Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 40


__ADS_3

Lidah Luna kelu, ia bingung harus menjawab apa.


“Kamu sebenarnya suka sama Kak Riyan kan, Lun? Makanya kamu selalu mencari kesempatan untuk mengajak Kak Riyan dengan dalih Yesica sebagai alasannya. Kamu tak pernah merasakan kehidupan seperti kami yang harus membanting tulang hanya demi ingin melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi dan untuk sekedar makan. Kamu tak pernah merasakan rasanya dipandang rendah dengan orang yang sederajat denganmu. Aku dan Yesica selalu merasakan hal itu jika bertemu dengan mereka yang statusnya lebih tinggi dari kami. Maka dari itu kami tak ingin ikut bergabung dalam kumpulan anak-anak orang mampu karena kami tahu posisi kami. Aku harap kamu tak mengulangi hal ini lagi, Lun. Jika kamu memang menyukai Kak Riyan, maka kejarlah dia dengan kemampuanmu.” Vivi beranjak pergi, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena perkataan Luna.


“Yah , aku memang menyukainya dari dulu. Tapi aku tahu Kak Riyan menyukai Yesica dan sebaliknya. Aku hanya akan puas melihatnya bahagia saja, itu sudah cukup. Maka dari itu aku ingin membantunya untuk kembali dekat dengan Yesica. Apa itu salah?” tanya Luna masih tetap pada egonya.


Vivi membalikkan tubuhnya menatap sejenak gadis yang selama beberapa tahun ini menjadi sahabatnya dan Yesica. “Salah, jelas salah. Orang tua Kak Riyan tak menyukai Yesica. Apakah kamu mau melihat Yesica menderita dan terluka karena ke tidak sukaan mereka pada Yesica? Apakah itu yang kamu inginkah? Melihatnya terluka dan menderita karena pandangan tak suka orang tua Kak Riyan padanya dan pada akhirnya kamu akan tertawa dia akhir kisah cinta mereka yang harus berakhir dengan luka dan air mata serta kekecewaan lalu kau akan masuk untuk menghibur Kak Riyan yang terpuruk dan pada akhirnya kamu yang akan menjadi pemenang sebenarnya? Jangan munafik Lun jadi orang, tak ada yang namanya suka tapi rela melihatnya bahagia dengan orang lain.” Kali ini Vivi benar-benar pergi meninggalkan Luna yang berdiri mencerna ucapan temannya itu.


Ada rasa sakit dalam hatinya kala Vivi mengatakan hal itu, tapi ia mengakui kalau yang dikatakan Vivi tang semuanya salah.


***


“Lama sekali, abih ngapain ajah?” tanya Yesica saat Vivi baru datang.


“Tidak, hanya mengatakan beberapa kata saja pada Luna agar mengerti,” sahut Vivi menutupi yang sebenarnya dari sahabatnya itu, ia tak ingin Yesica memikirkan yang tidak-tidak.


Kelas dimulai, Yesica dan Vivi melewati kelas dengan sedikit tak bersemangat karena hal kecil yang terjadi di kantin tadi.


“Jadi, kita jadi tidak ke Cafenya?” tanya Yesica setelah kelas berakhir.

__ADS_1


“Sepertinya kita berdua saja deh, Luna kayaknya tak ikut,” sahut Vivi.


“Kenapa?” tanya Yesica bingung, ia merasa sahabatnya itu menutupi sesuatu dari dirinya.


“Entah, coba saja kita tunggu, apakah dia akan ikut atau tidak. Oh iya, kamu dijemput sama Tuan muda atau kita naik taksi saja?” tanya Vivi ingin mengalihkan pembicaraan sambil sedikit sibuk mengemas bukunya agar tak terlihat gugup kala menyembunyikan apa yang telah ia dan Luna bicarakan.


“Entah, kita lihat saja nanti siapa yang menjemputku. Tapi sepertinya yang jemput Kris deh,” sahut Yesica yang juga tak mau membahas tentang apa yang disembunyikan oleh sahabatnya itu, baginya jika tak ingin diberitahu maka ia tak akan mengoreknya lagi karena siapa tahu saja itu privasi dan tak bisa dikatakan pada orang lain.


“Sudah yuk ah kita cus OTW.” Vivi yang sudah selesai langsung memakai tas gendongnya yang sederhana, meski keduanya anak kuliahan tapi penampilan mereka sederhana tak yang berlebihan karena faktor ekonomi yang membuat mereka bergaya seperti itu. Sebenarnya sekarang jika keduanya ingin mereka bisa bergaya layaknya orang yang berduit mengingat siapa dua pria yang berada di belakang mereka.


“Ayu.”


Keduanya keluar dari kelas menuju luar kampus dengan berjalan santai, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti kala sudah berada di gerbang kampus karena melihat seseorang yang tak ingin ditemuinya. Vivi yang juga melihat hal itu menjadi geram dengan Luna. Ia menggandeng tangan Yesica agar mengikutinya jalan dan supaya langkahnya tak terhenti kala Riyan memanggilnya.


“Kamu tenang saja, suamiku lebih baik 1000X darinya jadi aku tak akan terpengaruh dengan apa yang dikatakannya.” Yesica mengikuti langkah kaki Vivi hingga melewati Riyan dan Luna.


“Yes,” panggil Riyan tapi Yesica tak berhenti dan juga tak menoleh, ia mengeraskan hatinya agar tak goyah, ia tak ingin mengecewakan Devano.


Melihat hal itu, Luna berinisiatif untuk mengejanya, di belakang Riyan pun ikut mengejar tapi dengan berjalan biasa saja. “Yes, dengarkan dulu. Kak Riyan sudah datang ketika aku keluar kelas. Setidaknya beri dia sekali saja kesempatan untuk bicara denganmu.” Luna mengejar langkah kedua temannya, sampai di samping pintu mobil yang sudah menunggunya Yesica berbaik dan menatap Luna sebelum masuk.

__ADS_1


“Entah aku harus bicara apa padamu, Lun agar kau mengerti. Aku tak akan membuka hatiku untuk Kak Riyan sampai kapan pun. Kesempatan itu sudah pernah aku berikan pada dirinya dulu untuk memilih antara aku atau statusnya, tapi Kak Riyan lebih memilih statusnya karena ia tak bisa hidup jauh dari kedudukan orang tuanya dan tak mau berjuang denganku. Maka bagiku tak ada kesempatan untuk ketiga dan keempatnya lagi. Maafkan aku, Lun.” Yesica masuk ke dalam mobil.


“Aku kecewa sama kamu, Lun. Kupikir kau telah mengerti dengan apa yang kukatakan tadi, tapi ternyata.” Vivi menggelengkan kepalanya dan menyusul sahabatnya masuk ke dalam mobil. Mobil melaju meninggalkan Luna dan Riyan.


“Maaf yah, Kak. Aku tak bisa meyakinkan Yesica untuk bicara dengan Kak Riyan,” ucap Luna lirih kala Riyan sudah berada di hadapannya.


“Gak masalah kok, gak perlu dipikirkan. Btw, mereka mau ke mana?” sahut Riyan bertanya.


“Mereka mau kumpul di Cafe SWMC kalau gak salah,” sahutnya memberitahu ke mana keduanya akan pergi.


“Oh, baiklah. Sekali lagu makasih yah, Lun. Aku pergi dulu.” Riyan berlari menuju tempat parkir di mana motor gedenya terparkir.


“Kris, kita ke kantor saja yah,” pinta Yesica, ia mengurungkan niatnya untuk nongkrong hari ini karena sudah gak mood.


Mobil menepi di pinggir jalan sepi, pria yang duduk di kursi kemudi menoleh dan tersenyum membuat kedua gadis kecil itu terkejut.


“Hai, Nona muda. Hai, Sayang.”


“Tun Lucas!” seru Yesica.

__ADS_1


Vivi memutar bola matanya jengah dan Yesica terkejut dengan panggilan sayang pada sahabatnya itu, ia menoleh pada Vivi seakan meminta penjelasan.


“Apa?” tanya Vivi dengan senyum yang sulit diartikan.


__ADS_2