
Di depan pintu apartemen Chelsea, Kris mencoba menekan kode pintu dengan tanggal ulang tahun wanita yang berada dalam gendongannya itu. Dengan susah payah tanpa menurunkan Chelsea akhirnya pintu berhasil terbuka.
“Ternyata kodenya masih sama,” gumam Kris, ia pun masuk dan berjalan menuju kamarnya.
Kris meletakan tubuh Chelsea perlahan agar tak membangunkannya, ia berjongkok di samping tempat tidur dan menatap dalam wajah cantik wanita yang selama ini ia cintai dalam diam itu. Tangannya mengusap wajah putih mulus tanpa noda seperti pantat bayi itu, bibirnya tersenyum tipis, sangat tipis hingga tak ada orang yang bisa menyadarinya. Cukup puas Kris bangkit dan hendak pulang, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena Chelsea memegang tangannya.
“Mengapa pergi? Tidakkah kau ingin menemaniku di sini?” tanyanya seraya bangkit dari pembaringannya. “Auw,” pekiknya memegang kepalanya yang terasa pusing.
Kris menoleh padanya. “Istirahatlah, aku akan pulang,” ucap Kris dengan nada dingin, ia tak ingin menunjukkan perasaannya pada Chelsea karena Kris tak ingin orang lain mengasihaninya yang mencintai wanita yang tak mencintai dirinya melainkan sahabatnya.
“Temani aku, bantu aku melupakannya, apakah kau mau?” pintanya bertanya penuh harap.
“Maaf, Chel. Aku tahu kalau kamu mengetahui bagaimana perasaanku padamu kan. Jika aku terus berada di sini, aku takut tak bisa menahan diriku. Aku tak ingin menyakitimu.” Kris melepaskan tangan Chelsea yang memegang tangannya dengan lembut.
Chelsea bangkit dan berdiri mensejajarkan Kris. “Memangnya mengapa kalau aku tahu? Aku memang menyukai Lucas, tapi jika kamu mengatakan perasaanmu sejak dulu padaku dan kau mau berusaha sedikit keras mungkin aku akan luluh dan menerimamu, aku juga tak perlu merasakan rasa sakit yang membuatku rasanya ingin ma*i ini.” Chelsea mengusap wajah Kris dan menatapnya lekat.
“Stop, Chel. Aku pria normal, jangan kau goda aku atau aku tak akan bisa mengontrol diriku lagi. Aku tak ingin menyakitimu, aku tak ingin saat kau sadar dari mabukmu dan membuka matamu esok kau akan menangis dan menyesali perbuatanmu lalu menyalahkanku dan membenciku.” Kris memegang tangan Chelsea yang mengusap wajahnya, ia tak ingin terpancing oleh wanita di depannya karena sedang dalam keadaan mabuk. Chelsea malah meletakkan kepalanya didada bidang Kris dan tangan satu lagi mengusap dada bidang tersebut sambil melukis bulatan-bulatan kecil membuat Kris meremang dengan sentuhan itu.
“Aku sudah sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol yang tak seberapa itu.” Chelsea mendongakkan wajahnya dan tersenyum manis membuat Kris tak bisa menolak pesonanya.
“Jangan menyesal dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.” Kris menangkup wajah Chelsea dan memagut bibirnya lembut, Chelsea melingkarkan tangannya di pinggang Kris, ciuman mereka sungguh sangat panas dan bergairah hingga tanpa sadar keduanya sudah dalam keadaan polos dan berada di atas tempat tidur, Kris siap untuk membobol gawang Chelsea.
__ADS_1
“Aku tanya sekali lagi, apakah kau akan menyesali apa yang akan kita lakukan ini? Apakah kau akan menyalahkanku dan membenciku pada akhirnya karena mengambilnya darimu?” tanya Kris kembali ingin memastikan jawaban dari Chelsea.
“Jahat sekali kau berhenti di saat aku baru menikmatinya, apakah kau seorang pengecut yang bahkan tak berani membuatku merasakan nik*at? Sudahlah jika kau tak ingin melanjutkannya, aku akan mencari seorang gigolo saja.” Chelsea hendak bangun tapi Kris malah menyerangnya dengan ciuman panas membara, Chelsea melingkarkan tangannya di leher Kris.
“Aku akan melakukan apa yang kuinginkan, jangan menyesalinya karna saat kau menyesalinya maka itu sudah terlambat, kau sudah menjadi milikku.” Kris melanjutkan apa yang tertunda, ia mulai memasukkan junior ke dalam milik Chelsea yang masih sempit.
Beberapa dorongan berhasil menerobos pertahanan Chelsea, wanita itu tersenyum seakan penuh kemenangan padahal sesuatu yang berharga miliknya tengah direnggut oleh pria yang tak ia cintai sama sekali. Kris terdiam sejenak agar Chelsea bisa menetralisir rasa perihnya, beberapa detik kemudian ia mulai memaju mundurkan bok*ngnya ke depan dan ke belakang, memompanya dengan perlahan tapi pasti membuat wanita cantik itu sesekali mengeluarkan suara yang indah membuat Kris bersemangat dengan permainannya.
Desa*an keduanya saling bersahutan, peluh mereka bercampur menjadi satu padahal AC dikamar tersebut menyala tapi tak mampu menjamin keduanya untuk tak berpeluh. Beberapa gaya mereka coba meski Chelsea baru saja dibobol, ia sungguh menikm*ti permainan dengan Kris tersebut. Hingga pada akhirnya keduanya mencapai ******* yang belum pernah keduanya rasakan, keduanya menger*ng nik*at saat cairan panas menyembur dengan begitu derasnya, tubuh Kris ambruk sambil memeluk Chelsea, keduanya terlelap bersama setelah Kris menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
Jam lima pagi Kris sudah membuka matanya, pikirannya berkelana mengingat apa yang terjadi semalam, ia melihat Chelsea tidur begitu lelap alam pelukannya membuatnya tersenyum. Wajah cantik itu membuat semangat Kris membara, ia menyibakkan rambut yang menutupi wajah cantik wanita yang tengah terlelap itu.
“Bukankah kau mencintaiku?” Chelsea membuka matanya lebar menatap wajah tampan Kris yang selalu dingin.
“Aku memang mencintaimu, tapi aku bukan pria yang kau cintai dan kau harapkan.”
“Cih, kaku sekali wajahmu saat bicara dengan wanita yang kau cintai,” dengus Chelsea. Ia bangun dan mendorong tubuh Kris lalu menaikinya.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Kris datar.
“Melakukan hal yang semalam kita lakukan, mau apa lagi.” Chelsea memasukkan junior milik Kris yang memang sudah menegang sejak tadi ke miliknya, ia bergoyang perlahan karena masih sedikit perih dan nyeri. Jika biasanya wanita yang baru dibobol gawangnya akan merengek saat bangun pagi, lain halnya dengan Chelsea, wanita terhormat yang liar dan nakal tapi masih bisa menjaga miliknya hingga kini berhasil didapatkan oleh Kris.
__ADS_1
“Dasar wanita liar yang nakal,” protes Kris mengatai Chelsea liar dan juga nakal, yang dikatai dikatai tak menghiraukannya karena ia sedang menikmati permainan yang dipimpin olehnya. Tak mau kalah, Kris bangkit setengah bangun dan meraih teletubies yang bergoyang seakan ingin disentuh. Pagi itu keduanya olah raga pagi membakar lemak dalam kenikm*tan dan berlanjut hingga dikamar mandi saat keduanya mandi bersama.
“Mau sarapan bersama?” tanya Kris yang sedang mengenakan pakaian kerjanya, ia sebelumnya sudah menghubungi anak buahnya untuk membawakan set pakaian kerja untuknya.
“Tidak, tapi malam ini aku ingin kau makan malam denganku dan menemaniku tidur. Aku tak ingin tidur sendiri,” sahutnya manja.
Kris yang gemas dengan Chelsea mengecup bibir tipis yang sedang manyun itu dan mengusap pipi wanita cantik yang sebenarnya manja itu.
“Akan kuusahakan, tapi aku tak bisa janji untuk makan malamnya. Namun, jika kau mau menungguku hingga aku selesai bekerja, aku akan membawakanmu makanan yang kau inginkan,” ucapnya lembut, belum pernah ia berucap selembut ini sebelumnya, dan ini perdana dirinya berkata lembut dan itu pun hanya dengan Chelsea dan di depan Chelsea pula.
“Baiklah, aku akan menunggumu. Kabari aku jika kau selesai kerja, takutnya aku masih di butik,” sahutnya pasrah.
“Jangan bekerja terlalu lelah,” pesan Kris.
“Jika aku tak bekerja keras, siapa yang akan membiayai hidupku?” dengan asal Chelsea menyeletuk.
“Aku yang akan menjamin hidupmu mulai saat ini asal kau menurut padaku. Butik jadikan hobimu saja, selebihnya jika ingin sesuatu katakan padaku,” dengan tegas Kris berucap membuat Yesica terkejut.
“Huh, pandai sekali kau bicara. Memang siapa dirimu hingga ingin menanggung hidupku.” Chelsea mencoba tak menanggapi serius ucapan Kris, ia ingin mengetahui sampai mana Kris akan serius. Ia sudah menyerah akan cintanya, ia hanya akan menerima pria yang mencintainya saja dari pada mengejar cintanya.
Kris mendekatkan wajahnya pada wajah Chelsea, jari jempolnya mengusap bibir bawah Chelsea. “Kau adalah wanitaku mulai saat ini, jadi jangan berpikir untuk bisa lari dariku atau aku akan mengikatmu.”
__ADS_1