Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)

Ketika Bos Dingin Jatuh Cinta (Devano Hanoraga)
Episode 39


__ADS_3

Tepat jam tujuh pagi Yesica membuka matanya perlahan, tangan Devano masih melingkar di pinggangnya. Ia melepaskan perlahan agar tak mengganggu suaminya itu tidur.


“Mau ke mana?” pelukan Devano bukannya mengendur malah semakin erat.


“Aku mau ke kamar mandi, mau mandi dan menyiapkan sarapan untukmu. Bukankah kau akan segera kerja? Aku juga harus segera ke kampus,” ucapnya.


“Mandi bersama,” ucap Devano.


“Tapi-”


“Aku tak akan melepaskanmu jika kau tak mau mandi bersama denganku.” Devano memotong ucapan Yesica seakan mengancamnya.


“Baiklah,” akhirnya Yesica hanya bisa pasrah dan menuruti apa yang diminta suaminya itu.


Di dalam kamar mandi, keduanya bukan hanya Cuma mandi, mereka melakukan olah raga paginya di bawah shower dengan air yang mengucur membasahi tubuhnya. Dorongan demi dorongan yang dilakukan oleh Devano sukses membuat Yesica meleg*u nik*at. Hingga sampai pada puncaknya Devano memeluk tubuh polos Yesica erat dari belakang sambil tangannya mere*as teletubies milik Yesica.


Selesai mandi, keduanya sarapan pagi bersama. Kris datang membawakan makanan tepat setelah Devano dan Yesica selesai pakai baju dan siap untuk pergi ke kampus.


“Mas, sore ini sepulang kuliah apakah aku boleh nongkrong di Cafe bersama dengan kedua temanku? Aku sudah janji pada mereka kemarin,” tanya Yesica berharap suaminya itu akan mengizinkannya.

__ADS_1


"Di cafe mana?" tanya Devano ingin tahu di mana istri kecilnya itu nongkrong.


"Di Green Sky, apa boleh.” Devano langsung menoleh pada istri kecilnya itu membuat Yesica bingung dengan tingkahnya.


“Pergi ke Stay With Me Cafe saja, aku akan meminta Davina melayanimu dan teman-temanmu di sana. Kalian bisa makan gratis sepuas yang kalian mau, aku yang akan membayarnya untukmu dan teman-temanmu. Tapi ingat, jangan membawa pria bersama kalian,” titah Devano membuat mata Yesica mendelik karena ia disuruh nongkrong di Cafe ternama di kotanya, cafe terkenal dengan makanan enaknya dan juga tempatnya yang kini sungguh sangat estetik dan juga mewah.


“Apakah tidak terlalu mewah untuk kami yang hanya seorang pelajar saja?” tanya Yesica lirih.


“Tidak, kamu istriku, jadi kamu pantas makan dan kumpul di cafe seperti itu. Bawa beberapa temanmu untuk bersenang-senang. Jangan takut masalah biaya, asalkan kamu happy maka itu sudah cukup. Tak ada negosiasi lagi atau aku tak akan mengizinkanmu kumpul dengan temanmu,” sahut Devano meyakinkan istri kecilnya jika ia juga pantas masuk ke dalam cafe gaul dan keren seperti itu, meski memang banyak para pelajar bahkan anak sekolah yang kumpul di cafe tersebut, tapi bagi Yesica cafe itu terlalu mewah.


“Baiklah, sampai bertemu malam nanti.” Yesica mencium bibir Devano sebelum suaminya itu protes meminta semangatnya.


“Terima kasih, Mas. Aku masuk kelas dulu.” Yesica keluar dari mobil dan melambaikan tangannya sejenak sebelum masuk ke dalam kampusnya, mobil melaju meninggalkan kampus kembali ke kantor.


Yesica langsung menuju kelasnya yang ternyata Vivi belum datang. Yesica mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada sahabatnya itu. Tapi begitu pesan terkirim Vivi malah datang membuatnya memutar bola matanya.


“Aku baru saja kirim kamu pesan malah kamu sudah sampai,” gerutu Yesica.


“Masa sih, coba aku lihat.” Vivi mengambil ponselnya dan memeriksanya ternyata benar ada pesan masuk satu menit lalu.

__ADS_1


“Vi, kita nongkrongnya di SWMC, suamiku menyuruhku kumpul di sana, dia sudah pesan tempatnya untuk kita kumpul, kita bisa makan sepuasnya asal jangan bawa teman pria atau saat itu juga pengawalnya yang mengikutiku setiap ke mana pun aku pergi akan langsung laporan ke dia.” Yesica memberitahu jika mereka tak akan kumpul di cafe tempat biasa mereka kumpul yaitu Green Sky.


“Wah keren tuh kita bisa kumpul di cafe SWMC. Btw, aku dengar katanya cafe itu punya istrinya Tuan besar Hanoraga yah, wah berarti punya mertua kamu dong. Hebat deh,” seru Vivi dengan antusias.


“Katanya sih itu sudah diwariskan ke Vina, Adik Tuan Vano. Tapi gak tahu juga sih, coba saja nanti lihat yang di cafe Vina atau Mamah,” sahut Yesica yang sudah mulai mengakui keluarga Devano sebagai keluarganya dengan mengubah sebutannya.


Kelas dimulai, Yesica dan Vivi mengikuti kelas dengan tenang hingga kelas selesai. Kini keduanya sedang berada di kantin bersama dengan Luna. Vivi mengatakan apa yang tadi Yesica bicarakan tapi menutupi kalau Devanolah yang menyiapkan tempat dan membayar semuanya, Vivi mengatakan kalau Yesica mendapatkan voucher makan di cafe milik adik majikannya.


“Yah Vi, aku rencana mau ngajak Kak Riyan. Kalau tak bisa bagaimana dong?” tanya Luna yang sebenarnya sudah mengatakan pada Riyan kalau ia akan mengajaknya, Riyan masih berharap Yesica akan membuka hatinya untuknya meski ia kecewa pada Yesica tapi ia tak bisa membohongi perasaannya kalau ia tak bisa melupakan Yesica.


“Kalau kamu mau bawa Kak Riyan aku gak ikutan deh, aku mau pulang saja. Kamu kan tahu Lun, kalau aku tak ingin Kak Riyan mendekatiku, tapi kamu malah mengajaknya untuk gabung bersama dengan kita. Aku pikir kamu mengerti apa yang aku rasakan dan aku inginkan. Aku ke kelas dulu yah, sebentar lagi kelasku dimulai.” Yesica pergi, ia tak ingin membahas masalah Riyan lebih dalam lagi karena tak ingin keceplosan jika ia sudah menikah dengan pengusaha sukses di negaranya. Bukan Yesica malu menikah dengan pria yang umurnya terpaut jauh, hanya saja ia masih sekolah dan tak ingin dicap sebagai gadis yang menjadi sugar baby om-om karena ekonomi yang mendesak.


“Kamu sih, Lun. Sudah tahu dia udah nolak Kak Riyan dan berusaha buat tak bertemu lagi, kenapa malah sekarang pakai mau bawa Kak Riyan buat ikut gabung dengan kita segala sih. Kamu gak tahu bagaimana pandangan Mamahnya Kak Riyan ke Yesica sih. Kalau kamu tahu kamu gak bakal berusaha keras buat mendekatkan mereka terus. Please Lun, mulai sekarang kalau Kak Riyan menghubungi kamu buat ketemu dengan Yesica kamu harus bisa menolaknya. Aku masuk kelas dulu, maaf kumpul kita hari ini batal. Aku mungkin akan tetap pergi ke SWMC sama Yesica kalau dia mau, kamu boleh menyusul jika sendirian tapi kalau kamu kekeh mau bawa Kak Riyan mending tak perlu datang deh,” saran Vivi.


“Maaf, tapi Vi, aku harus bagaimana dong. Aku sudah terlanjur janji sama Kak Riyan bakalan pertemuin dia sama Yesica.” Luna meminta saran dari sahabatnya itu.


“Aku tanya sama kamu, Kak Riyan tahu kita mau kumpul bareng itu kamu yang ajak atau Kak Riyan yang ngajak sebenarnya?” tanya Vivi ingin tahu yang sebenarnya dari Luna.


*******

__ADS_1


Hari ini update 3bab yah kak, jangan lupa like, komen dan kopinya biar bisa melek terus😂


__ADS_2