
"Sudahlah, Kak! Jangan terlalu ikut campur masalahku dengan orang lain, karena kamu tidak berhak mencampuri masalah pribadi diriku." Senja menatap wajah sendu pria yang duduk dengan kepala menunduk di kursi sebelah kiri tempat Senja berbaring.
Pria itu sejak masuk ke ruangan Senja terus diam tidak mau berbicara walau hanya satu patah kata. Jangan heran Senja bisa tahu dari mana sampai Senja bisa berkata demikian pada pria itu, karena Senja tahu semua dari mulut kakaknya sendiri.
"Jangan terus memikirkan masalah orang lain jika masalahmu saja banyak." Senja tersenyum tulus, dia mengusap punggung tangan pria itu dengan lembut, membuat pria di sampingnya itu langsung menatap dirinya dengan tatapan dengan banyak arti di dalamnya.
"Apa kamu masih membenci diriku karena aku meninggalkanmu dulu?" tanya pria itu dengan wajah sendu, tatapan sendu, gerakan tubuh pelan tidak bersemangat, dan Senja sangat tidak menyukai semua itu.
"Aku tidak pernah membenci dirimu." Senja menghentikan usapan tangan pada pria itu, sekarang diraihnya tangan itu dan digenggamnya dengan erat.
"Aku selalu merindukan, Kakak. Berharap suatu hari nanti Kakak akan kembali menjelaskan semua sebab Kakak pergi meninggalkan diriku dulu. Namun, sekarang setelah Kakak kembali, aku sudah tidak butuh penjelasan itu karena aku tahu itu bukan disengaja." Senja meneteskan air matanya, ia menatap dalam mata pria yang selalu dia rindukan setiap detik dan menit yang dia lalui dalam hidupnya.
Cinta Senja mungkin sudah berpindah pada orang lain, orang baru yang merebut hatinya dengan cara baik-baik. Namun, sebuah perasaan dekat di masa lalu tidak akan mungkin dia lupakan hanya karena kehadiran orang baru dalam dirinya.
Hal itu tidak buruk, karena akan sangat egois jika kita selalu mementingkan orang baru dan melupakan orang lama. Tidak akan ada masa lalu jika kita tidak pernah melaluinya untuk kita ingat di masa yang akan datang bukan?
"Beberapa hari lagi, aku akan mengundurkan diri dari Universitas tempat kamu kuliah. Aku juga akan pergi dari negara ini untuk menghindar darimu dan juga tunanganmu. Aku masih punya rasa bersalah karena membuat tunanganmu salah paham tentang hubungan kita karena masa lalu kita dulu." Pria itu menarik tangannya depan pelan namun sedikit memaksa Senja untuk melepaskannya.
"Kak Faris, jangan pergi, aku mohon!" Senja menitikkan air matanya yang sudah tidak mampu lagi untuk dia bendung. Dia tidak akan pernah mau jauh dari Faris lagi dalam artian yang lain, bukan artian tidak ingin ditinggal karena perasaan dalam hati.
"Saya tidak akan pergi, saya hanya ingin mencari kebahagiaan dan kebebasan untuk diri saya, karena jujur, saya masih belum siap menghadapi kenyataan paling menyakitkan dalam hidup saya tanpa dirimu." Faris bahkan sekarang bicara dengan formal.
"Jangan pergi, Kak. Kamu bilang kamu akan menghindariku, kan? Kenapa?" Senja bangun dari posisinya yang semula berbaring menjadi duduk, tidak peduli dengan kepalanya yang terluka karena rasa sakitnya sudah hilang sejak kedatangan Faris tadi.
__ADS_1
Tangan Senja perlahan kembali meraih tangan Faris dan menggenggamnya dengan erat. "Apa kamu mau membuat diriku hancur seperti dulu lagi dengan melakukan hal yang sama?" Senja berkata dengan nada yang bergetar mengisyaratkan sebuah luka yang teramat dalam di hatinya.
"Saya tidak bermaksud untuk melukaimu." Faris duduk di tepi ranjang lalu menarik tubuh Senja ke dalam pelukannya.
"Saya dulu mengirim surat untuk kamu sebelum saya pergi, tapi ternyata surat yang saya tulis dan saya kirim tidak pernah sampai untuk kamu." Walaupun, Senja sudah mengatakan tidak ingin tahu lagi sebab Faris pergi dulu, tapi Faris memutuskan untuk tetap memberi tahu Senja.
"Kak Faris, saat kamu pergi dulu. Semua sahabatku juga pergi meninggalkan aku." Senja menyandarkan kepalanya di dada Faris, tidak peduli dengan orang lain yang akan menganggap Senja melupakan Anggi begitu saja setelah cinta lamanya kembali, karena cinta Senja sekarang sudah milik Anggi dan Faris sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri sejak kepala Senja terluka karena Anggi mendorong dirinya hari lalu.
"Kenapa mereka pergi meninggalkanmu, hem?" Faris mengusap bahu Senja dengan perasaan yang tidak bisa dia jabarkan lewat kata-kata, karena semua rasa bercampur menjadi satu di dalam hatinya.
"Tuhan lebih menyayangi mereka daripada aku." Tangis Senja kembali pecah mengingat sahabatnya yang telah meninggalkan dia untuk selama-lamanya.
Ami, Fiza dan Andi. Tiga orang yang dekat dengannya dulu yang harus meninggal karena takdir yang telah ditentukan Tuhan. Senja tidak akan pernah melupakan mereka karena mereka akan selalu berada di dalam hati Senja, di dalam ruang yang bernama sahabat.
"Iya." Senja balas memeluk Faris erat, dia benamkan wajahnya pada dada bidang itu sampai membuat baju yang dipakai Faris basah karena air matanya.
"Jangan menangis, mereka akan bersedih melihat kamu menangisi mereka!" Faris mengecup pucuk kepala Senja dengan perasaan yang sama-sama hancur dan bahagia.
"Berjanjilah, Kak!" pinta Senja mendongak untuk memerhatikan wajah Faris dari bawah.
"Berjanji untuk apa?" Faris menunduk sehingga hidung mereka tanpa sengaja saling bersentuhan.
Debaran jantung yang sama, tidak pernah berubah sejak dulu masih sama-sama mereka rasakan. Tidak ada yang menghindar dari apa yang terjadi sekarang, keduanya hanya bisa diam merasakan embusan napas yang berganti menerpa pori-pori kulit wajah mereka.
__ADS_1
Senja menautkan dahinya sehingga menempel pada dahi Faris. "Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku!" ucap Senja sampai udara panas dari mulutnya itu bisa dirasakan jelas oleh Faris.
"Berjanjilah satu hal padaku dulu! Setelah kau berjanji, maka aku juga akan berjanji untuk tidak meninggalkan dirimu." Faris sudah menggunakan bahasa yang lebih akrab lagi, dia akan mengambil kesempatan ini untuk memperbaiki hubungan antara dirinya, Senja, dan dia (Anggi).
"Apa yang harus aku janjikan?" tanya Senja masih dengan bertahan dalam posisi yang sama.
"Menikahlah dengan Anggi!" pinta Faris dengan air mata menetes dan jatuh dengan pelan di pipi Senja.
"Kak Faris, kenapa kamu menangis?" Senja mengalihkan pembicaraan mereka, karena untuk menikah dengan laki-laki yang sudah tidak mengharapkan dia lagi rasanya akan sangat menyakitkan.
"Jangan coba untuk mengalihkan pembicaraanku!" ucap Faris tegas memerintah.
"Kak Faris, aku-"
"Berjanjilah padaku, kau akan menikah dengan Anggi dan bahagia bersama dengan dirinya. Berjanjilah untuk hubungan pertemanan kita!" Faris bicara dengan nada sedikit menekan karena dia tahu kemungkinan besar Anggi masih mencintai Senja dan akan kembali melanjutkan hubungan mereka.
"Kita bukan teman. Aku tidak akan menikah dengannya, Kak, karena dia sudah tidak mencintai aku lagi. Dia sudah memutuskan hubungan pertunanganku dengan dirinya. Aku tidak akan pernah membuat dia jatuh dalam jurang keterpaksaan karena harus menikah dengan wanita yang tidak tidak cintai." Senja berteriak sangat memilukan, dia terisak dengan sangat keras di dalam pelukan Faris sekarang.
Tanpa mereka sadari, seseorang telah mendengar semua yang mereka katakan sejak tadi. Bahkan, air matanya juga ikut menetes setelah mendengar semuanya.
***
Siapa orang itu? Tunggu di next bab ya!
__ADS_1