
"Bagaimana pak, apa semua buktinya sudah lengkap?"tanya Sari.
"Sudah nona, semuanya ada di dalam map ini"Pak Frans menyerahkan sebuah map coklat pada Sari.
"Bagus, kalau gitu kita langsung ke sana saja. Saya tidak bisa lama - lama di sini. Vicky lagi sakit."ucap Sari.
"Kalau tuan mudah sakit, kenapa nona nekat kemari?"tanya Frans mengerutkan keningnya.
"Saya nggak bisa tenang sebelum semuanya selesai. Saya capek di bohongin mulu, pak."kata Sari.
"Kalau boleh saya tau, apa yang akan nona lakukan setelah mengetahui kebenarannya?"
Sari terdiam." Saya nggak tau pak, saya belum memikirkannya."
"Saran saya, pikirkan semuanya dengan kepala dingin, nona. Jangan terburu - buru mengambil keputusan."Kata Frans memberi nasehat.
"Iya, pak. Kalau gitu, ayo kita langsung ke sana aja."Frans mengangguk mengiyakan.
____
Setibanya di apartemen, Sari langsung memencet kode pin pintu. Karena dia suda hapal betul dengan kode pinnya.
Tit tit tit.
Sari melangkah masuk, dan alangkah kagetnya dia saat mendapatkan. Kedua orang tuanya yang sedang tertawa bersama Dafa sepupunya.
Sari melangkah masuk dan mendekati mereka.
Prok, prok, prok...
"Wah, seneng banget ya!"seru Saei bertepuk tangan.
Ketiga orang itu sangat kaget, melihat kedatangan Sari.
"Ai?.."
"Kenapa Yah? Apa operasi Ayah lancar? Apa semuanya sudah baik - baik saja?" tanya Sari, air matanya menetes tanpa di perintah.
"Kenapa kalian tega melakukan ini semua sama aku? Kenapa?"
"Apa kalian belum puas kalian menorehkan rasa di hati aku? Apa rasa kesepian yang selama ini aku rasakan belum cukup juga?" Mia mendekati putrinya.
"Ai, apa yang kamu katakan nak? Kamu salah paham, dengerin penjelasan bunda dulu, ya."Mia mencoba memegang tangan Sari, namun Sari menepisnya.
"Apa lagi yang harus di jelaskan bund? Semuanya sudah jelas. Kalian membohongi Ai, agar Ai mau menikah dengan laki - laki yang bunda sendiri tau kalau Ai sangat membenci nya."kata Sari.
"Ayah melakukan itu semu demi Kebahagiaan kamu, Ai." kata Izam.
__ADS_1
" Kebahagiaan? Kebahagiaan yang mana yang ayah maksud? Apa menurut ayah aku akan bahagia jika tinggal serumah dengan musuhku? Apa ayah pikir aku akan senang jika harus melihat orang yang sudah menghancurkan nama baik? Apa kebahgiaan yang ayah maksud itu, pernikahan yang di dalamnya hanya ada pertengkaran dan rasa benci. itu, Yah?" ucap Sari dengan penuh deraian air mata.
"Tapi dia..."
"Dia apa bund? Apa bunda lupa siapa penyebab aku di bully saat sd, sehingga kita harus pindah ke Jakarta?" tanya Sari menatap Mia.
Sari menggeleng, menghapus air matanya. " Aku nggam nyangka kalian akan sekejam ini sama aku. Dan yang lebih parahnya, kak Dafa juga ikut berperan dalam semua ini." Sari menatap Dafa, sepupu laki - laki yang selama ini selalu di percayanya dan di sayanginya.
"Hiks, Baiklah kalau gitu Ai pulang dulu. Ai kesini hanya untuk membuktikan, kebeneran tentang keadaan ayah. Ai bersyukur kalau Ayah baik - baik saja." kata Sari.
"Ai, permisi."
"Ai, kamu mau kemana?" tanya Mia menahan tangan putrinya
"Pulang."jawab Sari singkat.
"Tapi nak, kamu pasti capek. Istirahat lah dulu, jarak Jakarta ke Singapura itu lumayan jauh."kata Mia.
"Ai pulang aja, kasih mbok Darmi di rumah sendirian."
"Ai, makan malam lah dulu. Apa kamu nggak kangen sama ayah dan bunda?" tanya Izam.
"Kangen? Apa ayah dan bunda pernah merasakan itu pada Ai? Pasti nggak ya? Nggak kok Yah, Ai udah terbiasa juga kok."ujar Sari tersenyum kecut.
"Udah ya Bund, Ai pamit. Assalamualaikum."ucap Sari berlalu pergi. Frans mengikuti Sari dari belakang, dia merasa kasihan dengan majikannya itu.
"Ini pasti Frans yang melakukannya? Aku nggak menyangka kalau Ai mengirim mata - mata nya itu kemari." ucap Izam.
" Kita harus kembali ke Jakarta Daf, Om takut Ai akan berbuat nekat dengan pernikahannya." Kata Izam.
Izam menoleh melihat Mia yang berjalan lesu masuk kedalam kamar .
"Daf, om mau lihat tantemu dulu ya." Dafa mengangguk.
Izam berlalu masuk kedalam kamar, ia melihat Mia terduduk di atas kasur.
"Sayang..." Izam menyentu bahu Mia.
"Mas, aku merasa kita terlalu kejam dengan Ai, mas." kata Mia dengan suara bergetar.
"Aku tau mas, Ai itu sabgat membenci Vicky. Tapi kita tetap saja memaksanya melakukan pernikahan ini, bahkan dengan kejamnya, kita menikahkannya dengan menggunakan wali. Dan bukan kamu yang menikahkannya, mas."
"Aku nggak kebayang bagaimana hancurnya perasaan Ai saat ini mas." Izam memeluk Mia, ia tau apa yang sedang di rasakan oleh istrinya, ia pun juga meraskan hal yang sama.
"Besok kita akan pulang, dan aku akan menjelaskan semuanya pada Ai."kata Izam
"Terus kerjaan kamu di sini gimana?"tanya Mia.
__ADS_1
"Aku akan menyuruh, Burhan yang menanganinya sementara waktu." jawab Izam.
"Aku takut, Ai akan berbuat nekat dengan pernikahannya."sambung Izam, Mia mengangguk.
____
"Makasih ya pak, udah mau aku repotkan." ucap Sari pada Frans.
"Jangan sungkan nona, saya siap membantu kapan pun nona membutuhkan bantuan saya."ujar Frans.
"Kalau gitu, saya masuk dulu ya pak. Makasih udah di anterin"
"Iya sama - sama nona." Sari keluar dari mobil Frans dan melangkah masuk kedalam rumah.
"Dari mana?" tanya Vicky saat Sari melewati ruang keluarga. Sari menoleh ke sumber suara, dan tersenyum.
" Lo, udah bangun?"Sari mendekati Vicky dan meletakkan tangannya di dahi cowok itu.
Vicky mengerutkan keningnya, ia kaget dengan sikap istrinya itu.
"Udah nggak panas lagi."kata Sari tersenyum.
"lo, belum jawab pertanyaan gue. Lo darimana?"tanya Vicky lagi.
"Itu gue habis main ke rumah Manda."
"Serius? Nggak bohong?" selidik Vicky
Sari tersenyum " Iya, ngapain gue bohong. Yuk ke kamar, lo harus banyak istirahat" ujar Sari mengiring Vicky ke kamar.
"Kenapa dia tiba - tiba berubah? Apa sebenarnya yang terjadi? Dan kenapa dia berbohong tadi. Bagaimana mungkin dia main ke rumah Manda sementara Manda tadi kesini buat nyariin dia" gumam Vicky.
"Lo, istirahat lah. Gue mau ganti baju dulu."kata Sari melangkah masuk kedalam kamar mandi setelah mengambil baju ganti.
Vicky menatap pintu kamar mandi." Kenapa gue nggak bisa membaca isi pikiran lo sih Ai." ucap Vicky pelan
Di dalam kamar mandi, Sari duduk dibawah guyuran air shower. " Gue harus cari bukti, tentang kebencian Vicky ke gue. hanya dengan itu gue bisa minta verai dari dia." ucap Sari. Dia mulai menyusun rencana agar dia bisa mendapatkan bukti.
"Gue ingat betul, Kalau dia itu dulu sangat suka curhat di buku diary."
"Dan gue yakin, dia juga pasti di juga akan menulis semuanya di sana" Sari tersnyum tipis.
Sebenarnya Sari sangat malas jika harus mengenang masa lalu yang sangat di bencinya. Ia merasakan luka lamanya terkoyak kembali.
"Nggak ada alasan gie pertahanin hubungan ini."ucapnya.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜