
🦋🦋TAP JEMPOL👍 KALIAN SEBELUM MEMBACA🦋🦋
"Bi Senja pergi dulu ya, mungkin nanti Senja menginap di apartemen Alarice jadi Bibi bisa kunci pintunya sekarang." ucap Senja kepada Bi Jum.
"Iya Non." balas Bi Jum.
Senja dan Alarice segera masuk ke dalam mobil, kali ini Senja yang mengemudikan mobil milik Alarice.
Senja melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena mereka juga tidak sedang buru-buru.
Di perjalanan Alarice sibuk dengan HP nya, entah apa yang di lakukan gadis itu sampai senyam-senyum sendiri seperti orang gila.
Senja sangat merindukan kampung halamannya, jika pergi ke pesta, dulu Senja pasti akan di temani kakaknya.
"Lala, jangan sibuk sendiri dong, kan gara-gara lo gue di undang ke pesta, jadi sekarang lo harus ngasih tau gue, gue nanti di sana ngapain aja." ucap Senja akhirnya karena dia sebenarnya juga bingung mau berbuat apa di pesta nanti.
Alarice menoleh ke arah Senja, kemudian menaruh HP nya ke dalam tas.
"Nggak ngapa-ngapain lah bebz, nanti kita ngucapin selamat aja sama mereka habis itu makan, udah deh selesai." jawab Alarice santai.
"Oke, eh gue mau tanya sama lo."
"Mau tanya apa sih bebz?" Alarice bertanya penuh dengan rasa penasaran.
"Lo yang ngasih nomor HP gue ke kakak sepupu lo kan, ngaku lo!" ucap Senja dengan kesal, karena setelah pulang dari Cafe XX waktu itu, malam harinya tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor baru yang mengaku dirinya adalah Herry.
Alarice yang mendengar itu langsung menyengir kuda dan melihat Senja dengan sedikit takut.
"Sorry bebz, tapi Kak Herry maksa." Alarice mengaku jika memang dia yang memberikan nomor Senja kepada Herry.
"Lo kan tau kalau gue nggak suka nomor gue di kasih ke sembarang orang La." Senja merasa kesal dengan sahabatnya itu.
"Maaf ya bebz, habis gue nggak enak kalau mau nolak, kan dia kakak sepupu gue bebz."
"Iya deh gue maafin, tapi awas aja lo kalau sampai ngelakuin lagi."
"Jadi lo maafin gue?"
"Ya mau gimana lagi, udah telanjur juga." ucap Senja.
Pukul delapan malam mereka tiba di kediaman paman Alarice, mereka tiba tiga puluh menit sebelum pesta di mulai.
Alarice langsung masuk ke rumah pamannya setelah memperlihatkan undangan pesta.
Mereka di sambut oleh bibinya Alarice yaitu Dini.
"Selamat makan Bibi Dini." sapa Alarice kemudian berjabat tangan dengan Dini.
"Malam juga sayang, siapa gadis yang bersamamu ini?" tanya Dini saat melihat Senja yang berdiri di belakang Alarice.
"Ini Senja Bi, sahabat aku."
"Malam Tante." sapa Senja.
"Malam juga, kamu cantik sekali sayang." puji Dini kepada Senja.
"Emang aku nggak cantik Bi?" sahut Alarice.
"Kamu juga cantik kok, kalian berdua sama-sama cantik."
"Terima kasih Tante."
"Kalian duduk dulu ya, biar Bibi panggil Herry untuk menemani kalian, karena Bibi masih ada urusan dengan teman-temab Bibi." ucap Dini kemudian pergi meninggalkan mereka.
Tidak lama kemudian Herry menghampiri mereka ber dua. Herry sangat senang melihat Senja datang ke pesta ulang tahun pernikahan orang tuanya.
__ADS_1
Bahkan Herry terhipnotis dengan kecantikan Senja malam ini.
"Kalian sudah sampai." sapa Herry kepada mereka, dan langsung duduk di sofa yang berseberangan dengan mereka, sehingga kini Herry duduk di depan Senja.
"Belum Kak, masih di jalan," ucap Alarice. " Udah tau udah sampai masih nanya lagi." lanjutnya.
"Hahaha, kamu ini." ucap Herry sambil tertawa. Sedangkan Senja hanya tersenyum mendengar kekonyolan Alarice.
Tiga puluh menit kemudian pesta di mulai, banyak tamu undangan yang hadir di pesta itu. Alarice sudah pergi meninggalkan Senja, entah kemana perginya gadis itu.
Melihat Senja seorang diri, Herry menghampiri Senja.
"Di mana Alarice?" tanya Herry.
"Nggak tau Kak." jawab Senja.
"Daripada sendiri di sini, temani kakak aja yuk." Senja mau menolak tapi Herry menarik tangan Senja dan membawanya menemui teman-temannya.
"Wah siapa gadis cantik ini?" tanya salah satu teman Herry.
"Sahabat adik sepupuku." jawab Herry, kemudian memperkenalkan Senja kepada teman-temannya.
"Aku kira tadi, Senja ini pacar kamu." ucap Zaqie teman Herry.
"Apa yang dia katakan, mana mungkin aku pacaran dengan Herry, huh dasar." gerutu Senja dalam hati sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Herry.
"Apa kita terlihat seperti pasangan?" tanya Herry.
"Apa yang Kak Herry katakan sih." Senja melirik Herry dengan tatoan kesal.
"Iya, kalian sangat cocok." ucap Hardi.
"Oh Kak Hardi, kamu juga kenapa ikut-ikutan."
"Em... Kak Herry bisakah Kakak melepaskan tanganku?" ucap Senja.
"Semuanya aku permisi ya." pamit Senja karena tidak nyaman dengan mereka.
"Mau ke mana?" tanya Zaqie.
"Mau ke toilet." jawab Senja sekenanya.
"Biar aku antar ya." tanpa menunggu persetujuan Senja, Herry sudah menarik tangan Senja ke arah toilet.
Sesampainya di toilet, Senja mondar-mandir di dalam, karena Senja melihat Herry masih menunggunya di luar.
"Apa yang dia lakukan sih, kenapa harus nunggu aku coba, oh ayolah pergi dari sini."
Karena Herry sudah menunggu cukup lama dan Senja belum keluar juga, akhirnya Herry mengetuk pintu kamar mandi.
"Senja apa kamu tidak apa-apa."
"Iya Kak aku nggak papa." Dengan perasaan kesal Senja keluar dari kamar mandi, dan langsung berjalan meninggalkan Herry yang mengikutinya dari belakang.
Senja melihat ke segala arah untuk menemukan Alarice, dan akhirnya Senja menangkap sosok Alarice yang sedang bergurau dengan paman dan bibinya.
Senja segera menghampiri mereka.
"Selamat malam Om, Tante, selamat atas ulang tahun pernikahan kalian, semoga langgeng terus sampai kakek nenek ya." Senja memberikan ucapan selamat kepada mereka.
Senja tidak menyadari jika Herry sudah berdiri di sampingnya.
"Terima kasih sayang doanya." ucap Dini.
"Siapa gadis ini Ma?" tanya Doni suami Dini.
__ADS_1
"Senja Pa, sahabat keponakan kita."
"Oh, terima kasih Nak Senja." balas Dini kemudian.
"Sama-sama Om, Tante."
"Kalau di lihat-lihat kalian cocok lho." komentar Doni tiba-tiba.
"Maksud Paman, Senja dan Kak Herry?" sahut Alarice.
"Benar." jawabnya.
Seketika Senja langsung menoleh ke sampingnya dan mendapati Herry berada di sana, sambil tersenyum manis ke arah Senja.
"Kapan dia disini, kenapa aku tidak menyadarinya."
"Ah, Om bisa saja." jawab Senja agar tatap sopan.
"Apa kamu sudah meiliki seorang kekasih?" tanya Dini ingin tau.
"Kenapa Tante Dini tanya ini sih, kepo banget sih dia."
"Nggak punya lah dia Bi." Alarice yang menjawab.
"Benarkah itu Nak Senja?" tanya Doni sekarang.
"Iya Om benar." jawab Senja tersenyum.
"Bagaimana kalau kamu jadi pacar Herry?" tawar Dini.
Senja terkesiap karena terkejut, dirinya jadi sedikit slah tingkah, apalagi saat mendengar Herry yang mengatakan setuju.
Senja bukan salah tingkah karena senang ya, tapi salah tingkah karena bingung mau menanggapi bagaimana
"Setuju Ma." sahut Herry.
"Wah aku juga setuju kalau sahabat aku yang jomblo ini pacaran sama Kak Herry." timpal Alarice.
"Apa-apaan sih anak ini, main setuju-setuju aja."
"Haha...Tante dan Om bercandanya bisa saja." ucap Senja untuk mengalihkan perasaaan gugupnya karena harus menanggapi kedua orang itu.
"Tante nggak bercanda sayang, malah kalau kamu mau, Tante bisa mempertunangan kalain malam ini juga."
Herry sangat bahagia mendengar perkataan mamanya.
"Maaf Tante, tapi Senja udah punya pasangan Tante." jawab Senja berbohong.
"Yah sayang sekali padahal Tante berharap kamu bisa jadi mantu Tante." ucap Dini kecewa.
"Lo jangan bohong bebz emang siapa pasangan lo?" Alarice malah membuat Senja semakin bingung.
"Jangan percaya Om, Tante. Senja pasti bohong, soalnya Lala udah kenal sama dia lama, dan selama ini Lala nggak pernah tau kalau Senja punya kekasih." ucap Alarice lagi.
"Lala bukannya bantuin malah ikut-ikutan ngedukung, gimana sih tu anak."
"Jadi aku masih punya kesempatan dong buat jadi pacar kamu." ucap Herry.
Saat Senja mau menjawab tiba-tiba Doni meminta perhatian ke semua tamu agar melihat ke arah mereka.
Seketika itu juga Herry langsung berlutut di depan Senja dan membawa seikat bunga mawar.
Senja tidak tau kapan Herry mendapatkan bunga itu, Senja tidak mau memikirkannya.
#Jangan lupa like semua episode,komen, rate, dan votenya...
__ADS_1
Terima kasih 😘💕...