah di sini.
"Aku tidak peduli. Dia memanggil namaku mungkin karena aku yang terbiasa dekat dengannya." Anggi berteriak dengan keras, membuat Hendra dan Erick terkejut dan langsung mengeluarkan suara.
"Astaghfirullah," teriak Erick dan Hendra saat terkejut.
Mendengar suara kedua sahabatnya membuat Anggi mengarahkan pandangan matanya pada kedua sahabatnya yang sudah keluar dari persembunyian mereka.
"Kalian kenapa ada di situ?" tanya Anggi dengan ketus dan menatap tajam pada mereka. Yang ditatap hanya bisa tersenyum takut pada Anggi.
"Kita cuma mau mencari cicak," jawab Erick sekenanya. Membuat Hendra yang berada di sampingnya semakin merasa kesal dengan Erick yang menurutnya bodoh.
"Kalian pasti bohong. Jangan bilang kalau kalian menguping!?" Anggi menatap horor kedua sahabatnya itu.
"Kita nggak bohong, kok. Iya nggak, Ndra?" Erick meminta persetujuan pada Hendra, namun Hendra hanya diam tidak membelanya.
"Maaf menyela, Anggi aku sudah bilang semuanya, dan aku permisi." Faris segera keluar dari rumah Anggi karena dia merasa akan sia-sia bicara dengan Anggi sekarang.
"Faris tunggu!" Hendra mengejar Faris yang sudah sampai di halaman depan rumah Anggi. Hendra tidak sebodoh Anggi, dan dia juga sudah semua cerita tentang Faris dari Senja. Hendra hanya merasa tidak enak karena Anggi tidak mau mendengarkan penjelasan dari Faris.
Faris yang merasa dirinya dipanggil langsung berhenti dan berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dahi Faris berkerut saat dia melihat ternyata salah satu sabahat Anggi yang memanggil dirinya.
"Dari mana kamu tahu nama, saya?" tanya Faris saat Hendra berdiri di depannya.
"Kamu tidak perlu tahu, yang paling penting sekarang adalah gadis yang kamu cintai. Jika Anggi sudah tidak bisa lagi diajak untuk menemui dan mendengarkan alasan gadis yang kamu cintai, perjuangkan saja perasaanmu yang telah lama ada sebelum Anggi." Hendra terlihat sangat serius saat mengatakan itu, dia memang terlihat jahat karena mengusulkan hal yang bodoh.
"Saya tidak akan memaksakan perasaan saya kepada gadis yang saya cintai. Bukan membuat dia bahagia yang ada malah hanya akan membuat dia semakin terluka." Faris tidak akan pernah mau melukai hati gadis yang dia cintai untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
***
Andai di suruh milih, kalian lebih milih siapa? Anggi atau Faris?