
Setelah makan malam, Yesica menemani suaminya lembur dengan begitu setianya hingga tanpa sadar ia sudah tertidur di sofa sambil kepalanya bersandar pada bahu Devano. Sekitar sebelas malam pekerjaan Devano sudah selesai, ia meminta Kris untuk kembali ke apartemennya.
“Kau pulanglah, ini sudah larut, kasihan Chelsea harus menunggumu,” titah Devano.
“Kalau begitu saya akan pulang, Tuan. Pagi nanti saya akan datang membawa sarapan untuk Anda berdua. Dan juga, mungkin pagi-pagi sekali ketua divisi desain akan menyerahkan dokumen untuk rapat esok pagi, Tuan,” pamit Kris seraya memberitahu kalau dokumen desain yang diperlukan untuk rapat esok akan diserahkan pagi-pagi sekali.
“Baiklah kalau begitu, kau tak perlu datang terlalu pagi, lagi pula aku dan istriku bermalam di sini dan juga kita akan mulai rapat sekitar jam sembilan, jadi tak perlu terburu-buru, biar nanti aku yang akan memeriksa dokumen yang dikirim dari divisi desain,” sahut Devano, Kris yang mengerti langsung pulang dan Devano menggendong tubuh mungil istri kecilnya itu menuju kamar istirahatnya.
“Kamu pasti lelah sekali menghadapi wanita-wanita menyebalkan di divisimu itu, tapi aku bangga karena kamu dengan berani menolak perintah orang dan bersikap layaknya istri dari Tuan muda Hanoraga,” gumam Devano dengan senyum sambil menatap wajah polos istri kecilnya itu. Ia meletakkan tubuh itu dengan perlahan agar tak membangunkannya.
“Tidurlah yang lelap, aku akan menemanimu setelah mandi.” Devano mengecup pucuk kepala Yesica lalu beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah segar ia membaringkan tubuhnya di samping sang istri dan memeluknya erat, matanya langsung terlelap setelah menghirup aroma menenangkan dari tubuh istri kecilnya itu, aroma yang membuatnya candu dan ingin selalu bersama dengannya.
*
Esok paginya, Devano yang selesai mandi langsung sibuk di depan laptopnya meski masih mengenakan jubah mandi. Yesica yang baru selesai mandi dan juga masih mengenakan jubah mandi datang membawa segelas kopi untuk menemani suaminya itu.
“Sambil menunggu Kris datang membawa sarapan, kita makan ini dulu yah.” Yesica meletakkan secangkir kopi dan biskuit yang selalu tersedia di dalam kamar istirahat. Devano sengaja meminta Kris untuk membelikan banyak makanan aga saat ia dan Yesica menginap karena harus lembur, istri kecilnya itu memiliki makanan untuk menemaninya menonton drama kesukaannya.
__ADS_1
Devano bangkit dari kursi kebesarannya dan mengangkat tubuh Yesica, ia berjalan menuju sofa dan duduk sambil memangkunya.
“Aku ingin sarapan kamu.” Devano memagut bibir sang istri dengan lembut sambil tangan satunya sudah menyelusup ke dalam jubah mandinya, ia menyentuh benda kenyal yang menjadi kesukaannya dan memainkan ujungnya dengan jarinya membuat Yesica meleg*h nik*at.
Yesica hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya itu, toh ini juga belum jam masuk kerja meski dilantai bawah mungkin sudah ada beberapa pegawai cleaning service yang datang untuk bersih-bersih tapi mereka tak akan berani untuk datang ke ruangan Devano tanpa diminta oleh Kris.
Saat mereka sedang bercumbu hangat dan penuh gai*ah dengan jubah Yesica yang sudah berantakan karena saat ini posisi Devano sedang meny*su padanya meski ia masih berada dalam pangkuan suaminya itu, tiba-tiba saja pintu dibuka oleh seorang wanita yang tak lain adalah Linda.
“Ah!” pekik Linda yang terkejut melihat adegan panas Bosnya dengan wanita yang menjadi bawahannya di divisinya sampai ia menjatuhkan dokumen yang hendak diberikan olehnya, Devano menatap pada Linda dengan tatapan kesalnya, sedangkan Yesica hanya menyeringai jelas sekali terlihat oleh Linda sehingga membuat Linda kesal.
“Keluar,” ucap Devano dengan tatapan dan nada dinginnya.
“Apakah kau kesal dengan pengganggu yang baru saja datang?” Yesica mengusap dada bidang Devano untuk memancing suaminya agar tak marah lagi. “Ada aku di sini, kenapa kamu harus kesal,” sambungnya meletakkan kepalanya didada bidang yang sudah terbuka itu, Yesica memainkan ujung milik Devano yang sempat mengeras tapi menjadi lembek kembali karena kedatangan pengganggu, Devano memegang tangan istri kecilnya itu yang sudah mulai usil.
“Mana mungkin aku kesal saat ada obatnya di dekatku ini.” Devano kembali memagut bibir istrinya dengan lembut, ia bangkit dan berjalan menuju kamar tanpa melepas pagutan mereka.
Di dalam kamar, mereka melanjutkan adegan yang lebih bergai*ah lagi, adegan yang panas yang membuat keduanya sampai berkeringat meski AC di dalam kamar tersebut menyala.
__ADS_1
“Ah... Vano...,” des*h Yesica memanggil nama Devano dengan begitu seksinya, Devano yang sedang menggoyangkan pinggulnya mem*mpa milik Yesica menjadi begitu bersemangat dan penuh gair*h yang menggebu.
“Yes Baby, aku mau keluar... Ah... Ssshh,” des*h Devano meracau kala mendekati puncaknya.
Er*ngan panjang bersama memenuh kamar tersebut menandakan kalau mereka mencapai puncaknya bersama, tubuh Devano ambruk seketika di samping Yesica dengan memeluk tubuh polos istri kecilnya itu, tangannya masih memainkan ujung milik Yesica yang mulai mengkerut.
“Cepatlah tumbuh di dalam perut Mommy yah, Sayang. Daddy sudah tak sabar ingin memantau pertumbuhan kamu.” Devano mengusap perut rata Yesica setelah puas memilin ujung yang sudah lemas itu.
“Dia akan segera hadir, kita hanya perlu bersabar saja,” ucap Yesica memegang tangan suaminya yang masih mengusap perutnya.
“Semoga saja, aku sudah tak sabar ingin memilikinya darimu.”
*****
Maaf kemarin gak update yah, karena anak aku sakit🙏
Tapi hari ini aku kasih 2bab kok, jangan lupa like dan komennya yah, jika berkenan kasih hadiah dan vote juga
__ADS_1
Bintang 5 akan sangat membantu aku🙏😊