Kembali

Kembali
KEMBALI ( Siapa Dia)


__ADS_3

πŸ¦‹πŸ¦‹TAP JEMPOLπŸ‘ KALIAN SEBELUM MEMBACAπŸ¦‹πŸ¦‹


"Maksud kakak, Senja itu punya cinta masa lalu dan sampai sekarang dia masih mencintai cinta pertamanya," jawab Hendi tersenyum.


Anggi tidak langsung percaya dengan apa yang dikatakan Hendi, dia berpikir kalau mungkin Hendi berbohong, karena dia tidak merestui hubungan dirinya dengan adiknya. Tapi, Anggi salah besar karena Hendi tidak bercanda dengannya, dia serius.


"Ha-ha, Kakak mengatakan itu hanya karena Kakak tidak mau merestui aku, kan?" tanya Anggi dengan tertawa.


"Kakak serius, dan kakak tidak sedang berbohong. Kakak tidak masalah jika kamu menikah dengan Senja, tapi kakak cuma takut nanti kamu akan terluka," ucap Hendi menjelaskan.


Tawa di bibirnya langsung lenyap begitu saja, dan berganti dengan seulas senyum yang terlihat dipaksakan.


"Ka-ka-kak, serius?" ucapnya dengan lirih karena menahan rasa sakit di hatinya.


"Kakak sangat serius, jika kamu benar-benar ingin memilikinya, yakinkan dia dulu kalau kamu cinta yang pantas untuknya," ucap Hendi memberi semangat untuk Anggi.


Anggi mulai berpikir keras, cinta pertama itu sangat sulit untuk digantikan. Tapi, dia akan mencobanya sekuat tenaga, agar cintanya bisa menang dari cinta masa lalu Senja.


"Kakak, kalau boleh tahu. Siapa dia?" tanya Anggi ingin tahu, karena mungkin dengan mengetahui orang itu, dia bisa dengan mudah membuat Senja melupakannya.


"Itu rahasia, jika kamu mau tahu, cari tahu sendiri agar kamu lebih tertantang," ucap Hendi menolak memberi tahu.


Tcih! Bilang saja kalau kamu tidak mau memberitahuku, lihat saja aku pasti bisa tahu siapa dia.


Saat Anggi dan Hendi masih di luar, Zara memanggil mereka karena Senja sudah sadar dari pingsannya. Anggi merasa sangat bahagia mendengar itu, dia pun langsung pamit pada Hendi dan segera berlari ke kamar gadis yang dicintainya itu.


"Tante, Kak. Aku ke sana dulu ya," ucap Anggi sebelum meninggalkan mereka.


"Sepertinya dia benar-benar mencintai adikmu," ucap Zara sambil memerhatikan Anggi yang berlari menjauh dari mereka.


"Sepertinya seperti itu, Bun," komentar Hendi.


"Tapi bagaimana kalau Faris pulang? Dan adikmu," Zara menarik napas panjang, "apa dia sudah melupakannya?" lanjut Zara merasa tidak tega kalau sampai putrinya kembali pada cinta masa lalunya dan meninggalkan Anggi yang telah berbuat banyak padanya.


"Itu yang aku takutkan, Bun. Sepertinya putri Bunda belum melupakan Faris." Hendi berkata sambil berjalan ke kamar adiknya dan diikuti Zara dari belakang.


"Semoga mereka mendapatkan yang terbaik untuk mereka," ucap Zara berdoa.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Faris POV


Sudah bertahun-tahun aku pergi dan tidak memberinya kabar walau hanya sekilas, akankah dia melupakan aku? Pasti dia sudah besar sekarang. Aku sangat merindukan dia. Dia apa kabar ya? Apa dia sudah punya kekasih.


Tidak-tidak, aku tidak mau memikirkan itu. Dia milikku, dan akan tetap menjadi milikku.Tapi, bagaimana jika dia sudah menyukai orang lain? Apa aku harus merelakan dia, atau merebutnya lagi.


Tapi kalau sampai dia sudah mendapatkan cintanya, aku tidak boleh egois. Aku harus melupakan dia. Aku tidak boleh menyakitinya, kalau aku tidak bisa bersamanya, setidaknya aku masih bisa menjadi sahabatnya.


Aku memandang jauh ke depan, ke tempat di mana aku bisa mengenang masa-masa indah saat bersamanya, aku ingin menjadikan dia sebagai bagian dari hidupku yang berharga. Tapi, apa aku jahat karena meninggalkan dia tanpa memberi kabar.


Tidak, itu semua tidak aku sengaja, aku kehilangan kontaknya dan ponselku karena di copet, sungguh Tuhan itu pandai sekali membuat kami seperti ini.


"Faris, kapan kita akan pulang di Indonesia?" tanya kakak padaku.


"Abang? Kapan Abang datang ke sini?" tanyaku membalikkan badan dan menatapnya.


"Baru saja, kamu sedang memikirkan apa?" tanyanya padaku.


"Aku sedang merindukan seseorang yang berharga dalam hidupku, Abang pasti sudah tahu itu," ucapku sengaja tidak memberi tahu nama seseorang itu.


"Senja milikmu?" ucap Kak Rey menertawakan aku.


"Sudahlah, sebentar lagi kita aja pulang ke Indonesia, kamu bisa bertemu lagi dengan dia," Kak Rey mengedipkan satu matanya padaku, dan itu sungguh membuatku sangat kesal padanya.


Aku dan Kak Rey berjalan turun dari balkon dan saat aku sampai di bawah, aku melihat seseorang yang tidak ingin aku lihat seumur hidupku.


Kenapa dia ada di sini? Apa yang mau dia lakukan. batinku saat melihat dia.


Aku menghentikan langkahku lalu aku berbalik ingin pergi dari sini sekarang juga, aku tidak mau melihatnya dan tidak akan pernah mau untuk selamanya. Aku tidak membencinya, aku hanya takut kalau aku melukainya.


Saat aku berbalik dan akan melangkah pergi langkahku terhenti saat Kak Rey menahan aku.


"Jangan menghindar!" pintanya memohon padaku.


Aku terpaksa menuruti permintaan Kak Rey aku tidak jadi pergi, dan aku akan menemuinya, lagi pula di sana ada Papa, dan aku tidak mau membuat Papa marah padaku.


Aku dan Kak Rey kembali berjalan ke arah mereka, lirikan mataku hanya aku tujukan kepada Papa dan tidak untuk orang itu.


Tapi aku bisa melihat, orang itu tersenyum lembut padaku, sungguh senyuman yang membuat aku jengah dan muak. Aku benci senyuman itu, aku tidak suka. Apa aku salah jika aku merasa kecewa padanya.

__ADS_1


"Papa," ku sapa Papaku dan aku langsung memeluknya, aku merindukannya, sangat rindu padanya.


"Faris, papa rindu padamu," ucapnya padaku seraya membelai lembut punggungku.


Dia, dia melihat aku mengabaikannya. Dia terlihat sangat sedih dan matanya terlihat berkaca-kaca. Ingin sekali rasanya aku memeluknya, membuatnya tersenyum. Tapi, aku tidak melakukannya aku kecewa padanya, dia telah menorehkan luka yang teramat dalam untukku.


Mungkin aku memang egois, tapi dia lebih egois dariku. Aku melepaskan diri dari pelukan Papaku, dan aku melihat Kak Rey hanya diam sambil berdiri menatapku.


"Sayang." Panggilan itu terdengar sangat menusuk ke telingaku, kenapa dia memanggilku dengan kata sayang, kalau dia tega meninggalkan aku dulu.


Tcih! Barusan dia memanggilku sayang. Kenapa baru sekarang, kenapa tidak dari dulu. Ini sudah terlambat.


Aku mengabaikan dia, aku pamit pada Papa dengan alasan aku ingin istirahat di kamar.


"Papa, Faris sangat capek. Faris ke kamar dulu ya. Mau istirahat. Papa mengobrol saja dulu dengan Kak Rey." Aku pamit dan langsung pergi dari sana.


"Faris tunggu!" Papa menahan kepergian ku.


"Ada apa lagi, Pa?" tanyaku pada Papa yang menahan aku.


"Apa kamu tidak dengar apa yang dia katakan oleh-"


"Aku tidak dengar apapun," selaku dengan cepat dan memotong ucapannya.


"Faris! Kamu tidak boleh seperti ini, bagaimanapun dia itulah-"


"Cukup, Bang. Aku sudah lelah dan ingin beristirahat. Tolong jangan ganggu aku," lagi-lagi aku memotong ucapan Kak Rey.


Mereka hanya bisa pasrah dengan apa yang aku lakukan, karena untuk menahan pun mereka sudah tidak bisa lagi. Karena itu hanya akan percuma.


🍁🍁🍁


Bersambung ...


Maaf ya aku up nya lama banget ...


Semoga kalian suka dan mau memaafkan aku ...


Like , komen, dan rate jangan lupa ...

__ADS_1


Sampai jumpa di episode selanjutnya ...


__ADS_2