
🦋🦋TAP JEMPOL👍 KALIAN SEBELUM MEMBACA🦋🦋
"Nggak usah di bahas, nanti gue traktir kalian deh, sepuas kalian," kata Anggi, yang langsung di jawab setuju oleh Hendra dan Erick.
"Ini kalian beneran nggak jadian?" tanya Hendra.
"Beneran, Senja nggak mau pacaran, tapi...." Anggi sengaja menggantung kalimatnya. Senja sekarang sudah melepaskan pelukannya dari Anggi.
"Tapi, berkomitmen." Senja yang meneruskan kalimat Anggi.
"Sama aja itu mah," komentar Erick.
"Beda dong, Kak Erick, kalau komitmen kan masih bisa nyari yang lain, kalau nggak nyaman," ucap Senja, yang langsung mendapat jitakan di dahinya.
"Gue nggak mau yang lain, maunya cuma kamu."
"Haha, dasar bucin," ejek Erick.
"Bodo amat," jawab Anggi.
"Yaudah, aku pamit pulang dulu ya, nanti di cari kalau nggak pulang." Senja pamit kepada mereka bertiga.
"Anterin nggak, Yank?"
"Nggak usah, bye semuanya."
"Hati-hati ya," ucap Hendra.
"Iya."
Sekarang di ruang tamu hanya tinggal mereka bertiga, yup Anggi, Hendra dan Erick.
Hendra kemudian duduk di samping kanan Anggi, dan Erick duduk di samping kiri Anggi, Anggi terapit oleh mereka berdua.
"Kalian ngapain sih?" tanya Anggi.
"Jangan sampai lo sakitin dia Nggi, lo harus ingat, kalau masa lalu dia cukup menyedihkan," nasihat Hendra.
Gue harap lo nggak nyakitin dia Nggi, kalau lo nyakitin dia, gue orang pertama yang bakal marah sama lo. batin Hendra.
"Gue janji, nggak bakal nyakitin dia."
"Gue pegang janji lo," ucap Erick dan Hendra bersamaan.
Gue nggak mungkin nyakitin dia, gue sayang sama dia, udah dari pertama kali gue ketemu sama dia, tapi... ahh gue takut kalau "orang itu" kembali.
"Bantu gue buat jagain dia ya, gue nggak mungkin bisa jaga dia sendiri," pinta Anggi, tersirat sebuah rahasia di dalamnya.
🍁🍁🍁
Senja sudah memasuki gerbang rumahnya, Senja melihat ada mobil milik Alarice di halaman rumahnya.
Mau ngapain dia ke sini?
Senja, memutuskan bertanya pada Pak Mamat, satpam di rumahnya.
"Pak Mamat," panggil Senja.
Pak Mamat yang mendengar panggilan majikannya, langsung berlari ke arahnya.
"Iya Non, ada yang bisa, saya bantu?"
"Itu mobil teman aku, dia ngapain ke sini Pak?" tanya Senja to the point.
"Tadi katanya nyari Non Senja, tapi Pak Mamat, nggak tau, teman Non ke sini mau apa," jawab Pak Mamat.
"Oh, yaudah. Makasih ya, Pak," ucap Senja.
"Sama-sama Non."
"Kalau gitu, Senja masuk dulu ya Pak, kalau Pak Mamat lapar, makan dulu ya Pak," ucap Senja sambil berlalu meninggalkan Pak Mamat.
"Iya Non," jawab Pak Mamat.
Senja masuk ke rumahnya, dan di ruang tamu, Senja melihat Alarice dan Herry duduk di sofa. Melihat kedatangan Senja, Herry dan Alarice langsung bangun dari duduknya.
"Duduk aja nggak papa," ucap Senja.
Merekapun akhirnya kembali duduk.
__ADS_1
"Kalian udah lama?" tanya Senja, yang kini juga sudah ikut duduk bersama mereka di ruang tamu.
"Baru aja kok," jawab Alarice.
"Oh, bentar ya, aku tinggal ke dapur dulu," ucap Senja.
"Iya," jawab Alarice.
Senja kemauan pergi ke dapur untuk meminta Bi Jum membuatkan minuman dan membawa camilan, tapi ternyata Bi Jum sudah membuatkannya, dan tinggal membawa ke ruang tamu.
"Bi, biar Senja yang bawa minumnya, Bibi bawa cemilannya ya!" punya Senja.
"Oke, Non," jawab Bi Jum.
"Nih di minum dulu!" Senja meletakkan minumannya di meja.
"Makasih ya."
"Sama-sama."
Melihat suasana yang cukup tenang, Alarice menyampaikan tujuannya datang ke rumah Senja.
"Bebz," panggil Alarice.
"Iya, kalian apa kabar?" tanya Senja, sedekah menjawab panggilan Alarice.
"Kabar kita baik kok," jawab Herry tersenyum.
Ya Allah, maafin Senja ya, Senja nggak bermaksud nyakitin hati anak orang.
Senja yang melihat itu merasa tidak enak, karena menolak Herry di depan banyak orang waktu pesta.
"Gue mau ngomong sama lo bebz," ucap Alarice lagi.
"Iya, mau ngomong apa?" tanya Senja, sedikit penasaran.
"Lo marah ya, sama gue?" tanya Alarice.
"Maafin, Lala, ya, Senja, kejadian di pesta waktu itu bukan salah Lala kok, tapi salah aku."
"Nggak papa kok, aku udah lupain kejadian itu, nggak usah di bahas lagi ya," Senja tersenyum manis.
"Iya." Senja membalas pelukan Alarice.
Dreeet... dreeet... dreeet ... Handphone Senja berbunyi. Ada panggilan masuk.
Senja melepas pelukannya, kemudian mengambil menekan tombol hijau di HP nya, karena panggilan itu dari Hendi kakaknya.
"Aku tinnggal bentar ya," pamit Senja.
"Iya,"
"Siapa La? Yang nelepone Senja?" tanya Herry.
"Nggak tau, Kak," jawab Alarice.
Senja sekrang sudah berada di ruang keluarga, untuk berbicara via telepone dengan kakaknya.
"Hallo, Assalamu'alaikum, Kak Hendi tersayang,"
"Waalaikumsalam, kabar kamu gimana De?"
"Baik Kak, kalian baik kan di sana?"
"Alhamdulillah, kita juga sehat di sini. Kakak kangen sama kamu," ucap Hendi dari seberang telepone, Senja bisa menebak kalau kakaknya sekrang pasti sedang tengkurap di sana.
"Makasih, Kak. Tapi... Senja nggak rindu sama Kakak," ucap Senja sambil cekikikan.
"Oh... nggak rindu nih? Padahal tadinya kakak mau transfer uang buat kamu, tapi kamunya nggak rindu, jadi kakak nggak mau transfer ah," ucap Hendi.
"Hehe, Senja rindu banget sama Kak Hendi," ucap Senja.
"Kalau ada maunya aja, baik sama kakaknya."
"Hehe...." Senja tersenyum.
Karena sudah cukup lama meninggalkan tamunya, akhirnya Senja mengakhiri panggilan telepone nya dengan kakaknya.
"Maaf ya, aku lama," ucap Senja.
__ADS_1
"Nggak papa kok, tadi siapa yang nelepone?" tanya Herry.
"Kak Hendi," jawab Senja.
"Siapa Hendi?"
"Kakak aku."
"Oh."
Hening sesaat di antara mereka. Senja tidak berniat untuk memulai berbicara, Herry dan Alaricepun sepertinya begitu.
Senja memejamkan matanya sebentar, kemudian membukanya lagi. Herry memperhatikan Senja dari tempat dia duduk. Herry ingat kalau Senja suka hal-hal yang berbau action.
"Senja, kamu bisa balap motor ya?" tanya Herry, memecahkan keheningan di anatara mereka.
"Bisa Kak, dulu waktu di Indonesia, aku sering balap sama Kak Hendi."
"Wah, asik dong, besok ada kelas nggak di kampus?" tanya Herry.
"Ada nggak sih La?" tanya Senja kepada Alarice.
"Nggak ada bebz."
"Kalau gitu, Senja mau nggak ikut kakak, besok?" ajak Herry.
"Ke mana Kak?"
"Kakak besok mau balap, kalau kamu mau, kamu juga bisa ikut jadi peserta,"
Aku pengen banget ikut, udah satu setengah tahun, aku nggak balap, tapi ... aku nggak bisa.
"Maaf Kak, aku nggaj bisa."
"Kenapa?"
"Nggak pengen aja."
"Sayang banget, gimana kalau nonton film aja? Film action kok," tawar Herry.
"Nggak bisa, Kak."
Senja kenapa sih? Kok dia nolak terus, biasanya juga langsung mau kalau berhubungan sama action. batin Alarice.
"Ya Allah, aku pusing banget, Ya Allah, kenapa semuanya jadi gelap," gumam Senja.
Tubuh Senja semakin lemas, hingga akhirnya Senja pinsan.
Saat Herry mau membujuk lagi, Herry dan Alarice di buat terkejut saat tiba-tiba Senja jatuh pinsan.
Bruuk ... suara tubuh Senja yang jatuh ke lantai.
"Ya Allah, Senja, bangun, Kak tolong angkat Senja!" Pinta Alarice panik.
"Non Senja kenapa?" tanya Bi Jum, ketika mendengar teriakan Alarice tadi.
"Dia pinsan, Bi," jawab Alarice.
Herry segera mengangkat Senja, kemauan menurunkan si sofa, Herry meletakkan kepala Senja di pangkuannya, kemudian menepuk-nepuk pipi Senja.
"Bi, minta minyak kayu putih, cepat Bi," pinta Alarice pada Bi Jum.
"Iya Non, bibi ambil."
Bi Jum segera berlari mengambil minyak kayu putih, Alarice dan Herry masih berusaha menyadarkan Senja, Bi Jum sudah kembali dan langsung menaruh minyak kayu putih di bawah hidung Senja agar sadar.
"Senja bangun! Jangan buat kita khawatir, bangun Senja!" ucap Herry sambil menepuk-nepuk pipi Senja.
Cukup lama Senja pinsan, dan akhirnya Senja sadar juga.
"Kamu kenapa?" tanya Herry.
Senja berusaha untuk duduk, di bantu Herry. Senja menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Makasih, aku cuma pusing aja."
"Syukurlah," ucap Alarice lega.
#Jangan lupa like semua episode,komen, rate, dan votenya...
__ADS_1
Terima kasih 😘💕...