
Yesica terdiam sejenak, ia memang sudah mengetahui siapa pria yang dinikahinya itu, pria tampan dan pengusaha nomor satu dinegaranya yang ternyata seorang Bos mafia dari Elang Imperial, yang mana mafia paling ditakuti oleh orang dunia bawah lainnya. Namun, meski demikian, nyatanya Elang Imperial bukanlah kelompok mafia kejam yang suka menindas orang tak bersalah. Elang Imperial juga tak terhubung dengan pekerjaan kotor seperti penyelundupan narkoba, senjata ilegal atau pros*itu*i.
“Aku tahu belum lama, suamiku memberitahuku saat ia sudah siap membuka siapa dirinya padaku. Aku yakin, Tuan Lucas juga pasti akan melakukan hal yang sama saat dirinya sudah siap nanti. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, meski mereka kelompok mafia, Mas Vano bilang mereka tak terlibat dalam sesuatu yang melanggar hukum,” ucap Yesica menjawab pertanyaan Vivi, ia juga memberi pengertian pada sahabatnya itu agar tak berpikiran buruk pada Lucas yang akan membuat dirinya menyesal kemudian hari.
“Yesica benar, Vi. Meski kami kelompok mafia, tapi kami tak bekerja untuk yang melewati batas hukum. Contohnya Lucas, ia membuka Barnya sendiri untuk usahanya, dan aku menjadi desainer. Kami hanya akan menghukum orang yang sudah merugikan kamu tapi dia tak bertobat dan tak sadar diri, selebihnya kami akan berbelas kasih atas apa yang mereka lakukan jika ada alasan yang masuk akal.” Chelsea membenarkan ucapan Yesica, Vivi menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan, ia mencoba menerima kenyataan seperti kedua sahabatnya yang juga demikian.
Vivi tersenyum. “Aku akan menantikan kejujurannya, saat itu tiba, aku janji tak akan menjauh darinya, aku bahkan akan lebih mencintainya karna sudah bersedia jujur atas siapa dirinya,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
“Ah, Sayang. Aku bangga padamu, ini baru sahabatku.” Yesica memeluk Vivi erat.
“Aku salut sama kalian yang begitu memiliki hati bagai malaikat.” Chelsea juga ikut memeluk Vivi yang sedang berpelukan dengan Yesica, mereka begitu akrab dan tak memandang usia satu sama lain dalam persahabatan.
*
Menjelang sore sekitar jam lima kurang, ketiganya bergegas untuk kembali ke kediaman masing-masing. Sampainya di rumah, Yesica langsung menuju kamarnya, ia melihat suaminya tak ada di dalam kamar tersebut.
“Mungkin Mas Vano belum pulang, belakangan dia sangat sibuk. Aku akan mengirim pesan padanya dan menanyakan apakah jam makan malam dia sudah pulang atau belum.” Yesica meraih ponselnya dan mengirim pesan, tak lama Devano membalas pesannya kalau ia tak bisa pulang saat makan malam.
__ADS_1
Mengetahui hal itu, Yesica berinisiatif untuk masak dan membawakannya untuk suaminya, ia juga ingin makan malam bersama dengan suaminya itu. Yesica sibuk di dapur berkutat dengan bahan masakan. Jam enam semuanya sudah siap, Yesica juga sudah rapi dan cantik, ia siap untuk menuju kantor suaminya diantar oleh sopir yang disediakan oleh suaminya yang khusus mengantar dirinya ke mana pun pergi.
Sampainya dikantor, Yasica langsung menuju ruangan suaminya menggunakan lift khusus. Sampainya di atas, tepatnya di mana ruangan Devano berada, Yesica langsung berjalan menuju ruangan suaminya itu dengan senyum yang terkembang membayangkan ia dan suaminya makan malam bersama.
Tok... Tok... Tok...
Yesica mengetuk pintunya terlebih dulu, meski ia adalah istri dari pemilik Emerald Jewelry, tapi Yesica tak pernah berlaku seenaknya, ia tetap akan bersikap sopan dengan cara mengetuk pintu dan menunggu perintah masuk dari suaminya karena tak ingin sesuatu memalukan terjadi. Takutnya saja saat ia tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu, ternyata suaminya sedang menerima tamu penting, pasti Devano akan merasa malu sekali jika ia main masuk tanpa izin dan mengetuk pintu.
Pintu terbuka menampakkan Kris dengan wajah penuh hormat pada Yesica karena ia adalah istri dari Bos besarnya.
Yesica masuk dengan membawa paper bag yang berisi kotak makan untuk suami dan dirinya makan malam. Ia berjalan menuju sofa yang terletak tak jauh dari Devano dan yang lainnya duduk. Devano yang mengetahui kedatangan istri kecilnya langsung menoleh pada Yesica.
“Mengapa duduk di sana?” tanya Devano. “Kemarilah,” titahnya meminta Yesica untuk mendekat padanya, tanpa berucap Yesica berjalan mendekati Devano yang sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu dengan Linda dan beberapa karyawan lainnya. Saat Yesica sudah berada dekat pada suaminya, Devano menarik lembut Yesica hingga ia terduduk di pangkuannya, tentu saja hal itu membuat Yesica terkejut, dan yang lebih parahnya membuat Linda begitu kesal karena harus menyaksikan adegan mesra yang seharusnya ia yang berada diposisi itu, pikir Linda.
“Mas, malu dengan yang lainnya, lebih baik aku menunggumu dikamar istirahat saja,” ucap Yesica dengan wajah yang sudah merona, meski ia senang karena hal itu dilakukan di depan Linda, tapi ia juga malu karena ada beberapa karyawan yang melihatnya.
“Apakah kalian keberatan dengan kedatangan istriku?” tanya Devano dengan nada dingin tapi tatapan matanya tetap pada Yesica, tak teralihkan sedikit pun.
__ADS_1
Serentak mereka menggeleng. “Tidak, Tuan Vano,” sahutnya serentak.
“Mereka tak keberatan, jadi kamu tak perlu bersembunyi. Duduk yang tenang, biarkan aku selesaikan rapatnya dan kita bisa makan malam bersama,” ucap Devano meminta Yesica untuk duduk tenang.
“Lanjutkan,” titah Devano, mereka pun melanjutkan rapatnya, Linda dan Yesica sesekali bertemu pandang, Yesica sesekali menyeringai puas membuat Linda semakin kesal.
Yesica diam mendengarkan apa yang mereka diskusikan hingga tanpa sadar matanya perlahan mulai tertutup dan Yesica pun terlelap. Devano hanya bisa tersenyum melihat istri kecilnya tidur dalam pangkuannya. Linda pun semakin panas dan kesal, tangannya sudah mengepal geram, ingin sekali ia menjambak rambut panjang terurai Yesica agar menjauh dari pria pujaannya yang sangat ia dambakan itu.
'Awas saja kamu anak bau kencur, aku akan merebut Tuan Vano dari pelukanmu, Tuan Vano hanya boleh menjadi milikku,' batin Linda menatap tajam pada Yesica yang sedang terlelap dalam pelukan dan pangkuan Devano, Devano sesekali mengusap kepala Yesica lembut dan mencium pucuk kepalanya membuat Linda semakin kesal dan kesal hingga ia ingin meleny*pkan Yesica saat ini juga.
Rapat selesai, semua karyawan termasuk Linda pun pergi dari ruangan Devano.
"Kris, selanjutnya kamu selesaikan, nanti kamu tinggal mekaporkannya saja padaku," titah Devano.
"Baik, Tuan."
Devano bangkit dan berjalan menuju kamar istirahatnya, ia meletakkan tubuh mungil istri kecilnya perlahan agar tak membangunkannya. Devano kut berbaring di samping Yesica untuk mengistirahatkan tubuhnya yang memang juga sangat kelah.
__ADS_1