Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 26


__ADS_3

‘Siapa dia? Gak mungkin Feri kan?’ batin Yesica ketakutan kalau sampai yang memeluknya adalah Kakak tirinya, ia mencoba meraba tangannya kali saja ia mengenali pemilik tangan tersebut.


“Ini aku, tak perlu takut,” bisik seseorang yang ternyata Devano ditelinga Yesica, sejenak Yesica merasa tenang kembali dan melanjutkan tidurnya dengan lelap.


* * *


Sore hari setelah kembali dari rumah milik keluarga Yesica, Kris langsung melaporkan kalau Yesica ingin bermalam dengan sahabatnya.


“Tuan, Nona Yesica malam ini berencana untuk bermalam di rumah milik orang tuanya bersama dengan sahabatnya yang bekerja di Bar Tuan Lucas,” lapor Kris.


“Hm, biarkan saja. Malam ini aku akan menemaninya di sana,” sahut Devano tanpa menoleh pada lawan bicaranya karena ia sedang sibuk dengan laporannya.


Malam hari setelah pulang dari kantor, Devano langsung menuju rumah Yesica. Sampai di halaman rumah ia melihat rumah sudah dalam keadaan gelap yang menandakan penghuninya mungkin sudah tidur karena jam juga sudah menandakan pukul dua belas malam, Devano harus lembur karena menuju akhir bulan. Kalau biasanya ia akan menginap dikantor, kini ia memiliki alasan untuk pulang.


“Kamu tunggu teman gadis itu pulang, nanti suruh dia untuk tidur dikamar lain,” titah Devano setelah mereka berada di dalam rumah sebelum ia menuju kamar Yesica.


“Baik, Tuan muda.” Kris menunggu di sofa dengan mengerjakan pekerjaan yang masih ada, tak lama terdengar sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah.


“Kamu bisa tidur dikamar lain karena Tuan sedang bersama dengan Nona,” titah Kris pada Vivi.


* * *


Setelah selesai mengganti pakaiannya, Vivi berniat untuk pulang. Di depan Bar ia menunggu taksi yang lewat tapi tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depannya membuat ia terkejut. Kaca mobil perlahan turun dan nampak wajah sang bos tampan yang selalu dikejar oleh seniornya.


“Ayu saya antar pulang,” ajak Lucas.


“Tapi takut merepotkan Anda, Tuan,” sahutnya ingin menolak.


“Enggak kok, buat teman mengobrol, saya suka bosan sendiri.” Lucas sudah membuka pintu mobilnya dari dalam membuat Vivi sangat sulit untuk menolaknya.


“Baiklah kalau begitu, saya minta tolong yah, Tuan.” Vivi masuk ke dalam mobil tersebut dengan perasaan tak enaknya, Lucas yang memang menyukai Vivi tersenyum senang karena ajakannya tak ditolak.


“Jangan panggil saya Tuan, panggil Lucas saja di luar jam kerja,” pinta Lucas.

__ADS_1


“Maaf Tuan, saya tak berani. Biar bagaimanapun saya adalah karyawan Anda,” kali ini Vivi menolaknya karena menurutnya tak sopan meski di luar jam kerja.


“Jangan bicara terlalu formal padaku saat di luar jam kerja, anggap kita teman jadi tak perlu sungkan dan merasa tak enak. Toh aku yang memintanya bukan kamu yang berinisiatif, jadi panggil saja aku Lucas,” lagi Lucas meminta Vivi untuk memanggil namanya.


“Bagaimana kalau saya panggil Mas saja biar terdengar lebih sopan, lagi pula umur kita kan memang berbeda sedikit jauh.” Vivi mengusulkan panggilan yang lebih sopan.


“Baiklah, terserah kau saja, yang penting jangan bicara formal padaku saat di luar jam kerja, oke.” Lucas menyetujui usulan Vivi.


“BTW alamat rumah kamu di mana?” tanya Lucas berpura-pura tak tahu padahal ia sudah tahu di mana Vivi tinggal.


“Aku gak pulang ke rumah, Mas. Antar aku ke jalan Cempaka saja, rumah Yesica. Aku bermalam di sana dengannya,” sahut Vivi memberitahu ke mana dia akan diantar.


“Baiklah.”


Mobil melaju menuju tempat yang diminta oleh Vivi, hening selama perjalanan karena tak ada bahan pembicaraan hingga akhirnya mobil berhenti di depan rumah sederhana tapi terlihat begitu asri.


‘Mengapa ada mobil Vano di sini?’ batin Lucas bertanya-tanya.


‘Mobil siapa ini?’ Vivi pun ikut bertanya-tanya dalam hatinya dan melihat pada Lucas dengan raut wajah yang penuh tanya penasaran.


“Tuan muda akan menikahi Yesica kan, Tuan, eh Mas maksudku,” sambar Vivi sebelum Lucas menyelesaikan kalimatnya.


‘Hadeh, kenapa pakai gerogi gini sih pas nyebut nama si Bos,’ batin Vivi yang gugup.


“Oh kamu sudah tahu rupanya. Kalau begitu aku tak perlu menyembunyikannya lagi. Tapi kamu setuju dengan hal itu kan? Kamu mendukung sahabatmu kan? Vano bukan orang brengsek kok, dia tak akan mengambil keuntungan sebelum sah jadi miliknya,” ucap Lucas panjang lebar.


“Anda tenang saja, Mas. Aku setuju kok kalau buat kebahagiaan sahabatku. Ya sudah aku masuk dulu yah, mau istirahat, cape banget,” pamit Vivi.


“Eh tunggu, aku ikut. Jika ada Vano pasti akan ada asisten gunung es, aku takut dia bicara yang tak enak didengar olehmu, jadi aku bisa membelamu dan mengatakan kalau kamu adalah sahabatnya,” cegah Lucas.


“Saya sudah ketemu sama Tuan Kris kok, Mas. Dan dia juga sudah tahu kalau aku sahabatnya. Kalau Mas mau ikut yah ayu, bisa ngobrol juga sama Tuan Kria,” sahutnya mengajak.


Keduanya pun masuk melalui pintu samping karena Vivi mempunyai kunci pintu samping.

__ADS_1


Sampainya di dalam rumah, keduanya disambut oleh Kris yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


“Malam, Tuan Kris,” sapa Vivi, Kris menghentikannya dan menoleh pada suara yang menyapanya, ia melihat sinis pada Lucas yang ikut pulang bersama dengan Vivi.


“Cih, mengapa kau bawa pria ini?” tanyanya dingin.


“Maaf, Mas Lucas mengantarku pulang, saat tahu ada mobil Tuan Vano terparkir Mas Lucas berencana untuk menyapa Anda karena tahu pasti Anda juga berada di dalam,” sahut Vivi dengan formal.


“Cih, alasan saja dia tuh,” dengusnya membuat Vivi serba salah.


“Kamu jangan begitu dong, Kris. Biar bagaimanapun kita kan masih sohib.” Lucas merangkul kan tangannya pada pundak Kris dan Kris mencoba menyingkirkannya.


“Sejak kapan kita sohib. Singkirkan tangan Anda dari saya, Tuan Lucas,” pintanya dengan sinis.


“Baiklah.” Lucas akhirnya menyingkirkan tangannya dari pundak asisten sahabatnya itu.


“Kamu bisa tidur dikamar lain karena Tuan sedang bersama dengan Nona,” titah Kris pada Vivi.


“Baiklah kalau begitu, saya pergi istirahat dulu, selamat malam Tuan Kris, malam Mas Lucas,” pamitnya.


“Malam.” Lucas melambaikan tangannya hingga Vivi tak terlihat lagi.


“Kalian saat jatuh cinta jelek sekali, persis seperti orang bo*oh,” ketus Kris dan Lucas hanya terkekek, ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang.


“Apakah kau akan bermalam di sini juga?” tanyanya lagi dengan ketus.


“Bukankah tak perlu aku untuk menjawabnya, Tuan gunung es,” sahut Lucas tanpa membuka matanya yang terpejam.


“Cih.” Kris hanya berdecih.


* * *


Di dalam kamar Devano langsung melepaskan pakaiannya, ia hanya mengenakan celana kolor saja karena suda terbiasa. Ia langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan masuk dalam selimut yang digunakan oleh Yesica sambil memeluk tubuh kecil yang tidur membelakanginya. Yesica yang merasakan dirinya sesak karena dipeluk oleh Devano langsung meraba tangan kekar berbulu tersebut.

__ADS_1


“Ini aku, tak perlu takut.”


__ADS_2