
Hari-hari berlalu dengan begitu cepat tanpa disadari hari pernikahan Lucas dan Vivi hanya tinggal menghitung hari lagi. Yesica selalu menemani Vivi dan Devano mengizinkan itu karena ia tahu kalau Vivi adalah sahabat terbaik istri kecilnya. Chelsea juga ikut andil dalam menemani Vivi karena baginya gadis cuek itu sudah menjadi sahabatnya meski nyatanya Vivi adalah gadis yang dicintai oleh pria yang pernah dicintainya.
“Beb, aku bawakan gaun ini untukmu, ini pilihan Lucas sendiri, kamu coba yah, agar bisa kuperbaiki jika ada yang kurang.” Chelsea yang baru saja datang ke rumah lama milik Yesica yang kini ditempati oleh Vivi langsung meminta Vivi untuk mencoba gaun pengantin yang dibawanya.
“Ish, tak adakah kebaya saja gitu yang bagian bawahnya diubah menjadi celana agar aku bebas bergerak? Gaun ini terlalu feminin membuatku tak percaya diri,” keluh Vivi yang tak biasa mengenakan pakaian atau gaun feminin.
“Ih kau itu, kamu mau nikah, buka mau lari maraton yang harus mengenakan celana. Demi hari H-mu, setidaknya kamu harus berkorban dikit. Sana sudah ganti, aku mau lihat hasilnya.” Chelsea mendorong Vivi untuk segera mengganti pakaiannya dengan gaun yang dibawanya, gadis cuek dan tomboi itu hanya bisa menurutinya, ia tak bisa mengelak lagi karena Yesica pun menyetujui apa yang dikatakan oleh Chelsea.
Vivi keluar setelah mengenakan gaun yang diberikan oleh Chelsea. “Kamu begitu cantik, Baby. Lucas pasti akan semakin tergila-gila padamu,” puji Chelsea.
“Kamu jangan menggodaku, Chel,” gerutu Vivi yang sebenarnya tak percaya diri dengan penampilannya.
“Yang dikatakan oleh Chelsea bener, Beb. Kamu cantik banget pakai gaun sepeti ini.” Yesica menimpali menyetujui ucapan Chelsea.
“Apakah tak terlihat aneh?” tanya Vivi kembali, ia benar-benar tak percaya diri.
Chelsea merangkul Vivi dengan begitu akrab, kini mereka terlihat sudah seperti sahabat dekat, padahal baru saja beberapa bulan kenal.
“Kamu terlihat sangat cantik, Beb. Percaya deh sama aku, iya kan Yes? Vivi terlihat cantik mengenakan gaun,” ucap Chelsea meyakinkan Vivi seraya bertanya pada Yesica agar Vivi percaya.
Yesica mengacungkan jempolnya. “Sip, tul pake banget. Kamu cantik banget, percaya deh sama aku.”
Vivi menghela napasnya berat, ia harus percaya pada kedua sahabatnya, lagi pula tak mungkin kedua sahabatnya akan membohonginya, biar bagaimanapun juga itu adalah acara pernikahannya, meski tak dirayakan secara mewah, tapi setidaknya untuk memberi muka pada Lucas ia harus bersedia menggunakan gaun yang menurutnya membuatnya tak percaya diri itu.
__ADS_1
“Baiklah, karena kalian yang mengatakannya, maka aku akan percaya.”
Yesica dan Chelsea tersenyum bersamaan. “Begitu dong, demi ayang harus berjuang,” ucap Chelsea, seketika wajah Vivi bersemu merah, belum pernah ia gugup sebelumnya, tapi kini saat ada yang mengatakan Lucas adalah yayangnya membuat Vivi salah tingkah.
*
Hari yang dinanti oleh Vivi dan Lucas pun tiba, hari di mana mereka akan resmi menjadi sepasang suami istri. Benar kata Devano, saat akan menghadapi hari yang begitu mendebarkan membuat Lucas tak hentinya gugup. Telapak tangannya begitu dingin dan kakinya gemetaran.
“Lu gugup, Bro?” goda Boy dengan terkekeh.
“Lu belom ngerasain, jadi bisa ngeledek gua, nanti kalo lu udah ngerasain gua bakal balik ngeledek elu,” protes Lucas yang kesal digoda oleh Lucas.
“Kalian terlihat sangat akrab sekali belakangan ini yah, Tuan Lucas dan Boy,” sindir Kris tanpa menoleh pada mereka, Devano hanya terkekeh melihat kedua sahabatnya memandang tajam pada Kris.
“Kembali kasih.” Kris hanya menjawab singkat.
“Dih, sembarangan lu kalo ngomong, suka ada benernya. Weh, tapi udah sebulan juga gua kaga celap celup ke bayak gadis, Bro. Gua punya inceran gua sendiri, gua mau perjuangin tuh wanita, Men. Dia bener-bener bikin gua kelepek-kelepek,” seru Boy diselingi curhatnya.
“Perjuangin lah, kayak gua nih dan akhirnya berhasil ngeluluhin dia buat mau merid sama gua,” ucap Lucas yang mencontohkan pada dirinya.
“Weh, selow, Men. Pelan-pelan saja yang penting pasti, gua juga belom yakin kalau jalan gua bakal semudah itu buat dapetin dia, so dia wanita malam, Bro. Sherly kayaknya mau jadiin dia primadonanya. Nanti bakal gua ceritain lagi detailnya kalau kita ngumpul di markas, gua udah ada sedikit cerita sama Vano,” sahut Boy menceritakan sedikit kegundahannya.
Selesai mereka berbincang, ijab kabul berlangsung dengan penuh ketegangan. Lucas tak berhenti gemetar, telapak tangannya semakin dingin. Apalagi kala melihat betapa cantiknya Vivi mengenakan gaun yang ia pilihkan di butik milik Chelsea, ah rasanya sudah tak sabar sekali Lucas ingin segera memiliki Vivi seutuhnya.
__ADS_1
“SAH!” seluruh orang yang menyaksikan pernikahannya berseru kata sah membuat Lucas mengulas senyumnya dengan lebar, hatinya merasa lega karena satu langkah telah ia lewati untuk memiliki Vivi, kini ia sudah berstatus sebagai suami dari Vivi.
Lucas menyematkan cincin yang telah ia persiapkannya dijari manis Vivi, terlihat begitu indah saat melingkar di tempat yang semestinya. Ia langsung memeluk erat wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.
“Akhirnya,” ungkap Lucas dengan penuh bahagianya.
“Selamat yah, Bro. Sudah sah sekarang, sudah bebas mau diapain juga.” Para sahabat satu persatu menyalami Lucas memberikan selamat padanya. Vivi sangat bahagia ternyata ia begitu diterima oleh teman-teman Lucas, padahal ia bukanlah wanita yang memiliki kedudukan.
Acara dilanjut dengan makan-makan bersama, meski tak banyak yang diundang, tapi membuat Vivi merasa bahagia karena para sahabat Lucas sangat wellcome pada dirinya. Ia sendiri pun tak mengundang satu pun teman kampusnya, hanya Yesica saja yang memang membantu dirinya dari awal sampai akhir. Bahkan Luna pun tak ia beri kabar, apalagi sejak masalah yang menyangkut Luna sering melibatkan Riyan kala mereka akan kumpul bersama, membuat Vivi suda tak respek lagi pada Luna dan enggan untuk menyapanya.
“Selamat yah, Beb. Akhirnya kamu sah juga, dan kita semua sudah berstatus sebagai istri.” Chelsea dan Yesica menghampiri Vivi dan memberinya selamat.
“Makasih banget yah, semua ini berkat kalian. Jika kalian tak membantuku, maka aku tak berada di tempat ini saat ini.” Vivi memeluk dua sahabatnya yang sudah banyak membantunya hingga ia berada dititik saat ini.
“Sama-sama, bukankah kita sahabat? Sahabat harus saling membantu saat sahabat lainnya membutuhkan bukan?” seru Chelsea, mereka mengurai pelukannya.
“Benar kata Chelsea, kita adalah sahabat, dan sahabat sudah sepantasnya saling membantu sahabat lainnya.” Yesica menimpali, ketiganya asyik mengobrol hingga acara selesai dan mereka berpamitan pada pemilik acara.
*********
Maaf yah lama tak update, soalnya sibuk menyabut hari raya😁
Minal aidzin wal faidzin yah, Isti Shaburu mengucapkan maaf lahir bathin jika selama ini banyak salah kata saat membalas komentar kalian🙏😊
__ADS_1