
“Van, istrimu tak apa, dia hanya pendarahan saja, mungkin efek emosi yang tak stabil membuatnya kontraksi pada kandungannya yang baru pulih. Dia sedang istirahat sekarang, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat. Kau bisa menemuinya jika ingin melihat keadaannya,” ucap Sandra mengizinkan Devano untuk menemui istrinya karena ia tak ingin ambil pusing dengan Devano yang terus bertanya.
“Makasih, Tan, kalau begitu aku akan melihat istriku dulu,” dengan tak sabarnya ia masuk ke dalam ruangan untuk melihat istri kecilnya. Sandra menggelengkan kepalanya, Agam hanya terkekeh dengan tingkah putra sahabatnya itu.
“Dia memang sangat mirip dengan Daddynya jika sudah menyangkut wanita yang dicintainya, akan menjadi g*la jika wanitanya kenapa-napa,” ucap Agem yang begitu mengenal antara daddy dan anak tersebut.
“Yah namanya juga buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya yah seperti itu. Yang wanita mandiri seperti Berl, sedangkan yang pria bucin akut seperti Bram. Entah dengan Boy, dia sepertinya mirip denganmu yang suka berganti wanita sebelum mengenal Ve.” Sandra menyetujui apa yang dikatakan oleh Adiknya itu sambil menyindir kelakuannya dulu sebelum bertemu dengan istrinya.
“Hehe, jangan mengungkit hal itu lagi, aku sudah tak pernah seperti itu lagi setelah bertemu dengan Ve. Jika aku berani, Berl akan menyuruh Bram untuk membun*hku karena telah menyakiti mantan karyawan kesayangannya.” Agam terkekeh dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pemilik rumah sakit terbesar di kotanya itu sungguh sangat takut jika istri tercintanya marah, para sahabat dari Bram rata-rata sangat mencintai istrinya, mereka bahkan bucin pada istri mereka dan selalu menuruti apa pun perkataan Nyonyanya itu.
“Kakak hanya berharap Boy akan segera menemukan wanita impiannya agar ia berhenti bermain-main wanita. Lagi pula, dia itu penerusmu satu-satunya, mengapa dia lebih memilih membuka Cafe ketimbang menjadi dokter agar meneruskan rumah sakit ini.” Sandra bertolak pinggang di akhir kalimatnya membuat Agam lagi terkekeh.
“Ada Dan yang akan menggantikanku, untuk apa Kakak protes seperti itu? Toh dia keponakanku, dia juga bisa menjadi penggantiku jika Boy tak mau,” sahut Agam.
“Tapi Dan bukan keponakan kandungmu karena aku-,”
“Ssttt ....” Agam memeluk tubuh Kakaknya itu sebelum Sandra menyelesaikan ucapannya.
“Dan adalah keponakanku, dan Kak Sandra adalah Kakakku satu-satunya meski kita tak satu darah. Jangan membahas hal itu lagi, oke,” ucap Agam yang tak suka jika sang kakak selalu membahas hal yang tak ingin ia dengarnya itu.
Kembali pada Devano, ia kini sedang berada di dalam ruangan di mana istri kecilnya sedang terbaring menutup matanya dengan selang infus yang baru saja terlepas tapi harus dipasangnya lagi.
__ADS_1
“Maafkan aku yang tak bisa menjagamu dengan baik. Ke depannya aku tak akan membiarkan pria itu memiliki kesempatan untuk mendekatimu lagi,” ucap Devano bicara sendiri karena istri kecilnya masih terpejam.
Tak ada yang menemaninya untuk menghiburnya arena ia sengaja tak mengabari siapa pun dan meminta anak buahnya juga untuk tak mengabari kedua orang tuanya.
Tak lama Yesica dipindahkan ke ruang yang tadi pagi sempat ia tinggali, ruang rawat khusus untuk keluarga Hanoraga. Devano selalu berada di sampingnya, ia tak pernah beranjak sedikit pun untuk meninggalkannya.
Menjelang sore, mata Yesica mulai terbuka, ia menoleh pada Devano yang ternyata tidur di kursi sambil memegang tangannya dengan kepala yang ia letakan di bibir tempat tidur. Yesica tersenyum, ia bangun perlahan dan membelai kepala Devano lembut.
“Kamu sudah bangun?” tiba-tiba saja Devano mengangkat kepalanya membuat Yesica terkejut.
“Hm, baru saja,” sahutnya dengan senyum merekah.
“Apakah ada yang sakit?” tanya Devano kembali, Yesica menggelengkan kepalanya.
“Aku akan bicarakah hal ini dengan Tante Sandra, jika Tante Sandra mengataka kamu boleh pulang maka aku akan membawamu pulang, tapi jika ia bilang kamu harus menginap beberapa malam, aku harap kamu menurutinya,” sahut Devano, ia tak ingin mengekang istrinya lagi untuk tinggal di rumah sakit kembali, ia akan bertanya pada Sandra.
“Hm, baiklah, aku akan menuruti apa yang baik untukku,” ucapnya dengan nada lemas, Devano mencium pucuk kepala istri kecilnya itu.
“Aku pergi ke ruangan Tante Sandra dulu, kamu istirahat saja sambil menungguku kembali,” ucap Devano sebelum pergi menemui Sandra.
“Pergilah, aku akan istirahat.”
__ADS_1
Devano pergi menemui Sandra untuk menanyakan keadaan Yesica dan bertanya apakah istri kecilnya itu boleh pulang atau tidak.
“Istrimu boleh pulang kok, Van. Tapi, jangan biarkan dia kelelahan untuk sementara waktu dan ingat, jangan melakukan hubungan intim terlebih dulu sebelum ia pulih total. Mungkin dengan di rumah dan ditemani oleh orang terkasihnya akan membuatnya pulih lebih cepat. Jika kau tak bisa menemaninya, maka minta teman yang paling ia sayanginya untuk menemaninya. Terkadang seorang wanita butuh teman untuk berbagi,” ucap Sandra memberi saran terbaik.
“Baiklah kalau seperti itu, sore ini aku akan membawanya pulang, dia sudah tak betah berada di rumah sakit,” akhirnya Sandra bisa bernapas lega karena Devano memutuskan untuk membawa istrinya pulang.
‘Lagian kamu aneh saja sih Tuan muda, siapa juga yang betah berada di rumah sakit lama-lama. Mentang-mentang kamu punya uang seenak jidatnya saja meminta orang tinggal di rumah sakit lama-lama. Jika saja kau tak memiliki uang, pasti satu hari di rumah sakit bagaikan satu minggu bagimu,’ gerutu Sandra, tentunya hal itu ia hanya bisa diungkapkan di dalam hatinya saja.
“Aku akan buatkan resep obat dan vitamin untuk istrimu, minta dia minum dengan rutin yah.” Sandra menuliskan resep obat dan vitamin yang harus dikonsumsi oleh Yesica dan menyerahkannya pada Devano.
“Terima kasih yah, Tan.” Devano pergi dari ruangan Sandra setelah menerima resep obat dan vitamin tersebut, ia menuju apotek seorang diri untuk menebus obat istrinya itu.
Devano rela mengantri demi untuk mendapatkan obat dan juga vitamin yang diresepkan oleh Sandra untuk istrinya itu. Padahal ia bisa saja meminta anak buahnya untuk mengantri di loker obat, tapi hal itu ia tak gunakan karena ia ingin langsung yang melakukannya. Hingga tiba saatnya ia mendapat gilirannya, betapa senangnya ia akhirnya bisa mendapatkan obat dan vitamin untuk istri kecilnya itu.
Devano bergegas kembali menuju kamar rawat sang istri setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan oleh istrinya. Ia akan membawa istrinya itu untuk pulang karena Yesica sudah tak betah berada di rumah sakit. Devano sudah tak mempermasalahkan istrinya yang ingin pulang, baginya yang penting istri kecilnya sebang dan bahagia itu sudah cukup.
“Ayu kita pulang, Tante Sandra mengizinkan kamu pulang,” ucap Devano.
“Hm, aku tahu itu, perawat baru saja melepaskan infusku katanya aku diperbolehkan untuk pulang.” Yesica memberitahu tangannya yang terpasang plester karena bekas infusan. Devano mengambil kursi roda untuk istrinya itu, ia mendorong sendiri kursi roda itu menuju area parkir dengan diikuti oleh pengawalnya di belakang.
*****
__ADS_1
Happy reading 🙏😊