
Setelah mendengar bel pulang baru lah Sari turun dan pergi ke kelasnya untuk mengambil tasnya.
"Sariiii..." Ulan dan Manda menghabur ke dalam pelukan Sari.
"Lo kemana aja? Kita khawatir tau!" Seru Manda.
"Tau ni, main pergi gitu aja, terus nggak ada ngabarin lagi." tambah ulan
"Hehe... Sorry guys,, Gue tadi ada di rooftop." balas Sari tersenyum.
"Rooftop? Ngapain lo di sana?" tanya Ulan melepas pelukannya.
"Tidur." jawab Sari singkat. Manda dan Ulan saling pandang.
" Serius?"
"Iya, udah yuk pulang.." Sari mengambil tasnya kemudian menarik tangan kedua sahabatnya. Saat akan melewati pintu, mereka berpapasan dengan Jepri.
"EhPrik lo kemana aja? Tadi bu Mega nanyain .." tanya manda.Jepri menghentikan langkahnya, berbalik menatap Sari. Sari mengalihkan pandangannya.
"Rooftop." Jawab Jepri singkat kemudian melanjutkan langkahnya untuk mengamil tas dan berlalu pergi tanpa sepatakata pun.
"Rooftop? Bukannya lo juga di sana Sar? Apa kalian sengaja bolos berdua? Atau jangan - jangan..." Ulan sengaja menggantung ucapannya.
Sari mengerutkan dahi nya. " Janga - jangan apaan?Jangan berpikir yang aneh - aneh deh." sanggah Sari.
"Tapi kalian, nggak.."
"Nggak seperti yang kalian fikirkan. Kita emang bareng di rooftop tapi nggak ada yang aneh - aneh kok. Kalian percaya kan sama gue?"tanya Sari, dibalas anggukan oluh kedua sahabatnya.
"Iya kita percaya, yaudah yuk." Mereka pun berjalan keluar dari gedung sekolah.
____
Pukul 5 sore Sari sampai di rumah, karena tadi sepulang sekolah dia dan teman - temannya memilih untuk nokrong di cafe langganan mereka terlebih dahulu.
Sari berjalan ke kamar, membuka pintu kamar dengan pelan. Ia takut akan mengganggu kenyamanan Vicky. Sari mengedarkan pandangannya, ia tidak menemukan siapa pun di dalam kamar
"Apa dia belum pulang? tumben? Mungkin ada rapat kali ya.." gumam Sari.
Sari masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
__ADS_1
___
Pukul 7 malam Sari turun kebawah, dan mengecek ke seluruh ruangan, bahkan Sari melihat ke depan apakah ada mobil Vicky atau tidak.
"Non makan malam sudah siap, apa nona mau makan sekarang?"tanya mbok Darmi.
Sari menoleh," Nanti saja mbok, aku nungguin Vicky dulu. Nanti kasihan kalau dia harus makan sendirian." jawab Sari.
"Yaudah, kalau gitu mbok kembali ke dalam ya non. Nanti kalau mau makan, bilang aja sama mbok, biar makanannya bisa mbok panasin." ucap mbok Darmi.
"Mbok sama mamang makan duluan aja dan, nanti abis makan mbok sama Mamang udah boleh pulang ke belakang. Soal makanannya Ai juga bisa kok manasinnya." kata Sari.
"Baiklah non, kalau gitu." Mbok darmi berlalu meninggalkan Sari yang masih setia duduk di kursi yang ada di teras.
Entah kenapa perasaannya merasa nggak tenang, pikirannya selalu saja tertuju pada Vicky.
"Apa terjadi sesuatu ya sama dia? Kok perasaan gue nggak enak gini. Kayak ada masalah besar yang akan terjadi."ujar Sari.
"Udah pukul 10 malam, tapi Vicky belum juga pulang? Kenapa ya?" gumam Sari makin khawatir.
Sari kembali ke kamarnya dan mengambil ponsel, menghubungi nomor suaminya itu,
"Kok nggak di angkat? Padahal aktif dan terhubung." Sari menatap layar ponselnya heran.
___
Sari sedang berusaha menghubungi Vicky berkali - kali. Namun, Vicky tetap saja tidak mengangkatnya.
Kala itu mbok Darmi kembali ke rumah majikannya, dan melihat Sari yang sedang duduk menangis di ruang tamu, ia pun menghampiri sang suami yang sedang tertidur di kamarnya.
"Kang... Kang.." teriak mbok Darmi
"Ada apa, kamu teriak gitu? Tidak bisakah kamu membangunkan suamimu dengan baik - baik" omel mang ujang yang kaget mendengar teriakan sang istri.
"Maaf , kang. Itu tadi aku lihat non Sari sedang menangis di ruang tamu." ucap Mbok Darmi
"Apa dia sedang berantem dengan , den Vicky?" tanya mbok darmi.
"Sudah biarkan saja, kita nggak boleh ikut campur persoalan rumah tangga mereka." kata mang ujang, kembali memejamkan matanya.
"Aish, dasar laki - laki nggak ada yang peka sedikit pun sama peraaan wanita, egois." gerutu Mbok darmi beranjak dan menghampiri Sari.
__ADS_1
"Non Sari, kenapa?" tanya mbok Darmi , Sari cepat - cepat menghapus air matanya.
"Tidak apa - apa, mbok.."saut Sari mencoba tersenyum.
"Nona ayo kita duduk di ruang keluarga saja dan itu pintunya juga kenapa tidak nona tutup, angin malam tidak baik buat kesehatan nona." kata mbok Darmi berjalan ke pintu kemudian menutupnya. Lalu mengajak Sari untuk duduk di ruang keluarga yang sedikit lebih hangat.
"Mbok, aku mau keluar sebentar." ucap Sari.
"Nona, ini sudah malam lebih baik sekarang nona di rumah saja." pinta mbok Darmi.
"Maaf kalau mbok terlalu ikut campur... Apa nona sedang bertengkar dengan Den Vicky?" tanya mbok Darmi, sari menggeleng.
"Nggak ada mbok aku juga bingung, entah kenapa Vicky sampai seperti ini, Selama ini dia nggak pernah pulang sampai selarut ini."jawab Sari yang kembali menangis.
Mbok Darmi merengkuh tubuh lemah nonanya itu, ia tau bagai mana perasaan nona kecilnya itu.
"Nona jangan nangis, nanti Den Vicky pasti akan pulang. Mungkin dia punya urusan yang mendesak dan tidak sempat buat mengabari nona." kata Mbok Darmi menasehati Sari.
"Aku takut mbok.. Aku takut terjadi sesuatu sama dia." ucap sari dengan sesegukan.
"doain aja semua baik - baik saja non, percaya sama mbok, semuannya pasti akan baik - baik saja. Sekarang mending nona masuk ke kamar dan tidur." pinta mbok Darmi.
"Tapi, mbok aku khawatir banget sama dia.." kata Sari.
"Non,mau bagaimana pun, non juga nggak bisa berbuat apa - apa. Mending sekarang non tidur dan istirahat. Kalau besok Den Vicky belum juga pulang, nanti kita suruh mamang dan parah detektif mencari keberadaannya."kata mbok Dari.
Sari masih diam tak bergeming, entah kenapa perasaannya tidak tenang.
"Non, ayo mbok antar ke kamar ya." Mbok Darmi menuntuk Sari menuju kamar. Di depan pintu kamar Mbok Darmi kebambali menasehat Sari.
"Bukannya mbok mau ikut campur ya non. Tapi pesan mbok, kalau ada masalah tolong selesaikan lah dengan tenang dan kepala dingin." ujarnya.
"Iya mbok, makasih ya mbok." ucap Sari, masuk ke dalam kamar.
Sari duduk di tepi tempat tidur sambil menatap layar ponselnya berharap Vicky akan mengiriminya pesan.
"Lo , kemana sih, ******. Susahin gue aja. "gumam Sari.
"Dari dulu sampai sekarang elu, selalu saja nyusahin gue" ucapnya lagi.
"Lo kemana sih,? Gue harus nanyain lo kemana? Gue nggak ada kontak temannya." Sari merutiki kebodohannya yang tidak memiliki kontak teman seangkatannya.
__ADS_1
Sari menghela nafasnya, ia memilih untuk tidur dengan harapan dia akan melihat wajah tampan suaminya saat bangun nanti.
...****************...